Monthly Archives: Mei 2014

Ketika Perahu Berlabuh

Standar

DSC_2052 2 copy

Ketika perahu berlabuh
Tampaklah nyiur melambai lembut menyambut
Seketika itu pula aku butuh akan cahaya
Sebab telah tiba malam gelap

Jalan telah tampak kabur
Hanya tampak mata burung hantu yang menatap curiga
Lantas kau datang membawa cahanya dalam hatimu
Tapi kau tampak tak sungguh untuk memberi cahaya itu

Aku hanya bisa meraba
merasakan semua yang tak pasti
perlahan aku merasa ragu
mengapa cahayamu tampak meredup?

Painan, 4 mei 14 20:23

Iklan

Sinopsis Roman Anak Dan Kemenakan

Standar

anak kemenakan

Judul buku: Anak Kemenakan
Pengarang: Marah Rusli
Cetakan : keempat 208
Halaman: 332 hal
Penerbit : Balai Pustaka

Ketika mengakhiri novel ini tersimpul kesimpulan ini merupakan salah satu roman yang kisah didalamnya berakhir dengan happy anding. Sebab kalau dilihat beberapa roman klasik kebanyakan kisah didalamnya berakhir tragis, dimana dari awal telah mengisahkan kehidupan sepasang kekasih yan g hidup dirundung malang tiada berkesudahan seperti Roman Siti Nurbaya atau roman Tenggalamnya Kapal Vander Wijk.

Tidak jauh beda dengan karya Marah Rusli yang lain yaitu Roman Sitti Nurbaya. Roman ini juga berlatar kota padang dengan adat dan budaya Minangkabaunya, dan masih berisi keritik terhdap adat dan budaya kolot yang dipegang teguh oleh golongan tua dan mendukung keterbukan adat dan budaya yang dipraktekkan kaum muda.
Roman ini mengisahkan tentang Yatim, seorang pemuda padang anak dari Sutan Alamsyah Hopjaksa kota padang yang baru menyelesaikan studi doktoralnya dinegara belanda. pendidikannya yang tinggi membuat yatim disegani dan dibanggakan orang tuanya maka, telah sepakatlah orang tua Yatim yaitu Sutan Alamsyah untuk enikahkan yatim dengan Puti Bidasari kemenakannya yang juga dia rawat sejak kecil bersama Yatim dirumahya.

Ketinggian strata pendidikan yang dimiliki yatim membuat Baginda Mais seorang pengusaha sukses dikota padang menginginkan yatim untuk menjadi menantunya agar Yatim menikah dengan putrinya Puti Nurmala, baginda Mais berharap dengan bermantukan Yatim bisa mengangkat derajatnya semakin tinggi dikota padang dan dirinya semakin terpandang dikalangan pembesar kota padang. Namun ayah yatim tidak setuju karena mereka ingin menjodohkan yatim dengan Puti bidasari, dan sebenarnya Yatim sendiri tidak berkenan untuk menikahi Puti Nurmala anak Baginda Mais sebab Puti Nurmala sudah memiliki tambatan hati yaitu dr .Aziz.

Dari penolakan ini Baginda Mais bersiasat untuk menikahkan dahulu Puti bidasari dengan orang lain, agar Yatim tidak bisa menikah dengan Puti Bidasari, untuk itu dia mendatangi Putri Renosari dan Sutan Baheram yang merupakan orang tua dari Puti Bidasari. Putri Renosari kaget ketika mendengar bahwa putri mereka semata wayang akan ditunangkan oleh adiknya Sutan Alamsyah dengan Yatim. Putri Renosari yang mengetahui latar belakang yatim yang hanya anak angkat dari Sutan Alamsyah spontan menolak. latar belakang yatim dari rakyat jelata anak dari sais pedati walaupun strata pendidikannya tinggi tidak pantas bersanding dengan Puti Bidasari yang berasal dari bangsawan.

Untuk memuluskan rencana ini Baginda Mais mengusulkan agar Puti Renosari dan Sutan Baheram menikahkan Puti Bidasari dengan Sutan Malik yang merupakan kemenakan dari Sutan Pamenan yang juga tinggi derajat sukunya.
Sutan Pemenan sendiri termasuk golongan tua yang kuat memegang adat, kehidupannya tidak lepas dari kawin cerai, berjudi, menyabung ayam dan berdukun bersama sahabatnya yang juga pendekar yaitu Datuk Gampo Alam. Sutan Pamenan sangat memanjakan kemenakannya Sutan Malik melebihi anaknya sendiri, sebab menurut adat minang yang dipegang dan difahami oleh Sutan Pemenan kemenakan dibimbing anak dipangku.

