Monthly Archives: Mei 2015

Kritik Tan Malaka Terhadap Boedi Oetomo

Standar

Beberapa minggu lalu kita memperingati hari kebangkitan nasional. Penetapan hari kebangkitan nasional ini sendiri diambil dari momen hari dimana organisasi boedi oetomo pertama kali didirikan. Diambilnya tanggal lahirnya boedi oetomo sebagai hari kebangkitan nasional karena anggapan Boedi Oetomolah organisasi kebangsaan yang pertama sekali menginginkan Indonesia merdeka.

Dalam perjalananya organisasi yang digawangi para priyayi jawa didikan belanda ini tidak lepas dari lontaran kritik yang tidak saja dilepaskan oleh penjajah tetapi juga para tokoh pergerakan, salah satunya oleh Tan Malaka. Jika pemerintah menganggap bahwa lahirnya Boedi Oetomo sebagai ikon pertama kesadaran nasional untuk mecapai indonesia yang merdeka dari Sabang sampai Merauke Tan Malaka justru memberikan kritikan sebaliknya.

Didalam buku aksi masa yang ditulis Tan Malaka ditahun 1926, Tan Malaka menyoroti beberapa hal sebagai kelemahan Boedi Oetomo sebagai organisasi pergerakan nasional antara lain:

Boedi Oetomo Bersifat Kedaerahan (Kebangkitan jawa).

” Budi Utomo yang mengangkat kembali senjata-senjata Hindu-
Jawa yang berkarat dan sudah lama dilupakan itu, sungguh tidak
taktis dan jauh dari pendirian nasionalis umum. Perbuatan itu
menimbulkan kecurigaan golongan lain yang mencita-citakan
persaudaraan dan kerja sama antara penduduk di seluruh
Indonesia (bukan antara penjajah satu terhadap Iainnya). Dengan
jalan sedemikian, Budi Utomo menimbulkan gerakan ke daerah
yang bila perlu (misalnya Budi Utomo kuat), dengan mudah
dapat dipergunakan imperialisme Belanda. Dengan keadaan
seperti ini, keinginan “luhur” yang satu dapat diadu dengan yang
lain, yang akibatnya sangat memilukan, Indonesia tetap jadi
negeri budak.”

Sikap Koopertif dengan belanda

“Panjangnya umur Budi Utomo sebagian besar
diperolehnya dari “mantera-mantera” pemimpinnya, dari hasil
“main mata” dengan pemerintah dan dari hasil kelemahan teman
seperjuangannya. Sebuah semangat kosong seperti Budi Utomo
dapat diterima oleh pemerintah seperti Belanda.”

Menganut Ilmu Kebatinan dan Klenik (Kejawen)

“siang malam. Di dalam “lingkungan sendin” kerapkali dukundukun
politik itu menyuruh Hayam Wuruk — Raja Hindu atau
setengah Hindu itu — dengan laskarnya yang kuat berbaris di
muka mereka. Di luar hal-hal gaib itu, paling banter hanya
dibicarakan soal-soal yang tak berbahaya. Di dalam Kongres
Budi Utomo berkali-kali (sampai menjemukan) kebudayaan dan
seni Jawa (?) dibicarakan.”

Tidak memiliki kegiatan yang berefek langsung terhadap pergerakan kemerdekan

”Budi Utomo — didirikan pada tahun 1908 — adalah sebuah
partai yang semalas-malasnya di antara segenap partai-partai
borjuis di Indonesia. Seperti seekor binatang pemalas, ia merana
sombong karena umurnya panjang. Karena ia tak mendapat caracara
aksi borjuis yang radikal dan tidak berani mendekati dan
menggerakkan rakyat maka dari dulu sampai sekarang, kaum
Budi Utomo menghabiskan waktu dengan memanggil-manggil
arwah yang telah lama meninggal dunia. Borobudur yang kolot,
wayang dan gamelan yang merana, semua basil “kebudayaan
perbudakan”ditambah dan digembar-gemborkan oleh mereka
siang malam.”

