Monthly Archives: Desember 2011

Rel Kreta didepan Sekolahku, Smp YPAKPTPN3 Gunung Para

Standar

 

 

Kalau kawan menumpang kereta api dari medan menuju pematang siantar  boleh singgah distasiun baja lingge,atau jika kawan menumpang bus antar kota dari kota medan, kawan bilanglah pada keneknya “saya turun disimapang atas”. Dari simpang atas Kawan boleh naik Rbt (ojek) atau jalan kaki menuju pasar dolok merawan, nanti kawan akan mendapatkan stasiun kereta api berasitektur tua setelah itu  beloklah kearah kanan, kawan akan menemukan kantor camat dan kantor koramil. Dari situ akan terlihat sebuah gedung tua berwana coklat, itulah sekolahku..

Lalu jalanlah, kawan akan disambut gapura, kalau kawan sebagai tamu istimewa yakinlah kawan akan disambut oleh para siswi dengan tari selamat datang serampang dua belas. Diatas pendopo kawan akan melihat sebuah baliho dengan tulisan SMP YPAK PTPN3 Gunung Para itulah nama sekolahku. Kalau kawan bukan tamu istimewa minta izinlah pada guru disana untuk melihat – lihat sekolahku, penjaga sekolahku galak. kalau kawan memperhatikan bangunan utama jangan coba taksir usianya, kata nenek – nenek disana bangunan itu adalah peninggalan Belanda dan jangan kira belanda memang membangun sekolah, dahulunya itu adalah gudang, gudang getah. Karet yang sudah dijemur akan dikirim kemedan dengan kereta api . Sekolahku adalah smp tertua diDolok Merawan bahkan dari kecamatan lain disekitar Dolok Merawan. Stasiun Baja Lingge adalah saksi sejarah bagaimana para siswa dari jauh yang bersekolah menumpang kreta api dimasa lalu. kalau sekarang sekolah sudah banyak, kawan tak kan lagi menemukan siswa yang menumpang kereta. Dari ruang piket  naiklah kelantai dua lihat lantainya menakjubkan bukan, lantai kayunya masih liat walaupun sudah tua.

Nah dilantai satu disebelah kanan meja piket ada sebuah ruangan, walau nampak tak terawat tapi itu merupakan harta karun yang paling berharga yaitu perpustakaan sekolah. Didalamnya kawan akan menemukan buku – buku tua karya Karl May “Winettou Anak Kepala Suku Apace”, atau “diBawah Lindungan Ka’bah” karya pujangga Indonesia Hamka. Ketika aku masih sekolah aku tak prnah menyangka buku – buku diperpustakaan itu buku – buku yang luar biasa aku kira buku – buku itu dipajang karna sayang untuk dibuang, setelah lulus baru tahu itu buku – buku istimewa. Kalau dulu perpustakan disamping untuk menjadi tempat memajang buku tua digunakan juga sebagai kelas mata pelajaran agama Kristen jadi tekesan bukan perpustakaan.

Ohya, ada satu lagi tempat yang menarik. Tapi kawan harus keluar dulu dari bangunan utama, disebelah kiri  ada satu bangunan lagi, ikuti terasnya kawan akan menemukan laboratorium.  kalau kawan masuk kawan akan terkejut didalamnya seperti musium, ada banyak barang antik telphon tua yang masih diputar nomornya atau telegraf juga ada. Dari jendela laboratorium kawan bsa melihat ada satu gedung dengan dua pintu, kalau dulu gedung itu ruang kelas kini sudah menjadi lab komputer.

Sekarang berjalanlah kebelakang, dibelakang sekolahku ada lembah yang bersungai tapi sekarang sudah ditembok jadi kawan tidak bisa turun kebawah. Waktu aku masih bersekolah dibelakang sekolahku ada beberapa rumah tua milik perkebunan, yang kalau sekarang aku taksir usianya sama dengan gedung utama.  Ketika aku sekolah ada guru yang pernah bercerita dahulunya tanah menurun dibalik tembok dibentuk menjadi terasering dan ditanami bunga – bungaan seperti taman para raja, pada masa itu sekolahku mendapat predikat sekolah terindah sekabupaten deli serdang  tapi aku tidak tahun itu tahun berapa.

Kalau soal prestasi masuklah kantor kepala sekolah disana ada lemari coba hitung ada berapa tropi yang terpajang, ku sarankan tak perlu dihitung pokoknya ada banyak, yang paling menjadi kenangan dan terus menjadi buah bibir adalah ketika sekolahku sampai ke final cerdas cermat seprovinsi Sumatra Utara kabarnyasih disiarkan oleh stasiun tv TVRI.

