Assassin (hasyasyin) dalam Lintas Sejarah

Standar

Beberapa tahun yang lalu ramai dengan beberapa tema game, film dan npvel yang mengangkat tema tentang Assassin, rata-rata semuanya menonjolkan tentang satu kelompok pembunuh bayaran. Dan tidak ada yang mengaitkan sejarah Assassin dengan Sekte Syi’ah.
Tulisan ini saya angkat untuk merekonstruksi kembali sejarah Assassin dan hubungannya dengan Syiah. Tulisan ini sendiri saya kutip secara utuh dari Fasal IX halaman 156 dari buku yag berjudul pertubuhan dan perkembanan aliran-aliran Syiah karya Ust. Joesoef Sou’yb terbitan tahun 1982. Dengan judul asli:
Kelompok Hasyasyin dalam Aliran IsmailiahDSC_0979
Sewaktu angkatan salib (1096-1270M) yang delapan angkatan dalam masa dekat dua abad lamanya itu pada akhirnya pulang kembali maka banyak yang dibawa pulang ke barat dari Timur.
Contoh kecil dari padanya, demikian Philip K. Hitti didalam karyanya The Arabs cetakan 1970, kebiasaan makan dengan tangan (memegang paha domba/ayam beserta roti dengan tangan) itu telah berganti dengan pakai sendok dan garpu.
Contoh paling terbesar adalah membawa pulang kembali hal-hal yang menyebabkan timbul Zaman Kebangunan (Renaisance) dibarat itu suatu zaman , yang oleh ahli-ahli sejarah dibarat sendiri, dipanggilkan Zaman Gelap (Dark Ages).
Diantara sekian banyak yang dibawa pulang kembali kebaratt itu termasuk kata (Hasyasyin), yang didalam logat perancis maupun Inggris, telah berobah ejaannya menjadi (assassin), bermakna: Pembunuh.
Kelompok Hasyasyin yang merupakan aliran Ismailiah itu merupakan Great Terror didalam masa dekat dua abad lamanya semenjak perbatasan Thian Shan di sebelah timur sampai kepada pesisir utara Afrika, amat menakutkan dan amat dibenci oleh para pembesar Daulat Abbasiah (750-1256 M) sendiri maupun oleh pembesar Angkatan Salib (1096-1270 M) karena banyak melakukan pembunuhan-pembunuhan politik secara gelap.
Para anggota kelompok Hasyasyin yang kena perintah oleh pemukanya untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan politik itu dipanggilakan dengan Fadeyen (al-Fidaiyin). Mereka itu menyelusip kedalam istana kediaman para pembesar yang menjadi tujuan pembunuhan itu dengan penyemaran yang sengat apik, sebagai pelayan istana ataupun pegawai istana, dan pada saat yang telah ditentukan terjadilah pembunuhan. Banyak korban politik berguguran dalam masa dekat dua abad ditangan kelompok Hasyasyin itu baik pada fihak Islam (daulat Abassiah) maupun pada fihak keristen (Angkatan Salib) dalam wilayah luas itu.
Tersebab itulah kata Hasyasyin (Assassin) itu berobah pengertiannya didunia barat dari pengertiaannya sepanjang bahasa Arab.
Panggilan Hasyasyin itu berasal dari akar kata Al-Hasyis, sejenis tumbuh –tumbuhan yang memabukkan yakni ganja. Para penghisap ganja itu dipangilakan dengan al-Hasyas, sebuah kata tunggal (Mufrad, singular) , dan untuk kata banyak ( jama’, plural) dipanggilkan dengan al-Hassyasyin. Tentang kenapa kelompok ismailiah yang muncul pada abad ke-5 hijrah atau abad ke-11 masehi itu dipanggilakn dengan Hasyasyin (para penghisap ganja) akan dijelskan nanti.
Sekalipun ajaran dan keyakinan yang dianut kelompok hasyasyin itu jauh menyimpang dari agama Islam akan tetapi mereka itu masih mengakui dirinya para pengikut al-Imam Ismail (Wafat 143H/761 M), putra Al Imam Jaafar Al Shadiq (wafat 148 H/766 M), turunan ke-6 dari Nabi Besar Muhammad. Dan sepenjang kenyataan sejarah memanglah kelompok-kelompok ismailiah itu, dengan alasan “mendukung” turunan Nabi Besar Muhammad, telah dijadikan alat oleh musuh-musuh Islam bagi menghancurkan kemurnian Agama Islam dari dalam.
