Category Archives: Uncategorized

Tarbiyah Islamiyah Bagi Anak

Standar

Anak merupakan anugrah yang Allah titipkan kepada kita, sebuah titipan yang harus kita jaga dan lindungi sebab akan kita pertanggung jawabkan di hari akhir kelak. Selain menjaga unsur jasmaninya kita wajib pula menjaga unsur rohaninya dan membentuknya menjadi generasi rabbani yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Ibnul Qayyim Jauziah menetapkan salah satu syarat yang harus ditempuh seseorang untuk mencapai derajat hamba rabbani adalah dengan sungguh-sungguh dalam mencari hidayah dan ilmu agama yang benar yang bisa memberikan kemenangan kebahagiaan didalam kehidupannya. Pandangan Ibnul Qayyim diatas memberikan gambaran bagi kita bahwasanya pendidikan merupakan unsur terpenting dalam usaha membentuk generasi rabbani, didalam Islam pendidikan atau tarbiyah haruslah dimulai dari sejak dini bahkan sebelum bayi itu dilahirkan.

Dalam islam pendidikan terhadap anak harus dimulai sejak awal sekali yaitu sejak memilih ayah dan ibunya, seorang lelaki yang ingin menikah hendaklah iya mencari wanita yang baik agamanya bukan sekedar melihat aspek dunia kecantikan, kekayaan dan ketinggian bangsanya. Sebagaimana Rasulullah bersabda “Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)  hadis nabi ini mengisyaratkan bahwa wanita yang terbaik adalah wanita yang baik agamanya. Begitu juga seorang wanita haruslah menerima pinangan lelaki yang baik dari segi agamanya, aqidahnya, ibadahnya dan akhlaknya. Sebagai mana didalam hadis disebutkan “Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi).

Tahap selanjutnya dalam mendidik seorang anak adalah ketika berada dalam kandungan, penelitian medis menyatakan bahwa bayi diatas usia tiga bulan indranya sudah mulai berfungsi dan bisa merasakan lingkungannya maka dari sini kita sudah harus memulai untuk memperdengarkan hal-hal yang baik kepadanya seperti lantunan Al-Qur’an dan kajian keIslaman sebab pengalaman yang dirasakan oleh ibu akan dirasakan pula bagi bayi dalam kandungan, memberikan pengalaman yang baik pada ibu maka akan memberi dampak yang positif bagi perkembangan psikis bayi dalam kandungannya hal ini akan berdampak pula pada perkembangan anak selanjutnya.

Setelah bayi lahir maka tugas kita selaku orang tua dalam mendidik anak semakin berat terutama di era perkemangan teknologi yang sangat pesat saat ini, hal pertama yang harus diajarkan kepada anak adalah pelajaran  Aqidah Tauhid sebagai mana yang dipraktekkan Luqman yang kemud

foto-keakraban-anak-kecl-dengan-hewan-liar-6

Gambar diambil dari pulp.com

ian diabadikan didalam Al-Qur’an “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13). Pembelajaran Aqidah yang baik akan memberikan kesadaran yang utuh kepada seorang anak bahwasanya iya adalah makhluk yang mempunya kewajiban terhadap tuhannya, kesadaran ini akan membuat iya ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT dan senantiasa takut untuk melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT dimana muaranya adalah ketaqwaan.

Pelajaran selanjutnya yang harus kita berikan pada anak adalah praktek ibadah yaumiyah ibadah harian seperti Shalat, Puasa, Sedekah dan Sunnah-sunnah yang senantiasa Rasulullah peraktekkan. Diusia dimana anak sudah mulai meniru lingkungannya maka teladan dan contoh dari orang tua sangatlah penting oleh karena itu orang tua terutama ayah haruslah proaktif dalam memberi keteladanan dalam kehidupan sehari-hari sehingga si anak mencontoh yang baik pula dari orang tuanya baik itu dalam ibadah maupun muamalah sehari-hari.

Setelah memasuki usia sekolah orang tua orang tua harus selektif dalam memilih sekolah bagi anaknya, orang tua hendaklah memasukkan anaknya kedalam sekolah yang tidak hanya mengajarkan aspek duniawi tetapi juga aspek ukhrawi  kedua aspek ini sangat penting dalam perkembangan kehidupan manusia sebab manusia tidak hanya harus sukses didunia tetapi dia harus sukses diakhirat dan kesuksesan diakhirat merupakan kesuksesan abadi maka merugilah orang yang sukses didunia namun gagal diakhirat nanti.

Dan yang terakhir adalah memberikan lingkungan yang baik kepada anak kita, memperhatikan kegiatannya diluar rumah, memperhatikan siapa temannya dan tempat bermainnya. Lingkungan sangat berperan dalam membentuk kepribadian seorang anak jangan sampai kelalaian kita terhadap lingkungan anak menyebabkan apa yang telah kita ajarkan menjadi sia-sia sebab iya terpengaruh temannya yang buruk. Pada masa sekarang proteksi terhadap lingkungan anak kita sangat penting, orang tua harus proaktif dalam mendampingi perkembngan anaknya jangan biarkan anak kita dewasa tanpa pengawasan kita  namun didalam proteksi tersebut kita tetap tidak boleh mengekang kehidupannya dan cita-citanya tetapi memberi pandangan dan pengarahan kepada hal yang positif. (Padang 15/3/16)

