Monthly Archives: Agustus 2012

Arif dan Puisinya

Standar

Kukira nasiblah yang mempertemukan kami, sama – sama gagal dalam pendidikan kami. atau mungkin juga karena sama – sama nyeleneh. Namanya arif, aku lupa nama panjangnya, yang aku tahu aku selalu memenggilnya dengan nama arif.

Beberapa bulan yang lalu terakhir kali aku bertemu denganya, ketika aku singgah sejenak dijakarta sebelum berangkat kembali kekota padang. Tiga hari aku menumpang dikosannya didaerah bambu apus jakarta. Tiga hari kami habiskan mengenang kuliah yang gagal untuk diselesaikan dan obrolan menghibur  dari kekecewaan.

Satra, sejak lama aku menyukai dunia sastra walaupun pada akhirnya aku tidak pernah menjadi penulis yang hebat. Seperti biasa aku selalu membawa topik gosip kearah sastra dan satuhal yang luar biasa setelah beberapa minggu aku meninggalkan arif sekarang dia sering mengirim puisi buatku. Dia bilang puisinya “puisi kebebesan”.   Gambar

Aku sendiri tak begitu perduli dengan idealisme, aku selalu menulis apa yang aku mau aku tidak begitu perduli apakah aku sedang menulis puisi melankolis, pemberontakan, pembebasan atau apalah namanya. Yang aku tahu aku menulis.

Salut, itulah kata yang kuucapkan untuknya. Dia membangun sastra dari ideologi yang dia bangun. Aku berharap dia akan terus menulis dan terus mengirim karnya untukku, dan aku berdoa suatu saat dia akan menjadi sastrawan besar.

 

SANG PERUBAH*

Pagi yang cerah untukmu sang perubah

Kobar semangat dalam lanjutan langkah

Menapaki jalan tanpa gundah

Bergerak dan bergerak menuju arah

Berusaha dalam tembang

Meniti progres dinegri terjajah

 

Terdengar gemuruh

Kendaraan yang memecah suasana

Diruang lajur kendaraan memantik

Sebuah gairah

Inovatif dalam karya dengan fikir dan gerak yang sungguh bersabar dalam

Menghadapi problem – problem begitu susah

Demi harapan solusi termudah

 

Selamat pagi

Kepadamu senyum madu

Dimurahkan sepenuh hati

Untukmu sang penggerak demi terhapusnya rotasi tatanan dunia baru

 

Akar – akar kezaliman subur dalam terminal pemerintah

Mencekik rakyat jelata ditempat kelabu

Lamban tindak solusi yang bapak gede beri terlena dengan kemewahan semkin bertambah

 

Inilah dunia sekarang melihat kelaliman sering menerjang

Yang kecil ditindas yang gede tindakannya sembarang yang ada uang kebuang

 

Hadapilah karena engkau darah perubah

Dan penggerak sistem kedamaian.

 

*puisi ini dikirim tanpa judul

 

MALAM*

Malam, kudapati sebuah kenangan

Angin sejuk menghembus daku yang sendirian

Terlihat kawan sedang melambaikan tangan perpisahan

Tanda setelah pertemuan

 

*puisi ini dikirim tanpa judul

 

 

AROMA PEMBEBASAN*

Kucium aroma kebebasan

Dia mendekatiku ketika dikesendirian

Seolah membisikku tuk sebuah tindakan

Kuterjatuh dalam samaran yang membingungkan

Gundah begitu dalam telah kurasakan

Menghapus nalar menjadi puing angan – angan

 

Waktu, dia seperti jembatan

Mendampingi akal sehat dalam keputusan

Untuk sadar dalam bebaskan pendakian

 

*puisi ini dikirim tanpa judul

 

KUCING JANTAN

 

Segala risau datang saat kau bayangkan.

Penomen akhiruzzanman  menusuk tulang persendian.

Kejahatan dibungkus suatu kebaikan. Sebuah penyamaran begitu membingungkan.

Kutercengang melihat keadaan.

Zaman dilingkupi sebentuk keanehan dan kebohongan memantikku dalam kelesatan menuju buah fikiran.

Fikiran dalam mengkaji keadaan zaman.

 

Kugorskan tinta menjadi tulisan sebagai amaran.

Amaran menyilet mata hati yang merasakan.

Amaran menggetarkan makar kekejian.

Amaran adalah peringatan.

Sebuah kabar terdengar dinegri idaman.

Kabar ketabuan telah dimediakan.

Sisi hitam lelaki bak kucing jantan

Menebar pesona, memburu perepuan.

 

Kucing jantan mencari sebentar kesenangan.

Membuang fikir dosa dalam merusak mahkota perempuan.

Perempuan malang diliputi kecemasan.

Melenyapkan kesucian, menghanguskan kehormatan.

 

Matilah kau lelaki tanpa fikir pertanggungjawaban.

Merasakan tubuh perempuan, namun kau tinggalkan.

Kau berlaku baik karna ada kepentingan dalam misi kepuasan.

