Category Archives: Artikel

Tarbiyah Islamiyah Bagi Anak

Standar

Anak merupakan anugrah yang Allah titipkan kepada kita, sebuah titipan yang harus kita jaga dan lindungi sebab akan kita pertanggung jawabkan di hari akhir kelak. Selain menjaga unsur jasmaninya kita wajib pula menjaga unsur rohaninya dan membentuknya menjadi generasi rabbani yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Ibnul Qayyim Jauziah menetapkan salah satu syarat yang harus ditempuh seseorang untuk mencapai derajat hamba rabbani adalah dengan sungguh-sungguh dalam mencari hidayah dan ilmu agama yang benar yang bisa memberikan kemenangan kebahagiaan didalam kehidupannya. Pandangan Ibnul Qayyim diatas memberikan gambaran bagi kita bahwasanya pendidikan merupakan unsur terpenting dalam usaha membentuk generasi rabbani, didalam Islam pendidikan atau tarbiyah haruslah dimulai dari sejak dini bahkan sebelum bayi itu dilahirkan.

Dalam islam pendidikan terhadap anak harus dimulai sejak awal sekali yaitu sejak memilih ayah dan ibunya, seorang lelaki yang ingin menikah hendaklah iya mencari wanita yang baik agamanya bukan sekedar melihat aspek dunia kecantikan, kekayaan dan ketinggian bangsanya. Sebagaimana Rasulullah bersabda “Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)  hadis nabi ini mengisyaratkan bahwa wanita yang terbaik adalah wanita yang baik agamanya. Begitu juga seorang wanita haruslah menerima pinangan lelaki yang baik dari segi agamanya, aqidahnya, ibadahnya dan akhlaknya. Sebagai mana didalam hadis disebutkan “Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi).

Tahap selanjutnya dalam mendidik seorang anak adalah ketika berada dalam kandungan, penelitian medis menyatakan bahwa bayi diatas usia tiga bulan indranya sudah mulai berfungsi dan bisa merasakan lingkungannya maka dari sini kita sudah harus memulai untuk memperdengarkan hal-hal yang baik kepadanya seperti lantunan Al-Qur’an dan kajian keIslaman sebab pengalaman yang dirasakan oleh ibu akan dirasakan pula bagi bayi dalam kandungan, memberikan pengalaman yang baik pada ibu maka akan memberi dampak yang positif bagi perkembangan psikis bayi dalam kandungannya hal ini akan berdampak pula pada perkembangan anak selanjutnya.

Setelah bayi lahir maka tugas kita selaku orang tua dalam mendidik anak semakin berat terutama di era perkemangan teknologi yang sangat pesat saat ini, hal pertama yang harus diajarkan kepada anak adalah pelajaran  Aqidah Tauhid sebagai mana yang dipraktekkan Luqman yang kemud

foto-keakraban-anak-kecl-dengan-hewan-liar-6

Gambar diambil dari pulp.com

ian diabadikan didalam Al-Qur’an “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13). Pembelajaran Aqidah yang baik akan memberikan kesadaran yang utuh kepada seorang anak bahwasanya iya adalah makhluk yang mempunya kewajiban terhadap tuhannya, kesadaran ini akan membuat iya ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT dan senantiasa takut untuk melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT dimana muaranya adalah ketaqwaan.

Pelajaran selanjutnya yang harus kita berikan pada anak adalah praktek ibadah yaumiyah ibadah harian seperti Shalat, Puasa, Sedekah dan Sunnah-sunnah yang senantiasa Rasulullah peraktekkan. Diusia dimana anak sudah mulai meniru lingkungannya maka teladan dan contoh dari orang tua sangatlah penting oleh karena itu orang tua terutama ayah haruslah proaktif dalam memberi keteladanan dalam kehidupan sehari-hari sehingga si anak mencontoh yang baik pula dari orang tuanya baik itu dalam ibadah maupun muamalah sehari-hari.

Setelah memasuki usia sekolah orang tua orang tua harus selektif dalam memilih sekolah bagi anaknya, orang tua hendaklah memasukkan anaknya kedalam sekolah yang tidak hanya mengajarkan aspek duniawi tetapi juga aspek ukhrawi  kedua aspek ini sangat penting dalam perkembangan kehidupan manusia sebab manusia tidak hanya harus sukses didunia tetapi dia harus sukses diakhirat dan kesuksesan diakhirat merupakan kesuksesan abadi maka merugilah orang yang sukses didunia namun gagal diakhirat nanti.

Dan yang terakhir adalah memberikan lingkungan yang baik kepada anak kita, memperhatikan kegiatannya diluar rumah, memperhatikan siapa temannya dan tempat bermainnya. Lingkungan sangat berperan dalam membentuk kepribadian seorang anak jangan sampai kelalaian kita terhadap lingkungan anak menyebabkan apa yang telah kita ajarkan menjadi sia-sia sebab iya terpengaruh temannya yang buruk. Pada masa sekarang proteksi terhadap lingkungan anak kita sangat penting, orang tua harus proaktif dalam mendampingi perkembngan anaknya jangan biarkan anak kita dewasa tanpa pengawasan kita  namun didalam proteksi tersebut kita tetap tidak boleh mengekang kehidupannya dan cita-citanya tetapi memberi pandangan dan pengarahan kepada hal yang positif. (Padang 15/3/16)

Kritik Tan Malaka Terhadap Boedi Oetomo

Standar

Beberapa minggu lalu kita memperingati hari kebangkitan nasional. Penetapan hari kebangkitan nasional ini sendiri diambil dari momen hari dimana organisasi boedi oetomo pertama kali didirikan. Diambilnya tanggal lahirnya boedi oetomo sebagai hari kebangkitan nasional karena anggapan Boedi Oetomolah organisasi kebangsaan yang pertama sekali menginginkan Indonesia merdeka.

Dalam perjalananya organisasi yang digawangi para priyayi jawa didikan belanda ini tidak lepas dari lontaran kritik yang tidak saja dilepaskan oleh penjajah tetapi juga para tokoh pergerakan, salah satunya oleh Tan Malaka. Jika pemerintah menganggap bahwa lahirnya Boedi Oetomo sebagai ikon pertama kesadaran nasional untuk mecapai indonesia yang merdeka dari Sabang sampai Merauke Tan Malaka justru memberikan kritikan sebaliknya.

Didalam buku aksi masa yang ditulis Tan Malaka ditahun 1926, Tan Malaka menyoroti beberapa hal sebagai kelemahan Boedi Oetomo sebagai organisasi pergerakan nasional antara lain:

Boedi Oetomo Bersifat Kedaerahan (Kebangkitan jawa).