Kelompok hasyasyin itu lahir dalam lingkungan aliran Ismailiah itu setelah kelompok Qaraithah leyap pamor kekuasaannya pada abad 10 Masehi (Abad ke-4 H) dan lambat laun lenyap sama sekali semenjak abad 11 masehi (Abad 5 H).
Sepert juga halnya dengan kelompok druzz dalam wilayah pegunungan Lebenon/syria itu berasal dari sisa-sisa kelompok qaramithah, dibangaun oleh pemukanya Hamzah ibn Ali Al Darazi (wafat 410 H/1019 M), maka demikian pula halnya dengan kelompok Hasysyin itu.
Sebagian kelompok Qaramithah itu sempat meluputkan dirinya dari semenanjung Arabia kedalam wilayah Iran Utara dibawah pemukanya Ibnu Attash, seorang da’i Ismailiah, dan membangun gerakan bawat tanah disitu.
Gerakan bawah tanah itu pada tahun 644H/1071M, demikian Preya Stark didalam karyanya The Valleys of the Assassins cetakan 1952 halaman 159, memperoleh seorang tokoh muda avonturir (petualang red) untuk ditatar menjadi kader bernama Hassan Al Sabbah (wafat 518 H/ 1124M).
Pemuda yang masih berusia 21 tahun itu, demikian Ferdinand Tottle didalam karyanya Munjid fil Adabi cetakan 1956 halaman 159, dikirim oleh Ibnu Attash pada tahun 465H/1072M ke Mesir untuk menjumpai Khalif al Muntashir (427-487 H/ 1035-1094M) dari Daulat Fathimiah (909-1171 M) dan selanjutnya untuk belajar pada perguruan tinggi Al Azhar disitu, yang pada masa pemerintahan Daulat Fathimiah dimesir itu merupakan lembaga pendidikan Syi’ah aliran Ismailiah.
Dalam usia 31 tahun iapun pulang kembali ke Iran, dan sewaktu Ibnu Attash wafat maka iapun menggantikan kedudukannya dan dia, demikian Freya Strak didalam The Vlalleys of the Assassin halaman 159, terpandang the First Grand Master of the Assassins (pemimpin agung yang pertama-tama dari kelompok Hasyasyin).
Gerakan bawah tanah itu sewaktu sudah berada dibawah pimpinannya mulai secara berangsur memeprlihatkan dirinya secara terbuka dan terjadilah penguasaan wilayah dataran tinggi pegunungan Elbrus, yang dewasa ini dikenal dengan wilayah Mazanderan, mempunyai sekian banyak kota-kota benteng (castle) yang kokoh seumpama Rock of Alamut dan Girdkuh dan Lamiasar. Tetapi yang terpandang paling kokoh ialah kota benteng Alamut diatas puncak gunung batu karang tertinggi, dengan ruangan ruangan luar biasa dan taman tersembunyi, peninggalan imperium Roma pada masa pemerintahan kaisar Trajanus (98-117M). Hassan al Subbah mengambil kota benteng Alamut itu sebagai tempat kedudukan bagi pusat kegiatan kelompok Hasyasyin dan dia sendiri berada dan berdiam disitu.
Daulat Abbasiah pada masa pemerintahan keluarga Seljuk, yang menggantikan pemerintahan keluarga Buwaihi itu, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Malik Shah (wafat 485 H/1092 M) dan masa Sultan Mahmud Shah (wafat 497 H/1108 M) beserta sultan-sultan berikutnaya, tiadalah berdaya merebut wilayah yang sangat starategis itu beserta tiada berdaya mengahancurkan kelompok hasyasyin yang merupakan Great Terror dewasa itu.
Dengan tumbangnya kekuasaan Buwaihi, yaitu kekuasaan Syia’ah, didalam lingkungan Abbasiah, bergantikan kekuasaan keluarga seljuk, yaitu kekuasaan Sunni, maka pihak Syi’ah aliran Ismailiah itu mencoba mempertahankan dirinya dalam wilayah dataran tingggi pegunungan Elbrus itu. Jaringan kakitangannya , yaitu kaum Fedayen, menyelusup dan merayap kedalam hampir setiap istana maupun gedong kediaman para pembesar.
