Ketika aku berdiri dipojok kelas

Standar

sebenarnya aku tidak tahu  jenis tulisan ini,disebut cerpen sebenarnya tidak lazim, esai juga tidak. aku hanya sekedar menulis dari rasa atau ide yang ada dikepalaku, ketika disekolah guru pernah menghukum berdiri dari sana ide itu muncul.

Ketika Aku Berdiri diPojok Kelas

Aku tertunduk lesu, aku harus berdiri didepan kelas lagi. K

ulirik teman yang berdiri didepanku sedang berteriak – teriak menyebutkan perkalian yang dia hafalkan dia terlihat lancar tanpa halangan. Aku tadi lupa aku tak hafal 7 x 7 akhirnya aku harus berdiri menerima hukuman ini. Terkadang aku memang menikmati hukuman ini, tapi menyakitkan kalau harus berdiri dengan satu kaki seperti ini, lelah sekali terkadang aku mau jatuh.

Didepan kulihat teman – temanku yang tertawa memandangku yang sempoyongan berdiri dengan satu kaki, mungkin bagi mereka aku pelawak yang menghibur hati mereka, atau aku seperti badut ditaman mini yang biasa mereka ganggu. Tapi aku tak perduli, sudah biasa dan akupun turut gembira aku bisa membuat manusia gembira karena diriku.  Disudut kelas tergantung papan absen kubaca perlahan setiap huruf yang tertulis diatasnya, absen kelas 4 sdn. Aku sudah duduk dikelas 4 berarti 2 tahun lagi aku lulus SD. Tapi aku ragu apakah aku akan berhasil lulus atau aku akan gagal seperti abang – abangku.

Dalam ketundukanku kucoba mencuri pandang, hal ini yang paling kusuka ketika aku dihukum seperti ini, aku bisa melihat gadis putih imut dibarisan depan nomor kedua dari sebelah kanan yang terlihat simpati kepadaku, kalau melihat dia aku sering tersenyum sendiri, dalam hatiku terlintas sejuta hayalan, bagiku dia cantik sekali. Sebenarnya aku ragu apakah pandangannya pandangan simpatik atas hukuman yang selalu kuterima atau pandangan jijik, karena sebuah pandangan sulit untuk dibedakan maknanya dan aku sendiri tak pernah berani berbicara padanya.

Kulihat temaku yang tadi berteriak – teriak sudah duduk, sekarang  temaku yang tertawa melihatku tadi mau kedepan, aku menunduk lagi kulihat jempol kakiku sudah menyembul dari sepatuku yang sudah agak kekecilan. Sudah dua tahun aku belum ganti sepatu, baju seragamku pun sudah tak putih lagi, aku tak berani minta seragam baru pada ibu, aku yakin ibu hanya mengatakan “nanti ibu belikan baju baru kalau bapak sudah punya uang”  tapi aku tahu bapak tidak pernah punya uang, baju barupun tetap menjadi impian bagiku.

Setengah jam sudah berlalu, guruku masih menyimak hafalan  teman – temanku. Sementara aku masih berdiri sendiri dipojok kelas sambil merasakan kakiku yang mulai kesemutan, ditengah lamunanku kulihat seekor cicak menyebul dari langit – langit kelas yang sebagiannya telah menguning karena atap yang bocor aku benci melihat cicak itu, dia menjulurkan lidah seperti menghinaku. Aku tak mengerti mengapa aku begitu bodoh hampir setiap hari aku harus berdiri, selalu aku tak bisa menjawab soal – soal yang disodorkan padaku. Aku pernah mendengar kisah Pak Habibie mantan presiden Indonesia dari buk Egi guru IPSku, guru yang paling kukagumi, bu Egi sering bercerita dan aku suka dengan cerita aku ingin menjadi tukang cerita. Aku akan bercerita apa saja kepada siapa saja dan dimana saja aku suka dengan cerita.

Ketika itu kami sedang belajar tentang peresiden Indonesia, “pak habibie presiden ketiga Indonesia, beliau seorang ahli kedigantaraan, beliau bisa merancang sebuah pesawat” begitu kata buk egi pada kami, aku berfikir seberapa pintar otak pak Habibie sampai bisa membuat pesawat. Kemudian buk Egi melanjutkan  penjelasannya tentang pak Habibie “tahukah anak – anak pak Habibie seorang yatim, beliau kehilangan ayahya tercinta sejak dia kecil dan dia hidup bersama bundanya penuh kekurangan namun dia tidak pernah berputus asa, beliau sangat gemar belajar bahkan dia selalu juara kelas. Kalian harus mencontoh beliau agar kalian menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa”. Sejak itu aku tahu tenyata ada orang miskin yang bisa menjadi presiden. Dan kufikir seharusnya aku bisa seperti pak Habibie pintar dan menjadi juara kelas, bukankah bukankah hidupku juga sulit walaupun aku masih mempunyai bapak, tapi aku tak pernah tahu, aku begitu membenci pelajaran, bagiku sekolah seperti neraka yang penuh hantu.

Sebenarnya kebencianku pada pelajaran bukan tanpa alasan, aku tahu, tanpa aku belajar dirumah apa yang kupelajari akan langsung menguap hilang dari kepalaku, karna aku bukan anak jenius. Seperti kata buk Egi, pak Habibie hanya tidur 4 jam dan selebihnya digunakan untuk belajar. Aku ingin seperti itu, aku ingin membahagiakan orang  tuaku. tapi setiap aku tidak mengetahui pelajaran aku tidak mempunyai tempat untuk bertanya. Tiap malam ibu sibuk dengan sinetronnya bapak setelah makan malam langsung tidur karna kelelahan seharian bekerja. Jadilah aku terperangkap dalam kebingungnku sendiri.

***

Dari balik jendela kulihat langit menghitam, tak lama lagi hujan akan turun. Aku suka hujan, kalau hujan datang lingkungan rumahku akan tergenang air banjir, aku bisa puas berenang disana. Aku tak pernah bisa berenang dikolam renang karena harus bayar, biasanya aku menunggu musim hujan datang untuk bisa berenang. Hujan juga rezeki bagi kami ketika air surut biasanya ada banyak barang – barang bekas yang hanyut yang bisa kami jual. Ah aku rindu hujan, seperti aku merindukan adik kecilku yang hanyut dibawa banjir .

Akhirnya bel berbunyi aku lega aku bisa lepas dari hukuman ini, aku bisa duduk dibangku paling belakang buatku orang terbelakang. Aku berjalan menunduk  aku tak berani mengangkat wajahku,kulihat gadis putih imut itu memandangku tapi aku belum bisa mengartikan pandangan  itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s