” Budi Utomo yang mengangkat kembali senjata-senjata Hindu-
Jawa yang berkarat dan sudah lama dilupakan itu, sungguh tidak
taktis dan jauh dari pendirian nasionalis umum. Perbuatan itu
menimbulkan kecurigaan golongan lain yang mencita-citakan
persaudaraan dan kerja sama antara penduduk di seluruh
Indonesia (bukan antara penjajah satu terhadap Iainnya). Dengan
jalan sedemikian, Budi Utomo menimbulkan gerakan ke daerah
yang bila perlu (misalnya Budi Utomo kuat), dengan mudah
dapat dipergunakan imperialisme Belanda. Dengan keadaan
seperti ini, keinginan “luhur” yang satu dapat diadu dengan yang
lain, yang akibatnya sangat memilukan, Indonesia tetap jadi
negeri budak.”

Sikap Koopertif dengan belanda

“Panjangnya umur Budi Utomo sebagian besar
diperolehnya dari “mantera-mantera” pemimpinnya, dari hasil
“main mata” dengan pemerintah dan dari hasil kelemahan teman
seperjuangannya. Sebuah semangat kosong seperti Budi Utomo
dapat diterima oleh pemerintah seperti Belanda.”

Menganut Ilmu Kebatinan dan Klenik (Kejawen)

“siang malam. Di dalam “lingkungan sendin” kerapkali dukundukun
politik itu menyuruh Hayam Wuruk — Raja Hindu atau
setengah Hindu itu — dengan laskarnya yang kuat berbaris di
muka mereka. Di luar hal-hal gaib itu, paling banter hanya
dibicarakan soal-soal yang tak berbahaya. Di dalam Kongres
Budi Utomo berkali-kali (sampai menjemukan) kebudayaan dan
seni Jawa (?) dibicarakan.”

Tidak memiliki kegiatan yang berefek langsung terhadap pergerakan kemerdekan

”Budi Utomo — didirikan pada tahun 1908 — adalah sebuah
partai yang semalas-malasnya di antara segenap partai-partai
borjuis di Indonesia. Seperti seekor binatang pemalas, ia merana
sombong karena umurnya panjang. Karena ia tak mendapat caracara
aksi borjuis yang radikal dan tidak berani mendekati dan
menggerakkan rakyat maka dari dulu sampai sekarang, kaum
Budi Utomo menghabiskan waktu dengan memanggil-manggil
arwah yang telah lama meninggal dunia. Borobudur yang kolot,
wayang dan gamelan yang merana, semua basil “kebudayaan
perbudakan”ditambah dan digembar-gemborkan oleh mereka
siang malam.”

Saya tidak ingin mengambil kesimpulan buat kritik Tan Malaka terhadap Boedi Oetomo, karena saya sependapat dengan Tan Malaka dan juga sependapat dengan kawan-kawan yang lebih memilik sjarekat Islamlah ikon kebangkitan nasional. Saya hanya berharap kita jujur dengan sejarah, karena Bung Karno mengajarkan kita untuk menghargai sejarah.

*sumber tulisan dari buku Aksi Masa karya Tan Malaka 1926 disingapura edisi Pdf ECONARCH Institute

Jangan Lebay! Al-Qur’an Langgam Jawa

Standar

Hampir 70 tahun negara ini merdeka sudah tujuh orang presiden yang memimpin negri ini, melihat panjangnya perjalanan sejarah negri ini sudah tidak layak lagi rasanya kita berbicara tentang primordial kasukuan dan kedaerahan. Ketika pendiri bangsa mendirikan negara ini mereka sepakat untuk membngan sebuah negara yang nasional yang tidak meninggikan satu golongan suku dan daerah manapun semua diikat dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia.

Kemarin secara tidak sengaja saya menonton pembacaan Al-Qur’an dengan langgam jawa melalui youtube dan sepertinya menjadi perdebatan diatara netizen dimedsos. Jujur saya mendengarnya bukan terenyuh justru saya tertawa buat saya yang bukan orang jawa pembacaan Al-Qur’an sangat lucu untuk didengar. Sebagai orang awam saya tidak bisa berkomentar tentang hukum membaca Al-Qur’an selain dari lahjah arab untuk hal ini lebih baik kita merujuk saja kepada alhi fatwa hukum Islam tentang bagaimana hukum membaca Al-Qur’an dengan langgam jawa. saya sendiri pernah belajar beberapa cara dalam membaca Al-Qur’an jika memang dikatakan demikian seperti bayati tapi saya tidak meneruskan belajar sampai saya mahir, saya berhenti karena saya anggap tidak ada gunanya saya teruskan karena suara saya tidak seindah suara ustad Muammar ZA apalagi Rhoma Irama.seandainya saya mahirpun pasti tidak enak untuk didengar. Terlepas dari itu saya yakin Allah SWT tuhan yang maha adil, saya yakin Allah tidak membalas pahala seseorang yang membaca Al-Qur’an bukan dari kemahiran dalam melagukan Al-Qur’an dan bagusnya suara seseorang dalam mambaca Al-Qur’an saya yakin pasti Allah membalas dari sejauh mana seseorang mampu menghayati dan mengamalkan Al-Qur’an itu sendiri.

kalau melihat Al-Qur’an secara keseluruhan saya melihat Al-Qur’an bukan saja mengajarkan nasionalisme tapi universalitas itu sebabnya sampai hari ini mushaf Al-Qur’an masih mempertahankan huruf Arab (Arabic letter) sebagai tulisannya walaupun telah diterjemahkan dalam bahasa lain. dan saya yakin universalitas Al-qur’an ini akan terus dipertahankan oleh ulama kita, karena Al-Qur’an diturunkan buat seluruh umat manusia, tidak hanya untuk bangsa arab apalagi jawa tapi untuk seluruh suku bangsa didunia

kembali lagi bicara nasionlisme, saya rasa kita harus berterima kasih pada Bung Karno, presiden pertama kita beliau adalah pemimpin nasional pemimpin yang bisa merangkul seluruh masayarat yang berbeda suku bangsa`untuk bergabung dalam bingkai NKRI.

Beliau orang jawa tulen, tetapi beliau berbicara menggunakan bahasa indonesia sebagai mana orang melayu melafalkannya, memang tidak bisa dilepaskan bahwa beliau pernah dibuang diasingkan Belanda dibeberapa lokasi dipulau sumatra dimana sebagian masyaraktnya melayu. Kalo melihat video pembacaan teks proklamasi dan pidato-pidato lainnya beliau hampir tidak pernah menyisipkan entri-entri bahasa jawa dalam pidato-pidatonya, nasional sekali sebagaimana sumpah pemuda yang mengatakan kita berbahsa satu bahasa Indonesia.

Dimasa permerintahan Soekarnopun pembangunan sudah dimulai dan banyak bangunan-bangunan yang beliau bangundan sekali lagi beliau sangat menghormati mereka yang diluar jawa, saya kira orang akan mencaci soekarno jika monas beliau beri nama monumen ken arok atau tunggul ametung, stadion gelora Bung Karno diberi nama gelora Joko Tingkir.

