Kritik Tan Malaka Terhadap Boedi Oetomo

Standar

Beberapa minggu lalu kita memperingati hari kebangkitan nasional. Penetapan hari kebangkitan nasional ini sendiri diambil dari momen hari dimana organisasi boedi oetomo pertama kali didirikan. Diambilnya tanggal lahirnya boedi oetomo sebagai hari kebangkitan nasional karena anggapan Boedi Oetomolah organisasi kebangsaan yang pertama sekali menginginkan Indonesia merdeka.

Dalam perjalananya organisasi yang digawangi para priyayi jawa didikan belanda ini tidak lepas dari lontaran kritik yang tidak saja dilepaskan oleh penjajah tetapi juga para tokoh pergerakan, salah satunya oleh Tan Malaka. Jika pemerintah menganggap bahwa lahirnya Boedi Oetomo sebagai ikon pertama kesadaran nasional untuk mecapai indonesia yang merdeka dari Sabang sampai Merauke Tan Malaka justru memberikan kritikan sebaliknya.

Didalam buku aksi masa yang ditulis Tan Malaka ditahun 1926, Tan Malaka menyoroti beberapa hal sebagai kelemahan Boedi Oetomo sebagai organisasi pergerakan nasional antara lain:

Boedi Oetomo Bersifat Kedaerahan (Kebangkitan jawa).

” Budi Utomo yang mengangkat kembali senjata-senjata Hindu-
Jawa yang berkarat dan sudah lama dilupakan itu, sungguh tidak
taktis dan jauh dari pendirian nasionalis umum. Perbuatan itu
menimbulkan kecurigaan golongan lain yang mencita-citakan
persaudaraan dan kerja sama antara penduduk di seluruh
Indonesia (bukan antara penjajah satu terhadap Iainnya). Dengan
jalan sedemikian, Budi Utomo menimbulkan gerakan ke daerah
yang bila perlu (misalnya Budi Utomo kuat), dengan mudah
dapat dipergunakan imperialisme Belanda. Dengan keadaan
seperti ini, keinginan “luhur” yang satu dapat diadu dengan yang
lain, yang akibatnya sangat memilukan, Indonesia tetap jadi
negeri budak.”

Sikap Koopertif dengan belanda

“Panjangnya umur Budi Utomo sebagian besar
diperolehnya dari “mantera-mantera” pemimpinnya, dari hasil
“main mata” dengan pemerintah dan dari hasil kelemahan teman
seperjuangannya. Sebuah semangat kosong seperti Budi Utomo
dapat diterima oleh pemerintah seperti Belanda.”

Menganut Ilmu Kebatinan dan Klenik (Kejawen)

“siang malam. Di dalam “lingkungan sendin” kerapkali dukundukun
politik itu menyuruh Hayam Wuruk — Raja Hindu atau
setengah Hindu itu — dengan laskarnya yang kuat berbaris di
muka mereka. Di luar hal-hal gaib itu, paling banter hanya
dibicarakan soal-soal yang tak berbahaya. Di dalam Kongres
Budi Utomo berkali-kali (sampai menjemukan) kebudayaan dan
seni Jawa (?) dibicarakan.”

Tidak memiliki kegiatan yang berefek langsung terhadap pergerakan kemerdekan

”Budi Utomo — didirikan pada tahun 1908 — adalah sebuah
partai yang semalas-malasnya di antara segenap partai-partai
borjuis di Indonesia. Seperti seekor binatang pemalas, ia merana
sombong karena umurnya panjang. Karena ia tak mendapat caracara
aksi borjuis yang radikal dan tidak berani mendekati dan
menggerakkan rakyat maka dari dulu sampai sekarang, kaum
Budi Utomo menghabiskan waktu dengan memanggil-manggil
arwah yang telah lama meninggal dunia. Borobudur yang kolot,
wayang dan gamelan yang merana, semua basil “kebudayaan
perbudakan”ditambah dan digembar-gemborkan oleh mereka
siang malam.”

Saya tidak ingin mengambil kesimpulan buat kritik Tan Malaka terhadap Boedi Oetomo, karena saya sependapat dengan Tan Malaka dan juga sependapat dengan kawan-kawan yang lebih memilik sjarekat Islamlah ikon kebangkitan nasional. Saya hanya berharap kita jujur dengan sejarah, karena Bung Karno mengajarkan kita untuk menghargai sejarah.

*sumber tulisan dari buku Aksi Masa karya Tan Malaka 1926 disingapura edisi Pdf ECONARCH Institute

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s