Assassin (hasyasyin) dalam Lintas Sejarah

Standar

Beberapa tahun yang lalu ramai dengan beberapa tema game, film dan npvel yang mengangkat tema tentang Assassin, rata-rata semuanya menonjolkan tentang satu kelompok pembunuh bayaran. Dan tidak ada yang mengaitkan sejarah Assassin dengan Sekte Syi’ah.
Tulisan ini saya angkat untuk merekonstruksi kembali sejarah Assassin dan hubungannya dengan Syiah. Tulisan ini sendiri saya kutip secara utuh dari Fasal IX halaman 156 dari buku yag berjudul pertubuhan dan perkembanan aliran-aliran Syiah karya Ust. Joesoef Sou’yb terbitan tahun 1982. Dengan judul asli:
Kelompok Hasyasyin dalam Aliran IsmailiahDSC_0979
Sewaktu angkatan salib (1096-1270M) yang delapan angkatan dalam masa dekat dua abad lamanya itu pada akhirnya pulang kembali maka banyak yang dibawa pulang ke barat dari Timur.
Contoh kecil dari padanya, demikian Philip K. Hitti didalam karyanya The Arabs cetakan 1970, kebiasaan makan dengan tangan (memegang paha domba/ayam beserta roti dengan tangan) itu telah berganti dengan pakai sendok dan garpu.
Contoh paling terbesar adalah membawa pulang kembali hal-hal yang menyebabkan timbul Zaman Kebangunan (Renaisance) dibarat itu suatu zaman , yang oleh ahli-ahli sejarah dibarat sendiri, dipanggilkan Zaman Gelap (Dark Ages).
Diantara sekian banyak yang dibawa pulang kembali kebaratt itu termasuk kata (Hasyasyin), yang didalam logat perancis maupun Inggris, telah berobah ejaannya menjadi (assassin), bermakna: Pembunuh.
Kelompok Hasyasyin yang merupakan aliran Ismailiah itu merupakan Great Terror didalam masa dekat dua abad lamanya semenjak perbatasan Thian Shan di sebelah timur sampai kepada pesisir utara Afrika, amat menakutkan dan amat dibenci oleh para pembesar Daulat Abbasiah (750-1256 M) sendiri maupun oleh pembesar Angkatan Salib (1096-1270 M) karena banyak melakukan pembunuhan-pembunuhan politik secara gelap.
Para anggota kelompok Hasyasyin yang kena perintah oleh pemukanya untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan politik itu dipanggilakan dengan Fadeyen (al-Fidaiyin). Mereka itu menyelusip kedalam istana kediaman para pembesar yang menjadi tujuan pembunuhan itu dengan penyemaran yang sengat apik, sebagai pelayan istana ataupun pegawai istana, dan pada saat yang telah ditentukan terjadilah pembunuhan. Banyak korban politik berguguran dalam masa dekat dua abad ditangan kelompok Hasyasyin itu baik pada fihak Islam (daulat Abassiah) maupun pada fihak keristen (Angkatan Salib) dalam wilayah luas itu.
Tersebab itulah kata Hasyasyin (Assassin) itu berobah pengertiannya didunia barat dari pengertiaannya sepanjang bahasa Arab.
Panggilan Hasyasyin itu berasal dari akar kata Al-Hasyis, sejenis tumbuh –tumbuhan yang memabukkan yakni ganja. Para penghisap ganja itu dipangilakan dengan al-Hasyas, sebuah kata tunggal (Mufrad, singular) , dan untuk kata banyak ( jama’, plural) dipanggilkan dengan al-Hassyasyin. Tentang kenapa kelompok ismailiah yang muncul pada abad ke-5 hijrah atau abad ke-11 masehi itu dipanggilakn dengan Hasyasyin (para penghisap ganja) akan dijelskan nanti.
Sekalipun ajaran dan keyakinan yang dianut kelompok hasyasyin itu jauh menyimpang dari agama Islam akan tetapi mereka itu masih mengakui dirinya para pengikut al-Imam Ismail (Wafat 143H/761 M), putra Al Imam Jaafar Al Shadiq (wafat 148 H/766 M), turunan ke-6 dari Nabi Besar Muhammad. Dan sepenjang kenyataan sejarah memanglah kelompok-kelompok ismailiah itu, dengan alasan “mendukung” turunan Nabi Besar Muhammad, telah dijadikan alat oleh musuh-musuh Islam bagi menghancurkan kemurnian Agama Islam dari dalam.
Kelompok hasyasyin itu lahir dalam lingkungan aliran Ismailiah itu setelah kelompok Qaraithah leyap pamor kekuasaannya pada abad 10 Masehi (Abad ke-4 H) dan lambat laun lenyap sama sekali semenjak abad 11 masehi (Abad 5 H).
Sepert juga halnya dengan kelompok druzz dalam wilayah pegunungan Lebenon/syria itu berasal dari sisa-sisa kelompok qaramithah, dibangaun oleh pemukanya Hamzah ibn Ali Al Darazi (wafat 410 H/1019 M), maka demikian pula halnya dengan kelompok Hasysyin itu.
Sebagian kelompok Qaramithah itu sempat meluputkan dirinya dari semenanjung Arabia kedalam wilayah Iran Utara dibawah pemukanya Ibnu Attash, seorang da’i Ismailiah, dan membangun gerakan bawat tanah disitu.
Gerakan bawah tanah itu pada tahun 644H/1071M, demikian Preya Stark didalam karyanya The Valleys of the Assassins cetakan 1952 halaman 159, memperoleh seorang tokoh muda avonturir (petualang red) untuk ditatar menjadi kader bernama Hassan Al Sabbah (wafat 518 H/ 1124M).
Pemuda yang masih berusia 21 tahun itu, demikian Ferdinand Tottle didalam karyanya Munjid fil Adabi cetakan 1956 halaman 159, dikirim oleh Ibnu Attash pada tahun 465H/1072M ke Mesir untuk menjumpai Khalif al Muntashir (427-487 H/ 1035-1094M) dari Daulat Fathimiah (909-1171 M) dan selanjutnya untuk belajar pada perguruan tinggi Al Azhar disitu, yang pada masa pemerintahan Daulat Fathimiah dimesir itu merupakan lembaga pendidikan Syi’ah aliran Ismailiah.
Dalam usia 31 tahun iapun pulang kembali ke Iran, dan sewaktu Ibnu Attash wafat maka iapun menggantikan kedudukannya dan dia, demikian Freya Strak didalam The Vlalleys of the Assassin halaman 159, terpandang the First Grand Master of the Assassins (pemimpin agung yang pertama-tama dari kelompok Hasyasyin).
Gerakan bawah tanah itu sewaktu sudah berada dibawah pimpinannya mulai secara berangsur memeprlihatkan dirinya secara terbuka dan terjadilah penguasaan wilayah dataran tinggi pegunungan Elbrus, yang dewasa ini dikenal dengan wilayah Mazanderan, mempunyai sekian banyak kota-kota benteng (castle) yang kokoh seumpama Rock of Alamut dan Girdkuh dan Lamiasar. Tetapi yang terpandang paling kokoh ialah kota benteng Alamut diatas puncak gunung batu karang tertinggi, dengan ruangan ruangan luar biasa dan taman tersembunyi, peninggalan imperium Roma pada masa pemerintahan kaisar Trajanus (98-117M). Hassan al Subbah mengambil kota benteng Alamut itu sebagai tempat kedudukan bagi pusat kegiatan kelompok Hasyasyin dan dia sendiri berada dan berdiam disitu.
Daulat Abbasiah pada masa pemerintahan keluarga Seljuk, yang menggantikan pemerintahan keluarga Buwaihi itu, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Malik Shah (wafat 485 H/1092 M) dan masa Sultan Mahmud Shah (wafat 497 H/1108 M) beserta sultan-sultan berikutnaya, tiadalah berdaya merebut wilayah yang sangat starategis itu beserta tiada berdaya mengahancurkan kelompok hasyasyin yang merupakan Great Terror dewasa itu.
Dengan tumbangnya kekuasaan Buwaihi, yaitu kekuasaan Syia’ah, didalam lingkungan Abbasiah, bergantikan kekuasaan keluarga seljuk, yaitu kekuasaan Sunni, maka pihak Syi’ah aliran Ismailiah itu mencoba mempertahankan dirinya dalam wilayah dataran tingggi pegunungan Elbrus itu. Jaringan kakitangannya , yaitu kaum Fedayen, menyelusup dan merayap kedalam hampir setiap istana maupun gedong kediaman para pembesar.
Tersebab itulah Hassan al Sabbah itu, kecuali beroleh panggilan Rais al Azhim (Grand Master), maka iapun pada masa belakangan dikenal oleh para pengikutnya maupun fihak luar dengan panggilan Shaikh al Jabal bermaknya. Orang tua dari wilayah pegunungan. Freya Stark menyalin panggilan terakhir itu dengan Old Man of the montain.
Freya Stark itu wartwan wanita turunan Inggris dengan perpaduan darah Prancis/Itali dari pihak ibunya, menjabat staf redaksi Bagdad Time di Bagdad, menguasai bahasa Arab dan bahasa Parsi. Ia banyak melakukan lawatan. Atas izin Shah Iran pada tahun 1930-1931 maka iapun merupakan wanita-putih pertama yang melakukan lawatan terhadap wilayah bekas kekuasaan kelompok Hasyasyin pada masa dahulu itu dan terpandang berjasa membikin peta baru terperinci mengenai wilayah itu guna kepentingan peta dunia. Ia mengabadikan lawatannya itu dengan karyanya The Valleys of the Assassins.
Dengan memerpegangi sumber-sumber sejarah tertua dalam dunia Islam maka iapun menyimpulkan pertumbuhan dan perkembngan kelompok Hasyasyin itu, halaman 159-161, sebagai berikut:
“Assassin itu sebuah sekte Parsi. Cabang dari aliran Ismailiah, didalam lingkungan sekta syi’ah, yang memualiakan turunan Ali (ibn Abithalib), menantu (Nabi Besar) Muhammad, beserta Imam-imam turunan Ali itu.
Aliran Ismailiah itu memisahkan dirinya dari aliran-aliran lainnya sepeninggal Imam ke-7, Imam Jaafar (al Shadiq). Bukanlah theologi anutan sekta Assassins itu lebih menarik perhatian segala fihak akan tetapi tindakan-tindakannya dalam dunia politik.
Kelompok Assassins itu dieksploitisir oleh sebuah keluarga Parsi yang berkemampuan dan brangasan, (by an able and uncscrupolous persian family), yang belakangan meluaskan cengkramannya ke Palestina. Mereka itu menyerahkan hidupnya untuk merongrong dan menghancurkan secara berangsur terhadap segala jenis keimanan (anutan agama Islam) dengan suatu sistem initasiasi (tahbisan) yang secara halus dan berangsur, melalui beberapa tahap. Menusukkan kesangsian-kesangsian (terhadap anutan sebelumnya) hingga kemudian tiba, yakni tingkat tertinggi, pada tahap berfikir bebas dan bersikap serba bebas.