Sutan Malik yang sangat dimanjakan oleh pamannya pada akhirnya menjadi masalah tersendiri pada Sutan Pemenan, pada hari raya idul firti Sutan malik membakar rumah tetangganya dengan mercon sebab Sutan Malik geram pada tetangganya yang mengalahkannya pada perang mercon. Pada kebakaran tersebut ada pula satu orang yang tewas.
Kebiasaan Sutan Pamenan yang suka kawin cerai mengikuti adat ketika itu yang mengatakan bahwa aib bagi seorang bangsawan memiliki satu istri juga turut menjadi masalah bagi Sutan Pamenan, dan hal ini merupakan salah satu yang menjadi keritik dari Marah Rusli dalam roman ini. suatu hari ketika perayaan hari raya Puti Nurmala berjalan – jalan kepasar melihat keramaian pasar pada hari raya ketika melewati satu tempat sabung ayam terlihatlah Puti Nurmala yang memakai banyak perhiasan Oleh mak uning salah satu parewa yang menjadi musuh dari Sutan Pamenan dan Datuk Gampo Alam.

Ketika mak uning kalah dalam perjuadian berniatlah ia untuk mencuri perhiasan Puti Nurmala untuk berjudi lagi namun naas bagi Mak uning dia tertangkap dan diajukan kepengadilan yang hakimnya adalah Yatim,Ketika dipengadilan terungkapalah bahwa mak uning merupakan anak dari Sutan Pamenan begitu juga Puti Nurmala hanya keduanya lain ibu.

Ketika hari pernikahan antara pasangan Yatim Puti Nurmala dan pasangan Sutan Malik dan Puti Bidasari semakin dekat maka mereka mencari siasat agar bisa membatalkan pernikahan tersebut. dr aziz yang mengetahui hal ikhwal terbakarnya rumah dari tetangga Sutan Pamenan merasa memiliki kartu truf untuk membatalkan pernikahan tersebut.
Tepat pada hari pernikahan ketika memplelai akan melaksanakan ijab kabul maka dr. Aziz datang kesana meminta Sutan Pamenan untuk membatalkan pernikahan tersebut atau dia akan membawa aziz kepengadilan dimana dipengadilan bisa saja Sutan Malik diputuskan bersalah dan dihukum gantung. Takut akan hal tersebut maka Sutan Pamenan membatalkan pernikahan tersebut.

Sesuai dengan perjanjian antara Sutan Alamsyah dan Baginda Mais jika pernikahan antara Sutan malik dan Puti Nurmala batal maka batal pula pernikahan Yatim dan Puti nurmala akhirnya untuk menghindarkan malu bagi Baginda Mais majulah dr.Aziz menggantikan Yatim.
Pada suatu hari datanglah sepasang bangsawan dari Indra Pura kekota padang yang ingin mencari keluarganya yang melarikan diri dari Indra Pura karena bersengketa masalah harta. Bangsawan itu bernama Sutan Ali Akbar sementara saudaranya yang dicari adalah Sutan Ali Rasyid.
Ketika Sutan Ali Akbar melihat cincin yang dipakai yatim, terkejutlah ia. Sebab cincin yang digunakan oleh yatim sama dengan yang dipakai olehnya. Maka heranlah Sutan Ali Akbar dan bertanya dari mana Yatim mendapatkan cincin itu. Maka diceritakanlah oleh Sutan Alamsyah bahwa Yatim bukanlah anaknya tapi anak angkat yan g dia pungut dari tukang pedati malim batuah.

Oleh karena itu dicarilah Malim Batuah sebab dialah yang tahu pasti bagaimana riwayat cincin yang bersama yatim. Dari cerita Malim Batuahlah terungkap jika Yatim merupakan cucu dari Sutan ali rasyid sebab ketika Sutan Ali Rasyid lari dari Indra Pura membawa seorang putri, ketiak sutan Ali Rasyid wafat putri tersebut dinikahi oleh Sutan Pamenan. Oleh karena itu sebenarnya Yatim adalah orang yang berbangsa pula.