 

Kau adalah kucing jantan, menodai mahkota perempuan.

Tanpa rasa dosa dan perutanggungjawaban.

Sampai tak sadarkan kau dihampiri oleh kematian.

 

 

 

Iklan

novel kubah, sebuah sinopsis

Standar

Judul buku: Kubah
Pengarang: Ahmad Tohari
Cetakan : ketiga tahun 2005
Halaman: 192 hal
Penerbit : PT Gramedia pustaka utama

Novel ini berlatarkan pergolakan politik Indonesia ditahun enam puluhan, Sebuah pergolakan yang dimotori partai yang berhaluan komunis. Novel ini mengisahkan perjalanan hidup seorang manusia yang diasingkan dipulau B, pulau tempat rehabilitasi seluruh kader partai komunis tersebut mereka biasa disebut tapol. Karman adalah nama tokoh utama didalam novel ini.Keterkaitan Karman dengan partai komunis sendiri bukanlah terjadi begitu saja, tapi merupakan pencucian otak yang terprogram dan terencana dengan baik dari propagandis partai komunis tersebut, hingga merubah watak Karman menjadi membenci orang – orang yang dahulu dihormatinya.
Karman merupakan anak cerdas yang lahir dari ayah yang bekerja sebagai mantri pasar dimasa penjajahan belanda, yang meninggal selepas Indonesia merdeka dari belanda. Setelah kematian bapaknya Karman kecil hidup bersama ibunya dalam penderitaan. Hingga akhirnya karman diambil Haji Bakir untuk bekerja dan bersekolah dari bantuan Haji Bakir. Namun, dalam perjalanannya Haji Bakir sendiri yang akan menjadi musuh Karman, sebab Karman memandang Haji Bakir sebagai tuan tanah yang menghisap tenaga pekerja. terlepas itu semua sebenarnya kebenciaan Karman kepada Haji Bakir karena Haji Bakir menolak pinangaan Karman terhadap anak bungsunya Rifah. Kebencian itu semakin membara setelah Rifah menikah dengan laki – laki lain dari keluarga kaya, tak ketinggalan pula profagandis partai Komunis yang sejak semua menginginkan agar Karman jauh dari orang – orang yang taat beragama seperti haji bakir menanamkan kebencia dalam hati karman agar menjauhi orang – orang tersebut.
Setelah pengakuan kadaulatan ditahun 1949, paman Karman yang bernama Hasyim pulang kePegaten kampung Karman. Sebelumnya Hasyim merupakan anggota laskar Hisbullah, karena merasa lebih bertanggung jawab terhadap Karman maka Hasyim mengambil Karman dari Haji Bakir dan mengembalikan pada ibunya. Hasyim yang juga memeiliki tanah yang cukup luas menyekolahkan Karman hingga lulus SMP, namu dari sinilah petaka itu bermula.
Setamat dari smp, Hasyim paman karman tak sanggup untuk membiayai sekolah kamenakannya padahal karman sangat ingin meneruskan pendidikannya. Berbekal ijazah smp karman berusaha mencari pekerjaan buat dirinya, namun usahanya berakhir sia – sia. Dalam penantiannya karman kembali bekerja pada Haji Bakir. Melihat karman yang membutuhkan pekarjaan, propagandis partai komunis mendapatkan peluang untuk menarik Karman yang cerdas dalam barisan mereka. Mereka membantu Karman mendapatkan pekerjaan hingga akhirnya karman merasa memiliki hutang budi pada mereka. Dalam keadaan Karman yang demikian mereka memberikan pada karman bulletin – bulletin, buku – buku tentang komunis.
Pristiwa 30 september yang mengguncang Jakarta dan seluruh Indonesia membuat seluruh rakyat sadar akan bahaya partai komunis dan ideology yang diusungnya. Hal ini memunculkan gerakan anti partai komunis dan ideology yang diusungnya yang akhirnya berimbas pula pada kehidupan Karman. Karman ditangkap dan diasingkan dipulau B jauh meininggalkan keluarganya. Dalam pengasingan itupula salah satu anaknya meninggal dan istrinya mengirim surat meminta cerai dalam keputus asaan karman memutuskan untuk mengakhiri hidupnya namun dorongan semangat salah seorang petugas pengawas tahanan pulau buru karman bertahan dari derita yang dia rasakan hingga akhirnya dia dikembaliakan kedaerah asalnya pegaten.
Dalam langkah yang berat, karman kembali kekampung asalnya pegaten menerima segala yang terjadi dihadapannya. Mesyarakat yang melupakan kejahatannya dimasa lalu membuat ia semangat untuk mengabdi pada masyarakatnya. Ketika penduduk pegaten memugar mesjid yang sudah mulai rusak karman mengambil bagian untuk membuat kubahnya. Kesungguhan dan keterampilan mengelas yang dia peroleh dari pengasingan dipulau buru membuat kubah itu benar – benar indah.
Novel yang dasyat dari maestro sastra Indonesia wajib dibaca.