CERPEN

Standar

Cerpen ini kutulis dua tahun yang lalu, semapat kulupakan karna menurutku ceritanya jelek. tapi akhirny aku berfikir biar jelek toh hasil karyaku hasil pemikiranku kenapa harus malu. akhirnya terhidang diblog ini.

AKHIRNYA GELAP

Kutatap haru rumahku setelah perjalanan melelahkan dari bandara, tak ada perubahan yang berarti dengan rumah ini setelah lama ku tinggal. Akupun langsung mengucapkan salam, namun setelah beberapa kali aku ucapkan salam dan kuketok pintu, aku tak menemukan seseorangpun dirumah. Memang aku sengaja tidak memberitahukan kepulanganku pada ayah dan ibu, aku ingin memberi surpraise pada mereka hingga tak ada penyambutan berarti pada kepulangaanku.

Lalu kuputuskan pergi ke belakang rumah barangkali mereka sedang membersihkan pekarangan belakang, namun aku juga tak menemukan mereka disana. Akhirnya, karna lelah aku beristirahat dibawah pohon mancang yang usianya jauh lebih tua dari usiaku daunya yang lebat tidak membiarkan cahanya matahari bebas menembus kebawah hingga memberi kesejukan bagi siapa saja yang ada dibawahnya. Aku memilih duduk diatas akarnya yang menonjol diatas tanah, menunggu mereka pulang barang kali mereka memungut lom atau mangkokan di perkebunan karet.

Sambil menunggu mereka aku mengingat masa laluku sebelum meninggalkan semua ini, tak terasa kelopak mataku menjadi sayu karna hembusan angin, hingga  melenakan pikiranku ke alam lain. Dialam mimpi aku melihat sepasang anak kecil sedang bermain dibawah pohon ini. Aku mengenal yang pria, dia tubuhku waktu masih kecil. Tubuh kecilku tampak riang bercengkrama dengan gadis itu, tampak olehku gadis itu menggendong boneka dan menina bobokannya sepintas lalu aku mendengar tubuh kecilku berceloteh. “rin, abang yang jadi bapaknya rini yang jadi mamaknya! Terus anaknya  kita kasih nama irfan ajaya.” kata tubuh kecilku polos dan aku melihat gadis kecil itu tersapu malu mendengar permintaanku. Sebenarnya aku juga lucu mendengar perkataan tubuh kecilku yang polos itu. Aku tak menyangka tubuh kecilku mampu berbicara seperti itu. “Mamak lagi masak apa mak bapak udah laperni capek pulang kerja”

“mamak masak godong ubi tapi belum masak bapak sabar dulunya!

“iya uwes si irfan kene sama bapak wae biar mamak gak repot.” Aku tertawa geli mendengar percakapan mereka seperti nonton sinetron saja.

“eh sudah malam bapak tutup pintu dulu, ayo mamak masuk nanti ada hantu ” kata tubuh kecilku “aunggggggg, aungggggggg tubuh kecilku melolong meniruka suara serigala yang ada difilm hantu dan ku lihat gadis itu merapat ditubuh kecilku seperti memang benar – benar ada hantu.

Ketika tubuh kecilku sedang asik bermain datang dua orang remaja dan aku mengenal keduanya yang rambutnya panjang, lurus itu mbak ida yang ikal mbak fitri mereka tetengga depan rumahku.

mereka berdua menggangu tubuh kecilku dan gadis kecil itu, “hayoo pacaranya, mbak kasih tau sama ibuknya zaky nanti” kata mbak fitri menggoda tubuh kecilku aku sangat yakin tubuh kecilku belum mengerti makna pacaran tapi kalimat mbak kasih tau sama ibuku membuat nyali tubuh kecilku menjadi ciut sebenarnya aku ingin mengusir mereka namun aku seperti berdiri di dua alam tubuhku hanya tampak seperti bayangan.