Itulah tentang sekolahku sekolah yang terus akan diingat penuh dengan kenangan. Jaya terus Smp YPAK PTPN3 Gunung Para.

*tulisan ini dbuat brdasarkan memori dan cerita – cerita yang pernah didengar kalau ada kesalahan data mohon maaf.

Ketika aku berdiri dipojok kelas

Standar

sebenarnya aku tidak tahu  jenis tulisan ini,disebut cerpen sebenarnya tidak lazim, esai juga tidak. aku hanya sekedar menulis dari rasa atau ide yang ada dikepalaku, ketika disekolah guru pernah menghukum berdiri dari sana ide itu muncul.

Ketika Aku Berdiri diPojok Kelas

Aku tertunduk lesu, aku harus berdiri didepan kelas lagi. K

ulirik teman yang berdiri didepanku sedang berteriak – teriak menyebutkan perkalian yang dia hafalkan dia terlihat lancar tanpa halangan. Aku tadi lupa aku tak hafal 7 x 7 akhirnya aku harus berdiri menerima hukuman ini. Terkadang aku memang menikmati hukuman ini, tapi menyakitkan kalau harus berdiri dengan satu kaki seperti ini, lelah sekali terkadang aku mau jatuh.

Didepan kulihat teman – temanku yang tertawa memandangku yang sempoyongan berdiri dengan satu kaki, mungkin bagi mereka aku pelawak yang menghibur hati mereka, atau aku seperti badut ditaman mini yang biasa mereka ganggu. Tapi aku tak perduli, sudah biasa dan akupun turut gembira aku bisa membuat manusia gembira karena diriku.  Disudut kelas tergantung papan absen kubaca perlahan setiap huruf yang tertulis diatasnya, absen kelas 4 sdn. Aku sudah duduk dikelas 4 berarti 2 tahun lagi aku lulus SD. Tapi aku ragu apakah aku akan berhasil lulus atau aku akan gagal seperti abang – abangku.

Dalam ketundukanku kucoba mencuri pandang, hal ini yang paling kusuka ketika aku dihukum seperti ini, aku bisa melihat gadis putih imut dibarisan depan nomor kedua dari sebelah kanan yang terlihat simpati kepadaku, kalau melihat dia aku sering tersenyum sendiri, dalam hatiku terlintas sejuta hayalan, bagiku dia cantik sekali. Sebenarnya aku ragu apakah pandangannya pandangan simpatik atas hukuman yang selalu kuterima atau pandangan jijik, karena sebuah pandangan sulit untuk dibedakan maknanya dan aku sendiri tak pernah berani berbicara padanya.

Kulihat temaku yang tadi berteriak – teriak sudah duduk, sekarang  temaku yang tertawa melihatku tadi mau kedepan, aku menunduk lagi kulihat jempol kakiku sudah menyembul dari sepatuku yang sudah agak kekecilan. Sudah dua tahun aku belum ganti sepatu, baju seragamku pun sudah tak putih lagi, aku tak berani minta seragam baru pada ibu, aku yakin ibu hanya mengatakan “nanti ibu belikan baju baru kalau bapak sudah punya uang”  tapi aku tahu bapak tidak pernah punya uang, baju barupun tetap menjadi impian bagiku.

Setengah jam sudah berlalu, guruku masih menyimak hafalan  teman – temanku. Sementara aku masih berdiri sendiri dipojok kelas sambil merasakan kakiku yang mulai kesemutan, ditengah lamunanku kulihat seekor cicak menyebul dari langit – langit kelas yang sebagiannya telah menguning karena atap yang bocor aku benci melihat cicak itu, dia menjulurkan lidah seperti menghinaku. Aku tak mengerti mengapa aku begitu bodoh hampir setiap hari aku harus berdiri, selalu aku tak bisa menjawab soal – soal yang disodorkan padaku. Aku pernah mendengar kisah Pak Habibie mantan presiden Indonesia dari buk Egi guru IPSku, guru yang paling kukagumi, bu Egi sering bercerita dan aku suka dengan cerita aku ingin menjadi tukang cerita. Aku akan bercerita apa saja kepada siapa saja dan dimana saja aku suka dengan cerita.

