Buku, Membaca dan Pendidikan Kita

Standar

Refleksi hari buku.

Buku-buku
Sedikit menyumbangkan pemikiran untuk memperingati book days (hari buku), dengan susah payah dan dengan terpaksa harus memeras otak yang tumpul untuk menulis.setelah susah payah lahirnya secuil tulisan, semoga ada manfaat aja deh.

Semua setuju bahwa buku adalah jendela dunia . kalau aku fikir, buku adalah dunia yang diperkecil atau model dari dunia yang diperkecil supaya manusia dapat dengan mudah mempelajari tiap sudut dunia yang luas. Sebuah buku hanya akan berisi simbol – simbol kosong yang tidak memiliki arti jika tidak dibaca, artinya buku dan membaca memililki hubungan yang yang tidak dapat dipisahkan dan hubungan ini akan bermuara kepada pendidikan.

Melihat hubungan ini aku mencoba mensurvey beberapa teman dikelas, aku ambil sampel beberapa teman yang IPKnya lumanyan tinggi(macam betol ajalah). Sedikit mengejutkan ternyata beberapa teman yang IPKnya tinggi bukan orang yang suka membaca, (pasti kaget kok IPKnya bisa tinggi?) ketika aku tanya apa yang mereka baca? mereka jawab mereka membaca buku ketika akan ujian. (Sebenarnya itu juga membaca sih)

Sebagai orang yang mecintai ilmu sejarah (boleh percaya boleh gak) aku pernah membaca bahwa para siswa dimasa penjajahan belanda diwajibkan membaca 25 judul buku sastra (kalo gak salah inget). bahkan chairil Anwar yang Cuma lulusan SMP membaca buku – buku karangan pujangga TS Eliot, yang lebih hebat lagi Hamka yang cuma belajar formal sampai kelas 2 SD membaca buku – buku karangan Leo Tolstoy sastrawan Rusia yang mendunia. tak heran kalau pada masa itu kita memiliki pemuda – pemuda yang menjadi pionir perubahan ( bahasa kerennya the agen of change), dan hal itu wajar karena mereka membaca bukan sekedar untuk menjawab soal ujian tetapi bagai mana manjawab persoalan zaman.

Terkadang terfikir juga mengapa terjadi pergeseran nilai membaca seperti ini, membaca hanya menjadi alat untuk mendapatkan nilai ujian. Membaca tidak menjadi alat untuk meluaskan wawasan dan informasi padahal dalam filosofis pendidikan sendiri , nilai sekolah (baik ujian semester, uts atau un) bukan sebuah tujuan yang harus dicapai. Tetapi bagaimana bisa merubah watak, prilaku dan pengetahuan seseorang. Selanjutanya Mari kita fikirkan bersama kenapa hal ini bisa terjadi.

Saya fikir (sekedar asumsi) pemerintah memiliki andil alam pergeseran nilai membaca. Buku, membaca dan pendidikan satu hal yang tidak dapat dipisahkan, dan kebijakan pendidikan ada ditangan pemerintah. Kebijakan yang salah akan menghasilakan proses dan hasil yang cacat inilah yang terjadi saat ini. Pendidikan tidak lagi memenuhi filosofis pendidikan itu sendiri. Kemudian tidak adanya perhatian pemerintah terhadap percetakan, dimasa pergerakan ditiap kota besar tidak haya jakarta dimedan, surabaya, semarang ada percetakan besar untuk mencetak buku dan surat kabar untuk saat ini semua terpusat dijakarta (bisa dilihat ketika mencetak soal UN semuanya di jakarta).

Dan yang terakhir produktifitas penulis, ketika masa pergerakan dan awal kemerdekaan kita bisa meliahat bagaimana produktifitas yang tinggi dari sarjana – sarjana kita. Perbedaan pendapat dan silang polemik mereka hidangkan dalam mimbar perdebatan yang disebut buku. Seperti polemik roman yang dikarang Hamka “tenggelamnnya kapal vanderwijk” kemudian polemik tentang Tuanku Rao, perdebatan ini memberi andil betapa buku dan membaca begitu tinggi nilainya dimasa itu. Dan muaranya adalah pendidikan yang bermutu.

Karena sudah lelah meras otaknya saya sudahin sampai sini. Saya kasih kesimpulan buku, membaca dan pendidikan tidak dapat dipisahkan. Semoga ada yang tidak setuju dengan apa yang saya fikirkan mari kita debatkan perbadaan pendapat kita lewat tulisan!!! Dan selamat hari buku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s