Mereka berdua terus saja menggangu tubuh kecilku dan gadis kecil itu, aku ak tahu apa yang ada dipikiran mereka tiba – tiba mereka menyuruh tubuh kecil ku mencium gadis kecil itu. Aku tak menyangka tubuh kecilku mencium gadis kecil itu namun sebelum aku melhat adegan itu aku tersentak  dari  tidurku. Ibuku memeluk erat tubuhku kulihat air mata haru membanjiri wajahnya yang yang sudah keriput, “tole – tole mule kok ora ngomong mamak piker siopo kok turu di bawah pohon” kata mamakku sambil terisak tangis. Lalu aku menyalami ayahku yang telah berdiri disamping ibuku “piye kabare apik toh, kapan di wisuda? Tanya bapak pada ku tapi sebelum aku menjawab ibu sudah menarikku kerumah “ ya wes dirumah wae ceritanya.”kata ibu

*   *    *

Malam ini rumahku ramai oleh tetangga dan teman lamaku ada yang sekedar menayakan kabar ku atau bertanya tentang Jakarta tempat aku menuntut ilmu, dirumah aku berjumpa  sama Rudi temanku satu bangku waktu di SD,

“piye kabarmu?” Tanya Rudi padaku

“apik riko sendiri piye? Wes piro anak riko?”

“alhamduliLLAH sehat anak ku baru siji laki laki.”

“kapan diwisuda wes punya calon belum?”

“InsyaALLAH wisuda tahun depan belum ada yang daftar ada simpenan gak kalo ada bagi samaku satu” jawabku “masak ora enek perempuan yang mau ma pak calon sajana, kalah sama tukang deres” kami tertawa geli Rudi mengejekku yang belum mempunyai calon istri

“ngomong – ngomong kerjaan piye karyawan perkebunan lebih penak dari dulutoh?” Tanya ku pada rudi “ sekarang lebih baekla dari pada dulu, aku da jadi mandor sekarang kalo rejeki jadi asisten juga bisa semenjak reformasi keampuan lebih diutamakan. hak – karyawan  wes diperhatikan staf – staf juga gak semena – mena.” kebanyakan dari kami adalah keturunan kuli kontrak yang di bawa orang – orang belanda ke Sumatra kami lebih memilih menjadi karyawan perkebunan dari pada mencari pekerjaan lain seperti berdagang atau lainya bukan kami tak ingin maju  karna orang tua kami hanya meninggalkan ilmu menders getah rambung dan mendodos sawit kebanyakan dari kami sekolah hanya sampai smp jadi tidak ada pilihan untuk mencari pekerjaan lain. petinggi – petinggi diperusahaan juga lebih memilih kami menjadi karyawan dari orang batak atau orang melayu yang nota bene penduduk asli bukan saja kami rajin bekerja tapi karna kami tidak banyak permintaan. Ketika pemilu kami menjadi bulan – bulan partai yang berkuasa untuk mencoblos mereka.itulah sebabnya aku malas tetep di sini terus saja di bodoh – bodohi bermodalkan bea siswa aku nekat ke jakarta. Semenjak runtuhnya orde baru aku melihat ada perubahan bagi karyawan rendahan hak – hak mereka telah dipehatikan dan telah diberi kebebasan memilih partai yang di inginkanya.

Setelah Rudi pamitan pulang rumahku menjadi sepi kembali tinggal aku dan kedua orang tuaku, namun ada sesuatu yang mengganjal pikiranku aku tidak melihat rini gadis kecil yang ada didalam mimpiku padahal dirinyalah alasan utamaku pulang aku ingin memebawanya kejakarta setelah ku mendapat gelar sarjana. Tapi ku pkir dia belum mendengar kepulanganku atau mungkin dia kuliah di  kota kupikir biarlah besok aku kerumahnya sekalian bertemu orangtuanya.

*  *  *

Angin sore berhembus perlahan mendorong tubuhku yang lemas  karna kecewa aku tak menemukan rini dan keluarganya rumah mereka sudah berganti penghuni. sesampainya dirumah ku hempaskan tubuhku di bayang yang ada didekat pintu samping rumahku lalu ibuku dating mendekatiku seakan mengetahui dilema yang kuhadapi. “napa tole? Kok kayak enek masalah?”