Tersebab itulah Hassan al Sabbah itu, kecuali beroleh panggilan Rais al Azhim (Grand Master), maka iapun pada masa belakangan dikenal oleh para pengikutnya maupun fihak luar dengan panggilan Shaikh al Jabal bermaknya. Orang tua dari wilayah pegunungan. Freya Stark menyalin panggilan terakhir itu dengan Old Man of the montain.
Freya Stark itu wartwan wanita turunan Inggris dengan perpaduan darah Prancis/Itali dari pihak ibunya, menjabat staf redaksi Bagdad Time di Bagdad, menguasai bahasa Arab dan bahasa Parsi. Ia banyak melakukan lawatan. Atas izin Shah Iran pada tahun 1930-1931 maka iapun merupakan wanita-putih pertama yang melakukan lawatan terhadap wilayah bekas kekuasaan kelompok Hasyasyin pada masa dahulu itu dan terpandang berjasa membikin peta baru terperinci mengenai wilayah itu guna kepentingan peta dunia. Ia mengabadikan lawatannya itu dengan karyanya The Valleys of the Assassins.
Dengan memerpegangi sumber-sumber sejarah tertua dalam dunia Islam maka iapun menyimpulkan pertumbuhan dan perkembngan kelompok Hasyasyin itu, halaman 159-161, sebagai berikut:
“Assassin itu sebuah sekte Parsi. Cabang dari aliran Ismailiah, didalam lingkungan sekta syi’ah, yang memualiakan turunan Ali (ibn Abithalib), menantu (Nabi Besar) Muhammad, beserta Imam-imam turunan Ali itu.
Aliran Ismailiah itu memisahkan dirinya dari aliran-aliran lainnya sepeninggal Imam ke-7, Imam Jaafar (al Shadiq). Bukanlah theologi anutan sekta Assassins itu lebih menarik perhatian segala fihak akan tetapi tindakan-tindakannya dalam dunia politik.
Kelompok Assassins itu dieksploitisir oleh sebuah keluarga Parsi yang berkemampuan dan brangasan, (by an able and uncscrupolous persian family), yang belakangan meluaskan cengkramannya ke Palestina. Mereka itu menyerahkan hidupnya untuk merongrong dan menghancurkan secara berangsur terhadap segala jenis keimanan (anutan agama Islam) dengan suatu sistem initasiasi (tahbisan) yang secara halus dan berangsur, melalui beberapa tahap. Menusukkan kesangsian-kesangsian (terhadap anutan sebelumnya) hingga kemudian tiba, yakni tingkat tertinggi, pada tahap berfikir bebas dan bersikap serba bebas.
Mereka itu menanamkan prinsip patuh-taat (obedience) kepada seseorang anggota keluarga tersebut didalam prinsip amanat hikmat illahi (as the depositary of the divine wisdom). Satu fihak menempatkan dirinya pada tahta kekuasaan di Mesir, atas nama dinasti Fathimiah, lalu memperkembangkan kemakmurannya dan kekuasaannya, dan selanjutnya merangsang kegairahan mempelajari prinsip-prinsip mereka itu. mesir itu pada suatu tahap masa memang merupakan suatu pusat kebudayaan, tempat pertemuan da’i-da’i Ismailiah semenjak dari maroko sampai perbatasan tiongkok.
Seorang diantara da’i ismailiah itu adalah pemuda keturan Parsi, berasal dari kota rayy, bernama Hassan Al Sabbah. Ia bermula menjadi anggota sekta syi’ah itu pada tahun 1070 M. Dia pada masa kemudian menjadi pemimpin Agung yang pertama dai kelompok Assassins ( the firs Grand Master of the Assassins).
Avonturir-avonturir serupa itu keliwat banyak jumlahnya masa itu ditanah parsi. Tetapi pemuda Hasan itu jauh lebih dari orang-orang muda seperangkatannya. Ia menciptakan suatu penemuannya sendiri, membawa idea baru kedalam ilmu politik pada masanya itu, yakni prinsip pembunuhan-pembunuhan yang cuma karena haus darah itu telah dialihkan kini menjadi suatu alat politik berazaskan sumpah.
