Cut Nyak Dien Jilbaber

Standar

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan “apa salahnya kalau kita jujur mengakui Cut Nyak Dien berjilbab?”

Beberapa waktu yang lalu, sebelum peristiwa naas kecelakaan pesawat air asia, jagat raya dunia maya sempat bergetar diguncang sebuah foto. Sebuah foto lawas hitam putih yang dipost oleh fans page “seuramoe mekkah” menunjukkan sosok wanita yang memakai jilbab, oleh admin “Seuramoe mekkah” foto tersebut diklaim merupakan foto pahlawan nasionl Cut Nyak Dien yang asli, yaitu wanita yang berjilbab. Sementara foto atau lukisan yang biasa terdapat dibuku sejarah dianggap buatan para sekuler yang ingin menjauhkan masyarakat aceh dari agama islam.

1384149_858408900878676_2426134298039513677_n

Sebelum saya lanjutkan tulisan ini, saya harus jujur apa yang saya tulis tidak lebih dari asumsi pribadi. Saya kira tulisan ini sulit untuk mendekati tulisan ilmiah, sebab memang saya sendiri tidak memegang satu refrensipun tentang Cut Nyak Dien. Namun demikian saya berfikir saya tetap harus melanjutkan tulisan ini walau tanpa rujukan, nama sebesar Tan Malakapun ketika menyusun bukunya yang berjudul Madilog juga tidak menggunakan refrensi hanya berdasarkan bahan bacaan yang teringat dan terhafal dikepalanya jadi saya kira tidak masalah sebuah tulisan tanpa refrensi yang memadai. Untuk biografi Cut Nyak Dien ada lebih dari tiga buku yang sudah saya baca, salah satunya yang disusun Oleh Prof. Anhar Gonggong, tapi sayang buku tersebut tertinggal dimedan jadi tidak bisa untuk dirujuk dalam tulisan ini dan ada sebuah artikel menarik dari edisi kusus majalah sabili beberapa tahun silam yang mengangkat tentang Cut Nyak Dien, dan ketika sedang belajar di dayah (pesantren diaceh) saya juga membaca biografi Teungku Fakinah, seorang Ulama wanita aceh yang namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit, beliau adalah sahabat dan teman curhatnya Cut Nyak Dien.
Dalam tulisan ini saya ingin menulis apa adanya tentang beliau Cut Nyak Dien dan berusaha untuk menjauhi kesan meninggikan aceh baik sebagai daerah atau suku dan merendahkan daerah lain. karena saya tangkap dari indatu (nenek moyang) mereka tidak pernah merendahkan bangsa lain. buktinya Sultan Iskandar Muda mengangkat menantunya yang berasal dari negeri Seberang (Malaysia) menjadi raja Aceh selanjutnya. Dan kusus Cut Nyak Dien beliau juga bukan asli Aceh nenek Moyangnya berasal dari Minang Kabau bernama Datuk Makdum Sati. Walaupun bukan berasal dari aceh Datuk Makdum Sati dihormati dan konon diangkat menjadi penasehat raja karena ketinggian ilmunya dan inilah pelajaran yang saya tangkap dari indatu (nenek moyang) untuk menghormati orang lain.

Sebelum foto itu ramai menjadi perbincangan saya tidak begitu tertarik dengan foto tersebut ketika seorang teman mengirim foto tersebut diberanda akun Facebook saya, hanya sebuah foto fikir saya. Namun tak lama kemudian ada banyak surat kabar nasional yang menanggapi foto tersebut salah satunya majalah Historia yang menurunkan artikel khusus menanggapi foto tersebut. didalam artikel tersebut majalah historia membantah kalo Cut Nyak Dien berjilbab dan mengatakan bahwa foto yang diposting oleh fp “ Seuramo Mekkah” bukan foto Cut Nyak Dien tapi foto istri panglima Polem, dan menunjukkan sebuah foto lain dari media – KILTV.nl yang menunjukkan bahwa Cut Nyak Dien tidak berjilbab.

Sebenarnya bukan yang pertama sekali saya melihat foto dari kiltv tersebut, beberapa tahun yang lalu saya melihat foto tersebut di Edisi Kusus Majalah Sabili dan memang benar Cut Nyak Dien pada foto tersebut tidak memakai jilbab, dan juga saya yakin foto yang dipost oleh “seuramo mekkah” bukanlah foto Cut Nyak Dien tapi foto istri Panglima Polem. Walau demikian disanalah kunci tulisan ini, kunci dari asumsi saya yang mengatakan Cut Nyak Dien berjilbab.