Saya tidak ingin mengambil kesimpulan buat kritik Tan Malaka terhadap Boedi Oetomo, karena saya sependapat dengan Tan Malaka dan juga sependapat dengan kawan-kawan yang lebih memilik sjarekat Islamlah ikon kebangkitan nasional. Saya hanya berharap kita jujur dengan sejarah, karena Bung Karno mengajarkan kita untuk menghargai sejarah.

*sumber tulisan dari buku Aksi Masa karya Tan Malaka 1926 disingapura edisi Pdf ECONARCH Institute

Iklan

Jangan Lebay! Al-Qur’an Langgam Jawa

Standar

Hampir 70 tahun negara ini merdeka sudah tujuh orang presiden yang memimpin negri ini, melihat panjangnya perjalanan sejarah negri ini sudah tidak layak lagi rasanya kita berbicara tentang primordial kasukuan dan kedaerahan. Ketika pendiri bangsa mendirikan negara ini mereka sepakat untuk membngan sebuah negara yang nasional yang tidak meninggikan satu golongan suku dan daerah manapun semua diikat dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia.

Kemarin secara tidak sengaja saya menonton pembacaan Al-Qur’an dengan langgam jawa melalui youtube dan sepertinya menjadi perdebatan diatara netizen dimedsos. Jujur saya mendengarnya bukan terenyuh justru saya tertawa buat saya yang bukan orang jawa pembacaan Al-Qur’an sangat lucu untuk didengar. Sebagai orang awam saya tidak bisa berkomentar tentang hukum membaca Al-Qur’an selain dari lahjah arab untuk hal ini lebih baik kita merujuk saja kepada alhi fatwa hukum Islam tentang bagaimana hukum membaca Al-Qur’an dengan langgam jawa. saya sendiri pernah belajar beberapa cara dalam membaca Al-Qur’an jika memang dikatakan demikian seperti bayati tapi saya tidak meneruskan belajar sampai saya mahir, saya berhenti karena saya anggap tidak ada gunanya saya teruskan karena suara saya tidak seindah suara ustad Muammar ZA apalagi Rhoma Irama.seandainya saya mahirpun pasti tidak enak untuk didengar. Terlepas dari itu saya yakin Allah SWT tuhan yang maha adil, saya yakin Allah tidak membalas pahala seseorang yang membaca Al-Qur’an bukan dari kemahiran dalam melagukan Al-Qur’an dan bagusnya suara seseorang dalam mambaca Al-Qur’an saya yakin pasti Allah membalas dari sejauh mana seseorang mampu menghayati dan mengamalkan Al-Qur’an itu sendiri.

kalau melihat Al-Qur’an secara keseluruhan saya melihat Al-Qur’an bukan saja mengajarkan nasionalisme tapi universalitas itu sebabnya sampai hari ini mushaf Al-Qur’an masih mempertahankan huruf Arab (Arabic letter) sebagai tulisannya walaupun telah diterjemahkan dalam bahasa lain. dan saya yakin universalitas Al-qur’an ini akan terus dipertahankan oleh ulama kita, karena Al-Qur’an diturunkan buat seluruh umat manusia, tidak hanya untuk bangsa arab apalagi jawa tapi untuk seluruh suku bangsa didunia

kembali lagi bicara nasionlisme, saya rasa kita harus berterima kasih pada Bung Karno, presiden pertama kita beliau adalah pemimpin nasional pemimpin yang bisa merangkul seluruh masayarat yang berbeda suku bangsa`untuk bergabung dalam bingkai NKRI.

Beliau orang jawa tulen, tetapi beliau berbicara menggunakan bahasa indonesia sebagai mana orang melayu melafalkannya, memang tidak bisa dilepaskan bahwa beliau pernah dibuang diasingkan Belanda dibeberapa lokasi dipulau sumatra dimana sebagian masyaraktnya melayu. Kalo melihat video pembacaan teks proklamasi dan pidato-pidato lainnya beliau hampir tidak pernah menyisipkan entri-entri bahasa jawa dalam pidato-pidatonya, nasional sekali sebagaimana sumpah pemuda yang mengatakan kita berbahsa satu bahasa Indonesia.

Dimasa permerintahan Soekarnopun pembangunan sudah dimulai dan banyak bangunan-bangunan yang beliau bangundan sekali lagi beliau sangat menghormati mereka yang diluar jawa, saya kira orang akan mencaci soekarno jika monas beliau beri nama monumen ken arok atau tunggul ametung, stadion gelora Bung Karno diberi nama gelora Joko Tingkir.