Alat politik tersebut pada masa hidupnya telah membawanya kepuncak kekuasaan (yang mengerikan orang) semenjak Iran Utara sampai pesisir Lautan Tengah. Taman Rahasia (scret garden), tempat dia membius dan memikat para pengikutnya kepada dirinya, amat terkenal sekali dalam pemberitaan kalangan Angkatan Salib (Crusades) di Eropa. Dan memberikan kata Assassins kepada kita, yang berasal dari kata Hasyasyin.
Dimenjadi tokoh yang mengerikan bagi wilayah-wilayah sekitarnya. Disebabkan tidak mampu mencapainya dan mendekati tempat kedudukannya maka para penguasa wilayah sekitarnya itu berbalik bertindak memburu dan membasmi para pengikut Ismailiah didalam wilayahnya. Kalangan ortodoks (Sunni) menganggap mereka itu paling berbahaya dari pada kelompok Qaramithah.
Sementara itu pecahan sekta itu ditanah mesir berangsur hilang pamur kekuasaanya dibawah serangan kekuasaan seljuk. Dan terakhir ditumbangkan oleh sultan Salahuddin al Ayyubi (wafat 598H/1193M), dan dipulihkan kembali kekuasaan sunni diwilayah Mesir itu.
Akan tetapi kelompok assassins itu masih berkelanjutan pengaruh kekuasaanya beberapa masa lamanya. Mereka mengambil alih pimpinan aliran Ismailiah beserta kota-kota benteng kedudukannya dalam wilayah Syria, bersifat semi independent dari kekuasaan pusatnya yang berkedudukan di Iran Utara itu, dan langsung berbenturan terus menerus dengan para pangeran (Princes) dari angkatan salib.
Sampai kini belum pernah diperjelas tentang berapa jauh ordo-ordo pejuang pihak kristen sendiri telah mengambil alih sikap setia kawanan dari kelompok non kristen itu. (it has never been made clear how much the organization of the great Christian fighting orders owed to this unchristian confraternity). Konon ordo templars yang terkenal itu, sampai satu tahap, mengambil dasar-dasar kelompok lawan itu. perbandingan hirarki dan administrasi umum antara kedua kelompok itu memperlihatkan ciri-ciri identik yang membangkitan perhatian sekali. Mungkin inilah yang menjadi sumber desas-desus dan tuduhan-tuduhan terhadap ordo Templars itu hingga berakibat pebubaran ordo tersebut, sewaktu belakangan, dana ordo tersebut, sewaktu belakangan, dana ordo yang kaya raya itu telah menyebabkan para pengacara dibawah pimpinan Philippe Lebel melancarkan tuduhan yang sangat berat. Sementara itu kelompok Assassin sendiri mulai pudar pamur kekuasaannya. Pada masa belakangan.
Kalangan fedayen syria sendiri, yakni (kalangan Druzz) yang sudah kehilangan kebebasannya itu, lambatlah sudah menunjukkan kemunduran pula. Pada masa-masa perlawatan Ibnu Batutah (Wafat 780H/1378M), kelompok fadayen syria yang terkenal (dan mengerikan segala fihak) itu telah merosot dari syahid-syahid politik menjadi pembunuh bayaran. Jikalau mereka \berhasil dan selamat, demikian Ibnu Batutah, maka merekapun menikmati bayarannya itu; jikalau sebaliknya, maka barannya untuk membantu keluarganya.
Di tanah Iran sendiri, bangsa penakluk mongol yang meju dari timur arah kebarat pada tahun 1256 M dibawah pimpinan Hulagu Khan (wafat 1265M) cucu Jengish Khan (wafat 1227M) bahwa kecuali menumbangkan Daulat Abbasiah dan menguasai kota Baghdad, maka juga Hulagu Khan itu telah berhasil merebut dan menguasai kota-kota benteng tempat kedudukan kolompok Hasyasyin di Iran Utara itu, yakni kota-kota benteng yang dekat du abad lamanya mampu bertahan dengan tangguh. Berlangsuang pengejaran-pengejaran dan pembunuhan masal terhadap para pengikut kelompok Hasyasyin itu. semenjak itu hapuslah kelompok Hasyasyin itu sebagai organisasi yang tertatur.