Sampai saat ini saya masih husnudzan dengan bapak Jokowi walaupun pada pilpres saya bukan dari kubu beliau saya yakin beliau memahami betul konsep nasionalisme yang digaungkan Bung Karno dan saya yakin spenuh hati tidak ada niat belaiu untuk menjawanisasi Indonesia. Dan kejadian pembacaan Al-Qur’an dengan langgam jawa saya yakin juga bukan kehendak beliau. Kalau saya boleh memberi keritikan saya ingin mengatakan protokuler negara jangan lebay! hanya karena presiden kita saat ini medok jawane semua yang ada didekat presiden dijawakan. Apalagi menjawakan Al-Qur’an yang telah memiliki ketentuan sendiri….Bisa Kualat sampean!!!!

Siapa yang Boleh Berfikir

Standar

Selama bersetatus mahasiswa saya bisa digolong sebagai mahasiswa yang rajin untuk membolos ketika kuliah berlangsung, terutama untuk mata kuliah atau dosen yang tidak menarik sehingga membuat bosan untuk belajar.
Tapi ada satu ungkapan dari seorang dosen yang sampai saat ini masih saya ingat dan selalu menjadi bahan fikiran saya. Saya tidak ingat pasti kenapa dosen tersebut mengelurakan ungkapan tersebut, namun seandainya ungkapan tersebut diaplikasikan ditengah dunia pendidikan ungkapan tersebut merupakan pembodohan.
Jujur saya tidak ambil pusing dengan ungkapan dosen tersebut saya kira ungkapan itu cuma sampah yang tidak layak dimasukkan keotak. Namun beberapa waktu saya bertemu dengan seorag sahabat yang kebetulan lagi duduk diprogram pasca sarjana, dan teman tadi bercerita kalau dosen dipasca sarjanapun mengungkapakan ungkapan yang sama.
Saya berkuliah dijurusan Pendidikan Agama Islam, dan teman tadi diFakultas Usuluddin jurusan Tafsir Hadis. Kami berbeda kampus, kebetulan saya dikampus swasta dan teman saya dikampus plat merah dibawah naungan depag Sumatra Barat. Tapi kami menemukan ungkapan yang sama dari dosen yang juga pastinya berbeda, ungkapan tersebut adalah, “ MAHASISWA S1 S2 DILARANG BERPENDAPAT YANG BOLEH BERPENDAPAT ADALAH S3 ATAU PROFESOR”.
Sekilas pertama kali mendengar ungkapan ini saya kira ungkapan ini lucu bin aneh, apalagi samapai keluar dari uangkapan seorang dosen diperguruan tinggi islam, Pertama agama Islam merupakan agama yang mendorong dan memberi ruang berfikir bagi umatnya, namun mengapa batasan untuk berpendapat dibangaun berdasarkan gelar semata?

Kedua,berpendapat sangat terkait dengan dunia berfikir dan berpendapat erat kaitannya dengan apa yang didalam ilmu usul disebut Ijtihad, maka peryataan diatas sangat bertentangan dengan semangat pembaharu Islam yang selalu menggelorakan umat untuk senantiasa membuka pintu Ijtihad. Jadi seandainya kerangka berpendapat dibatasi oleh gelar akademik saya kira menjadi kerdillah agama ini, dan konsep Ijtihad yang seharusnya tebuka menjadi tertutup dimonopoli oleh ahli gelar.
Bagaimana berpendapat dalam Islam?
Berpendapat sebagaimana saya tulis sebelumnya berkaitan erat dengan berfikir, didalam Islam ada Istilah yang disebut Ijtihad yang artinya “usaha sungguh-sungguh memberikan keluasasan didalam bidang hukum syariah dengan jalan istimbath berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah”. Istimbath tidak mungkin dapat ditempuh jika tidak dengan jalan berfikir jadi berfikir dan berpendapat dalam Islam sangat terbuka lebar. Orang yang berIjtihad disebut mujthahid mereka memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, mereka digelari Al-Imam bukan doktor atau Profesor. Contoh mereka yang diberi gelar Al-Imam adalah Imam Mazhab yang empat, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad Bin Hambal.
Walaupun berpendapat dan berfikir diberi ruang yang luas dalam Islam namun, berpendapat tidak bisa dijalankan secara serampangan, karena ada qaidah-qaidah yang tidak boleh dilanggar, sehingga memang tidak semua orang bisa menjadi mujtahid.
Syarat-syarat Ijtihad antara lain:
1. mengetahui segala Ayat dan sunnah yang berkaiatan dengan hukum
2. mengetahui masalah-masalah yang telah diIjma’kan oleh para ahlinya
3. mengetahui nasakh mansukhmengetahui dengan sempurna bahasa Arab dan ilmunya.
4. mengetahui usul fiqh
5. mengetahui Assyarusysyariat
6. mengetahui Qawaidul Fiqh.
Adapun syarat-syarat khusus yang yang harus dimiliki seorang Mujtahid:
1. berakal kuat (cerdas)
2. adil
3. jujur
4. memiliki akhlak yang baik
5. mengetahui madarikil ahkami
6. memahami lughah
7. memahami tafsir
8. mengetahui asbabun nuzul
9. menguasai ilmu rijalul hadis
10. memahami dzar wa ta’dil
11. Mengetahui naskh wa mansukh
Ulama mengatakan mereka yang memiliki kualifikasi tersebut diatas maka berhaklah dia menggali langsung istimbath hukum berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, jadi mereka inilah yang berhak untuk berpendapat dalam islam secara mutlak.
Dan bagi mereka dikalangan umat Islam yang tidak mampu untuk mencapai derajat mujtahid maka dia dapat mengambil tingkatan kedua yaitu muttabi’, muttabi’ merupakan isim fail dari itiba’ ulama menjelaskan ittiba’ adalah “mengambil ucapan sesorang dan mengetahui dalil ucapan orang tersebut”. ittiba’ sendiripun tidak bisa dilepaskan dari berfikir sebab ada banyak ucapan dan fikiran yang dikemukakan oleh manusia yang harus ditimbang dan diukur dangan ketentun syariat, terkadang para mujthid satu dengan yang lain berbeda pendapat mereka tentang suatu hukum syar’i maka kita yang berittiba’ harus juga mengolah daya fikir kita menelusuri dalil-dalil yang dikemukakan para mujtahid untuk mencari yang paling shahih diantara pendapat mereka.
Ijtihad dan ittiba’ dianjurkan dan dituntut dalam Islam, dan ulama mencegah kita untuk ta’liq yaitu “mengikuti suatu ucapan seseorang baik itu ucapan mujtahid tanpa mengetahui dalilnya”.
Maka dari penjelasan diatas berfikir, berpendapat tidak dibatasi oleh gelar dan strata pendidikan, ada banyak ulama islam yang tidak sekolah formal, tidak mempunyai gelar akademik namun ilmunya lebih luas dan lebih banyak dari seorang profesor sekalipun. Haruskah mereka kita kerdilkan karena tidak memiliki gelar akademik???

sumber tulisan

1. Pengantar Hukum Islam oleh T.M Hasbi Assyddiqy

2. kitab Mabadi awaliyah ustad Abdul Hamid Hakim

Cut Nyak Dien Jilbaber

Standar

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan “apa salahnya kalau kita jujur mengakui Cut Nyak Dien berjilbab?”

