Roda-Roda Gila

Standar

Syafak merah perlahan mulai menghilang diufuk barat, mengikuti gerak jamaah magrib dimesjid – mesjid. Satu persatu kerlip bintang mulai muncul membentuk rasinya sebagai penunjuk arah bagi pelaut, malam yang cerah pertanda akan datangnya rizki yang baik bagi mereka. Mesin diesel untuk penggerak generator mulai meraung lampu – lampu yang berwarna warni mulai bercahaya dan bianglala yang jangkung besar mulai berputar.

DSC_0130 copy

Tidak berapa lama setelah salat magrib usai dimesjid, beberapa pengunjung mulai berdatangan, diloket penjualan tiket pengunjung mulai antri satu persatu. setelah membayar tiket seharga lima ribu rupiah, pengunjung menaiki arena pertunjukan berbentuk seperti tong air yang besar kira – kira berdiameter 10m, dibagian luar tong raksasa tadi ada gambar dua motor yang gahar dengan sebuah tulisan yang mencolok “roda – roda gila”

Didalam arena ada dua motor berspesifikasi mesin 2 tak yang tak berusia muda lagi, sebelum pertunjukan dimulai seorang teknisi mengecek mesin motor setelah itu masuk dua orang pemain atraksi lansung menghidupkan motor yang telah siap untuk digunakan. Motor 2 tak tanpa knalpot meraung memekak telinga, setelah pengunjung telah penuh mengelilingi arena dua pengendara motor memulai aksinya, dua motor tadi berputar melawan gaya grafitasi mengikuti gaya sentrifugal berjalan didinding tong rasasa seperti kelareng yang diputar didalam mangkok bisa berjalan dibawah mangkok dan naik sampai mendekati bibir mangkok yang paling atas.
Menambah semarak pertunjukan salah seorang pengendara melepaskan dua tangannya sehingga motor berjalan tanpa kendali, seorang lainnya menyambar uang yang disodorkan penonton yang sebenarnya sangat berbahaya. Setelah sepuluh menit berputar-putar mengelilingi dinding tong raksasa dua motor tadi mulai melambat dan mulai turun kedasar tong yang berarti menandakan pertunjukan berakhir, tanpa tepuk tangan satu persatu penonton turun meninggalkan arena.

DSC_0173 copy

***

Dalam sebuah talkshow diTv ada seorang incumben calon anggota legislatif yang kemungkinan gagal untuk kembali menduduki kursi DPRRI berbicara tentang masifnya kecurangan dan politk uang dalam pileg tahun 2014 yang baru saja berlangsung, caleg tersebut mengeluhkan bahwa kegagalannya dalam pileg karena lawannya menggunakan politik uang dan dia mengungkapkan bahwa sifat pemilih saat ini prakmatis memilih anggota legislatif bukan karena prestasi, kapabilitas dan kualitas sicalon, tapi karena jumlah uang yang berani diberikan oleh caleg yang bertarung dalam pileg.

Sebenarnya caleg incumben tersebut tidak asing buat saya sebab dia maju dari daerah pemilihan dimana saya tinggal saat ini, bahkan beberapa bulan sebelum pileg saya pernah menghadiri kegiatan yang dia adakan oleh caleg tersebut dalam rangka menampung aspirasi masyarakat didaerah pemilihan pada masa reses. Ketika caleg tersebut berbicara mengenai masifnya politik uang pada pileg baru saja berlangsung saya dalam hati saya tersenyum sebab setelah kegiatan menampung aspirasi yang dilakukan caleg tersebut selesai dia membagikan amplop berisi uang seratus ribu rupiah beserta sembako dan kaos bergambar caleg tersebut kepada seluruh peserta yang hadir. Walaupun caleg tersebut mengatakan bahwa uang yang dia bagikan hanya uang transport tapi masyarakat juga faham dengan uang itu sicaleg berharap masyarakat memilih dia.