Setelah terbuka tabir akan riwayat hidup Yatim bahagialah Sutan Alamsyah sebab cita – citanya untuk mempersatukan Yatim dan Puti Bidasari terbuka pula. Begitu juga yatim senanglah setelah dia mengetuahui latar belakang dirinya.
Dari sana Yatim mendatangi Sutan Pamenan untuk menunjukkan bahwa Sutan Pamenanlah ayah kandung Yatim, mendengar hal itu meyesallah Sutan Pamenan akan kelakuaannya dulu dan iapun bertaubat. Setelah itu dikala mulai sakit- sakitan Sutan Pamenan mengirim surat untuk meminang Puti Bidasari buat anaknya Yatim namun sebelum maksudnya untuk meminang secara langsung terwujud wafat pula Sutan Pamenan karena dibunuh Sutan malik yang ingin menguasai harta pusaka keluarga. Ketika dihadapkan dipengadilan Sutan Malikpun divonis hukum buangan dinusa kambangan.
Setelah masa berkabung sampailah cita – cita Yatim untuk bersanding dengan Puti Bidasari. Dan kisah ini berakahir bahagia.

Roda-Roda Gila

Standar

Syafak merah perlahan mulai menghilang diufuk barat, mengikuti gerak jamaah magrib dimesjid – mesjid. Satu persatu kerlip bintang mulai muncul membentuk rasinya sebagai penunjuk arah bagi pelaut, malam yang cerah pertanda akan datangnya rizki yang baik bagi mereka. Mesin diesel untuk penggerak generator mulai meraung lampu – lampu yang berwarna warni mulai bercahaya dan bianglala yang jangkung besar mulai berputar.

DSC_0130 copy

Tidak berapa lama setelah salat magrib usai dimesjid, beberapa pengunjung mulai berdatangan, diloket penjualan tiket pengunjung mulai antri satu persatu. setelah membayar tiket seharga lima ribu rupiah, pengunjung menaiki arena pertunjukan berbentuk seperti tong air yang besar kira – kira berdiameter 10m, dibagian luar tong raksasa tadi ada gambar dua motor yang gahar dengan sebuah tulisan yang mencolok “roda – roda gila”

Didalam arena ada dua motor berspesifikasi mesin 2 tak yang tak berusia muda lagi, sebelum pertunjukan dimulai seorang teknisi mengecek mesin motor setelah itu masuk dua orang pemain atraksi lansung menghidupkan motor yang telah siap untuk digunakan. Motor 2 tak tanpa knalpot meraung memekak telinga, setelah pengunjung telah penuh mengelilingi arena dua pengendara motor memulai aksinya, dua motor tadi berputar melawan gaya grafitasi mengikuti gaya sentrifugal berjalan didinding tong rasasa seperti kelareng yang diputar didalam mangkok bisa berjalan dibawah mangkok dan naik sampai mendekati bibir mangkok yang paling atas.
Menambah semarak pertunjukan salah seorang pengendara melepaskan dua tangannya sehingga motor berjalan tanpa kendali, seorang lainnya menyambar uang yang disodorkan penonton yang sebenarnya sangat berbahaya. Setelah sepuluh menit berputar-putar mengelilingi dinding tong raksasa dua motor tadi mulai melambat dan mulai turun kedasar tong yang berarti menandakan pertunjukan berakhir, tanpa tepuk tangan satu persatu penonton turun meninggalkan arena.

DSC_0173 copy

***

Dalam sebuah talkshow diTv ada seorang incumben calon anggota legislatif yang kemungkinan gagal untuk kembali menduduki kursi DPRRI berbicara tentang masifnya kecurangan dan politk uang dalam pileg tahun 2014 yang baru saja berlangsung, caleg tersebut mengeluhkan bahwa kegagalannya dalam pileg karena lawannya menggunakan politik uang dan dia mengungkapkan bahwa sifat pemilih saat ini prakmatis memilih anggota legislatif bukan karena prestasi, kapabilitas dan kualitas sicalon, tapi karena jumlah uang yang berani diberikan oleh caleg yang bertarung dalam pileg.

Sebenarnya caleg incumben tersebut tidak asing buat saya sebab dia maju dari daerah pemilihan dimana saya tinggal saat ini, bahkan beberapa bulan sebelum pileg saya pernah menghadiri kegiatan yang dia adakan oleh caleg tersebut dalam rangka menampung aspirasi masyarakat didaerah pemilihan pada masa reses. Ketika caleg tersebut berbicara mengenai masifnya politik uang pada pileg baru saja berlangsung saya dalam hati saya tersenyum sebab setelah kegiatan menampung aspirasi yang dilakukan caleg tersebut selesai dia membagikan amplop berisi uang seratus ribu rupiah beserta sembako dan kaos bergambar caleg tersebut kepada seluruh peserta yang hadir. Walaupun caleg tersebut mengatakan bahwa uang yang dia bagikan hanya uang transport tapi masyarakat juga faham dengan uang itu sicaleg berharap masyarakat memilih dia.