Beberapa waktu yang lalu, sebelum peristiwa naas kecelakaan pesawat air asia, jagat raya dunia maya sempat bergetar diguncang sebuah foto. Sebuah foto lawas hitam putih yang dipost oleh fans page “seuramoe mekkah” menunjukkan sosok wanita yang memakai jilbab, oleh admin “Seuramoe mekkah” foto tersebut diklaim merupakan foto pahlawan nasionl Cut Nyak Dien yang asli, yaitu wanita yang berjilbab. Sementara foto atau lukisan yang biasa terdapat dibuku sejarah dianggap buatan para sekuler yang ingin menjauhkan masyarakat aceh dari agama islam.

1384149_858408900878676_2426134298039513677_n

Sebelum saya lanjutkan tulisan ini, saya harus jujur apa yang saya tulis tidak lebih dari asumsi pribadi. Saya kira tulisan ini sulit untuk mendekati tulisan ilmiah, sebab memang saya sendiri tidak memegang satu refrensipun tentang Cut Nyak Dien. Namun demikian saya berfikir saya tetap harus melanjutkan tulisan ini walau tanpa rujukan, nama sebesar Tan Malakapun ketika menyusun bukunya yang berjudul Madilog juga tidak menggunakan refrensi hanya berdasarkan bahan bacaan yang teringat dan terhafal dikepalanya jadi saya kira tidak masalah sebuah tulisan tanpa refrensi yang memadai. Untuk biografi Cut Nyak Dien ada lebih dari tiga buku yang sudah saya baca, salah satunya yang disusun Oleh Prof. Anhar Gonggong, tapi sayang buku tersebut tertinggal dimedan jadi tidak bisa untuk dirujuk dalam tulisan ini dan ada sebuah artikel menarik dari edisi kusus majalah sabili beberapa tahun silam yang mengangkat tentang Cut Nyak Dien, dan ketika sedang belajar di dayah (pesantren diaceh) saya juga membaca biografi Teungku Fakinah, seorang Ulama wanita aceh yang namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit, beliau adalah sahabat dan teman curhatnya Cut Nyak Dien.
Dalam tulisan ini saya ingin menulis apa adanya tentang beliau Cut Nyak Dien dan berusaha untuk menjauhi kesan meninggikan aceh baik sebagai daerah atau suku dan merendahkan daerah lain. karena saya tangkap dari indatu (nenek moyang) mereka tidak pernah merendahkan bangsa lain. buktinya Sultan Iskandar Muda mengangkat menantunya yang berasal dari negeri Seberang (Malaysia) menjadi raja Aceh selanjutnya. Dan kusus Cut Nyak Dien beliau juga bukan asli Aceh nenek Moyangnya berasal dari Minang Kabau bernama Datuk Makdum Sati. Walaupun bukan berasal dari aceh Datuk Makdum Sati dihormati dan konon diangkat menjadi penasehat raja karena ketinggian ilmunya dan inilah pelajaran yang saya tangkap dari indatu (nenek moyang) untuk menghormati orang lain.

Sebelum foto itu ramai menjadi perbincangan saya tidak begitu tertarik dengan foto tersebut ketika seorang teman mengirim foto tersebut diberanda akun Facebook saya, hanya sebuah foto fikir saya. Namun tak lama kemudian ada banyak surat kabar nasional yang menanggapi foto tersebut salah satunya majalah Historia yang menurunkan artikel khusus menanggapi foto tersebut. didalam artikel tersebut majalah historia membantah kalo Cut Nyak Dien berjilbab dan mengatakan bahwa foto yang diposting oleh fp “ Seuramo Mekkah” bukan foto Cut Nyak Dien tapi foto istri panglima Polem, dan menunjukkan sebuah foto lain dari media – KILTV.nl yang menunjukkan bahwa Cut Nyak Dien tidak berjilbab.

Sebenarnya bukan yang pertama sekali saya melihat foto dari kiltv tersebut, beberapa tahun yang lalu saya melihat foto tersebut di Edisi Kusus Majalah Sabili dan memang benar Cut Nyak Dien pada foto tersebut tidak memakai jilbab, dan juga saya yakin foto yang dipost oleh “seuramo mekkah” bukanlah foto Cut Nyak Dien tapi foto istri Panglima Polem. Walau demikian disanalah kunci tulisan ini, kunci dari asumsi saya yang mengatakan Cut Nyak Dien berjilbab.

Asumsi pertama

Disebutkan (menurut ingatan saya) ketika diasingkan ke Sumedang, Cut Nyak Dien dalam keadaan tidak lagi mampu untuk melihat dalam kata lain Cut Nyak Dien mengalami kebutaan dan menariknya dalam keadaan demikian Cut Nyak Dien masih tetap mengajar ngaji untuk masyarakat disekitar tempat beliau diasingkan bahkan beliau dianggap ulama dan diberi gelar ibu perbu.

Orang yang mengalami kebutaan namun masih mampu untuk mengajar mengaji haqqul yakin 90% orang tersebut menghafal Al-Qur’an dalam kata lain hafizh. Didalam tradisi yang berkembang diaceh seorang hafizh haruslah taat pada ajaran agama, salah satunya menutup aurat dan menjaga kehormatannya. Maka dari sini saya yakin Cut Nyak Dien yang hafal Al-Qur’an pasti menjaga dirinya dan kehormatannya dengan menutup aurat dengan baik dalam bahasa lain beliau berjilbab.

Asumsi kedua.

Walaupun beliau seorang bangsawan Cut Nyak Dien bersahabat dekat dengan Teungku Fakinah (Ulama wanita) dan sering datang keDayah (Pesantren) milik Teungku Fakinah. Terutama ketika Teuku Umar membelot kepada Belanda, Cut Nyak Dien banyak meminta saran Teungku Fakinah untuk bisa menyadarkan kekeliruan Teuku Umar. (Prof. Ali Hasjmy)

Dalam aturan Dayah (Pesantren) dari dahulu sampai sekarang, orang yang masuk kedayah harus menjaga kesopanan, wajib menutup aurat bagi laki-laki dan perempuan. Mustahil Cut Nyak Dien yang sering keluar masuk Dayah tidak menjaga kehormatannya, jadi saya cukup yakin Beliau memakai jilbab (berjilbab).

Asumsi Ketiga.

