parlemen kita

Standar

gedung-dpr-mpr

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan mengikuti seminar yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) tema seminar itu lebih kurang untuk menjadi pemilih cerdas utuk pemilu 2014 mendatang.

Ada satu hal yang saya tangkap dari seminar ini, yaitu adanya kegalauan dikalangan KPU dan lembaga – lembaga terkait yang berkonsentrasi dengan pemilu mendatang terhadap antusiasme pemillih terhadap pemilu yang beberapa tahun lagi akan kita langsungkan, yang dikawatirkan KPU adalah besarnya persentase pemilih yang mengambil sikap golput. Hal ini tampak dari persentase pemilih golput yang semakin meningkat sejak pemilu tahun 1999 silam.

Ketika pemilih golput itu tinggi maka kualitas demokrasi kita akan dipertanyaan, terlepas dari itu hal ini bisa mengakibatkan dukungan rakyat terhadap pemerintahan kecil dimana dampaknya adalah kebijakan pemerintah tidak dapat berjalan maksimal. Dimana setiap kebijaka pemerintah pasti membutuhkan dukungan rakyat jika pemilu saya masyarakat sudah anti pati bagaimana lagi dengan kebijakan – kebijakan yang terkadang menyinggung kehidupan masyarakat.

Lantas pertanyaan selanjutanya adalah apa penyebab kecewanya masyarakat sehingga tidak antusias dalam menyalurkan suaranya dalam pemilu? Dari pertanyaan inilah saya ingin mejawab judul tulisan ini yaitu membangun parlemen kita.

Jawab utama kenapa pemilu kita tampak membosankan paling tidak karena calon anggota perlemen atau caleg yang tidak yang layak dan pantas dipilih namun diajukan oleh partai politik untuk dipilih. walaupun jawaban ini hanya merupakan asumsi, saya kira ini asumsi yang juga dirasakan dan dijadikan alasan oleh mereka yang golput.
Anggota parlemen yang selalu menontonkan lawak politik dengan gaya badutnya membuat masyarakat menjadi muak untuk memilih mereka sementara pertai politik sebagai wadah penyedia calon yang dipilih tidak bisa memberikan calon yang baik akhirnya ini menjadi klop jadilah masyarakat memilih golput.

Kalau begitu siapa yang harus disalahkan? Saya kira yang harus bertanggung jawab terhadap hal ini adalah partai politik. Sebab partai politiklah yang menjadi satu – satunya wadah yang menyediakan anggota – anggota parlemen ini. oleh karena itu saya kira KPU, Pemerintah dan lembaga terkait harus bisa memdorong partai politik dengan membuat suatu sistem yang bisa mendorong partai politik untuk membuat seleksi ketat terhadap calon anggota legislatif yang akan dipilih rakyat dalam pemilu.

Sebenarnya kalau kita lihat sejarah awal kemerdekaan mereka yang duduk diparlemen bukanlah orang sembarangan. Paling tidak mereka adalah orang yang penuh dengan gagasan dan gerakan yang langsung terasa bagi rakyat. Pada awal kemerdekaan mereka yang duduk diparlemen adalah penulis, rata – rata memiliki surat kabar paling tidak mempunyai karya ilmiah yang bisa dijangkau masyarakat. Kemudian meraka yang sudah lama terjun dimasyarakat dalam bentuk pergerakan bukan seperti saat ini diajukan hanya karena memiliki dana dan keluarga besar.

Oleh karena itu saya fikir kita harus selamatkan perlemen kita, sedikit ingin menuangkan fikiran saya kira ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyeleksi para caleg yang akan bertarung dipemilu diantaranya:

Pertama Kita harus mensyaratkan partai politik untuk mengajukan caleg telah memliliki karya ilmiah dalam bentuk buku atau minimal pernah diterbitkan surat kabar. Saya kira para caleg ini adalah mereka yang mewakili rakyat diparlemen. Tugas ini mengharuskan mereka untuk mempunyai gagasan dengan mereka pernah menulis artinya mereka memiliki gagasa – gagasan tersebut dan bisa mempertanggung jawabkannya. Saya kira kita sepakat kita tidak menginginkan wakil – wakil kita bahasa Indonesianya belepotan saya fikir ini syarat ini bisa menjadi salah satu solusi untuk menutup peluang bagi calon – calon yang tidak kompeten untuk maju menjadi caleg.

Kedua kampus sekolah tinggi dan univesitastidak boleh menjadi daerah netral justru kampus harus menyediakan mimbar bebas untuk para caleg menyampaikan visi misi dan gagasan mereka dan fihak kampus dosen dan mahasiswa menjadi pendengar yang boleh mengkritisi menyela dan menolak argumen mereka ketika mereka mampu mngehadapi intelektual dikampus artinya gagasan mereka dan sikap mereka telah teruji. Dengan diadakan mimbar bebas caleg – caleg ini tidak lagi berkampanye disurau atau mushala dihadapan ibu – ibu pengajian. Tahu apa ibu – ibu pengajaian tentang politik.

Ketiga mereka yang maju menjadi caleg harus telah menjadi anggota partai politik selama lima tahun, artinya mereka sudah melewati jenjang organisasi atau kepartaian.tidak bisa tiba – tiba langsung menjadi caleg. Tidak bisa orang yang baru pensiun dari kedinasan langsung jadi caleg mereka harus ditempah dulu dimasyarakat bagaimana membangun jaringan kader. Salah satu keburukan parlemen kita saat ini karena diisi oleh para pensiunan dan purnawirawan yand seharusnya mereka sudah harus beristirahat. Mereka yang seperti seharusnya tidak perlu lagi bertarung dalam urusan perpolitikan karena gerakan tubuhnya saja sudah melambat.

Inilah tiga hal yang mungkin bisa kita laksanakan agar parlemen kita diisi oleh orang – orang yang berkopeten masih segar mempunyai visi dan gagasan yang jelas serta bisa diterima masyarakat.

gedung-dpr-mpr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s