Mereka itu menanamkan prinsip patuh-taat (obedience) kepada seseorang anggota keluarga tersebut didalam prinsip amanat hikmat illahi (as the depositary of the divine wisdom). Satu fihak menempatkan dirinya pada tahta kekuasaan di Mesir, atas nama dinasti Fathimiah, lalu memperkembangkan kemakmurannya dan kekuasaannya, dan selanjutnya merangsang kegairahan mempelajari prinsip-prinsip mereka itu. mesir itu pada suatu tahap masa memang merupakan suatu pusat kebudayaan, tempat pertemuan da’i-da’i Ismailiah semenjak dari maroko sampai perbatasan tiongkok.
Seorang diantara da’i ismailiah itu adalah pemuda keturan Parsi, berasal dari kota rayy, bernama Hassan Al Sabbah. Ia bermula menjadi anggota sekta syi’ah itu pada tahun 1070 M. Dia pada masa kemudian menjadi pemimpin Agung yang pertama dai kelompok Assassins ( the firs Grand Master of the Assassins).
Avonturir-avonturir serupa itu keliwat banyak jumlahnya masa itu ditanah parsi. Tetapi pemuda Hasan itu jauh lebih dari orang-orang muda seperangkatannya. Ia menciptakan suatu penemuannya sendiri, membawa idea baru kedalam ilmu politik pada masanya itu, yakni prinsip pembunuhan-pembunuhan yang cuma karena haus darah itu telah dialihkan kini menjadi suatu alat politik berazaskan sumpah.
Alat politik tersebut pada masa hidupnya telah membawanya kepuncak kekuasaan (yang mengerikan orang) semenjak Iran Utara sampai pesisir Lautan Tengah. Taman Rahasia (scret garden), tempat dia membius dan memikat para pengikutnya kepada dirinya, amat terkenal sekali dalam pemberitaan kalangan Angkatan Salib (Crusades) di Eropa. Dan memberikan kata Assassins kepada kita, yang berasal dari kata Hasyasyin.
Dimenjadi tokoh yang mengerikan bagi wilayah-wilayah sekitarnya. Disebabkan tidak mampu mencapainya dan mendekati tempat kedudukannya maka para penguasa wilayah sekitarnya itu berbalik bertindak memburu dan membasmi para pengikut Ismailiah didalam wilayahnya. Kalangan ortodoks (Sunni) menganggap mereka itu paling berbahaya dari pada kelompok Qaramithah.
Sementara itu pecahan sekta itu ditanah mesir berangsur hilang pamur kekuasaanya dibawah serangan kekuasaan seljuk. Dan terakhir ditumbangkan oleh sultan Salahuddin al Ayyubi (wafat 598H/1193M), dan dipulihkan kembali kekuasaan sunni diwilayah Mesir itu.
Akan tetapi kelompok assassins itu masih berkelanjutan pengaruh kekuasaanya beberapa masa lamanya. Mereka mengambil alih pimpinan aliran Ismailiah beserta kota-kota benteng kedudukannya dalam wilayah Syria, bersifat semi independent dari kekuasaan pusatnya yang berkedudukan di Iran Utara itu, dan langsung berbenturan terus menerus dengan para pangeran (Princes) dari angkatan salib.
Sampai kini belum pernah diperjelas tentang berapa jauh ordo-ordo pejuang pihak kristen sendiri telah mengambil alih sikap setia kawanan dari kelompok non kristen itu. (it has never been made clear how much the organization of the great Christian fighting orders owed to this unchristian confraternity). Konon ordo templars yang terkenal itu, sampai satu tahap, mengambil dasar-dasar kelompok lawan itu. perbandingan hirarki dan administrasi umum antara kedua kelompok itu memperlihatkan ciri-ciri identik yang membangkitan perhatian sekali. Mungkin inilah yang menjadi sumber desas-desus dan tuduhan-tuduhan terhadap ordo Templars itu hingga berakibat pebubaran ordo tersebut, sewaktu belakangan, dana ordo tersebut, sewaktu belakangan, dana ordo yang kaya raya itu telah menyebabkan para pengacara dibawah pimpinan Philippe Lebel melancarkan tuduhan yang sangat berat. Sementara itu kelompok Assassin sendiri mulai pudar pamur kekuasaannya. Pada masa belakangan.
Kalangan fedayen syria sendiri, yakni (kalangan Druzz) yang sudah kehilangan kebebasannya itu, lambatlah sudah menunjukkan kemunduran pula. Pada masa-masa perlawatan Ibnu Batutah (Wafat 780H/1378M), kelompok fadayen syria yang terkenal (dan mengerikan segala fihak) itu telah merosot dari syahid-syahid politik menjadi pembunuh bayaran. Jikalau mereka \berhasil dan selamat, demikian Ibnu Batutah, maka merekapun menikmati bayarannya itu; jikalau sebaliknya, maka barannya untuk membantu keluarganya.
Di tanah Iran sendiri, bangsa penakluk mongol yang meju dari timur arah kebarat pada tahun 1256 M dibawah pimpinan Hulagu Khan (wafat 1265M) cucu Jengish Khan (wafat 1227M) bahwa kecuali menumbangkan Daulat Abbasiah dan menguasai kota Baghdad, maka juga Hulagu Khan itu telah berhasil merebut dan menguasai kota-kota benteng tempat kedudukan kolompok Hasyasyin di Iran Utara itu, yakni kota-kota benteng yang dekat du abad lamanya mampu bertahan dengan tangguh. Berlangsuang pengejaran-pengejaran dan pembunuhan masal terhadap para pengikut kelompok Hasyasyin itu. semenjak itu hapuslah kelompok Hasyasyin itu sebagai organisasi yang tertatur.
Puncak kemegahan organisasi itu adalah pada masa penggemblengan Hasan al Sabbah. Setelah pulang dari tanah Mesir dan melakukn propagandanya selama sembilan tahun lamanya, bahkan pernah menjadi tamu Gubernur (Al Wali) di Kazwin, ibu kota wilayah Mazanderan; maka pada akhirnya didalam tahun 1091, yaknu diusia 40 tahun, iapun berhasil menguasai menguasai kota-benteng Alamut, yang terkenal itu beserta kota-kota benteng lainnya pada dataran tinggi pegunungan Elbruz itu, yang konon tempat keturunan raja-raja parsi yang terkenal gagah perkasa sepanjang sejarah. Semenjak itu, yakni selama 34 tahun menjelang dia wafat, iapun tidak pernah lagi meninggalkan pusat kedudukannya itu. disitulah dia menggembleng pengikutnya hingga menjadi pengikut-pengikut fanatik guna dijadikan alat-alat politik. Dia menciptakan disitu sejenis Taman Rahasia (scret garden) dan kaum fedayen mengelilingi dirinya.
Setelah dekat dua ratus tahun lamanya maka kegila-gilaan dan kelemahan merayapi para penguasa Alamut itu. pada masa Rukneddin, yang berhasil ditawan oleh pasukan Mongol, iapun memerintahkan tempat-tempat pertahanan diserahkan dengan ddamai kepada Great Khan dari Mongol, yakni Mangu Khan(sebagai atasan Hulagu Khan), akan tetapi dia sempat dibunuh oleh seorang fedayan, pengikutnya sendiri, sewaktu dalam perjalanan pada dataran tinggi itu sebagi tawanan.
Pasukan mongol berhasil menghancurkan mereka itu. turunan Rukneddin itu meluputkan diri arah selatan, kekota Qum, kemudian melanjutkan perjalananya ke lembah sind; lalu memegang pimpinan sprituil disitu terhadap kalangan Ismailiah, yang sampai kepada masa ini masih tersebar pengikutnya semenjak dari India dan parsi dan Zanzibar. Hight Highness (H.H) Agha Khan sampai kepada masa ini, sebagai kepala sekte Ismailliah itu, masih menerimakan tithe (sumbangan wajib sepersepuluh hasil) yangdirumuskan dan ditetapkan pada masa dulu oleh Hasan al Sabbah. Hak keluarganya menerimakan tithe itu pernah dipersoalkan akan tetapi High Court (Pengadilan Tinggi) di Bombay pada tahun 1866 mengukuhkan haknya itu setelah Agha Khan mengemukakan silsilah turunannya dan berhasil membuktikan bahwa dia memang turunan Old Man of the Montain (shaik al Jabal)…”
Demikian freya Stark didalam The Valleys of the Assassin, dan selanjutnya pada halaman 190, iapun menulis sebagai berikut:
“Sewaktu Hulagu Khan mengobrak abrik wilayah timur tengah pada tahun 1256 M iapun berhasil merebut dan menghancurkan lebih lima puluh buah kastel (kota benteng) yang dikuasai pihak Assassin itu. diantara seluruh benteng-benteng pertahanan itu, yang kisahnya dapat didengar setiap orang semenjak dari utara Parsi sampai perbatasan Khurasan dan begitupun dalam kalagan orang Arab di Irak sendiri, bahwa Cuma dua benteng saja yang sempat bertahan lebih lama. Keduanya itu adalah benteng Girdkuh dan kota benteng Lamiasar. Mereka disitu sempat bertahan enam bulan lamanya, setelah kota benteng Alamut sendiri menyerah atas perintah Lord of Alamut yang terakhir, yang berhasil ditawan pihal Mongol.
Bangsa penakluk mongol itu bukanlah kelompok liar tanpa mempunyi keahlian dan peralatan perang. (the Mongols Were not a more hords withaut engines of war). Mereka melancarkan serangan-serangannya itu dengan cara ilmiah, membawa insinyur-insinyur Tionghoa, beserta peralatan mutakhir, didukung pasukan-pasukan yang beroleh letihan luar biasa dan khusus agar serasi dan mampu menyesuaikan diri dengan wilayah-wilayah yang belum dikenal mereka selama ini tetapi banyak mendengar cerita tentang kekuatan pertahanannya dan tentang kemakmurannya. Tempat-tepat tersebut itu dihancurkan dan didatarkan.
Tersebab itulah, didalam masa sekian abad belakangan, tidak ada kunci petunjuk (clues) bagi menunjukkan tempat berdiri kota benteng girkuh ittu, kecuali bahwa kota benteng yang kukuh dan teguh itu pernah disebut dan diceritakan didalam karya Yaqut (Yaqut al Rumi didalam Mu’jamul Buldan, Wafat 627h/1229M) dan juga oleh Mustawfi (penulis Diwan al Zummam), dengan menyatakan terletak sejauh perjalanan satu hari dari kota Damaghan.