Ketika itu kami sedang belajar tentang peresiden Indonesia, “pak habibie presiden ketiga Indonesia, beliau seorang ahli kedigantaraan, beliau bisa merancang sebuah pesawat” begitu kata buk egi pada kami, aku berfikir seberapa pintar otak pak Habibie sampai bisa membuat pesawat. Kemudian buk Egi melanjutkan  penjelasannya tentang pak Habibie “tahukah anak – anak pak Habibie seorang yatim, beliau kehilangan ayahya tercinta sejak dia kecil dan dia hidup bersama bundanya penuh kekurangan namun dia tidak pernah berputus asa, beliau sangat gemar belajar bahkan dia selalu juara kelas. Kalian harus mencontoh beliau agar kalian menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa”. Sejak itu aku tahu tenyata ada orang miskin yang bisa menjadi presiden. Dan kufikir seharusnya aku bisa seperti pak Habibie pintar dan menjadi juara kelas, bukankah bukankah hidupku juga sulit walaupun aku masih mempunyai bapak, tapi aku tak pernah tahu, aku begitu membenci pelajaran, bagiku sekolah seperti neraka yang penuh hantu.

Sebenarnya kebencianku pada pelajaran bukan tanpa alasan, aku tahu, tanpa aku belajar dirumah apa yang kupelajari akan langsung menguap hilang dari kepalaku, karna aku bukan anak jenius. Seperti kata buk Egi, pak Habibie hanya tidur 4 jam dan selebihnya digunakan untuk belajar. Aku ingin seperti itu, aku ingin membahagiakan orang  tuaku. tapi setiap aku tidak mengetahui pelajaran aku tidak mempunyai tempat untuk bertanya. Tiap malam ibu sibuk dengan sinetronnya bapak setelah makan malam langsung tidur karna kelelahan seharian bekerja. Jadilah aku terperangkap dalam kebingungnku sendiri.

***

Dari balik jendela kulihat langit menghitam, tak lama lagi hujan akan turun. Aku suka hujan, kalau hujan datang lingkungan rumahku akan tergenang air banjir, aku bisa puas berenang disana. Aku tak pernah bisa berenang dikolam renang karena harus bayar, biasanya aku menunggu musim hujan datang untuk bisa berenang. Hujan juga rezeki bagi kami ketika air surut biasanya ada banyak barang – barang bekas yang hanyut yang bisa kami jual. Ah aku rindu hujan, seperti aku merindukan adik kecilku yang hanyut dibawa banjir .

Akhirnya bel berbunyi aku lega aku bisa lepas dari hukuman ini, aku bisa duduk dibangku paling belakang buatku orang terbelakang. Aku berjalan menunduk  aku tak berani mengangkat wajahku,kulihat gadis putih imut itu memandangku tapi aku belum bisa mengartikan pandangan  itu…

PUISI

Standar

Tiga Bulan Menunggak

 

Bentangan almanak

Membuat risau berteriak

Betapa tidak

Tiga bulan aku sudah menunggak

 

Maklumat dari sekolah sudah menanti

Artinya aku harus angkat kaki

Aku tidak mengerti

Mengapa aku harus pergi

Bukankah aku  bagian dari negri ini

Bukankah pendidikan mendapat subsidi

 

Dalam sedih kutanya pada bapak

Kata bapak sekolah, bukan untuk kita

Tapi untuk orang kaya.

 

 

CERPEN

Standar

Cerpen ini kutulis dua tahun yang lalu, semapat kulupakan karna menurutku ceritanya jelek. tapi akhirny aku berfikir biar jelek toh hasil karyaku hasil pemikiranku kenapa harus malu. akhirnya terhidang diblog ini.

AKHIRNYA GELAP

Kutatap haru rumahku setelah perjalanan melelahkan dari bandara, tak ada perubahan yang berarti dengan rumah ini setelah lama ku tinggal. Akupun langsung mengucapkan salam, namun setelah beberapa kali aku ucapkan salam dan kuketok pintu, aku tak menemukan seseorangpun dirumah. Memang aku sengaja tidak memberitahukan kepulanganku pada ayah dan ibu, aku ingin memberi surpraise pada mereka hingga tak ada penyambutan berarti pada kepulangaanku.

Lalu kuputuskan pergi ke belakang rumah barangkali mereka sedang membersihkan pekarangan belakang, namun aku juga tak menemukan mereka disana. Akhirnya, karna lelah aku beristirahat dibawah pohon mancang yang usianya jauh lebih tua dari usiaku daunya yang lebat tidak membiarkan cahanya matahari bebas menembus kebawah hingga memberi kesejukan bagi siapa saja yang ada dibawahnya. Aku memilih duduk diatas akarnya yang menonjol diatas tanah, menunggu mereka pulang barang kali mereka memungut lom atau mangkokan di perkebunan karet.

