Arif dan Puisinya

Standar

Kukira nasiblah yang mempertemukan kami, sama – sama gagal dalam pendidikan kami. atau mungkin juga karena sama – sama nyeleneh. Namanya arif, aku lupa nama panjangnya, yang aku tahu aku selalu memenggilnya dengan nama arif.

Beberapa bulan yang lalu terakhir kali aku bertemu denganya, ketika aku singgah sejenak dijakarta sebelum berangkat kembali kekota padang. Tiga hari aku menumpang dikosannya didaerah bambu apus jakarta. Tiga hari kami habiskan mengenang kuliah yang gagal untuk diselesaikan dan obrolan menghibur  dari kekecewaan.

Satra, sejak lama aku menyukai dunia sastra walaupun pada akhirnya aku tidak pernah menjadi penulis yang hebat. Seperti biasa aku selalu membawa topik gosip kearah sastra dan satuhal yang luar biasa setelah beberapa minggu aku meninggalkan arif sekarang dia sering mengirim puisi buatku. Dia bilang puisinya “puisi kebebesan”.   Gambar

Aku sendiri tak begitu perduli dengan idealisme, aku selalu menulis apa yang aku mau aku tidak begitu perduli apakah aku sedang menulis puisi melankolis, pemberontakan, pembebasan atau apalah namanya. Yang aku tahu aku menulis.

Salut, itulah kata yang kuucapkan untuknya. Dia membangun sastra dari ideologi yang dia bangun. Aku berharap dia akan terus menulis dan terus mengirim karnya untukku, dan aku berdoa suatu saat dia akan menjadi sastrawan besar.

 

SANG PERUBAH*

Pagi yang cerah untukmu sang perubah

Kobar semangat dalam lanjutan langkah

Menapaki jalan tanpa gundah

Bergerak dan bergerak menuju arah

Berusaha dalam tembang

Meniti progres dinegri terjajah

 

Terdengar gemuruh

Kendaraan yang memecah suasana

Diruang lajur kendaraan memantik

Sebuah gairah

Inovatif dalam karya dengan fikir dan gerak yang sungguh bersabar dalam

Menghadapi problem – problem begitu susah

Demi harapan solusi termudah

 

Selamat pagi

Kepadamu senyum madu

Dimurahkan sepenuh hati

Untukmu sang penggerak demi terhapusnya rotasi tatanan dunia baru

 

Akar – akar kezaliman subur dalam terminal pemerintah

Mencekik rakyat jelata ditempat kelabu

Lamban tindak solusi yang bapak gede beri terlena dengan kemewahan semkin bertambah

 

Inilah dunia sekarang melihat kelaliman sering menerjang

Yang kecil ditindas yang gede tindakannya sembarang yang ada uang kebuang

 

Hadapilah karena engkau darah perubah

Dan penggerak sistem kedamaian.

 

*puisi ini dikirim tanpa judul

 

MALAM*

Malam, kudapati sebuah kenangan

Angin sejuk menghembus daku yang sendirian

Terlihat kawan sedang melambaikan tangan perpisahan

Tanda setelah pertemuan

 

*puisi ini dikirim tanpa judul

 

 

AROMA PEMBEBASAN*

Kucium aroma kebebasan

Dia mendekatiku ketika dikesendirian

Seolah membisikku tuk sebuah tindakan

Kuterjatuh dalam samaran yang membingungkan

Gundah begitu dalam telah kurasakan

Menghapus nalar menjadi puing angan – angan

 

Waktu, dia seperti jembatan

Mendampingi akal sehat dalam keputusan

Untuk sadar dalam bebaskan pendakian

 

*puisi ini dikirim tanpa judul

 

KUCING JANTAN

 

Segala risau datang saat kau bayangkan.

Penomen akhiruzzanman  menusuk tulang persendian.

Kejahatan dibungkus suatu kebaikan. Sebuah penyamaran begitu membingungkan.

Kutercengang melihat keadaan.

Zaman dilingkupi sebentuk keanehan dan kebohongan memantikku dalam kelesatan menuju buah fikiran.

Fikiran dalam mengkaji keadaan zaman.

 

Kugorskan tinta menjadi tulisan sebagai amaran.

Amaran menyilet mata hati yang merasakan.

Amaran menggetarkan makar kekejian.

Amaran adalah peringatan.

Sebuah kabar terdengar dinegri idaman.

Kabar ketabuan telah dimediakan.

Sisi hitam lelaki bak kucing jantan

Menebar pesona, memburu perepuan.

 

Kucing jantan mencari sebentar kesenangan.

Membuang fikir dosa dalam merusak mahkota perempuan.

Perempuan malang diliputi kecemasan.

Melenyapkan kesucian, menghanguskan kehormatan.

 

Matilah kau lelaki tanpa fikir pertanggungjawaban.

Merasakan tubuh perempuan, namun kau tinggalkan.

Kau berlaku baik karna ada kepentingan dalam misi kepuasan.

 

Kau adalah kucing jantan, menodai mahkota perempuan.

Tanpa rasa dosa dan perutanggungjawaban.

Sampai tak sadarkan kau dihampiri oleh kematian.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s