Sedangkan kota benteng Lamiasar itu tercatat dalm sejarah bahwa direbut dan dikuasai pihak Assassin pada tahun 495 H/1083M dibawah pimpinan Kiya Buzurg Umir. Yang menjabat wazir dari Shaik al Jabal dan pada maasa kemudian menggantikannya. Dia berasal dari Rudbar dataran tinggi sebelah utara yang termasuk dalam wilayah lembah Shah Rud dalam pertemuan perbatasannya dengan lembah Qizil Uzun pada suatu tempat bernama Manjil, pada tempat itu pula bermula lembah Alamut dan Talaghan pada bagian timurnya.
Sewaktu saya berada di Kazwin, dan seorang sahabat bangsa Parsi mengetahui perhatianku yang sedemikian besar terhadap bekas-bekas kastel tua itu iapun bercerita bahwa runtuhan kastel tua lamiasar itu terletak dalam wilayah Rudbar. Minatku untuk menjelajahi bekas “wilayah terlarang itu makin besar…”
Demikian Freya Stark, yang kami pungutkan sekedarnya dari karyanya itu, bagi memperjelas bebrapa aspek dari pertumbuhan dan perkembangan kelompok Hasyasyin itu sampai kepada masa kehancurannya.
Barangsiapa pada tahun limapuluhan pernah menontn film The Adventure of Umar Khaya dari paramount production, dibintangi oleh Jhon Derek dan Debra Paget, diangkat dari karya Manuel Komroff, niscaya dapat menyaksikan betapa kedasyatan pertempuran bagi menghancurkan kota benteng Alamut, tempat kedudukan Old Man of The Mountain itu. Cuma jalan sejarah didalam film itu digeser sedikit, bahwa perebutan dan penghancuran kota benteng itu terjadi pada masa Sultan Malik Shah (465-485H/1072-1092M), putra Sultan Alep Arslan (455-465H/1063-1072M) dari keluarga Seljuk, guna memperoleh klimaks dari thema cerita, yaitu selisih sengit pada masa belakangan antar tiga sahabat pada masa belia remaja Hasan al Sabbah, yang pada msa belakangan menjabat pemuka Hasyasyin, dan Nizam al Muluk (wafat 485H/1092M) yang pada masa belakangan menjabat wazir besar Sultan Alep Arslan dan Sultan Malik Shah, pembangun perguruan Tinggi Nizamiah yang terkenal itu dibaghdad, perguruan sunni, bagi menandingi perguruan tinggi Al Azhar di Mesir, perguruan syiah pada masa itu; dan Omar Khayyam (wafat 527 H/1132 M), seorang sarjana tehnik dan astronomi pada masanya, akan tetapi lebih dikenal sebagai penyair Islam dengan himpunan Rubiyyat. Serupa halnya dengan Leonardo da Vinci (Wafat 1519 M) pada lima ratus tahun belakangan, seorang sarjana tehnik akan tetapi lebih dikenal dengan pigura-pigura lukisannya.
Tiga sahabat semasa belia remaja itu, menurut catatan buku-buku sejarah tertua dalam dunia Islam, pernah mengikat janji bahwa akan saling bantu membantu jikalau pada masa belakangan ternyata ada salah seorang diantaranya beroleh nasib mujur.
Tetapi ketiga-tiganya pada masa belakangan ternyata sama menempati posisi pentinng . Satu diantaranya berkisar kepada aliran Ismailiah tetapi yang dua lagi tetap sunni, Nizam al Muluk seperti juga halnya dengan Sultan Malik Shah tewas ditangan Fedayen yang diperintahakan Hasan al Sabbah karena jabatan yang dipegang sahabatnya itu amat menentukan dan bagaikan buku mata pada Hasan al Sabbah. Sedangkan Omar al Khayyam, karena hidupnya disumbangkan sepenuhnya untuk bidang Ilmiah, murid dari ahli fikir Ibnu Sina (wafat 428H/1037M), sempat beroleh usia panjang dan bahkan lebih lanjut usianya daripada Hasan al Sabbah sendiri.
Tentang ajaran dan keyakinan yang dianut kelompok Hasysyin itu serupa dengan ajaran dan keyakinan yang dianut kelompok Qaramithah maupun kelompok Druzz. Tetapi kelompok Fathimiah agak lebih moderat dari pada ketiga kelompok itu akan tetapi masih ekstrim terbanding kepada aliran Imamiah, yakni aliran sittah ataupun Istna Asyarah. Apalagi jika dibandingkan dengan aliran Zaidiah yang lebih mendekati Sunni.
Menurut ajaran kelompok Hasyasyin itu /bahwa kitab sui Al-Qur’an itu, disamping memiliki pengertian-pengertian lahiriah (Zhahiriyah, Exoteic) , sebetulnya mempunyai pengertian-pengertian yang lebih tersembunyi (batiniah, exoteric).
Pengertian-pengertian lahiriah itu Cuma layak bagi orang yang masih dangkal pengetahuannya, dan tersebab itulah mereka itu tetap terikat kepada kewajiban-kewajiban taklifiyah, yaitu kemestian mematuhi syariat. Tetapi seseorang yang betul-betul mempunyai pengetahuan Ilahiat yang lebih dalam, maka, iapun akan mengenali pengertian-pengertian yang lebih tersembunyi dan iapun terbebaslah dari seluruh kewajiban-kewajiban Taklifiah itu, kecualai harus tunduk sepenuhya kepada atasan yang mempunyai pengetahuan ilahiat yang lebih tinggi itu. karena seseorang cuma bisa mengetahui pengertian-pengertian yang lebih dalam dan tersembunyi itu adalah cuma dengan perantaranya. Dia itulah Imam al Zaman, menjabat al Imam pada suatu tahap masa, dan kepatuahan penuh itu haruslah ditunjukkan terhadapnya dan terhadap wakil-wakil yang ditunjuknya. Dia itulah bayangan ilahi dimuka bumi, penjelmaan Allah dalam bentuk jasad.
Dengan memberikan pengertian-pengertian esoteric serupa itu terhadap setiap ayat didalam kitab suci Al-Qur’an itu, sehingga sudah jauh menyimpang dari ajaran Agama Islam, maka rubuhlah sendi-sendi agama islam yang dibangun dan diajarkan oleh nabi besar Muhammad s.a.w. jikalau nabi Muhammad sendiri menjalankan shalat wajib, shalat sunnah, puasa, dan kewajiban lainnya, tetapi kelompok Hasyasyin telah terbebas dari seluruhnya. Jikalau seseorang kelompok Hasyasyin itu tengah berada dalam lingkungan lawan dan disitulah turun menjalankan syariat-syariat Lahiriah itu maka hal iyu diperbuat, menurut ajaran kelompok Hasyasyin maupun kelompok Qaramithah, atas dasar Taqiyat. Dimaksudkan ialah melindungi diri dan pendirian sebelum datang saatnya bagi melahirkannya secara terrbuka.
Demikian garis besar ajaran dan keyakinan kelompok Hasyasyin itu. secara panjang lebar telah diuraikan pada saat menjelaskan kelompok Qaramithah. Tetapi yang lebih membangkitkan perhatian berbagai fihak terhadap kelompok Hasyasyin itu, terutama kalangan peneliti sejarah, bukanlah ajaran dan keyakinan Theologis itu; akan tetapi cara para pemuka kelompok Hasysyin itu melaksanakan pengaturan organisasinya dan cara yang dipergunakan bagi pengemblengan para pengikutnya itu sehingga menjadi manusia-manusia fanatik untuk dijadikan alat politik. Berbeda dengan kelompok qaramithah, setiap tatalaksana itu dan tatacara itu bersifat sistematik dan metodik.
Bermula dari kedudukan sebagai al-Murid (calon, novice) hingga menjadi al-Fidai (tenaga berani mati); dan jikalau dalam kedudukan terakhir itu selamat memperlihatkan kecerdasannya lalu digembleng selanjutnya menjadi Da’i (Propagandist), dan tingkatan itu termasuk dalam lapisan al-Khawash (piors), beroleh pasilitas dan keistimewaan.
Kedudukan yang lebih tinggi dari itu disebut Khawasul khawas (high Piors), berhak mendampingi Imam al zaman ataupun mendampingi wakil mutlak dari imam al zaman itu.
Lapisan bawahancuma mengenal lapisan atasannya, langsung berhubungan dengan lapisan atsannya itu, tetapi tidak mengenali lapisan-lapisan yang lebih tinggi. Demikian halnya dengan setiap tingkatan lapisan tersebut.
Setiap tingkatan lapisan itu berkewajian dan bertugas menggembleng lapisan bawahannya. Hasan al Sabbah bermula dengan menggembleng beberapa orang pilihannya, yang belakangan menepati kedudukan paling teristimewa (Khawasul Khawas) dan terjadilah merantai selanjutnya didalam perkembangan kelompok Hasyasyin itu.
Demikian hirarki didalam tatalaksana organisasi Hasyasyin itu. tersebab itulah, dengan meminjam keterangan Freya Stark, bahwa orde templars yang amat terkenal pada masa-masa perang Salib itu beroleh tuduhan-tuduhan berat pada akhirnya karena identik dengan kelompok Hasyasyin yang sangat dibenci itu.
Tentang tatacara didalam pengemblengan seseorang al Murid (calon, novice) itu dapat dilukiskan dengan suatu gambaran singkat: bermula dengan seorang yang menaruh keimanan didalam dirinya, yakni keimanan Islam, tetapi pada akhirnya tiba pada tingkatan berfikir bebas dan bersikap serba bebas.
Hal itu dimulai dengan pendekatan-pendekatan secara tak kentara, dengan mengajukan soal-soal yang membingungkan oleh fihak Da’i, hingga lambatlaun dan berangsur-rangsur timbul kesangsian dalam diri orang tersebut terhadap anutannya selama ini.
Pada saat kesangsian dalam diri orang itu telah dipandang matang, dinantikan dan ditunggukan dengan penuh kesabaran. Baharulah ditarik untuk menjadi al –Murid. Pada saat itulah berlangsuang penataran terhadap orang itu semasak-masaknya hingga menerima ajaran dan anutan baru dengan segala keyakinan didalam dirinya.
Jikalau dalam sejarah soviet uni pada masa Stalin dan begitupun sejarah Tiongkok pada masa Mao Tse Tung dikenal dengan istilah “Brain Washing”, yakni “cuci otak”, maka tatacara cuci otak tersebut adalah cuma “jiplakan” dari tata cara “cuci otak” yang dilakukan para pemuka kelompok Hasyasin pada sembilan abad silam.
Pihak al-Murid itu menerima ajaran dan anutan baru itu dengan kelegaan, karena, dirinya kini disebut Muslim Murni. Menerimakan ajaran-ajaran yang lebih tersembunyi (esoteric) yang tidak sembarang orang saja bisa memahamkannya.
Dari tingkatan itu iapun ditatar selanjutnya untuk tingkatan al-Fidai, yakni tenaga berani mati ataupun tenaga jibaku. Pada tingkatan itulah buat pertama kalinya diperkenalkan kepadanya sejenis minuman yang terbuat campurannya dari al-Hasyis (ganja).