Didalam sebuah talksow lain ada seorang incumbem yang juga kecewa dengan pileg kali ini, dia merasa dicurangi tidak saja oleh lawan beda partai bahkan oleh teman separtainya. Dalam talkshow tersebut dia membeberkan bagaimana proses kecurangan ini terjadi dan bagaimana masifnya politik uang yang terjadi dalam pileg. Dan kembali lagi saya tersenyum kecut ketika dengan lugunya sicaleg mengatakan dia menghabiskan dana 1,5 milyar selama kampanye. Ketika itu saya coba menerka dan berfikir mungkinkah 1,5 milyar hanya untuk biaya transportasi?

***

Ketika penonton mulai turun satu – persatu saya melihat kebagian bawah tong raksasa, beberapa kru atraksi memasuki tong raksasa tersebut, kemudian saya rogoh isi kantong dan saya lempar selembar uang yang mungkin tidak seberapa. Saya melempar uang bukan karena sombong atau saya punya uang lebih tapi pertama, menurut saya tiket lima ribu rupiah terlalu murah buat resiko dari atraksi yang mereka lakukan. Kedua, saya ingin memberikan penghargaan kepada mereka yang bekerja dengan cara yang jujur bukan bekerja mengumpulkan harta dengan cara curang (korupsi).

DSC_0121

Menurut saya penghargaan buat mereka itu penting, saya merasa tidak enak hati ketika ada penonton yang menyodorkan uang ketika pertunjukan berlangsung walaupun menambah seru atraksi dan semakin memacu adrenalin bagi saya itu sangat berbahaya sekali. Kadang saya heran dengan masyarakat bawah, seharusnya kita sesama akar rumput harus saling mendukung, saling menghormati dan saling menjaga. ketika ada penonton yang menyodorkan uang untuk disambar oleh pemain atraksi roda-roda gila saya merasa masyarakat lebih suka kalau yang sesamanya terluka dan menderita. Sebaliknya masyarakat kita tidak tega kalau ada pejabat yang terang-terang divonis korupsi untuk dihukum pancung.

***

Berbicara tentang harga-menghargai saya teringat kepada caleg incumben yang gagal tadi. Ketika sicaleg datang kedaerah pemilihan masyarakat memberi penghargaan yang besar kepada caleg tersebut, menyambut dengan baik dan menyampaikan permasalahan yang terjadi dimasyarakat daerah dengan sopan walaupun setelah sicaleg pulang masyarakat mencaci maki caleg tersebut sebab setelah empat tahun duduk diDPRRI baru mengunjungi daerah pemilihannya ketika mendekati pemilu.

Saya juga teringat –masih tentang penghargaan- ketika bersama teman kongkow diwarung kopi, ketika itu datang sebuah mobil yang relatif mahal dikendarai seorang oknum polisi, ketika polisi tadi datang teman saya membisikkan polisi tadi suka memalak pengendara yang tidak melengkapi syarat berkendara dipinggir jalan. Tapi diwarung kopi tadi saya melihat oknum tadi sangat dihormati dilayani dan dituankan.

Saya melihat masyarakat kita tampak aneh, kita tidak pernah menghargai orang yang berjuanga untuk hidup dengan cara yang baik, terkadang kita justru mencemoohnya. Pada sisi yang yang berbeda kita menyanjung dan memuji orang yang kita tahu, kita kenal selalu melakukan kecurangan untuk memperkaya diri. Seharusnya masyarakat harus memberi sangsi sosial kepada orang yang melakukan kecurangan, dijauhin dan asingkan agar dia sadar dengan kesalahannya. Seandainya masyarakat kita mau melakukan hal demikian saya kira perlahan budaya korupsi akan hilang.

Pada awalnya saya tidak tahu kemana ujung tulisan ini, ketika terbayang pemain akrobat roda-roda gila dan caleg yang gagal timbul pertanyaan dikepala saya “atas dasar apa masyarakat kita saling menghargai?” dan satu jawaban yang saya takutkan dari pertanyaan diatas adalah “uang, pangkat dan jabatan” semoga saja tidak.
Painan, 4 mei 2014 15:30.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s