Peluru

Standar

Ketika itu aku masih kanak masih dalam pangkuan bunda
Belum kufahami apa itu benci apa itu cinta
Belum ku tahu apa makna derita dan makna bahagia
Tidak aku mengerti apa itu amarah apa itu tawa.

Malam baru saja meliputi kampung.
Sayup-sayup masih kudengar lantunan Al-Qur’an dari meunasah
Gerimis yang turunpun cukup membuaat bumi basah
Dalam buaian bunda aku tercekat
Dan bundapun turut melompat.

Sebuah senjata menyalak melontarkan sebuah peluru
peunyan bunda?tanyaku lugu
bunda tak menjawab, semakin erat iya memelukkku

tak lama kemudian semua hening sunyi dan mati.
Teriakan tangis kudengar dari tetangga sebelah utara
Darah mengalir dari sebuah lubang peluru yang menembus hati
Ketika itu aku belum mengerti untuk apa semuanya.

Lama sudah waktu kulewati
Kini aku bukan kanak lagi
Kemarin dibelakang rumah kudapati
Sebuah selongsong peluru
Pengingat masa lalu

Peluru itu aku ambil aku simpan dalam lemari
Disebelahnya sebuah potret hitam putih
Dari seorang lelaki yang tak pernah kutemui
Yang pergi bersamaan dengan terlontarnya peluru diawal pagi

Kusimpan peluru itu
Sebagai mimpi buruk
Yang kuharap tak pernah terulang lagi

Painan 3/6/15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s