Sambil menunggu mereka aku mengingat masa laluku sebelum meninggalkan semua ini, tak terasa kelopak mataku menjadi sayu karna hembusan angin, hingga  melenakan pikiranku ke alam lain. Dialam mimpi aku melihat sepasang anak kecil sedang bermain dibawah pohon ini. Aku mengenal yang pria, dia tubuhku waktu masih kecil. Tubuh kecilku tampak riang bercengkrama dengan gadis itu, tampak olehku gadis itu menggendong boneka dan menina bobokannya sepintas lalu aku mendengar tubuh kecilku berceloteh. “rin, abang yang jadi bapaknya rini yang jadi mamaknya! Terus anaknya  kita kasih nama irfan ajaya.” kata tubuh kecilku polos dan aku melihat gadis kecil itu tersapu malu mendengar permintaanku. Sebenarnya aku juga lucu mendengar perkataan tubuh kecilku yang polos itu. Aku tak menyangka tubuh kecilku mampu berbicara seperti itu. “Mamak lagi masak apa mak bapak udah laperni capek pulang kerja”

“mamak masak godong ubi tapi belum masak bapak sabar dulunya!

“iya uwes si irfan kene sama bapak wae biar mamak gak repot.” Aku tertawa geli mendengar percakapan mereka seperti nonton sinetron saja.

“eh sudah malam bapak tutup pintu dulu, ayo mamak masuk nanti ada hantu ” kata tubuh kecilku “aunggggggg, aungggggggg tubuh kecilku melolong meniruka suara serigala yang ada difilm hantu dan ku lihat gadis itu merapat ditubuh kecilku seperti memang benar – benar ada hantu.

Ketika tubuh kecilku sedang asik bermain datang dua orang remaja dan aku mengenal keduanya yang rambutnya panjang, lurus itu mbak ida yang ikal mbak fitri mereka tetengga depan rumahku.

mereka berdua menggangu tubuh kecilku dan gadis kecil itu, “hayoo pacaranya, mbak kasih tau sama ibuknya zaky nanti” kata mbak fitri menggoda tubuh kecilku aku sangat yakin tubuh kecilku belum mengerti makna pacaran tapi kalimat mbak kasih tau sama ibuku membuat nyali tubuh kecilku menjadi ciut sebenarnya aku ingin mengusir mereka namun aku seperti berdiri di dua alam tubuhku hanya tampak seperti bayangan.

Mereka berdua terus saja menggangu tubuh kecilku dan gadis kecil itu, aku ak tahu apa yang ada dipikiran mereka tiba – tiba mereka menyuruh tubuh kecil ku mencium gadis kecil itu. Aku tak menyangka tubuh kecilku mencium gadis kecil itu namun sebelum aku melhat adegan itu aku tersentak  dari  tidurku. Ibuku memeluk erat tubuhku kulihat air mata haru membanjiri wajahnya yang yang sudah keriput, “tole – tole mule kok ora ngomong mamak piker siopo kok turu di bawah pohon” kata mamakku sambil terisak tangis. Lalu aku menyalami ayahku yang telah berdiri disamping ibuku “piye kabare apik toh, kapan di wisuda? Tanya bapak pada ku tapi sebelum aku menjawab ibu sudah menarikku kerumah “ ya wes dirumah wae ceritanya.”kata ibu

*   *    *

Malam ini rumahku ramai oleh tetangga dan teman lamaku ada yang sekedar menayakan kabar ku atau bertanya tentang Jakarta tempat aku menuntut ilmu, dirumah aku berjumpa  sama Rudi temanku satu bangku waktu di SD,

“piye kabarmu?” Tanya Rudi padaku

“apik riko sendiri piye? Wes piro anak riko?”

“alhamduliLLAH sehat anak ku baru siji laki laki.”

“kapan diwisuda wes punya calon belum?”

“InsyaALLAH wisuda tahun depan belum ada yang daftar ada simpenan gak kalo ada bagi samaku satu” jawabku “masak ora enek perempuan yang mau ma pak calon sajana, kalah sama tukang deres” kami tertawa geli Rudi mengejekku yang belum mempunyai calon istri

