MOS Masa Orientasi Sontoloyo

Standar

Pendidikan adalah sebuah program besar dalam rangka membuat perubahan dan menciptakan perbaikan . pendidikan sebagai sarana pembentuk karakter dan intelektual manusia, secara tidak langsung juga akan merubah kebudayaan kehidupan masyarakat.
Berbicara tentang budaya dan kehidupan masyarakat apalagi masyarakat dunia, kita akan mendapati sebuah perubahan yang sangat cepat dan tak dapat dibendung. Kalau dulu kita mengenal profesi manusia seperti dokter, insinyur, ekonom, pilot dan petani maka kita kini dapati begitu banyaknya jenis profesi baru yang berkembang ditengah kebudayaan manusia , seperti programer, management development, smart cattle management dan lainnya yang dulunya tidak pernah kita dengar.
Perubahan yang cepat didunia, mau tidak mau akan melahirkan permasalahan baru yang tidak mungkin diselesaikan dengan cara kuno dengan cara yang sudah out of date. Permasalahan kekinian hanya bisa diselesaikan dengan cara kini dengan sistem kekinian pula, hal ini mendorong pendidikan untuk terus berubah, mulai dari kurikulumnya, medianya mata pelajarannya dan sistem pembelajarannya. Hal ini penting untuk melahirkan peserta didik yang up to date dan memahami problem kekinian serta siap untuk memecahknnya.
Beberapa menit yang lalu, pagi ini saya melihat beberapa pelajar yang berjalan kaki didepan rumah, dandanannya aneh menurut saya. Memakai bedak beras, putih seluruh wajahnya seperti pemain pantomim, dipundaknya memanggul tas dari karusng beras, dilehernya dikalungi dengan bermacam permen. Mereka mengatakan MOS (masa orientasi siswa) tapi yang terbesit dikepala saya kata “Goblok!!!” .
Melihat pemendangan seperti itu, saya melihat pendidikan kita seakan mundur kemasa seratus tahun yang lalu, model pendidikan seperti ini sama saja kita mengajarkan peserta didik menggunakan mesin ketik sementara orang lain sudah belajar menggunkan dan menciptakan perangkat elektronik yang supercanggih, bagaimana mungkin kita masih mengajarkan peserta didik kita menggunakan mesin ketik ketika orang sudah menciptakan mouse komputer dengan kedipan mata, bahkan sebagian fitur smart phone sudah bisa membaca perintah penggunanya dengan ucapan.
MOS seperti ini sama seperti mengajarkan peserta didik menggunakan burung merpati untuk mengirimkan pesan padahal satelit sudah sedemikian canggihnya. Bentuk seperti ini sama saja mengajarkan peserta didik menggunakan kentongan bambu sebagai sarana menyampaikan peringatan akan datangnya suatu hal yang membayakan padahal dijepang sudah ditemukan sistem peringatan dini bencana yang telah terintgrasi dengan seluruh negara dan dapat menyampaikan informasi bahaya dengan cepatnya.
Sejak tahun 2011 kita telah mewacanakan pendidikan karakter budi pekerti, kemudian wacana itu diimplementasikan dalam kurikulum 2013 yang akhirnya ditarik kembali oleh mentri pendidikan yang baru. Kalau kita hubungkan dengan pendidikan karakter menusia modren yang berakal dan berbudi pekerti mana yang mau menggunakan tas dari bahan karung beras, orang berkarakter mana yang mau memakai kalung permen dilehernya. Aneh bin ajaib.
Sebagian mereka mengatakan bahwa mos itu untuk mengajarkan siswa baru bahwa menuntut llmu itu sulit sehingga butuh perjuangan maka dibentuklah mos sedemikian rupa untuk memperkuat mentalnya, maka saya katakan filosofi dari masa seperti itu? kesulitan bukan untuk dipertontonkan didepan umum ditertawakan, kesulitan itu harus disembunyikan dan dijadikan lecutan untuk keberhasilan.antarafoto-Masa-Orientasi-Siswa-160712
Sampai titik ini saya tidak menyalahkan siapa-siapa, saya tidak menyalahkan siswa apalagi menyalahkan guru. Saya pahami keadaan guru di negara Indonesia saat ini. tapi saya berharap guru harus cerdas dalam membimbing muridnya, harus mampu menciptakan inovasi dan pembaruan dalam belajar mengajar. Mengikuti dan bersiap dengan segala kemajuan dalam perkembangan kebudayaan. guru harus up to date tidak bisa terus menerus menggunakan metode lama yang telah usang dalam belajar mengajar.

kalau saya boleh memberi ide, dari pada membuat peserta MOS menjadi orang tolol lebih baik mereka kita minta untuk memilih satu tokoh pahlawan nasional, misalnya salah seorang diantara mereka memilih Bung Karno, maka dia mengikuti MOS dengan gaya Soekarno memakai jas dan peci hitam. setiap peserta diwajibkan untuk mengenal dengan benar tokoh yang dia perankan. jadi ketika ia bertemu dengan guru dan seniornya dia wajib memperkenalkan dirinya, misalnya ” saya Soekarno presiden pertama indonesia, murid HOS Cokroaminoto dan seterusnya”. saya kira ide ini tidak sulit dan bisa memberikan wawasan kebangsaan pada peserta didik, memberikan pendidikan karakter sebagai pahlawan bangsa, meberikan kesan yang tidak akan terlupakan dan lebih manusiawi.

Painan.11/6/15

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam

ilustrasi gambar http://v-images2.antarafoto.com/g-pr/1342431076/masa-orientasi-siswa-76.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s