assassinscreed
Pada saat sudah linglung, hampir-hampir tidak sadarkan diri, iapun diangkut kepada apa yang disebutkan Scret Garden (Taman Rahasia) pada kastel Alamut itu, melalui berbagai ruangan yang berbelit. Diantara sadar dengan tak sadar itu iapun menyaksikan taman yang indah.Iapun dikelilingi oleh gadis-gadis muda belia dan cantik molek beserta nyanyian dan tarian dan pesta pora. Menjelang sore hari iapun diberi minuman al-Hasyis kembali; dan dalam keadaan tidak sadar iapun diangkut kembali kedalam kamarnya yang polos itu dan tertidur disitu. Sewaktu dia terbangun dan sadar kembali iapun merasakan bagai mimpi; sejak itulah ditanamkan kepadanya terus menerus bahwa apa yang disaksiakannya dalam mimpi adalah sorga. Jannat al Naim dengan bidadari-bidadari cantik molek, yang akan diterimakannya sebagai imbalannya jikalau tetap patuh dan ta’at kepada apapun yang diperintahkan oleh wakil mutlak dari Imam al Zaman. Begitulah tatacara pembentukan pasukan berani mati. (al Fedayen yang dipanggilkan dengan al Hasyasyin itu).
Painan, 8-10/6/15