Sampai saat ini saya masih husnudzan dengan bapak Jokowi walaupun pada pilpres saya bukan dari kubu beliau saya yakin beliau memahami betul konsep nasionalisme yang digaungkan Bung Karno dan saya yakin spenuh hati tidak ada niat belaiu untuk menjawanisasi Indonesia. Dan kejadian pembacaan Al-Qur’an dengan langgam jawa saya yakin juga bukan kehendak beliau. Kalau saya boleh memberi keritikan saya ingin mengatakan protokuler negara jangan lebay! hanya karena presiden kita saat ini medok jawane semua yang ada didekat presiden dijawakan. Apalagi menjawakan Al-Qur’an yang telah memiliki ketentuan sendiri….Bisa Kualat sampean!!!!

Untuk Dia yang Terbuang dan Tersisih

Standar

Ku tulis ini untuk dia yang terbuang

untuk dia yang tersisih

untuk dia yang berada dalam sepi

bukan karena langkah yang salah

tapi karena makna yang sulit untuk terungkap

dilorong malam kala bulan benderang

secari kertas tak memimiliki arti buat hati yang telah mati

dia yang terbuang tersisih terus berjalan dalam makna yang hitam

memberi cahaya buat agar mereka bisa membaca

bulan menghilang bersama gelisahnya manusia

bukan cinta yang dibalas

namun darah yang ditumpahkan

buat dia yang terbuang tersisih dan

barakhir sunyi…

painan….

Siapa yang Boleh Berfikir

Standar

Selama bersetatus mahasiswa saya bisa digolong sebagai mahasiswa yang rajin untuk membolos ketika kuliah berlangsung, terutama untuk mata kuliah atau dosen yang tidak menarik sehingga membuat bosan untuk belajar.
Tapi ada satu ungkapan dari seorang dosen yang sampai saat ini masih saya ingat dan selalu menjadi bahan fikiran saya. Saya tidak ingat pasti kenapa dosen tersebut mengelurakan ungkapan tersebut, namun seandainya ungkapan tersebut diaplikasikan ditengah dunia pendidikan ungkapan tersebut merupakan pembodohan.
Jujur saya tidak ambil pusing dengan ungkapan dosen tersebut saya kira ungkapan itu cuma sampah yang tidak layak dimasukkan keotak. Namun beberapa waktu saya bertemu dengan seorag sahabat yang kebetulan lagi duduk diprogram pasca sarjana, dan teman tadi bercerita kalau dosen dipasca sarjanapun mengungkapakan ungkapan yang sama.
Saya berkuliah dijurusan Pendidikan Agama Islam, dan teman tadi diFakultas Usuluddin jurusan Tafsir Hadis. Kami berbeda kampus, kebetulan saya dikampus swasta dan teman saya dikampus plat merah dibawah naungan depag Sumatra Barat. Tapi kami menemukan ungkapan yang sama dari dosen yang juga pastinya berbeda, ungkapan tersebut adalah, “ MAHASISWA S1 S2 DILARANG BERPENDAPAT YANG BOLEH BERPENDAPAT ADALAH S3 ATAU PROFESOR”.
Sekilas pertama kali mendengar ungkapan ini saya kira ungkapan ini lucu bin aneh, apalagi samapai keluar dari uangkapan seorang dosen diperguruan tinggi islam, Pertama agama Islam merupakan agama yang mendorong dan memberi ruang berfikir bagi umatnya, namun mengapa batasan untuk berpendapat dibangaun berdasarkan gelar semata?