Puncak kemegahan organisasi itu adalah pada masa penggemblengan Hasan al Sabbah. Setelah pulang dari tanah Mesir dan melakukn propagandanya selama sembilan tahun lamanya, bahkan pernah menjadi tamu Gubernur (Al Wali) di Kazwin, ibu kota wilayah Mazanderan; maka pada akhirnya didalam tahun 1091, yaknu diusia 40 tahun, iapun berhasil menguasai menguasai kota-benteng Alamut, yang terkenal itu beserta kota-kota benteng lainnya pada dataran tinggi pegunungan Elbruz itu, yang konon tempat keturunan raja-raja parsi yang terkenal gagah perkasa sepanjang sejarah. Semenjak itu, yakni selama 34 tahun menjelang dia wafat, iapun tidak pernah lagi meninggalkan pusat kedudukannya itu. disitulah dia menggembleng pengikutnya hingga menjadi pengikut-pengikut fanatik guna dijadikan alat-alat politik. Dia menciptakan disitu sejenis Taman Rahasia (scret garden) dan kaum fedayen mengelilingi dirinya.
Setelah dekat dua ratus tahun lamanya maka kegila-gilaan dan kelemahan merayapi para penguasa Alamut itu. pada masa Rukneddin, yang berhasil ditawan oleh pasukan Mongol, iapun memerintahkan tempat-tempat pertahanan diserahkan dengan ddamai kepada Great Khan dari Mongol, yakni Mangu Khan(sebagai atasan Hulagu Khan), akan tetapi dia sempat dibunuh oleh seorang fedayan, pengikutnya sendiri, sewaktu dalam perjalanan pada dataran tinggi itu sebagi tawanan.
Pasukan mongol berhasil menghancurkan mereka itu. turunan Rukneddin itu meluputkan diri arah selatan, kekota Qum, kemudian melanjutkan perjalananya ke lembah sind; lalu memegang pimpinan sprituil disitu terhadap kalangan Ismailiah, yang sampai kepada masa ini masih tersebar pengikutnya semenjak dari India dan parsi dan Zanzibar. Hight Highness (H.H) Agha Khan sampai kepada masa ini, sebagai kepala sekte Ismailliah itu, masih menerimakan tithe (sumbangan wajib sepersepuluh hasil) yangdirumuskan dan ditetapkan pada masa dulu oleh Hasan al Sabbah. Hak keluarganya menerimakan tithe itu pernah dipersoalkan akan tetapi High Court (Pengadilan Tinggi) di Bombay pada tahun 1866 mengukuhkan haknya itu setelah Agha Khan mengemukakan silsilah turunannya dan berhasil membuktikan bahwa dia memang turunan Old Man of the Montain (shaik al Jabal)…”
Demikian freya Stark didalam The Valleys of the Assassin, dan selanjutnya pada halaman 190, iapun menulis sebagai berikut:
“Sewaktu Hulagu Khan mengobrak abrik wilayah timur tengah pada tahun 1256 M iapun berhasil merebut dan menghancurkan lebih lima puluh buah kastel (kota benteng) yang dikuasai pihak Assassin itu. diantara seluruh benteng-benteng pertahanan itu, yang kisahnya dapat didengar setiap orang semenjak dari utara Parsi sampai perbatasan Khurasan dan begitupun dalam kalagan orang Arab di Irak sendiri, bahwa Cuma dua benteng saja yang sempat bertahan lebih lama. Keduanya itu adalah benteng Girdkuh dan kota benteng Lamiasar. Mereka disitu sempat bertahan enam bulan lamanya, setelah kota benteng Alamut sendiri menyerah atas perintah Lord of Alamut yang terakhir, yang berhasil ditawan pihal Mongol.
Bangsa penakluk mongol itu bukanlah kelompok liar tanpa mempunyi keahlian dan peralatan perang. (the Mongols Were not a more hords withaut engines of war). Mereka melancarkan serangan-serangannya itu dengan cara ilmiah, membawa insinyur-insinyur Tionghoa, beserta peralatan mutakhir, didukung pasukan-pasukan yang beroleh letihan luar biasa dan khusus agar serasi dan mampu menyesuaikan diri dengan wilayah-wilayah yang belum dikenal mereka selama ini tetapi banyak mendengar cerita tentang kekuatan pertahanannya dan tentang kemakmurannya. Tempat-tepat tersebut itu dihancurkan dan didatarkan.
