Antara Kenakalan dan Kejahatan Remaja

Standar

Tulisan ini lahir dari sebuah tantangan sepupu, ketika saya memposting setatus di BBM dengan kalimat yang sama persis dengan judul diatas “ Antara kenakalan remaja dan kejahatan remaja”. Ketika saya memposting setatus tersebut sepupu saya bertanya melalui BBM, apa beda antara kenakalan remaja dan kejahatan remaja. yang kemudian saya jawab dengan refleks “pada efek dan niat tindakannya”. Kemudian sepupu tadi mengirim pesan kembali “for example? Contohnya?.” Sebenarnya status ini juga tidak muncul tiba – tiba begitu saja, setatus ini sebenarnya terispirasi dari acara karikatur negeri diTv One yang mengangkat tema tentang kenakalan remaja terutama pembajakan bus yang baru – baru ini terjadi.

Merasa tertantang dengan pertanyaan sepupu tadi, saya mencoba mengkaji setatus saya sendiri yang awalnya hanya status iseng. dengan membuka kamus besar bahasa indonesia yang tertanam di Handphone, saya coba mencari arti kata nakal dan jahat. Disebutkan dalam kamus besar bahasa indonesia yang tertanam di sistem oprasi Android handphone, nakal adalah suka berbuat kurang baik (tidak menurut, mengganggu. Dsb, terutama bagi anak – anak). Sedang jahat adalah sangat tidak baik (tt kelakuan, tabiat, perbuatan).

Dari penjelasan kamus digital diatas, kemudian saya ringkas agar tidak terlalu panjang di BBM agar sepupu saya tidak pusing membacanya dan saya kirim dalam tiga kali kiriman.

Dalam kiriman pertama saya tulis “ sebenarnya dua kata tersebut sama saja sama2 perbuatan buruk….”

Kiriman kedua “Cuma secara bahasa kenakalan lebih ditujukan buat anak2 dan niatnya iseng, contohnya nyuri mangga tetangga atau ngusilin temen.”

Kiriman ketiga “kalo kejahatan lebih ditujukan untuk orang dewasa bukan ditujukan pada anak – anak.. tp kalo itu dilakukan dengan niat sungguh2 untuk mencelakakan misalnya menyiram air keras dengan niat memang untuk encelakakan dan efeknyapun permanen walaupun ini dilakukan oleh anak – anak bisa dikatagorikan kejahatan.

Pada akhirnya saya berfikir kembali apakah mungkin anak – anak melakukan kejahatan? Atau analisa saya yang salah? Kalau tauran dan membajak bus dikatagorikan kejahatan? Lantas siapa yang harus bertanggung jawab?

Kebetulan sekali saya lagi nafsu untuk menghatamkan buku psikologi perkembangan karangan Ki fudyartanta, didalam buku ini Ki Fudyartanta menginformasikan tentang faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan anak menurut aliran – aliran filsafat.

Aliran Pertama, aliran nativisme mengatakan bahwa nativus atau pembawaanlah yang menentukan perkembangan anak. Lebih dasyatnya lagi seorang tokoh nativisme Schopenhauer mengatakan, tidak mungkin kita dengan pendidikan mengubah pembawaan anak.

Kalau kita hubungkan pendapat aliran nativisme dengan pertanyaan saya diatas, mungkinkah anak – anak melakukan kejahatan, maka jawabannya “mungkin” jika anak tersebut membawa bakat jahat dalam dirinya. Buat yang tidak setuju dengan pendapat nativisme sabar dulu, masih ada aliran lain yang membantah aliran ini kok, yaitu empirisme.

Aliran Kedua, aliran empirisme berpendapat perkembangan manusia ditentukan pengalaman – pengalaman yang diperoleh individu, sederhananya faktor eksogenlah atau faktor luar yaitu lingkungan yang menentukan perkembangan seorang manusia. John Locke sebagai pembesar aliran empirisme mengemukakan sebuah teori yang terkenal yaitu Tabula Rasa, maksud teori ini adalah jiwa bayi yang baru lahir itu seperti meja lilin atau kertas putih yang bersih. Bagai mana bentuk dan gambar setelahnya itu tergantung kepada yang menulisnya, artinya pengaruh luarlah yang berperan membentuk jiwa manusia dari masa kecilnya.

Dari pendapat kedua ini kita dapat jawaban seorang anak tidak mempunyai potensi jahat sebab sebenarnya jiwa seorang anak itu suci bersih kalau begitu kita dapat jawaban lingkunganlah yang harusnya bertanggung jawab jika anak –anak melakukan kejahatan. Tapi tunggu dulu masih ada satu pendapat lagi yang menengahi dua aliran ini, yaitu konvergensi.

Aliran Ketiga, aliran konvergensi aliran ini mengambil jalan tengah dengan mengkompromikan dua aliran yang bertahan pada satu pendirian, menurut aliran ini faktor pembawaan dan faktor lingkungan sama – sama berpengaruh bagi perkembangan manusia.