Kedua,berpendapat sangat terkait dengan dunia berfikir dan berpendapat erat kaitannya dengan apa yang didalam ilmu usul disebut Ijtihad, maka peryataan diatas sangat bertentangan dengan semangat pembaharu Islam yang selalu menggelorakan umat untuk senantiasa membuka pintu Ijtihad. Jadi seandainya kerangka berpendapat dibatasi oleh gelar akademik saya kira menjadi kerdillah agama ini, dan konsep Ijtihad yang seharusnya tebuka menjadi tertutup dimonopoli oleh ahli gelar.
Bagaimana berpendapat dalam Islam?
Berpendapat sebagaimana saya tulis sebelumnya berkaitan erat dengan berfikir, didalam Islam ada Istilah yang disebut Ijtihad yang artinya “usaha sungguh-sungguh memberikan keluasasan didalam bidang hukum syariah dengan jalan istimbath berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah”. Istimbath tidak mungkin dapat ditempuh jika tidak dengan jalan berfikir jadi berfikir dan berpendapat dalam Islam sangat terbuka lebar. Orang yang berIjtihad disebut mujthahid mereka memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, mereka digelari Al-Imam bukan doktor atau Profesor. Contoh mereka yang diberi gelar Al-Imam adalah Imam Mazhab yang empat, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad Bin Hambal.
Walaupun berpendapat dan berfikir diberi ruang yang luas dalam Islam namun, berpendapat tidak bisa dijalankan secara serampangan, karena ada qaidah-qaidah yang tidak boleh dilanggar, sehingga memang tidak semua orang bisa menjadi mujtahid.
Syarat-syarat Ijtihad antara lain:
1. mengetahui segala Ayat dan sunnah yang berkaiatan dengan hukum
2. mengetahui masalah-masalah yang telah diIjma’kan oleh para ahlinya
3. mengetahui nasakh mansukhmengetahui dengan sempurna bahasa Arab dan ilmunya.
4. mengetahui usul fiqh
5. mengetahui Assyarusysyariat
6. mengetahui Qawaidul Fiqh.
Adapun syarat-syarat khusus yang yang harus dimiliki seorang Mujtahid:
1. berakal kuat (cerdas)
2. adil
3. jujur
4. memiliki akhlak yang baik
5. mengetahui madarikil ahkami
6. memahami lughah
7. memahami tafsir
8. mengetahui asbabun nuzul
9. menguasai ilmu rijalul hadis
10. memahami dzar wa ta’dil
11. Mengetahui naskh wa mansukh
Ulama mengatakan mereka yang memiliki kualifikasi tersebut diatas maka berhaklah dia menggali langsung istimbath hukum berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, jadi mereka inilah yang berhak untuk berpendapat dalam islam secara mutlak.
Dan bagi mereka dikalangan umat Islam yang tidak mampu untuk mencapai derajat mujtahid maka dia dapat mengambil tingkatan kedua yaitu muttabi’, muttabi’ merupakan isim fail dari itiba’ ulama menjelaskan ittiba’ adalah “mengambil ucapan sesorang dan mengetahui dalil ucapan orang tersebut”. ittiba’ sendiripun tidak bisa dilepaskan dari berfikir sebab ada banyak ucapan dan fikiran yang dikemukakan oleh manusia yang harus ditimbang dan diukur dangan ketentun syariat, terkadang para mujthid satu dengan yang lain berbeda pendapat mereka tentang suatu hukum syar’i maka kita yang berittiba’ harus juga mengolah daya fikir kita menelusuri dalil-dalil yang dikemukakan para mujtahid untuk mencari yang paling shahih diantara pendapat mereka.
Ijtihad dan ittiba’ dianjurkan dan dituntut dalam Islam, dan ulama mencegah kita untuk ta’liq yaitu “mengikuti suatu ucapan seseorang baik itu ucapan mujtahid tanpa mengetahui dalilnya”.
Maka dari penjelasan diatas berfikir, berpendapat tidak dibatasi oleh gelar dan strata pendidikan, ada banyak ulama islam yang tidak sekolah formal, tidak mempunyai gelar akademik namun ilmunya lebih luas dan lebih banyak dari seorang profesor sekalipun. Haruskah mereka kita kerdilkan karena tidak memiliki gelar akademik???