Tersebab itulah, didalam masa sekian abad belakangan, tidak ada kunci petunjuk (clues) bagi menunjukkan tempat berdiri kota benteng girkuh ittu, kecuali bahwa kota benteng yang kukuh dan teguh itu pernah disebut dan diceritakan didalam karya Yaqut (Yaqut al Rumi didalam Mu’jamul Buldan, Wafat 627h/1229M) dan juga oleh Mustawfi (penulis Diwan al Zummam), dengan menyatakan terletak sejauh perjalanan satu hari dari kota Damaghan.
Sedangkan kota benteng Lamiasar itu tercatat dalm sejarah bahwa direbut dan dikuasai pihak Assassin pada tahun 495 H/1083M dibawah pimpinan Kiya Buzurg Umir. Yang menjabat wazir dari Shaik al Jabal dan pada maasa kemudian menggantikannya. Dia berasal dari Rudbar dataran tinggi sebelah utara yang termasuk dalam wilayah lembah Shah Rud dalam pertemuan perbatasannya dengan lembah Qizil Uzun pada suatu tempat bernama Manjil, pada tempat itu pula bermula lembah Alamut dan Talaghan pada bagian timurnya.
Sewaktu saya berada di Kazwin, dan seorang sahabat bangsa Parsi mengetahui perhatianku yang sedemikian besar terhadap bekas-bekas kastel tua itu iapun bercerita bahwa runtuhan kastel tua lamiasar itu terletak dalam wilayah Rudbar. Minatku untuk menjelajahi bekas “wilayah terlarang itu makin besar…”
Demikian Freya Stark, yang kami pungutkan sekedarnya dari karyanya itu, bagi memperjelas bebrapa aspek dari pertumbuhan dan perkembangan kelompok Hasyasyin itu sampai kepada masa kehancurannya.
Barangsiapa pada tahun limapuluhan pernah menontn film The Adventure of Umar Khaya dari paramount production, dibintangi oleh Jhon Derek dan Debra Paget, diangkat dari karya Manuel Komroff, niscaya dapat menyaksikan betapa kedasyatan pertempuran bagi menghancurkan kota benteng Alamut, tempat kedudukan Old Man of The Mountain itu. Cuma jalan sejarah didalam film itu digeser sedikit, bahwa perebutan dan penghancuran kota benteng itu terjadi pada masa Sultan Malik Shah (465-485H/1072-1092M), putra Sultan Alep Arslan (455-465H/1063-1072M) dari keluarga Seljuk, guna memperoleh klimaks dari thema cerita, yaitu selisih sengit pada masa belakangan antar tiga sahabat pada masa belia remaja Hasan al Sabbah, yang pada msa belakangan menjabat pemuka Hasyasyin, dan Nizam al Muluk (wafat 485H/1092M) yang pada masa belakangan menjabat wazir besar Sultan Alep Arslan dan Sultan Malik Shah, pembangun perguruan Tinggi Nizamiah yang terkenal itu dibaghdad, perguruan sunni, bagi menandingi perguruan tinggi Al Azhar di Mesir, perguruan syiah pada masa itu; dan Omar Khayyam (wafat 527 H/1132 M), seorang sarjana tehnik dan astronomi pada masanya, akan tetapi lebih dikenal sebagai penyair Islam dengan himpunan Rubiyyat. Serupa halnya dengan Leonardo da Vinci (Wafat 1519 M) pada lima ratus tahun belakangan, seorang sarjana tehnik akan tetapi lebih dikenal dengan pigura-pigura lukisannya.
Tiga sahabat semasa belia remaja itu, menurut catatan buku-buku sejarah tertua dalam dunia Islam, pernah mengikat janji bahwa akan saling bantu membantu jikalau pada masa belakangan ternyata ada salah seorang diantaranya beroleh nasib mujur.
Tetapi ketiga-tiganya pada masa belakangan ternyata sama menempati posisi pentinng . Satu diantaranya berkisar kepada aliran Ismailiah tetapi yang dua lagi tetap sunni, Nizam al Muluk seperti juga halnya dengan Sultan Malik Shah tewas ditangan Fedayen yang diperintahakan Hasan al Sabbah karena jabatan yang dipegang sahabatnya itu amat menentukan dan bagaikan buku mata pada Hasan al Sabbah. Sedangkan Omar al Khayyam, karena hidupnya disumbangkan sepenuhnya untuk bidang Ilmiah, murid dari ahli fikir Ibnu Sina (wafat 428H/1037M), sempat beroleh usia panjang dan bahkan lebih lanjut usianya daripada Hasan al Sabbah sendiri.