4 Tahun Sudah

Standar

Tahun ini genap sudah 4 tahun blog ini didunia maya, menjadi tempat curahan isi kepala yang tak lagi mampu tertampung dimemori otak. Blog ini saya buat pertama sekali diKota Surabaya 4 tahun silam, dan kebanyakan tulisan diblog ini juga ditulis di Surabaya padahal hanya setengah tahun disana.
Keadaan asrama yang serba tertutup nampaknya yang membuat saya aktif menulis karena banyak gangguan , dan juga untuk mengusir kebosanan karena banyak waktu luang ketika itu. Tahun-tahun berikutnya inspirasi menulis seperti mata air yang mati, kering tidak ada keinginan untuk menulis, padahal ada banyak ide yang berkeliaran dikepala.
Tahun ini hampir genap pula usia saya semperempat abad 25 tahun, tanpa terasa sudah banyak hal yang terlewati. Bertambahnya usia mau-tak mau mendorong kita untuk memperbaiki diri, bersiap untuk melangkah menjalani hidup kedepannya, bersiapa untuk mandiri dalam melewati kehidupan yang pastinya banyak onak dan durinya penuh dengan gelombang dan badai. Dari usia yang semakin matang pula isi diblog ini juga harus menjadi lebih baik sebagai tanda perubahan dalam ide dan fikiran.
Sejak awal tahun ini saya sudah mencoba merubah tampilan blog ini sedemikian rupa, termasuk mengganti moto “menggenggam angan kehidupan” dengan “Bara semangat yang takkan padam” kedepan saya ingin memperbanyak tulisan, paling tidak target saya 2 judul tiap bulan minimalnya. Kemudian saya akan memposting makalah-makalah yang pernah saya susun selama kuliah di Jurusan Tarbiyah, dari pada makalah-makalah itu mengendap dimemori laptop mungkin lebih baik di share diblog ini. artikel yang berbentuk reportase juga akan dimatangkan dengan sistematika penulisan jurnalistik, artikel-artikel yang bermuatan ilmiah harus diperbaiki agar mendekati karya ilmiah seutuhnya.
usia yang bertambah dan juga pengalaman sembilan tahun mendalami agama dipesantren maupun dikampus mendorong juga diri pada kecintaan terhadap agama dan tuhan, jika selama ini jarang menyentuh hal-hal agama Insya Allah kedepan mungkin ada satu dua judul tentang agama.

DSC_0202
Dan terakhir saya berharap blog ini bisa beranfaat tidak hanya untuk saya tapi juga buat orang lain.

Terus berjalan

Standar

Blog ini sudah sepertti rumah yang ditinggalkan penghuninya, lama tidak ada tulisan yang terupdate. Sejak tahun baru blog ini tak lagi tersentuh, aku kehilangan moment untuk menulis. Jenuh sepertinya ada sesuatu yag hilang yang membuat remuknya semangat. tidak ada bahan bakar untuk menulis diblog ini lagi.
Kalo dihitung dari tahun ku buat blog ini, bararti sudah 4 tahun blog ini sebagai wadah dari isi kepalaku. Cukup lama sepertinya. Tapi semuanya tidak ada perkembangannya. Tulisanku tetap tidak berbobot, tetap tidak berisi dan bermakna.
Pada akhirnya aku berfikir, apa sebenarnya yang salah?

Foto(650)
Dari pada aku lelah berfikir, biarlah, yang terpenting terus berjalan, berjuang dan berusaha. Harus terus mencoba buakan berhenti. Makanya aku kembali lagi keblog ini, ini rumahku tempat yang mempung segala aspirasi dikepalaku, dan ini untukku untuk aku berfikir dan merenung tentang hidupku.
PUNCAK NISKALA….. KITA DAKI DUNIA….

Membaca “Asyi (aceh)” dan “Meuse (Mesir)” melalui Teungku Azmi Abubakar Mali

Standar

Teungku Azmi adalah abang, sekaligus guru bagi saya. Bukan cuma karena senior dahulu ketika diDayah (pondok pesantren) tapi karena banyak hal yang bisa diguguh dan ditiru dari sosok satu ini walaupun namanya belum banyak dikenal oleh masyarakat. Sebenarnya bukan tanpa alasan saya membubuhkan gelar “teungku” didepan nama abang saya tersebut, pembubuhan gelar tersebut adalah rasa takzim saya pada guru saya yang satu ini. teungku adalah gelar bagi orang yang alim dalam bidang agama diaceh, gelar bagi orang yang telah lulus dari Dayah, mampu membaca kitab kuning dan mampu untuk mengajarkannya. Dan saya yakin abang saya ini telah layak menyandangnya.