Dalam foto yang diklaim merupakan foto istri Panglima Polem, tampak wanita tersebut menggunakan jilbab dan menutup auratnya dengan baik. Saya sendiri jujur tidak mengenal wanita tersebut dan saya kira orang aceh lain juga tidak mengenal wanita itu, saya kira hal itu wajar karena keterlibatan istri Panglima Polem dalam prang sabil tidak sehebat Cut Nyak Dien.
Kalau Istri Panglima polem yang tidak dikenal saja menggunakan jilbab menutup aurat dengan baik, bagaimana dengan Cut Nyak Dien yang lebih terkenal, pilar utama perang sabil, orang yang selalu membacakan Hikayat Prang Sabi yang dekat dengan ulama, pasti Cut Nyak Dien lebih berjilbab menutup auratnya dengan lebih baik.

Asumsi Keempat.

Dalam foto kiltv Cut Nyak Dien memang tampak tidak menggunakan jilbab, namun kalau dipertikan ada sehelai kain yang membelit leher beliau. Admin “Seuramoe Mekkah” mengatakan bahwa ketika foto diambil, belanda memaksa Cut Nyak Dien untuk Melepaskan jilbabnya, menurut admin “Seuramo Mekkah” Cut Nyak Dien memalingkan wajahnya dalam foto tersebut karena malu tidak memakai jilbab.

Saya kira Asumsi Admin “Seuramo Mekkah” ada benarnya namun tidak sepenuhnya benar, jika Belanda berani melakukan demikian saya kira seluruh orang aceh ketika itu akan marah dan belanda tidak menginginkan hal tersebut. Kalau begitu benarkah Cut Nyak Dien tidak berjilbab? Saya kira tidak juga, sebenarnya sulit menerjemahkan sebuah foto apalagi tentang sejarah pada masa yang sulit.

10610729_860387260680840_3176047545536440771_n
Namun kalau saya membaca foto tersebut saya bisa berasumsi Cut Nyak Dien berjilbab. Kain yang menutup lehernya adalah selendang untuk menutup kepala dalam kata lain jilbab. Ketika itu adalah masa perang dimana beliau banyak bergerak, kalau kita perhatikan foto tersebut beliau memakai celana, dan jarang wanita Aceh memakai celana kebanyakan wanita aceh memakai sarung atau rok seperti yang digunakan oleh istri Panglima Polem dalam fotonya. karena dalam islam perempuan tidak boleh menyerupai laki-laki memakai celana. Karena butuh kelincahan saya kira beliau memilih memakai celana dan beliau mengatahui dalam keadaan darurat hukum Islam bisa berubah untuk hal yang lebih maslahat. Asumsi saya dalam foto itu beliau tidak memakai jilbab dengan baik karena situasinya adalah situasi perang dimana beliau harus bisa mobile bergerak.

Pentingkah Cut Nyak Dien berjilbab?

Banyak dari netizen yang mengatakan “tidak penting meributkan Cut Nyak Dien berjilbab atau tidak yang penting mengikuti semangat perjuangannya”.

Saya sepakat dengan pernyataan diatas yang penting adalah mengambil semangat perjuangan beliau sebagai pahlawan yang berjuang untuk agamanya Prang sabi(perang dijalan agama), kalau kita nonton film Cut Nyak Dien yang banyak adalah kata takbir “Allahu Akbar” bukan kata “merdeka”.

Sebenarnya kalau diizinkan saya ingin merubah pertanyaan diatas dengan pertanyaan berikut, penting tidakkah kita marah karena seekor kerbau bule yang dianggap keramat ditombak orang? Penting tidakkah kita marah kalau orang mengatakan kemben atau koteka dipapua melanggar norma kesopanan? Penting tidakkah kita marah kalau ada yang menyebut mengesot menghadap raja di alam sekarang kita sebut perbudakan modren? ini kalau dibolehkan.

Pada suatu hari ketika libur saya yang seorang santri Dayah (pesantren) diaceh berkesempatan pulang ke Tebing Tinggi Sumatra Utara, diatas bus dikota biruen saya melihat seorang wanita keturunan china menaiki bus Pelangi. Ketika itu wanita china yang saya yakin non muslim tersebut mengikatkan selendang atau kerudung dikepalanya.

Sebenarnya dia tidak perlu menggunakan kerudung dikepalanya sebab kalaupun ada raziah syariat Islam dia tidak akan ditindak walau dia tidak memakai jilbab karena dia non Muslim. Namun dari pemandangan tersebut saya mendapat pelajaran wanita China tersebut memakai kerudung bukan karena Qanun syariat Islam atau takut raziah wilayatul hisbah, tapi karena jilbab sudah merupakan budaya bagi orang Aceh karena wanita keturunan China tadi sudah merasa diri orang Aceh walaupun dia bukan Muslim dia memakai kerudung untuk menjaga kesopanannya.

Saya kira sudah terjawab bagi orang Aceh menjadi sangat penting Cut Nyak Dien berjilbab, karena Cut Nyak Dien adalah simbol keAcehan, simbol wanita Aceh, simbol prang sabil (jihad). Mengatakan Cut Nyak Dien tidak berjilbab sama saja mengatakan ibu kandung saya wanita murahan, sayapun tidak terima. Dan saya kira akan sama dengan marahnya orang dijawa sana yang marah karena kebo bulenya ditombak orang, atau marah karena sultannya dihina oleh seorang florence.

Memecah belahkah tema  seperti ini?

Dari perdebatan para netizen didunia maya bahkan dibeberapa surat kabar nasional banyak yang mengatakan hal-hal seperti ini tidak perlu diangkat karena hanya memecah belah, kita harus menjaga persatuan dan kesatuan dengan semboyan bineka tunggal ika.

Sebenarnya persatuan tidak bisa dipaksakan tetapi harus dibangaun dan dibentuk dengan baik, kita harus akui tiap daerah kita memiliki sejarah dan budaya yang berbeda. Bahkan ada banyak daerah yang dulunya merupakan kerajaan yang saling berperang, kuasai-menguasai, bukankah yang membunuh putri mahkota pajajaran Diah Pita Loka adalah Gajah Mada dari Majapahit? Bukankah yang menangkap Cut Nyak Dien dan membunuh Teuku Umar adalah tentara Marsose dari Jawa dan Sulawesi? Bukankah yang memerangi Tunku Imam Bonjol adalah Sentot Ali Basya? Kita tidak bisa hindari sejarah kita.

Sekali lagi persatuan tidak bisa dipaksakan, atas dasar persatuan kita tidak bisa paksakan gamelan dimainkan dirumah bolon, sebab belum tentu orang batak mampu menikmati gamelan, demi persatuan kita tidak bisa memaksakan tari perang papua dimainkan orang bali  sebab orang Bali yang gemulai belum tentu jari-jarinya menikmati tari perang dari papua.
Lantas bagaimana bisa menjaga persatuan yang bernama Indonesia saat ini?