Tentang ajaran dan keyakinan yang dianut kelompok Hasysyin itu serupa dengan ajaran dan keyakinan yang dianut kelompok Qaramithah maupun kelompok Druzz. Tetapi kelompok Fathimiah agak lebih moderat dari pada ketiga kelompok itu akan tetapi masih ekstrim terbanding kepada aliran Imamiah, yakni aliran sittah ataupun Istna Asyarah. Apalagi jika dibandingkan dengan aliran Zaidiah yang lebih mendekati Sunni.
Menurut ajaran kelompok Hasyasyin itu /bahwa kitab sui Al-Qur’an itu, disamping memiliki pengertian-pengertian lahiriah (Zhahiriyah, Exoteic) , sebetulnya mempunyai pengertian-pengertian yang lebih tersembunyi (batiniah, exoteric).
Pengertian-pengertian lahiriah itu Cuma layak bagi orang yang masih dangkal pengetahuannya, dan tersebab itulah mereka itu tetap terikat kepada kewajiban-kewajiban taklifiyah, yaitu kemestian mematuhi syariat. Tetapi seseorang yang betul-betul mempunyai pengetahuan Ilahiat yang lebih dalam, maka, iapun akan mengenali pengertian-pengertian yang lebih tersembunyi dan iapun terbebaslah dari seluruh kewajiban-kewajiban Taklifiah itu, kecualai harus tunduk sepenuhya kepada atasan yang mempunyai pengetahuan ilahiat yang lebih tinggi itu. karena seseorang cuma bisa mengetahui pengertian-pengertian yang lebih dalam dan tersembunyi itu adalah cuma dengan perantaranya. Dia itulah Imam al Zaman, menjabat al Imam pada suatu tahap masa, dan kepatuahan penuh itu haruslah ditunjukkan terhadapnya dan terhadap wakil-wakil yang ditunjuknya. Dia itulah bayangan ilahi dimuka bumi, penjelmaan Allah dalam bentuk jasad.
Dengan memberikan pengertian-pengertian esoteric serupa itu terhadap setiap ayat didalam kitab suci Al-Qur’an itu, sehingga sudah jauh menyimpang dari ajaran Agama Islam, maka rubuhlah sendi-sendi agama islam yang dibangun dan diajarkan oleh nabi besar Muhammad s.a.w. jikalau nabi Muhammad sendiri menjalankan shalat wajib, shalat sunnah, puasa, dan kewajiban lainnya, tetapi kelompok Hasyasyin telah terbebas dari seluruhnya. Jikalau seseorang kelompok Hasyasyin itu tengah berada dalam lingkungan lawan dan disitulah turun menjalankan syariat-syariat Lahiriah itu maka hal iyu diperbuat, menurut ajaran kelompok Hasyasyin maupun kelompok Qaramithah, atas dasar Taqiyat. Dimaksudkan ialah melindungi diri dan pendirian sebelum datang saatnya bagi melahirkannya secara terrbuka.
Demikian garis besar ajaran dan keyakinan kelompok Hasyasyin itu. secara panjang lebar telah diuraikan pada saat menjelaskan kelompok Qaramithah. Tetapi yang lebih membangkitkan perhatian berbagai fihak terhadap kelompok Hasyasyin itu, terutama kalangan peneliti sejarah, bukanlah ajaran dan keyakinan Theologis itu; akan tetapi cara para pemuka kelompok Hasysyin itu melaksanakan pengaturan organisasinya dan cara yang dipergunakan bagi pengemblengan para pengikutnya itu sehingga menjadi manusia-manusia fanatik untuk dijadikan alat politik. Berbeda dengan kelompok qaramithah, setiap tatalaksana itu dan tatacara itu bersifat sistematik dan metodik.
Bermula dari kedudukan sebagai al-Murid (calon, novice) hingga menjadi al-Fidai (tenaga berani mati); dan jikalau dalam kedudukan terakhir itu selamat memperlihatkan kecerdasannya lalu digembleng selanjutnya menjadi Da’i (Propagandist), dan tingkatan itu termasuk dalam lapisan al-Khawash (piors), beroleh pasilitas dan keistimewaan.
Kedudukan yang lebih tinggi dari itu disebut Khawasul khawas (high Piors), berhak mendampingi Imam al zaman ataupun mendampingi wakil mutlak dari imam al zaman itu.