Asumsi pertama

Disebutkan (menurut ingatan saya) ketika diasingkan ke Sumedang, Cut Nyak Dien dalam keadaan tidak lagi mampu untuk melihat dalam kata lain Cut Nyak Dien mengalami kebutaan dan menariknya dalam keadaan demikian Cut Nyak Dien masih tetap mengajar ngaji untuk masyarakat disekitar tempat beliau diasingkan bahkan beliau dianggap ulama dan diberi gelar ibu perbu.

Orang yang mengalami kebutaan namun masih mampu untuk mengajar mengaji haqqul yakin 90% orang tersebut menghafal Al-Qur’an dalam kata lain hafizh. Didalam tradisi yang berkembang diaceh seorang hafizh haruslah taat pada ajaran agama, salah satunya menutup aurat dan menjaga kehormatannya. Maka dari sini saya yakin Cut Nyak Dien yang hafal Al-Qur’an pasti menjaga dirinya dan kehormatannya dengan menutup aurat dengan baik dalam bahasa lain beliau berjilbab.

Asumsi kedua.

Walaupun beliau seorang bangsawan Cut Nyak Dien bersahabat dekat dengan Teungku Fakinah (Ulama wanita) dan sering datang keDayah (Pesantren) milik Teungku Fakinah. Terutama ketika Teuku Umar membelot kepada Belanda, Cut Nyak Dien banyak meminta saran Teungku Fakinah untuk bisa menyadarkan kekeliruan Teuku Umar. (Prof. Ali Hasjmy)

Dalam aturan Dayah (Pesantren) dari dahulu sampai sekarang, orang yang masuk kedayah harus menjaga kesopanan, wajib menutup aurat bagi laki-laki dan perempuan. Mustahil Cut Nyak Dien yang sering keluar masuk Dayah tidak menjaga kehormatannya, jadi saya cukup yakin Beliau memakai jilbab (berjilbab).

Asumsi Ketiga.

Dalam foto yang diklaim merupakan foto istri Panglima Polem, tampak wanita tersebut menggunakan jilbab dan menutup auratnya dengan baik. Saya sendiri jujur tidak mengenal wanita tersebut dan saya kira orang aceh lain juga tidak mengenal wanita itu, saya kira hal itu wajar karena keterlibatan istri Panglima Polem dalam prang sabil tidak sehebat Cut Nyak Dien.
Kalau Istri Panglima polem yang tidak dikenal saja menggunakan jilbab menutup aurat dengan baik, bagaimana dengan Cut Nyak Dien yang lebih terkenal, pilar utama perang sabil, orang yang selalu membacakan Hikayat Prang Sabi yang dekat dengan ulama, pasti Cut Nyak Dien lebih berjilbab menutup auratnya dengan lebih baik.

Asumsi Keempat.

Dalam foto kiltv Cut Nyak Dien memang tampak tidak menggunakan jilbab, namun kalau dipertikan ada sehelai kain yang membelit leher beliau. Admin “Seuramoe Mekkah” mengatakan bahwa ketika foto diambil, belanda memaksa Cut Nyak Dien untuk Melepaskan jilbabnya, menurut admin “Seuramo Mekkah” Cut Nyak Dien memalingkan wajahnya dalam foto tersebut karena malu tidak memakai jilbab.

Saya kira Asumsi Admin “Seuramo Mekkah” ada benarnya namun tidak sepenuhnya benar, jika Belanda berani melakukan demikian saya kira seluruh orang aceh ketika itu akan marah dan belanda tidak menginginkan hal tersebut. Kalau begitu benarkah Cut Nyak Dien tidak berjilbab? Saya kira tidak juga, sebenarnya sulit menerjemahkan sebuah foto apalagi tentang sejarah pada masa yang sulit.

10610729_860387260680840_3176047545536440771_n
Namun kalau saya membaca foto tersebut saya bisa berasumsi Cut Nyak Dien berjilbab. Kain yang menutup lehernya adalah selendang untuk menutup kepala dalam kata lain jilbab. Ketika itu adalah masa perang dimana beliau banyak bergerak, kalau kita perhatikan foto tersebut beliau memakai celana, dan jarang wanita Aceh memakai celana kebanyakan wanita aceh memakai sarung atau rok seperti yang digunakan oleh istri Panglima Polem dalam fotonya. karena dalam islam perempuan tidak boleh menyerupai laki-laki memakai celana. Karena butuh kelincahan saya kira beliau memilih memakai celana dan beliau mengatahui dalam keadaan darurat hukum Islam bisa berubah untuk hal yang lebih maslahat. Asumsi saya dalam foto itu beliau tidak memakai jilbab dengan baik karena situasinya adalah situasi perang dimana beliau harus bisa mobile bergerak.