sumber tulisan

1. Pengantar Hukum Islam oleh T.M Hasbi Assyddiqy

2. kitab Mabadi awaliyah ustad Abdul Hamid Hakim

4 Tahun Sudah

Standar

Tahun ini genap sudah 4 tahun blog ini didunia maya, menjadi tempat curahan isi kepala yang tak lagi mampu tertampung dimemori otak. Blog ini saya buat pertama sekali diKota Surabaya 4 tahun silam, dan kebanyakan tulisan diblog ini juga ditulis di Surabaya padahal hanya setengah tahun disana.
Keadaan asrama yang serba tertutup nampaknya yang membuat saya aktif menulis karena banyak gangguan , dan juga untuk mengusir kebosanan karena banyak waktu luang ketika itu. Tahun-tahun berikutnya inspirasi menulis seperti mata air yang mati, kering tidak ada keinginan untuk menulis, padahal ada banyak ide yang berkeliaran dikepala.
Tahun ini hampir genap pula usia saya semperempat abad 25 tahun, tanpa terasa sudah banyak hal yang terlewati. Bertambahnya usia mau-tak mau mendorong kita untuk memperbaiki diri, bersiap untuk melangkah menjalani hidup kedepannya, bersiapa untuk mandiri dalam melewati kehidupan yang pastinya banyak onak dan durinya penuh dengan gelombang dan badai. Dari usia yang semakin matang pula isi diblog ini juga harus menjadi lebih baik sebagai tanda perubahan dalam ide dan fikiran.
Sejak awal tahun ini saya sudah mencoba merubah tampilan blog ini sedemikian rupa, termasuk mengganti moto “menggenggam angan kehidupan” dengan “Bara semangat yang takkan padam” kedepan saya ingin memperbanyak tulisan, paling tidak target saya 2 judul tiap bulan minimalnya. Kemudian saya akan memposting makalah-makalah yang pernah saya susun selama kuliah di Jurusan Tarbiyah, dari pada makalah-makalah itu mengendap dimemori laptop mungkin lebih baik di share diblog ini. artikel yang berbentuk reportase juga akan dimatangkan dengan sistematika penulisan jurnalistik, artikel-artikel yang bermuatan ilmiah harus diperbaiki agar mendekati karya ilmiah seutuhnya.
usia yang bertambah dan juga pengalaman sembilan tahun mendalami agama dipesantren maupun dikampus mendorong juga diri pada kecintaan terhadap agama dan tuhan, jika selama ini jarang menyentuh hal-hal agama Insya Allah kedepan mungkin ada satu dua judul tentang agama.

DSC_0202
Dan terakhir saya berharap blog ini bisa beranfaat tidak hanya untuk saya tapi juga buat orang lain.

Terus berjalan

Standar

Blog ini sudah sepertti rumah yang ditinggalkan penghuninya, lama tidak ada tulisan yang terupdate. Sejak tahun baru blog ini tak lagi tersentuh, aku kehilangan moment untuk menulis. Jenuh sepertinya ada sesuatu yag hilang yang membuat remuknya semangat. tidak ada bahan bakar untuk menulis diblog ini lagi.
Kalo dihitung dari tahun ku buat blog ini, bararti sudah 4 tahun blog ini sebagai wadah dari isi kepalaku. Cukup lama sepertinya. Tapi semuanya tidak ada perkembangannya. Tulisanku tetap tidak berbobot, tetap tidak berisi dan bermakna.
Pada akhirnya aku berfikir, apa sebenarnya yang salah?

Foto(650)
Dari pada aku lelah berfikir, biarlah, yang terpenting terus berjalan, berjuang dan berusaha. Harus terus mencoba buakan berhenti. Makanya aku kembali lagi keblog ini, ini rumahku tempat yang mempung segala aspirasi dikepalaku, dan ini untukku untuk aku berfikir dan merenung tentang hidupku.
PUNCAK NISKALA….. KITA DAKI DUNIA….

BUKAN SEDIH INI YANG MEMBUAT LUKA

Standar

BUKAN SEDIH INI YANG MEMBUAT LUKA
bukan sedih ini yng membuat luka,’
Tapi duka yang datang tiba-tiba.
Bukan perih ini yang membuat sakit
Tapi sayatan yang mengoyak kulit.

Ah, pahit benar
Tak ada lagi seberkas sinar yang terpancar.

Ah, tragis.
Tak mugkin mata harus menagis

Ah, gila
Tak mu10420241_371290803023810_6184146704993634712_nngkin pula mulut harus mencerca.
Toh tak mungkin pula dia kembali…
Painan, 25/4/15
Duka laptopku pecah lcdnya
Cobaan dari Allah…. Allahumma ghfirli…