Kita dapat jawaban baru atas pertanyaan saya diatas
mungkinkah anak – anak atau remaja melakukan kejahatan. Menurut aliran ini “mungkin” namun tidak bisa berdiri sendiri potensi jahat yang dibawa dari lahir tadi tidak mungkin muncul dan berkembang kalau tidak didukung oleh faktor luar atau lingkungannya. Kalau lebih lanjut kita lihat aliran konvergeni berpendapat semua manusia memiliki bakat alami yang perkembangannya akan turut ditentukan oleh lingkungannya baik keluarga atau masyarakat.

Belum puasnih, belum dapat jawaban yang meyakinkan yang bisa menjawab mungkinkah anak – anak atau remaja melakukan kejahatan?, ketika mungkin seorang anak atau remaja melakukan kejahatan siapa yang harus bertanggung jawab dengan kejahatannya?

Saya fikir harus lihat bagaimana perspektif Islam menjawab pertanyaan saya ini. didalam sebuah riwayat Rasulullh bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Tiada seorangpun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fithrah (Islam)nya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” [HR. al-Bukhâri dan Muslim]

Dari hadis Rasul ini kita bisa tangkap bahwa lingkunganlah yang berperan utama dalam membangun kepribadian anak. Artinya kejahatan yang dilakukan anak adalah tanggung jawab dari orang tua. Dari hadis ini, islam satu pandangan dengan empirisme bahwa jiwa seorang anak itu suci bersih, orang tualah yang membentuk bagaimana kepribadian anak selanjutnya.

Kalaupun nativisme benar, bahwa anak bisa membawa kepribadian buruk. tanggung jawab kejahatan anak juga kepada orang tua, sebab seandainya potensi buruk tadi tidak diberi ruang maka mustahil potensi buruk tadi bisa muncul.

Dalam perspektif hukum terutama dalam undang – undang perlindungan anak disebutkan, Bab I pasal 1 ayat 1.
“Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”
Ayat ini penjelasan siapa yang disebut anak, bahwa anak adalah manusia yang berusia 18 tahun kebawah, artinya anak SMU yang rata – ratanya dibawah usia 18 tahun masih katagori anak – anak. Kalau kita lihat kasus tauran dan pembajakan yang baru ini terjadi dilakukan oleh anak SMU yang berusia dibawah 18 tahun, artinya yang pelaku kajadian diatas adalah anak –anak. Pertanyannya, dari penjelasan panjang saya diatas bisakah kita menyalahkan mereka?

Saya kira kita harus melihat faktor lain, kenapa mereka bisa seperti itu? Beringas, kasar, dan psikologinya tidak semestinya anak –anak. Bisa jadi sikap mereka tersebut terbentuk karena tekanan hidup perkotaan yang penat, atau lingkungan dan kehidupan yang buruk yang mempengaruhi perkembangan mereka atau karena tidak ada tempat yang layak dan sesuai untuk menyalurkan bakat dan hobi mereka.

Disini saya tidak setuju dengan kata – kata Ahok wakil gubernur DKI yang mengatakan mereka calon bajingan. Kalaupun mereka calon bajingan itu karena siapa? Apakah pemda DKI telah menyediakan lapangan untuk bermain bagi anak – anak dijakarta? Apakah sekolah sebagai lembaga pendidikan telah memenuhi kebutuhan psikis mereka? Jangan – jangan sekolah menjadi tempat yang membosankan atau neraka bagi mereka. Kalau seperti ini apakah pantas mereka disalahkan?

Saya ingin tutup tulisan ini dengan menyalin UU perlindungan anak pada item hak dan kewajiban anak.
Pasal 4
Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan
berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi.
Pasal 5
Setiap anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status
kewarganegaraan.
Pasal 6
Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan
berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam
bimbingan orang tua.
Pasal 7
(1) Setiap anak berhak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan
diasuh oleh orang tuanya sendiri.
(2) Dalam hal karena suatu sebab orang tuanya tidak dapat menjamin
tumbuh kembang anak, atau anak dalam keadaan terlantar maka
anak tersebut berhak diasuh atau diangkat sebagai anak asuh atau
anak angkat oleh orang lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 8
Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan
sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial.
Pasal 9
(1) Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam
rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai
dengan minat dan bakatnya.
(2) Selain hak anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), khusus bagi
anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan
luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga
berhak mendapatkan pendidikan khusus.

Ketika pemerintah dan masyarakat belum memenuhi hak dan kewajiban anak yang tercntum dalam UU Perlindungan anak siapa yang harus bertanggung jawab jika anak – anak melakukan kejahatan???

One response »

  1. maka bajingan2 dewasa yg berkeliaran saat ini, sebenarnya adalah “kesalahan” orang tua, institsi pendidikan, lingkungan dan pemerintah, krn sewaktu mereka msh anak2 dan remaja, “berkembang” bakat nakal ny yg bermetamorfosis menjadi kejahatan..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s