Pentingkah Cut Nyak Dien berjilbab?

Banyak dari netizen yang mengatakan “tidak penting meributkan Cut Nyak Dien berjilbab atau tidak yang penting mengikuti semangat perjuangannya”.

Saya sepakat dengan pernyataan diatas yang penting adalah mengambil semangat perjuangan beliau sebagai pahlawan yang berjuang untuk agamanya Prang sabi(perang dijalan agama), kalau kita nonton film Cut Nyak Dien yang banyak adalah kata takbir “Allahu Akbar” bukan kata “merdeka”.

Sebenarnya kalau diizinkan saya ingin merubah pertanyaan diatas dengan pertanyaan berikut, penting tidakkah kita marah karena seekor kerbau bule yang dianggap keramat ditombak orang? Penting tidakkah kita marah kalau orang mengatakan kemben atau koteka dipapua melanggar norma kesopanan? Penting tidakkah kita marah kalau ada yang menyebut mengesot menghadap raja di alam sekarang kita sebut perbudakan modren? ini kalau dibolehkan.

Pada suatu hari ketika libur saya yang seorang santri Dayah (pesantren) diaceh berkesempatan pulang ke Tebing Tinggi Sumatra Utara, diatas bus dikota biruen saya melihat seorang wanita keturunan china menaiki bus Pelangi. Ketika itu wanita china yang saya yakin non muslim tersebut mengikatkan selendang atau kerudung dikepalanya.

Sebenarnya dia tidak perlu menggunakan kerudung dikepalanya sebab kalaupun ada raziah syariat Islam dia tidak akan ditindak walau dia tidak memakai jilbab karena dia non Muslim. Namun dari pemandangan tersebut saya mendapat pelajaran wanita China tersebut memakai kerudung bukan karena Qanun syariat Islam atau takut raziah wilayatul hisbah, tapi karena jilbab sudah merupakan budaya bagi orang Aceh karena wanita keturunan China tadi sudah merasa diri orang Aceh walaupun dia bukan Muslim dia memakai kerudung untuk menjaga kesopanannya.

Saya kira sudah terjawab bagi orang Aceh menjadi sangat penting Cut Nyak Dien berjilbab, karena Cut Nyak Dien adalah simbol keAcehan, simbol wanita Aceh, simbol prang sabil (jihad). Mengatakan Cut Nyak Dien tidak berjilbab sama saja mengatakan ibu kandung saya wanita murahan, sayapun tidak terima. Dan saya kira akan sama dengan marahnya orang dijawa sana yang marah karena kebo bulenya ditombak orang, atau marah karena sultannya dihina oleh seorang florence.

Memecah belahkah tema  seperti ini?

Dari perdebatan para netizen didunia maya bahkan dibeberapa surat kabar nasional banyak yang mengatakan hal-hal seperti ini tidak perlu diangkat karena hanya memecah belah, kita harus menjaga persatuan dan kesatuan dengan semboyan bineka tunggal ika.

Sebenarnya persatuan tidak bisa dipaksakan tetapi harus dibangaun dan dibentuk dengan baik, kita harus akui tiap daerah kita memiliki sejarah dan budaya yang berbeda. Bahkan ada banyak daerah yang dulunya merupakan kerajaan yang saling berperang, kuasai-menguasai, bukankah yang membunuh putri mahkota pajajaran Diah Pita Loka adalah Gajah Mada dari Majapahit? Bukankah yang menangkap Cut Nyak Dien dan membunuh Teuku Umar adalah tentara Marsose dari Jawa dan Sulawesi? Bukankah yang memerangi Tunku Imam Bonjol adalah Sentot Ali Basya? Kita tidak bisa hindari sejarah kita.

Sekali lagi persatuan tidak bisa dipaksakan, atas dasar persatuan kita tidak bisa paksakan gamelan dimainkan dirumah bolon, sebab belum tentu orang batak mampu menikmati gamelan, demi persatuan kita tidak bisa memaksakan tari perang papua dimainkan orang bali  sebab orang Bali yang gemulai belum tentu jari-jarinya menikmati tari perang dari papua.
Lantas bagaimana bisa menjaga persatuan yang bernama Indonesia saat ini?

