Siapa yang Boleh Berfikir

Standar

Selama bersetatus mahasiswa saya bisa digolong sebagai mahasiswa yang rajin untuk membolos ketika kuliah berlangsung, terutama untuk mata kuliah atau dosen yang tidak menarik sehingga membuat bosan untuk belajar.
Tapi ada satu ungkapan dari seorang dosen yang sampai saat ini masih saya ingat dan selalu menjadi bahan fikiran saya. Saya tidak ingat pasti kenapa dosen tersebut mengelurakan ungkapan tersebut, namun seandainya ungkapan tersebut diaplikasikan ditengah dunia pendidikan ungkapan tersebut merupakan pembodohan.
Jujur saya tidak ambil pusing dengan ungkapan dosen tersebut saya kira ungkapan itu cuma sampah yang tidak layak dimasukkan keotak. Namun beberapa waktu saya bertemu dengan seorag sahabat yang kebetulan lagi duduk diprogram pasca sarjana, dan teman tadi bercerita kalau dosen dipasca sarjanapun mengungkapakan ungkapan yang sama.
Saya berkuliah dijurusan Pendidikan Agama Islam, dan teman tadi diFakultas Usuluddin jurusan Tafsir Hadis. Kami berbeda kampus, kebetulan saya dikampus swasta dan teman saya dikampus plat merah dibawah naungan depag Sumatra Barat. Tapi kami menemukan ungkapan yang sama dari dosen yang juga pastinya berbeda, ungkapan tersebut adalah, “ MAHASISWA S1 S2 DILARANG BERPENDAPAT YANG BOLEH BERPENDAPAT ADALAH S3 ATAU PROFESOR”.
Sekilas pertama kali mendengar ungkapan ini saya kira ungkapan ini lucu bin aneh, apalagi samapai keluar dari uangkapan seorang dosen diperguruan tinggi islam, Pertama agama Islam merupakan agama yang mendorong dan memberi ruang berfikir bagi umatnya, namun mengapa batasan untuk berpendapat dibangaun berdasarkan gelar semata?

Kedua,berpendapat sangat terkait dengan dunia berfikir dan berpendapat erat kaitannya dengan apa yang didalam ilmu usul disebut Ijtihad, maka peryataan diatas sangat bertentangan dengan semangat pembaharu Islam yang selalu menggelorakan umat untuk senantiasa membuka pintu Ijtihad. Jadi seandainya kerangka berpendapat dibatasi oleh gelar akademik saya kira menjadi kerdillah agama ini, dan konsep Ijtihad yang seharusnya tebuka menjadi tertutup dimonopoli oleh ahli gelar.
Bagaimana berpendapat dalam Islam?
Berpendapat sebagaimana saya tulis sebelumnya berkaitan erat dengan berfikir, didalam Islam ada Istilah yang disebut Ijtihad yang artinya “usaha sungguh-sungguh memberikan keluasasan didalam bidang hukum syariah dengan jalan istimbath berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah”. Istimbath tidak mungkin dapat ditempuh jika tidak dengan jalan berfikir jadi berfikir dan berpendapat dalam Islam sangat terbuka lebar. Orang yang berIjtihad disebut mujthahid mereka memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, mereka digelari Al-Imam bukan doktor atau Profesor. Contoh mereka yang diberi gelar Al-Imam adalah Imam Mazhab yang empat, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad Bin Hambal.
Walaupun berpendapat dan berfikir diberi ruang yang luas dalam Islam namun, berpendapat tidak bisa dijalankan secara serampangan, karena ada qaidah-qaidah yang tidak boleh dilanggar, sehingga memang tidak semua orang bisa menjadi mujtahid.
Syarat-syarat Ijtihad antara lain:
1. mengetahui segala Ayat dan sunnah yang berkaiatan dengan hukum
2. mengetahui masalah-masalah yang telah diIjma’kan oleh para ahlinya
3. mengetahui nasakh mansukhmengetahui dengan sempurna bahasa Arab dan ilmunya.
4. mengetahui usul fiqh
5. mengetahui Assyarusysyariat
6. mengetahui Qawaidul Fiqh.
Adapun syarat-syarat khusus yang yang harus dimiliki seorang Mujtahid:
1. berakal kuat (cerdas)
2. adil
3. jujur
4. memiliki akhlak yang baik
5. mengetahui madarikil ahkami
6. memahami lughah
7. memahami tafsir
8. mengetahui asbabun nuzul
9. menguasai ilmu rijalul hadis
10. memahami dzar wa ta’dil
11. Mengetahui naskh wa mansukh
Ulama mengatakan mereka yang memiliki kualifikasi tersebut diatas maka berhaklah dia menggali langsung istimbath hukum berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, jadi mereka inilah yang berhak untuk berpendapat dalam islam secara mutlak.
Dan bagi mereka dikalangan umat Islam yang tidak mampu untuk mencapai derajat mujtahid maka dia dapat mengambil tingkatan kedua yaitu muttabi’, muttabi’ merupakan isim fail dari itiba’ ulama menjelaskan ittiba’ adalah “mengambil ucapan sesorang dan mengetahui dalil ucapan orang tersebut”. ittiba’ sendiripun tidak bisa dilepaskan dari berfikir sebab ada banyak ucapan dan fikiran yang dikemukakan oleh manusia yang harus ditimbang dan diukur dangan ketentun syariat, terkadang para mujthid satu dengan yang lain berbeda pendapat mereka tentang suatu hukum syar’i maka kita yang berittiba’ harus juga mengolah daya fikir kita menelusuri dalil-dalil yang dikemukakan para mujtahid untuk mencari yang paling shahih diantara pendapat mereka.
Ijtihad dan ittiba’ dianjurkan dan dituntut dalam Islam, dan ulama mencegah kita untuk ta’liq yaitu “mengikuti suatu ucapan seseorang baik itu ucapan mujtahid tanpa mengetahui dalilnya”.
Maka dari penjelasan diatas berfikir, berpendapat tidak dibatasi oleh gelar dan strata pendidikan, ada banyak ulama islam yang tidak sekolah formal, tidak mempunyai gelar akademik namun ilmunya lebih luas dan lebih banyak dari seorang profesor sekalipun. Haruskah mereka kita kerdilkan karena tidak memiliki gelar akademik???

sumber tulisan

1. Pengantar Hukum Islam oleh T.M Hasbi Assyddiqy

2. kitab Mabadi awaliyah ustad Abdul Hamid Hakim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s