Para penuntut ilmu agama sering secara tidak langsung memakai kopiah sebagai marwah, sebagai bentuk penjagaan diri dari maksiat dan lebih dari itu sebagai bagian dari mengikut tradisi ulama (hal 27)
Beberapa minggu yang lalu bang Azmi mengirimi saya sebuah naskah novel yang beliau susun sendiri dari cairo sebab beliau adalah mahasiswa tingkat akhir universitas Al-Azhar Mesir, beliau mengirim naskah tersebut melalui akun facebook dimana kami sering berkomunikasi, Beliau megirim naskah novel tersebut untuk meminta komentar dan kritik saya terhadap novel yang beliau susun tersebut, padahal saya sendiri bukanlah orang yang faham apalagi mampu untuk mengeritik sebuah karya, karena beberapa bulan belakangan saya sendiri sibuk dengan urusan kuliah sehingga baru hari ini sempat untuk membacanya.

Sambil menjaga keponakan dan depot air isi ulang perlahan saya baca file microsof word sebanyak 133 halaman dengan spasi 2,0 dan font comic sans ms. Membacanya membuat imajinasi saya melayang meninggalkan Painan (Sumbar) tempat saya tinggal sekarang menuju banyak tempat. Pada lembaran awal saya seperti melayang menuju kota cairo saya seperti bertemu dengan orang mesir dan berbicara bahasa arab dengannya. Terbayang kembali cita-cita ketika didayah (pesantren) untuk bisa kuliah ditimur tengah, namun Allah memberi keputusan yang berbeda sehingga saya hanya mampu untuk belajar agama Islam didalam negri itupun dengan cara merangkak kesulitan.

Didalam bagian lain, dengan bahasa yang halus dan mengalir bang Azmi mampu menggiring imajinasi saya meninggalkan langit Painan (sumbar) menuju Aceh, beliau mengisahkan keindahan kampung halamannya di Aceh Pidie membacanya perlahan memori dikepala saya mengulang kembali rangkaian perjalanan hidup saya ketika bersekolah di Aceh, terbayang sawah yang hijau yang terbentang dibelakang asrama pondok, terbayang tempat dimana saya menyendiri ketika rindu kepada papa dan mama dimedan, terbayang kembali pada kecantikan gadis aceh yang alami seperti alam aceh yang indah. Membacanya membuat saya ingin pulang keaceh sekedar untuk bisa mengenang masa-masa bahagia diDayah.

Dihalaman awal sampai tengah novel ini tampak datar dan jauh dari konflik, bang azmi lebih banyak menceritakan tentang kampung halamnya tentang ayah yang menjadi inspirasi bagi kehidupannya ibu yang membimbingnya. Mengsahkan tentang kehidupannya didayah terutama dayah Jeumala Amal tempat dimana kami sama-sama pernah menuntut ilmu dan dikampus IAIN Arraniri tempat dimana bang Azmi sempat kuliah sebelum mengikuti seleksi beasiswa ke Universitas Al-Azhar mesir dan mengisahkan tentang aceh secara umum dan kritiknya terhadap masyarakat yang telah lalai pada agama.

Selainnya bang azmi menceritakan tentang mesir, mulai dari kehidupan masyarakatnya dan masalah politik yang berkembang dimesir. Bang azmi sendiri adalah saksi hidup ketika pristiwa Arab springs terjadi mulai dari lengsernya presiden Hosnie Mubarok dan kudeta terhadap Presiden Mursi sebab ketika peristiwa itu terjadi setahu saya bang Azmi barada dinegri Firaun tersebut.

Dinovel ini bang Azmi tegas mengeritik masyarakat indonesia yang sok tahu dengan apa yang terjadi dimesir, yang latah demo protes kesana kesini tanpa mengetahui permasalahan apa yang terjadi dinegri orang. Sehingga karena sikap latah tersebut menyusahkan masyarakat indonesia yang berada dimesir, sebab dianggap orang indonesia mencampuri urusan negara lain.
Dari sini saya lihat bang Azmi mencoba untuk bisa mendekatkan kembali antara Negri Mesir dan Aceh, ada beberapa bukti otentik yang dicantumkan bang Azmi untuk menunjukkan hubungan yang baik antara Mesir dan Aceh tempo dulu.

Konflik novel ini terjadi ketika Zaidul Fahmi mahasiswa Universitas Al-Azhar pulang ke aceh setelah menamatkan kuliahnya. Saya kira Zaidul adalah bang Azmi sendiri, sebab 98 persen kehidupan zaidul identik dengan kehidupan bang Azmi. Konflik ini berkisah tentang cinta segi tiga antara Zaid, Amru sahabat Zaid, dan Cut Buleun gadis yang dicintai oleh Zaid.
Ketika sampai pada bagian konflik ini saya jadi tesenyum-senyum sendiri membacanya. Cut Buleun membuat saya teringat pada seorang gadis didayah dahulu yang juga memiliki gelar “Cut’ paling tidak membuat saya bertanya-tanya dihati dimana gerangan dirinya kini. Cut adalah gelar bagi bangsawan Aceh dan biasanya mereka yang memiliki gelar ini cantik-cantik seperti Cut Nyak Dien. Apalagi diberi nama Buleun yang kalo tidak salah artinya Bulan.

NOVEL

Konfliknya bermula ketika Zaid ingin menemui Cut Buleun, namun ketika Zaid bertemu dengan Cut Buleun dirumahnya Cut Buleun tengah terbaring lemah karena sakit. Namun sakit yang dialami Cut Buleun bukan Sakit biasa, Cut Buleun di guna-guna oleh orang dan yang mengguna-gunai adalah Amru.
Amru sendiri adalah sahabat lama Zaid hal ini membuat marah zaid kepada Amru, dan ternyata setelah diselidiku Amru banyak melakukan kejahatan mulai dari menjadi pengedar ganja dan melakukan perampokan. Sehingga zaid yang mulanya marah pada sahabatnya justru menjadi kasihan pada Amru.
Bang Azmi cukup lihai mengakhiri, novel ini beliau menggantung andingnya sehingga tak tergambarkan akhir kisah cinta ini. namum saya yakin tidak ada satu orang tuapun diaceh yang menolak pinangan seorang teungku.

Sisi positif dari novel ini adalah bang Azmi tidak melupakan kealimannya dalam agama. Bebarapa waktu yang lalu saya pernah meminta nasehat dari beliau untuk menghilangkan kegundahan hati yang belakangan menghantui saya, membaca novel ini terasa bang azmi menasehati saya akan banyak hal, mulai dari pentingnya menuntut ilmu, bersabar dengan cobaan dan untuk tekun dan ikhlas beribadah pada Allah SubhanaWata’ala.

“Sebenarnya prestasi di kelas bukanlah segalanya, hanya keberkahan ilmu yang sangat penting. Bagaimana cara kita menghormati guru dan memuliakan ilmu tersebut. (hal 29)

Selain berisi dengan banyak unsur nasehat novel ini juga banyak bersisi dengan syair-syair yang indah, dimana sebagianya merupakan kutipan dari syair arab ini karena kemampuan bahasa Arab beliau yang bagus dan juga pemahaman beliau yang bagus tentang syair arab.