Yang paling utama menjaga persatuan kita saat ini adalah kejujuran, kita harus menghindari tipuan dan muslihat, kita harus jujur terhadap sejarah. Apa sulitnya jujur mengatakan Cut Nyak Dien adalah wanita muslim yang shaleh? Kanapa harus ditutupi dengan lukisan murahan menggambarkan Cut Nyak Dien menggunakan sanggul? Apa sulitnya jujur mengatakan benar bahwa Soekarno pernah berjanji pada Teungku Daud Beureuh, seandainya Aceh bergabung dengan Indonesia maka Aceh diberikan hak Istimewa untuk menjalankan syariat Islam? Apa sulitnya jujur pada sejarah?

Saya kira kalau kita jujur sejak awal  tidak akan ada pemberontakan, kalau pemerintah orde lama jujur dan memberikan penghargaan bagi pasukan hisbullah baik pimpan S.M Kartoswirya atau kahar Muzakkar saya kira tidak akan ada pemberontakan DI/TII, Kalau pemerintah orde lama mau jujur dan mendengarkan nasehat dewan banteng saya kira tidak akan ada pemberontakan PRRI Permesta, seandainya sejarah mau jujur saya kira Teungku Daud Beureuh pun tak akan mengangkat senjata melawan Soekarno.

Perpecahan hanya terjadi jika pemerintah tidak mau jujur, despot, menipu rakyatnya, bertindak bak Marsose pada rakyat sendiri. Ketidak jujuran pemerintah akan menyebabkan ada rakyat yang merasa ditindas, dilecehkan, dan terhina.Harga diri yang terhinalah yang lebih banyak membuat pemberontakan terjadi, dibandingkan ketidak adilan.

Kita harus segera jujur

Perdebatan didunia maya pada akhirnya bermuara pada dua foto, foto istri Panglima Polem dan foto Cut Nyak Dien versi kilvt dan kita melupakan lukisan wanita bersanggul yang diklaim buku sejarah sekolah adalah lukisan Cut Nyak Dien. Lantas lukisan siapakah itu? Benarkah lukisan Cut Nyak Dien?Saya yakin itu bukan lukisan otentik Cut Nyak Dien, sebab ulama Aceh mengharamkan lukisan dan kapan Cut Nyak Dien sempat membuat lukisan dirinya?

cut-nyak-dhien

benarkah ini lukisan Cut Nyak Dien? siapa pelukisnya?

Saya ingat dalam sebuah berita diTv, ada berita yang mengabarkan polemik hak cipta gambar Sultan Mahmud Badaruddin II sultan Palembang, yang terdapat pada uang Rp.10.000,-. Pelukis wajah Sultan Palembang tersebut menuntut royalti lukisannya dari Bank Indonesia atas dimuatnya lukisan Sultan Mahmud Badaruddin II diuang cetakan Bank Indonesia. Sebenarnya bukan polemik itu yang membuat saya tertarik, dalam berita yang menerupai film dokumenter tersebut, sipelukis menceritakan dia melukis sang Sultan untuk mengikuti saimbara melukis wajah Sultan Mahmud Badaruddin II dan dia melukis bukan dari sebuah gambar atau foto asli Sultan, tapi dari deskripsi tentang wajah Sultan dan si pelukis sendiri tidak mengetahui pasti wajah Sultan seperti apa. Artinya lukisan tersebut tidak otentik gambaran wajah Sultan Badaruddin II sepenuhnya.

dari hal diatas, saya khawatir lukisan wanita bersanggul yang diklaim wajah Cut Nyak Dien oleh buku sejarah juga bukan lukisan otentik tapi lukisan hasil deskripsi. Kalau begitu lukisan itu adalah bohong adanya. Seperti saya katakan kita harus jujur, jikalau lukisan tersebut bukan lukisan otentik Cut Nyak Dien sejarawan harus jujur dan lukisan lebih baik dibuang dan ditinggalkan. Kalau memang tidak ada lukisan otentik tentang Cut Nyak Dien tak perlulah dipaksakan cukup tulisakan saja Cut Nyak Dien adalah Pahlawan nasional, wanita shalehah yang taat pada agamanya yang berjuang melawan penjajah kafir yang ingin memurtadkan bangsa Aceh, saya kira tidak akan ada lagi yang merasa dihinakan.

Lamuri Rantai Sejarah yang Hampir Kita Putuskan

Standar

Secara tak sengaja karena bosan dengan acara tv yang isinya itu – itu saja saya pindahkan chanel remot tv saya ke chanel frekuensi metro tv berharap bisa menemukan informasi atau diskusi – diskusi yang menarik dimetro tv. Kemudian terpamapanglah sebuah mukhadimah sebuah film dokumenter dari acara melawan lupa yang judulnya Kerajaan Lamuri.

href=”https://puncakniskala.files.wordpress.com/2014/01/6218808.jpg”>6218808

Sebenarnya saya termasuk orang yang mencintai sejarah aceh, karena saya sendiri sebenarnya keturunan aceh yang lahir dan besar diluar aceh. Ketika saya melihat tanyangan ini saya fikir ini salah satu kampanye dari kawan – kaawan pemerrhati sejarah dan kebudayaan diaceh agar masyarakat dan pemerintah bisa melindungi situs – situs sejarah peninggalan kerajaan Lamuri. Sebab ada keinginan segelintir orang yang menginginkan tanah dibawah situs kerajaan lamuri dijadikan lapangan Golf ( semoga tidak pernah terwujud).Kalaulah niatan buruk itu terlaksana hanya ada satu kata untuk hal itu yaitu masyarakat aceh akan terputus dari rantai sejarahnya, karena cikal bakal kerajaan aceh darusalam yang agung dari lamurilah asalnya.

Sebenarnya saya berharap ada penelitian komprehensip tentang keraajan ini dari baik itu dari segi arkeologi maupun catatan sejarahnya. Karena menurut saya kehidupan masyrakat dan budayaan masyarakat lamuri sangat penting dielajari, sebab dikerajaan lamurilah pertama sekali terjadi persentuhan antara budaya lokal, hindu budda yang berasal dari india dan islam yang datang dari arab itu terjadi. Hal ini terlihat dari bentuk nisan dari makam makam yang terdapat pada situs kerajaan lamuri tersebut.
Asumsi saya mengatakan besar kemungkinan usia kerajaan lamuri lebih tua dibanding kerajaan Samudra Pasai ataupun Perlak. Saya akan kutip secara utuh apa yang ditulis Denis Lobard dalam bukunya sejarah aceh tentang Lamuri menurut kronik cina dan arab.
“Sedini abad ke-6 Sejarah dinasti Liang sudah banyak membicarakan kerajaan poli yang menurut sebagian orang sama dengan sebelah utara sumatra. Mulai abad ke-9 beberapa teks Arab menyebut sebuah daerah yang bernama “Rami” atau “ Ramni” atau kadang – kadang “Lambri”, yang kira – kira letaknya disana juga.”
Kalau melihat catatan ini artinya kerajaan lamuri atau poli sudah berdiri sejak abad ke-6. Lebih lanjut dalam catatan kaki pada bukunya Denys Lombard menyebutkan bahwa raja dari kerajaan poli beragama Budda.