Lapisan bawahancuma mengenal lapisan atasannya, langsung berhubungan dengan lapisan atsannya itu, tetapi tidak mengenali lapisan-lapisan yang lebih tinggi. Demikian halnya dengan setiap tingkatan lapisan tersebut.
Setiap tingkatan lapisan itu berkewajian dan bertugas menggembleng lapisan bawahannya. Hasan al Sabbah bermula dengan menggembleng beberapa orang pilihannya, yang belakangan menepati kedudukan paling teristimewa (Khawasul Khawas) dan terjadilah merantai selanjutnya didalam perkembangan kelompok Hasyasyin itu.
Demikian hirarki didalam tatalaksana organisasi Hasyasyin itu. tersebab itulah, dengan meminjam keterangan Freya Stark, bahwa orde templars yang amat terkenal pada masa-masa perang Salib itu beroleh tuduhan-tuduhan berat pada akhirnya karena identik dengan kelompok Hasyasyin yang sangat dibenci itu.
Tentang tatacara didalam pengemblengan seseorang al Murid (calon, novice) itu dapat dilukiskan dengan suatu gambaran singkat: bermula dengan seorang yang menaruh keimanan didalam dirinya, yakni keimanan Islam, tetapi pada akhirnya tiba pada tingkatan berfikir bebas dan bersikap serba bebas.
Hal itu dimulai dengan pendekatan-pendekatan secara tak kentara, dengan mengajukan soal-soal yang membingungkan oleh fihak Da’i, hingga lambatlaun dan berangsur-rangsur timbul kesangsian dalam diri orang tersebut terhadap anutannya selama ini.
Pada saat kesangsian dalam diri orang itu telah dipandang matang, dinantikan dan ditunggukan dengan penuh kesabaran. Baharulah ditarik untuk menjadi al –Murid. Pada saat itulah berlangsuang penataran terhadap orang itu semasak-masaknya hingga menerima ajaran dan anutan baru dengan segala keyakinan didalam dirinya.
Jikalau dalam sejarah soviet uni pada masa Stalin dan begitupun sejarah Tiongkok pada masa Mao Tse Tung dikenal dengan istilah “Brain Washing”, yakni “cuci otak”, maka tatacara cuci otak tersebut adalah cuma “jiplakan” dari tata cara “cuci otak” yang dilakukan para pemuka kelompok Hasyasin pada sembilan abad silam.
Pihak al-Murid itu menerima ajaran dan anutan baru itu dengan kelegaan, karena, dirinya kini disebut Muslim Murni. Menerimakan ajaran-ajaran yang lebih tersembunyi (esoteric) yang tidak sembarang orang saja bisa memahamkannya.
Dari tingkatan itu iapun ditatar selanjutnya untuk tingkatan al-Fidai, yakni tenaga berani mati ataupun tenaga jibaku. Pada tingkatan itulah buat pertama kalinya diperkenalkan kepadanya sejenis minuman yang terbuat campurannya dari al-Hasyis (ganja).

assassinscreed
Pada saat sudah linglung, hampir-hampir tidak sadarkan diri, iapun diangkut kepada apa yang disebutkan Scret Garden (Taman Rahasia) pada kastel Alamut itu, melalui berbagai ruangan yang berbelit. Diantara sadar dengan tak sadar itu iapun menyaksikan taman yang indah.Iapun dikelilingi oleh gadis-gadis muda belia dan cantik molek beserta nyanyian dan tarian dan pesta pora. Menjelang sore hari iapun diberi minuman al-Hasyis kembali; dan dalam keadaan tidak sadar iapun diangkut kembali kedalam kamarnya yang polos itu dan tertidur disitu. Sewaktu dia terbangun dan sadar kembali iapun merasakan bagai mimpi; sejak itulah ditanamkan kepadanya terus menerus bahwa apa yang disaksiakannya dalam mimpi adalah sorga. Jannat al Naim dengan bidadari-bidadari cantik molek, yang akan diterimakannya sebagai imbalannya jikalau tetap patuh dan ta’at kepada apapun yang diperintahkan oleh wakil mutlak dari Imam al Zaman. Begitulah tatacara pembentukan pasukan berani mati. (al Fedayen yang dipanggilkan dengan al Hasyasyin itu).
Painan, 8-10/6/15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s