Kita Adalah Musafir Hidup
Matahari yang gagah berani itu
Datang pada puncak bukit
Menyapa bunga Zaitun yang ranum
Pada puncak bukit
Mata Zaitun dan matahari beradu (hal 113)

Kalu saya boleh memberi nilai buat novel ini saya akan beri nilai “Mumtaz” , saya dapetin naskah novel ini belum memiliki judul kalo saya boleh nyumbang ide buat novel ini saya berharap novel ini diberi judul “seberkas cahaya rembulan dilangit mesir” dan saya berharap ada penerbit yang mau menerbitkan novel ini, kalo tidak saya berharap ada inisiatif dari kawan-kawan alumni dayah jeumala amal terutama yang diposkadja untuk bisa membantu menerbitkannya secara independen (indi) ini adalah prestasi luar biasa dari lulusan dayah Jeumal Amal, mungkin kontribusi akhir dari saya sebuah desain cover untuk novelnya cover ini sebagai doa saya semoga novel ini segera bisa diterbitkan Aamiin.. “Allahualam bisshawab”.

Tanks Black Persahabatannya

Standar

Setelah lebih dari setahun berteman akhirnya kita harus berpisah.

Kebutuhan akan kendaraan untuk menempuh mobilitas kegiatan, mendorong otak untuk memilih motor yang sesuai dengan kanntong, kebutuhan dan usia muda.

Rasa hati sebenarnya ingin membungkus Honda Grand untuk dibawa pulang. tapi orang tua tidak mengizinkan karena usia motor Honda Grand terlalu lawas dan mengusulkan membeli Honda Supra. tapi hati gak sesuai karena honda supra banyak dipakai orang tua terutama ibu – ibu.

teringat masa SMP ditahun 2000an ada satu motor yang digdaya ditengah anak muda walaupun waktu lama telah lama berputar saya fikir kedigdayaan itu belum pudar akhirnya terbungkuslah Yamaha F1ZR hitam tahun 2000 awal.

motor lawas berbody sporty yang melegenda buat anak – anak muda ditahun 2000an. mengusung mesin 2tak jelas motor ini biang keributan dengan asap yang mengalahkan mesin foging. namun untuk kecepatan jangan dilawan semakin didepan.

DSC_0206

jujur motor yang kuberi nama Black ini luar biasa tangguhnya. setahun lebih menemani perjalanan untuk kuliah, hobi untuk belusukan mencari lokasi hunting photografi yang tekadang lokasinya medannya luar biasa sulitnya, motor ini tidak pernah rewel asal oli samping dan bahan bakarnya terisi motor ini bandel luar biasa.

namun usia mesin dan body tetap tidak bisa dilawan, beberapa sparepart sudah minta diganti beberapa baut sudah longgar membuat malam susah tidur untuk menimbang motor ini tetap dipertahankan dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit atau dilepas lagi dengan harga dibawah harga beli karena motor 2tak harga jualnya cendrung turun.

f1zr

dengan izin orang tua dan sebuah janji untuk diberi tunggagan pengganti akhirnya black dilepas kepembeli.
diakhiri dengan jabat tangan dan rasa sedih dan terima kasih buat BLACK. jasamu luar biasa.

Paradise

Standar

Rasa syukur itulah yang harus kita panjatkan pada tuhan, telah menempatkan kita pada satu titik didunia yang titik itu lebih baik dari titik – titik dunia lainnya. setelah perjalanan melelahkan dan sedikit menegangkan akhirnya sampai dititik indah tersebut “paradise in world” sebuah desa yang yang asri berjarak 90 km dari kota padang sumbar.

GambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambar

Risalah Untukmu

Standar

Apa kabar kawan?

Salam perjuangan, hidup mahasiswa!!!

Tidak lama lagi pemerintah akan menaikkan harga BBM, yang sudah pasti akan berdampak pada kehidupan rakyat. Sebenarnya tidak saja terjadi pada rakyat kecil, tetapi pada diri kita juga. karena kita adalah bagian dari rakyat kecil itu sendiri.

Tak lama setelah BBM naik niscaya ongkos kendaraan akan segera merangkak naik, biaya sewa kos pasti akan turut mengikutinya,harga makanan diwarteg yang selalu jadi andalan kitapun juga latah untuk naik dan sayangnya tidak ada jaminan bahwa uang kuliah tidak akan naik.

Setuju tidak setuju kenaikan harga BBM pasti akan mempengaruhi kehidupan kita. Begitu juga dengan kehidupan adik – adik kita, ibu kita yang pasti pontang – panting mengatur biaya dapur agar agar didapur masih ada asap yang mengepul dan keluarga dirumah masih bisa menikmati makanan sehat ketika gaji ayah kita tidak beranjak untuk naik.

Menghadapi permasalahan yang pelik ini pasti hati muda kita bergolak. Kita serukan pada semesta negeri ini untuk menolak kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat, yang tidak berpihak pada kita dan seluruh rakyat Indonesia.

kenaikan harga BBM tidak hanya menyengsarakan rakyat kecil lebih dari itu kenaikan harga BBM akan menguntungkan korporasi asing yang merupakan perpanjangan tangan imperialis dinegri kita. Dengan sejuta semangat kita penuhi Jalanan yang merupakan gelanggang kita, parlemen tempat kita menyerukan aspirasi kita, kita bentangkan spanduk dan seruan – seruan lewat orasi kita. Dan sayang seribu sayang aspirasi kita dianggap angin lalu tidak digubris sama sekali kita dianggap pengganggu dihalau dipukuli bahkan sebagian kita ditangkap dijebloskan dalam hotel prodeo.

Kuatkan hatimu kawan, tirani akan terus bercokol selamanya. Selama malaikat masih ada ditangan kanan dan kiri kita selama itupula iblis akan terus mencoba menguasai dunia ini. Selama itupula perjuangan menegakkan keadilan akan terus membutuhkan pejuang – pejuang ikhlas. Kuatkan hatimu kawan, serukan seruan penegakan keadilan bagi seluruh rakyat dinegri ini. Perjuangan harus terus digelorakan jangan surut sejengkal tanganpun. Namun satu kewajiban kita kaum intelektual dinegri ini mengedepankan sikap intelektual yang selalu berfikir positif dan bermartabat.

Membaca risalah ini, kau pasti berfikir aku menyerukan revolusi atau kudeta. Tidak kawan, masih hangat dalam ingatan kita reformasi yang digerakkan kakak – kakak kita ditahun 98 berapa harga yang yang harus kita bayar untuk menggulingkan sebuah rezim tiran dinegri ini. Kita harus sadar kita berada diantara dua kutub, pemerintah dan rakyat jelata. sedikit kesalahan yang kita lakukan akan berakibat fatal, bukan kita saja yang rugi tapi semua rakyat akan mendapat getahnya. Kita harus bisa berfikir panjang dan cermat agar bencana yang lebih besar tidak terjadi dinegeri ini.

Bersabar, ya bersabar itulah yang kuserukan pada kalian, kita ikuti alur waktu yang terus melaju dengan cepat. Cepat atau lambat generasi kita akan menerima estafet kepemimpinan dinegri ini. Aku berharap semangat kita yang saat ini bergelora untuk menegakkan keadilan, memihak pada rakyat dapat bertahan tertanam dalam hati kita.

Dengan semangat yang saat ini mengapi bergelora kita rubah negri yang carut – marut ini, Dengan semangat kita yang saat ini sedang bergelora, kita bangun satu tatanan negara yang lebih baik, yang tidak tunduk dengan tekanan asing, yang tidak bisa direndahkan apalagi dilecehkan. Kita bangun satu negara yang berdaulat sepenuhnya dimana kita bisa menjadi tuan dirumah kita sendiri.

Sekali lagi kuserukan bersabar kawan, simpan emosi kalian untuk masa yang akan datang. Dimana energi kita akan benar – benar dibutuhkan.

Hidup Mahasiswa!!!