201303190908051

Masih didalam bukunya Denys Lombard pada sebuah catatan kaki dimana denys juga mengutup dari J. Sauvaget dengan buku Relation de la chine et de i’Inde dimana buku ini sendiri dikarang tahun 851. “ dilaut apabila kita berlayar ke cylon ada pulau – pulau yang tidak banyak jumlahnya, tetapi besar – besar; tak ada keterangan lbih lanjut mengenai pulau – pulau tersebut; diantaranya ada sebuah yang dinamakan Lambri yang mempunyai beberapa raja, luasnya katanya 8 atau 900 parasanges (persegi). Emasnya banyak dan ada satu tempat yang dinamakan fantsur (baros) yang menghasilakan banyak kamper yang bermutu baik. Pulau – pulau tadi menguasai pulau – pulau lain disekitarnya, ada satu yang namanya Niyan (nias sekarang). Emas dipulau itu banyak. Makanannya kelapa yang dipakai penyedap dan salep. Dipulau itu (Lambri) ada banyak gajah; ada kayu sapang, bambu dan suatu suku yang makan orang (kanibal). Pulau itu dibatasi dua laut: laut harkand dan selat.

Kalau melihat tahun ditulisnya catatan ini yang bertarikh 851 artinya Lamuri sudah berdiri sebelum abad ke-8.
Pada akhir abad ke-13 marcopolo singgah dipelabuhan – pelabuhan bagian utara sumatra dan memberitakan terdapatnya Agama Islam dalam pelabuhan dagang yang namanya disebut olehnya yaitu: ferlec, basman, sumatra, dagroian, lambri, dan fansur. Pada tahun 1365 negarakartagama menyebut Tamiang, perlak, samudra, lamuri, barus, dan barat diantara kota – kota yang “setia” pada majapahit.
Dari catatan marcopolo ini kita dapati pada abad 13 islam telah hadir diLamuri artinya telah terjadi asimilasi dan perubahan keyakinan masyarakat.

pada akhirnya sendiri kerajaan lamuri melebur dalam kerajaan Aceh Darussalam mengikuti perkembangan dan kemajuan yang gemilang dari kerajaan aceh. Tom pires menyebutkan “ achey adalah negerri pertama dipantai pulau sumatra yang menghadap selat, dan Lambri terletak tepat disebelahnya dan meluas kepedalaman. Tanah biar letaknya diantara Aceh dan pidir daerah – daerah ini takluk kepada raja Aceh yang memerintah mereka dan merupakan raja satu – satunya. Raja itu beragama islam dan gagah perkasa diantara tetangganya.”

Dari bukti arkeologis disitus kerajaan Lamuri ditemukan banyak nisan dari makam – makam raja yang memerintah dilamuri dari ke-28 batu nisan tersebut diperoleh sebanyak 10 raja yang memerintah Lamuri, 8 orang bergelar malik dan 2 orang bergelar sultan.
• Malik Syamsuddin (wafat 822 H)
• Malik ‘Alawuddin (wafat 822 H)
• [Malik?] Muzhhiruddin (wafat 832 H)
• Sultan Muhammad bin ‘Alawuddin (wafat 834 H)
• Malik Nizar bin Zaid (wafat 837 H)
• Malik Zaid (bin Nizar?) (wafat 840 H)
• Malik Jawwaduddin (wafat 842 H)
• Malik Zainal ‘Abidin (wafat 845 H?)
• Malik Muhammad Syah (wafat 848 H)
• Sultan Muhammad Syah (wafat 908 H?)

Di Lam Reh terdapat makam Sultan Sulaiman bin Abdullah (wafat 1211), penguasa pertama di Indonesia yang diketahui menyandang gelar “sultan”. Penemuan arkeologis pada tahun 2007 mengungkapkan adanya nisan Islam tertua di Asia Tenggara yaitu pada tahun 398 H/1007 M. Pada inskripsinya terbaca: Hazal qobri […] tarikh yaumul Juma`ah atsani wa isryina mia Shofar tis`a wa tsalatsun wa tsamah […] minal Hijri. Namun menurut pembacaan oleh peneliti sejarah Samudra Pasai, Teungku Taqiyuddin Muhammad, nisan tersebut berangka tahun 908 H atau dari abad ke-15.

tulisan ini berdasarkan buku kerajaan Aceh zaman Iskandar Muda(1607-1636) Denys lombard
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Lamuri<a

Antara Kenakalan dan Kejahatan Remaja

Standar

Tulisan ini lahir dari sebuah tantangan sepupu, ketika saya memposting setatus di BBM dengan kalimat yang sama persis dengan judul diatas “ Antara kenakalan remaja dan kejahatan remaja”. Ketika saya memposting setatus tersebut sepupu saya bertanya melalui BBM, apa beda antara kenakalan remaja dan kejahatan remaja. yang kemudian saya jawab dengan refleks “pada efek dan niat tindakannya”. Kemudian sepupu tadi mengirim pesan kembali “for example? Contohnya?.” Sebenarnya status ini juga tidak muncul tiba – tiba begitu saja, setatus ini sebenarnya terispirasi dari acara karikatur negeri diTv One yang mengangkat tema tentang kenakalan remaja terutama pembajakan bus yang baru – baru ini terjadi.

Merasa tertantang dengan pertanyaan sepupu tadi, saya mencoba mengkaji setatus saya sendiri yang awalnya hanya status iseng. dengan membuka kamus besar bahasa indonesia yang tertanam di Handphone, saya coba mencari arti kata nakal dan jahat. Disebutkan dalam kamus besar bahasa indonesia yang tertanam di sistem oprasi Android handphone, nakal adalah suka berbuat kurang baik (tidak menurut, mengganggu. Dsb, terutama bagi anak – anak). Sedang jahat adalah sangat tidak baik (tt kelakuan, tabiat, perbuatan).

Dari penjelasan kamus digital diatas, kemudian saya ringkas agar tidak terlalu panjang di BBM agar sepupu saya tidak pusing membacanya dan saya kirim dalam tiga kali kiriman.

Dalam kiriman pertama saya tulis “ sebenarnya dua kata tersebut sama saja sama2 perbuatan buruk….”

Kiriman kedua “Cuma secara bahasa kenakalan lebih ditujukan buat anak2 dan niatnya iseng, contohnya nyuri mangga tetangga atau ngusilin temen.”

Kiriman ketiga “kalo kejahatan lebih ditujukan untuk orang dewasa bukan ditujukan pada anak – anak.. tp kalo itu dilakukan dengan niat sungguh2 untuk mencelakakan misalnya menyiram air keras dengan niat memang untuk encelakakan dan efeknyapun permanen walaupun ini dilakukan oleh anak – anak bisa dikatagorikan kejahatan.

Pada akhirnya saya berfikir kembali apakah mungkin anak – anak melakukan kejahatan? Atau analisa saya yang salah? Kalau tauran dan membajak bus dikatagorikan kejahatan? Lantas siapa yang harus bertanggung jawab?

