Category Archives: Puisi

Peluru

Standar

Ketika itu aku masih kanak masih dalam pangkuan bunda
Belum kufahami apa itu benci apa itu cinta
Belum ku tahu apa makna derita dan makna bahagia
Tidak aku mengerti apa itu amarah apa itu tawa.

Malam baru saja meliputi kampung.
Sayup-sayup masih kudengar lantunan Al-Qur’an dari meunasah
Gerimis yang turunpun cukup membuaat bumi basah
Dalam buaian bunda aku tercekat
Dan bundapun turut melompat.

Sebuah senjata menyalak melontarkan sebuah peluru
peunyan bunda?tanyaku lugu
bunda tak menjawab, semakin erat iya memelukkku

tak lama kemudian semua hening sunyi dan mati.
Teriakan tangis kudengar dari tetangga sebelah utara
Darah mengalir dari sebuah lubang peluru yang menembus hati
Ketika itu aku belum mengerti untuk apa semuanya.

Lama sudah waktu kulewati
Kini aku bukan kanak lagi
Kemarin dibelakang rumah kudapati
Sebuah selongsong peluru
Pengingat masa lalu

Peluru itu aku ambil aku simpan dalam lemari
Disebelahnya sebuah potret hitam putih
Dari seorang lelaki yang tak pernah kutemui
Yang pergi bersamaan dengan terlontarnya peluru diawal pagi

Kusimpan peluru itu
Sebagai mimpi buruk
Yang kuharap tak pernah terulang lagi

Painan 3/6/15

Iklan

Untuk Dia yang Terbuang dan Tersisih

Standar

Ku tulis ini untuk dia yang terbuang

untuk dia yang tersisih

untuk dia yang berada dalam sepi

bukan karena langkah yang salah

tapi karena makna yang sulit untuk terungkap

dilorong malam kala bulan benderang

secari kertas tak memimiliki arti buat hati yang telah mati

dia yang terbuang tersisih terus berjalan dalam makna yang hitam

memberi cahaya buat agar mereka bisa membaca

bulan menghilang bersama gelisahnya manusia

bukan cinta yang dibalas

namun darah yang ditumpahkan

buat dia yang terbuang tersisih dan

barakhir sunyi…

painan….

BUKAN SEDIH INI YANG MEMBUAT LUKA

Standar

BUKAN SEDIH INI YANG MEMBUAT LUKA
bukan sedih ini yng membuat luka,’
Tapi duka yang datang tiba-tiba.
Bukan perih ini yang membuat sakit
Tapi sayatan yang mengoyak kulit.

Ah, pahit benar
Tak ada lagi seberkas sinar yang terpancar.

Ah, tragis.
Tak mugkin mata harus menagis

Ah, gila
Tak mu10420241_371290803023810_6184146704993634712_nngkin pula mulut harus mencerca.
Toh tak mungkin pula dia kembali…
Painan, 25/4/15
Duka laptopku pecah lcdnya
Cobaan dari Allah…. Allahumma ghfirli…

Tanpa Judul

Standar

Hujan, air kesunyian.
Gelap mendung dingin
Pepohonan yang basah
Gemericik air yang jatuh dari langit
Air mengalir sementara ayam menggigil disudut
Ranting yang bergoyang ditiup angin
Sementara kontrakan sunyi jauh dari cinta
Kubah mesjid hijau diujung jalan
Lalu hujan semakin deras
Disampingku ada buku sebagai teman
Ketika petir mengejutkan lamunan

Tertawan

Standar

matahari mulai merangkak kebrat
ketika induk ayam berkotek membawa anaknya masuk kekandang
sementara bulan mulai mencari tempat memamerkan cahayanya
menggoda pungguk yang selalu bermimpi menggapai rembulan.

sayup sayup jam dinding berdentang 12 kali
ketika aku tak mampu memejamkan mataku

disudut kamar aku sendiri dalam sepi
tertawan oleh rasa rindu.

ingin kumaki mata yang tak juga terlelap
tapi apa lacur hatipun tak ingin untuk tak memikirkannya.

images

ah,ternyata bukan hanya au semua organku tubuhku puntertawan

semakin cepat jam berputar semakin aku menjadi panik
bagaimana bisa ku usir bayangannya.

aku tak mau terjajah walau aku mencintainya…

Apa Mimpi ini Terlalu Dalam?

Standar

Angin berhembus menggulung ombak,
Menggoyangkan dahan cemara ditepi pantai
Dan terik metahari memerahkan pasir yang membentang.

Dua anak kecil berlari berkejaran dihadapanku,
Sementara aku berjalan dalam kesepian
Sambil menatap jauh keujung cakrawala dunia.

Hari menjelang petang perahu nelayan mulai berarak menuju lautan,
Kusaksikan tuhan tersenyum kepadaku dan menurunkan bidadarinya.
Aku tercekat, aku kaget terkejut, Apa mimpi ini terlalu dalam?

wandai

Suara kicau burung menggema
Sejenak kemudian dunia berubah
Sejuta bunga tumbuh dan mekar mengelilingiku
Bidadari itu melambai menampakkan kebaikan dan kebahagiaan
Menyapaku dengan sopan bak putri diistana raja, ia mendudukkanku
Diatas singgasana dan membisikkan kata kata cinta.

Malam menjelang ketika sayup – sayup terdengar kumandang azan
Dalam kemustahilan aku bertanya benarkah ini nyata???

Painan, 10 juli 2014

Ketika Perahu Berlabuh

Standar

DSC_2052 2 copy

Ketika perahu berlabuh
Tampaklah nyiur melambai lembut menyambut
Seketika itu pula aku butuh akan cahaya
Sebab telah tiba malam gelap

Jalan telah tampak kabur
Hanya tampak mata burung hantu yang menatap curiga
Lantas kau datang membawa cahanya dalam hatimu
Tapi kau tampak tak sungguh untuk memberi cahaya itu

Aku hanya bisa meraba
merasakan semua yang tak pasti
perlahan aku merasa ragu
mengapa cahayamu tampak meredup?

Painan, 4 mei 14 20:23

Biarkanku Merasakan Cinta

Standar

Hujan terlambat datang sore ini

Hatiku lebih dahulu basah dengan air mata

Dan rasa sendu yang  menyelimuti hati

Karna cinta yang tak memihak bagi jiwa

 

Semua hanya hayal bagiku

Tak pernah terwujud menjadi nyata

Semua impian dan angan palsu

Yang hilang begitu fajar tiba

Malam seakan berhianat

Hanya memberi sejuk

Buatku yang tersesat digelap pekat

Dan jalan terjal yang terbentuk

Biarkanku merasakan cinta

Untuk sekali ini saja

Berikan aku rindu

Jangan biarkan aku hidup dalam sendu