Yang paling utama menjaga persatuan kita saat ini adalah kejujuran, kita harus menghindari tipuan dan muslihat, kita harus jujur terhadap sejarah. Apa sulitnya jujur mengatakan Cut Nyak Dien adalah wanita muslim yang shaleh? Kanapa harus ditutupi dengan lukisan murahan menggambarkan Cut Nyak Dien menggunakan sanggul? Apa sulitnya jujur mengatakan benar bahwa Soekarno pernah berjanji pada Teungku Daud Beureuh, seandainya Aceh bergabung dengan Indonesia maka Aceh diberikan hak Istimewa untuk menjalankan syariat Islam? Apa sulitnya jujur pada sejarah?

Saya kira kalau kita jujur sejak awal  tidak akan ada pemberontakan, kalau pemerintah orde lama jujur dan memberikan penghargaan bagi pasukan hisbullah baik pimpan S.M Kartoswirya atau kahar Muzakkar saya kira tidak akan ada pemberontakan DI/TII, Kalau pemerintah orde lama mau jujur dan mendengarkan nasehat dewan banteng saya kira tidak akan ada pemberontakan PRRI Permesta, seandainya sejarah mau jujur saya kira Teungku Daud Beureuh pun tak akan mengangkat senjata melawan Soekarno.

Perpecahan hanya terjadi jika pemerintah tidak mau jujur, despot, menipu rakyatnya, bertindak bak Marsose pada rakyat sendiri. Ketidak jujuran pemerintah akan menyebabkan ada rakyat yang merasa ditindas, dilecehkan, dan terhina.Harga diri yang terhinalah yang lebih banyak membuat pemberontakan terjadi, dibandingkan ketidak adilan.

Kita harus segera jujur

Perdebatan didunia maya pada akhirnya bermuara pada dua foto, foto istri Panglima Polem dan foto Cut Nyak Dien versi kilvt dan kita melupakan lukisan wanita bersanggul yang diklaim buku sejarah sekolah adalah lukisan Cut Nyak Dien. Lantas lukisan siapakah itu? Benarkah lukisan Cut Nyak Dien?Saya yakin itu bukan lukisan otentik Cut Nyak Dien, sebab ulama Aceh mengharamkan lukisan dan kapan Cut Nyak Dien sempat membuat lukisan dirinya?

cut-nyak-dhien

benarkah ini lukisan Cut Nyak Dien? siapa pelukisnya?

Saya ingat dalam sebuah berita diTv, ada berita yang mengabarkan polemik hak cipta gambar Sultan Mahmud Badaruddin II sultan Palembang, yang terdapat pada uang Rp.10.000,-. Pelukis wajah Sultan Palembang tersebut menuntut royalti lukisannya dari Bank Indonesia atas dimuatnya lukisan Sultan Mahmud Badaruddin II diuang cetakan Bank Indonesia. Sebenarnya bukan polemik itu yang membuat saya tertarik, dalam berita yang menerupai film dokumenter tersebut, sipelukis menceritakan dia melukis sang Sultan untuk mengikuti saimbara melukis wajah Sultan Mahmud Badaruddin II dan dia melukis bukan dari sebuah gambar atau foto asli Sultan, tapi dari deskripsi tentang wajah Sultan dan si pelukis sendiri tidak mengetahui pasti wajah Sultan seperti apa. Artinya lukisan tersebut tidak otentik gambaran wajah Sultan Badaruddin II sepenuhnya.

dari hal diatas, saya khawatir lukisan wanita bersanggul yang diklaim wajah Cut Nyak Dien oleh buku sejarah juga bukan lukisan otentik tapi lukisan hasil deskripsi. Kalau begitu lukisan itu adalah bohong adanya. Seperti saya katakan kita harus jujur, jikalau lukisan tersebut bukan lukisan otentik Cut Nyak Dien sejarawan harus jujur dan lukisan lebih baik dibuang dan ditinggalkan. Kalau memang tidak ada lukisan otentik tentang Cut Nyak Dien tak perlulah dipaksakan cukup tulisakan saja Cut Nyak Dien adalah Pahlawan nasional, wanita shalehah yang taat pada agamanya yang berjuang melawan penjajah kafir yang ingin memurtadkan bangsa Aceh, saya kira tidak akan ada lagi yang merasa dihinakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s