Didalam sebuah talksow lain ada seorang incumbem yang juga kecewa dengan pileg kali ini, dia merasa dicurangi tidak saja oleh lawan beda partai bahkan oleh teman separtainya. Dalam talkshow tersebut dia membeberkan bagaimana proses kecurangan ini terjadi dan bagaimana masifnya politik uang yang terjadi dalam pileg. Dan kembali lagi saya tersenyum kecut ketika dengan lugunya sicaleg mengatakan dia menghabiskan dana 1,5 milyar selama kampanye. Ketika itu saya coba menerka dan berfikir mungkinkah 1,5 milyar hanya untuk biaya transportasi?

***

Ketika penonton mulai turun satu – persatu saya melihat kebagian bawah tong raksasa, beberapa kru atraksi memasuki tong raksasa tersebut, kemudian saya rogoh isi kantong dan saya lempar selembar uang yang mungkin tidak seberapa. Saya melempar uang bukan karena sombong atau saya punya uang lebih tapi pertama, menurut saya tiket lima ribu rupiah terlalu murah buat resiko dari atraksi yang mereka lakukan. Kedua, saya ingin memberikan penghargaan kepada mereka yang bekerja dengan cara yang jujur bukan bekerja mengumpulkan harta dengan cara curang (korupsi).

DSC_0121

Menurut saya penghargaan buat mereka itu penting, saya merasa tidak enak hati ketika ada penonton yang menyodorkan uang ketika pertunjukan berlangsung walaupun menambah seru atraksi dan semakin memacu adrenalin bagi saya itu sangat berbahaya sekali. Kadang saya heran dengan masyarakat bawah, seharusnya kita sesama akar rumput harus saling mendukung, saling menghormati dan saling menjaga. ketika ada penonton yang menyodorkan uang untuk disambar oleh pemain atraksi roda-roda gila saya merasa masyarakat lebih suka kalau yang sesamanya terluka dan menderita. Sebaliknya masyarakat kita tidak tega kalau ada pejabat yang terang-terang divonis korupsi untuk dihukum pancung.

***

Berbicara tentang harga-menghargai saya teringat kepada caleg incumben yang gagal tadi. Ketika sicaleg datang kedaerah pemilihan masyarakat memberi penghargaan yang besar kepada caleg tersebut, menyambut dengan baik dan menyampaikan permasalahan yang terjadi dimasyarakat daerah dengan sopan walaupun setelah sicaleg pulang masyarakat mencaci maki caleg tersebut sebab setelah empat tahun duduk diDPRRI baru mengunjungi daerah pemilihannya ketika mendekati pemilu.

Saya juga teringat –masih tentang penghargaan- ketika bersama teman kongkow diwarung kopi, ketika itu datang sebuah mobil yang relatif mahal dikendarai seorang oknum polisi, ketika polisi tadi datang teman saya membisikkan polisi tadi suka memalak pengendara yang tidak melengkapi syarat berkendara dipinggir jalan. Tapi diwarung kopi tadi saya melihat oknum tadi sangat dihormati dilayani dan dituankan.

Saya melihat masyarakat kita tampak aneh, kita tidak pernah menghargai orang yang berjuanga untuk hidup dengan cara yang baik, terkadang kita justru mencemoohnya. Pada sisi yang yang berbeda kita menyanjung dan memuji orang yang kita tahu, kita kenal selalu melakukan kecurangan untuk memperkaya diri. Seharusnya masyarakat harus memberi sangsi sosial kepada orang yang melakukan kecurangan, dijauhin dan asingkan agar dia sadar dengan kesalahannya. Seandainya masyarakat kita mau melakukan hal demikian saya kira perlahan budaya korupsi akan hilang.

Pada awalnya saya tidak tahu kemana ujung tulisan ini, ketika terbayang pemain akrobat roda-roda gila dan caleg yang gagal timbul pertanyaan dikepala saya “atas dasar apa masyarakat kita saling menghargai?” dan satu jawaban yang saya takutkan dari pertanyaan diatas adalah “uang, pangkat dan jabatan” semoga saja tidak.
Painan, 4 mei 2014 15:30.