Kebetulan sekali saya lagi nafsu untuk menghatamkan buku psikologi perkembangan karangan Ki fudyartanta, didalam buku ini Ki Fudyartanta menginformasikan tentang faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan anak menurut aliran – aliran filsafat.

Aliran Pertama, aliran nativisme mengatakan bahwa nativus atau pembawaanlah yang menentukan perkembangan anak. Lebih dasyatnya lagi seorang tokoh nativisme Schopenhauer mengatakan, tidak mungkin kita dengan pendidikan mengubah pembawaan anak.

Kalau kita hubungkan pendapat aliran nativisme dengan pertanyaan saya diatas, mungkinkah anak – anak melakukan kejahatan, maka jawabannya “mungkin” jika anak tersebut membawa bakat jahat dalam dirinya. Buat yang tidak setuju dengan pendapat nativisme sabar dulu, masih ada aliran lain yang membantah aliran ini kok, yaitu empirisme.

Aliran Kedua, aliran empirisme berpendapat perkembangan manusia ditentukan pengalaman – pengalaman yang diperoleh individu, sederhananya faktor eksogenlah atau faktor luar yaitu lingkungan yang menentukan perkembangan seorang manusia. John Locke sebagai pembesar aliran empirisme mengemukakan sebuah teori yang terkenal yaitu Tabula Rasa, maksud teori ini adalah jiwa bayi yang baru lahir itu seperti meja lilin atau kertas putih yang bersih. Bagai mana bentuk dan gambar setelahnya itu tergantung kepada yang menulisnya, artinya pengaruh luarlah yang berperan membentuk jiwa manusia dari masa kecilnya.

Dari pendapat kedua ini kita dapat jawaban seorang anak tidak mempunyai potensi jahat sebab sebenarnya jiwa seorang anak itu suci bersih kalau begitu kita dapat jawaban lingkunganlah yang harusnya bertanggung jawab jika anak –anak melakukan kejahatan. Tapi tunggu dulu masih ada satu pendapat lagi yang menengahi dua aliran ini, yaitu konvergensi.

Aliran Ketiga, aliran konvergensi aliran ini mengambil jalan tengah dengan mengkompromikan dua aliran yang bertahan pada satu pendirian, menurut aliran ini faktor pembawaan dan faktor lingkungan sama – sama berpengaruh bagi perkembangan manusia.

Kita dapat jawaban baru atas pertanyaan saya diatas
mungkinkah anak – anak atau remaja melakukan kejahatan. Menurut aliran ini “mungkin” namun tidak bisa berdiri sendiri potensi jahat yang dibawa dari lahir tadi tidak mungkin muncul dan berkembang kalau tidak didukung oleh faktor luar atau lingkungannya. Kalau lebih lanjut kita lihat aliran konvergeni berpendapat semua manusia memiliki bakat alami yang perkembangannya akan turut ditentukan oleh lingkungannya baik keluarga atau masyarakat.

Belum puasnih, belum dapat jawaban yang meyakinkan yang bisa menjawab mungkinkah anak – anak atau remaja melakukan kejahatan?, ketika mungkin seorang anak atau remaja melakukan kejahatan siapa yang harus bertanggung jawab dengan kejahatannya?

Saya fikir harus lihat bagaimana perspektif Islam menjawab pertanyaan saya ini. didalam sebuah riwayat Rasulullh bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Tiada seorangpun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fithrah (Islam)nya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” [HR. al-Bukhâri dan Muslim]

Dari hadis Rasul ini kita bisa tangkap bahwa lingkunganlah yang berperan utama dalam membangun kepribadian anak. Artinya kejahatan yang dilakukan anak adalah tanggung jawab dari orang tua. Dari hadis ini, islam satu pandangan dengan empirisme bahwa jiwa seorang anak itu suci bersih, orang tualah yang membentuk bagaimana kepribadian anak selanjutnya.

Kalaupun nativisme benar, bahwa anak bisa membawa kepribadian buruk. tanggung jawab kejahatan anak juga kepada orang tua, sebab seandainya potensi buruk tadi tidak diberi ruang maka mustahil potensi buruk tadi bisa muncul.

Dalam perspektif hukum terutama dalam undang – undang perlindungan anak disebutkan, Bab I pasal 1 ayat 1.
“Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”
Ayat ini penjelasan siapa yang disebut anak, bahwa anak adalah manusia yang berusia 18 tahun kebawah, artinya anak SMU yang rata – ratanya dibawah usia 18 tahun masih katagori anak – anak. Kalau kita lihat kasus tauran dan pembajakan yang baru ini terjadi dilakukan oleh anak SMU yang berusia dibawah 18 tahun, artinya yang pelaku kajadian diatas adalah anak –anak. Pertanyannya, dari penjelasan panjang saya diatas bisakah kita menyalahkan mereka?

Saya kira kita harus melihat faktor lain, kenapa mereka bisa seperti itu? Beringas, kasar, dan psikologinya tidak semestinya anak –anak. Bisa jadi sikap mereka tersebut terbentuk karena tekanan hidup perkotaan yang penat, atau lingkungan dan kehidupan yang buruk yang mempengaruhi perkembangan mereka atau karena tidak ada tempat yang layak dan sesuai untuk menyalurkan bakat dan hobi mereka.

Disini saya tidak setuju dengan kata – kata Ahok wakil gubernur DKI yang mengatakan mereka calon bajingan. Kalaupun mereka calon bajingan itu karena siapa? Apakah pemda DKI telah menyediakan lapangan untuk bermain bagi anak – anak dijakarta? Apakah sekolah sebagai lembaga pendidikan telah memenuhi kebutuhan psikis mereka? Jangan – jangan sekolah menjadi tempat yang membosankan atau neraka bagi mereka. Kalau seperti ini apakah pantas mereka disalahkan?

Saya ingin tutup tulisan ini dengan menyalin UU perlindungan anak pada item hak dan kewajiban anak.
Pasal 4
Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan
berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi.
Pasal 5
Setiap anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status
kewarganegaraan.
Pasal 6
Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan
berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam
bimbingan orang tua.
Pasal 7
(1) Setiap anak berhak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan
diasuh oleh orang tuanya sendiri.
(2) Dalam hal karena suatu sebab orang tuanya tidak dapat menjamin
tumbuh kembang anak, atau anak dalam keadaan terlantar maka
anak tersebut berhak diasuh atau diangkat sebagai anak asuh atau
anak angkat oleh orang lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 8
Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan
sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial.
Pasal 9
(1) Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam
rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai
dengan minat dan bakatnya.
(2) Selain hak anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), khusus bagi
anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan
luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga
berhak mendapatkan pendidikan khusus.

Ketika pemerintah dan masyarakat belum memenuhi hak dan kewajiban anak yang tercntum dalam UU Perlindungan anak siapa yang harus bertanggung jawab jika anak – anak melakukan kejahatan???