“tadi aku kerumah rini, tapi rumahya udah ditempati orang laen” kataku pada ibu

“dua bulan sejak kue pergi kejakarta bapak rini enek masalah, ibu juga ak ngerti masalah apa.ya setahu ibu sejak kejadian itu rumah itu jual.”

“trus rini ma keluarganya kemana buk?”

“ibu denger dari orang – orang mereka numpang dirumah saudaranya”

“saudaranya tinggal dimana buk?”

“ibu juga gak tahu orang mereka gk pamit sama ibu langsung pergi aja” jawaban dari ibu hanya memberi teka tiki paaku dan aku kasihan pada rini dimana dia sekarang dalam hati aku berjanji aku akan mencari alamat rini.

Aku dan rini telah beteman sejak kami dalam gendongan dan usia kami hanya tertaut beberapa bulan walaupun begitu sejak kecil rini selalu memenggilku abang dan sejak kecil kami terus bersama tak pernah dalam pikiranku untuk berpisah darinya kecuali keinginanku untuk merubah nasib yang akhirnya memisahkan kami

Esoknya aku kerumah Rudi barang kali dia tahu keberadaan rini namun jawabannya sama seperti ibu tidak memberi kejalasan yang pasti tapi aku ingat waktu aku akan berang kat kejakarta  rini  bilang kalau dia punya saudara dijakarta.

“Bang kalau da dijakarta jangan lupa mariniya!”

“doakan aja abang sukses nanti rini abang bawa kejakarta”

“rini juga kepingin kejarta ada saudara rini di sana.” Katanya waktu itu. ada keyakinan dalam hatiku yang mengatakan rini di Jakarta sekarang  Aku tak akan patah semangat aku akan mencari rini karna aku telah berjanji kelak dia yang akan mengurus rumahku aku tak perduli walaupun dia cacat atau wajahnya menyeramkan aku akan tetap mendampinginya

* * *

            Udara panas Jakarta telah menggantikan udara sejuk Sumatra kini aku telah berkutat dengan sibuknya kota Jakarta dan skripsiku. tapi aku tak lupa untuk mencari rini.  Aku terus mencari mulai dari Koran sampai situs jejering sosial namun hasilnya tetap nihil dan uang tabungan ku pun sudah habis untuk memesang iklan dikoran.Lalu aku berpikir mencari rini melalui orang – orang perntauan dari medan barang kali diantara mereka ada yang mengenal rini namun setelah lama kumencari keberadaan rini tetap menjadi teka teki bagiku.

Seperti biasa aku mencari rini melalui internet sampai aku lupa aku ada janji dengan dosenku di kampus. Aku tak mau terjadi masalah dengan skripsiku dengan terburu buru aku mengendarai motor temanku hingga aku lupa memakai helm dan membawa stnk nasib apespun menimpaku   sesampainya diperempatan  aku tertangkap polisi. Aku coba bicara baik – baik padanya kukatakan aku buru – buru karna harus bertemu dengan dosenku tapi polisi itu tak mau tau hingga tensiku sedikit meninggi aku dan dia pun mulai menaikkan suara kemudian aku melunak dan kucoba menggunakan cara mudah dalam negosiasi dinegara ini dan caraku pun berhasil sebelum aku meninggalkannya aku melihat anak kecil yang berlari ingin memeluk polisi itu namun aku terpana gadis kecil itu mirip sekali dengan gadis kecil yang ada dalam mimpiku  perhatianku tak berpindah darinya sampai ku mendengar seorang wanita yang memekai seragam kepolisian berdiri di belakang gadis itu dan memanggil namaku “bang Zaki.” Kuangkat suaraku melihat sipemilik suara.

Suara lembut yang sangat kukenal dan kucari itu merayap ketelingaku diikuti keringat dingin yang mengucur di seluruh tubuhku lalu ku rasakan ribuan kunang kunang menyerang mataku hingga akhirnya gelap

Jakarta 13 februari 2009

5 responses »

  1. wah bang apakah ini khayalan belakamu dengan imajinasi yang terlalu tinggi ataukah ini nyata…yang kau tuangkan dalam tulisan…???

    keren2 sampai rudi pun masuk…
    aq juga dah lama gak jumpa ma dya…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s