“ngomong – ngomong kerjaan piye karyawan perkebunan lebih penak dari dulutoh?” Tanya ku pada rudi “ sekarang lebih baekla dari pada dulu, aku da jadi mandor sekarang kalo rejeki jadi asisten juga bisa semenjak reformasi keampuan lebih diutamakan. hak – karyawan  wes diperhatikan staf – staf juga gak semena – mena.” kebanyakan dari kami adalah keturunan kuli kontrak yang di bawa orang – orang belanda ke Sumatra kami lebih memilih menjadi karyawan perkebunan dari pada mencari pekerjaan lain seperti berdagang atau lainya bukan kami tak ingin maju  karna orang tua kami hanya meninggalkan ilmu menders getah rambung dan mendodos sawit kebanyakan dari kami sekolah hanya sampai smp jadi tidak ada pilihan untuk mencari pekerjaan lain. petinggi – petinggi diperusahaan juga lebih memilih kami menjadi karyawan dari orang batak atau orang melayu yang nota bene penduduk asli bukan saja kami rajin bekerja tapi karna kami tidak banyak permintaan. Ketika pemilu kami menjadi bulan – bulan partai yang berkuasa untuk mencoblos mereka.itulah sebabnya aku malas tetep di sini terus saja di bodoh – bodohi bermodalkan bea siswa aku nekat ke jakarta. Semenjak runtuhnya orde baru aku melihat ada perubahan bagi karyawan rendahan hak – hak mereka telah dipehatikan dan telah diberi kebebasan memilih partai yang di inginkanya.

Setelah Rudi pamitan pulang rumahku menjadi sepi kembali tinggal aku dan kedua orang tuaku, namun ada sesuatu yang mengganjal pikiranku aku tidak melihat rini gadis kecil yang ada didalam mimpiku padahal dirinyalah alasan utamaku pulang aku ingin memebawanya kejakarta setelah ku mendapat gelar sarjana. Tapi ku pkir dia belum mendengar kepulanganku atau mungkin dia kuliah di  kota kupikir biarlah besok aku kerumahnya sekalian bertemu orangtuanya.

*  *  *

Angin sore berhembus perlahan mendorong tubuhku yang lemas  karna kecewa aku tak menemukan rini dan keluarganya rumah mereka sudah berganti penghuni. sesampainya dirumah ku hempaskan tubuhku di bayang yang ada didekat pintu samping rumahku lalu ibuku dating mendekatiku seakan mengetahui dilema yang kuhadapi. “napa tole? Kok kayak enek masalah?”

“tadi aku kerumah rini, tapi rumahya udah ditempati orang laen” kataku pada ibu

“dua bulan sejak kue pergi kejakarta bapak rini enek masalah, ibu juga ak ngerti masalah apa.ya setahu ibu sejak kejadian itu rumah itu jual.”

“trus rini ma keluarganya kemana buk?”

“ibu denger dari orang – orang mereka numpang dirumah saudaranya”

“saudaranya tinggal dimana buk?”

“ibu juga gak tahu orang mereka gk pamit sama ibu langsung pergi aja” jawaban dari ibu hanya memberi teka tiki paaku dan aku kasihan pada rini dimana dia sekarang dalam hati aku berjanji aku akan mencari alamat rini.

Aku dan rini telah beteman sejak kami dalam gendongan dan usia kami hanya tertaut beberapa bulan walaupun begitu sejak kecil rini selalu memenggilku abang dan sejak kecil kami terus bersama tak pernah dalam pikiranku untuk berpisah darinya kecuali keinginanku untuk merubah nasib yang akhirnya memisahkan kami

Esoknya aku kerumah Rudi barang kali dia tahu keberadaan rini namun jawabannya sama seperti ibu tidak memberi kejalasan yang pasti tapi aku ingat waktu aku akan berang kat kejakarta  rini  bilang kalau dia punya saudara dijakarta.

“Bang kalau da dijakarta jangan lupa mariniya!”

“doakan aja abang sukses nanti rini abang bawa kejakarta”

“rini juga kepingin kejarta ada saudara rini di sana.” Katanya waktu itu. ada keyakinan dalam hatiku yang mengatakan rini di Jakarta sekarang  Aku tak akan patah semangat aku akan mencari rini karna aku telah berjanji kelak dia yang akan mengurus rumahku aku tak perduli walaupun dia cacat atau wajahnya menyeramkan aku akan tetap mendampinginya

* * *

            Udara panas Jakarta telah menggantikan udara sejuk Sumatra kini aku telah berkutat dengan sibuknya kota Jakarta dan skripsiku. tapi aku tak lupa untuk mencari rini.  Aku terus mencari mulai dari Koran sampai situs jejering sosial namun hasilnya tetap nihil dan uang tabungan ku pun sudah habis untuk memesang iklan dikoran.Lalu aku berpikir mencari rini melalui orang – orang perntauan dari medan barang kali diantara mereka ada yang mengenal rini namun setelah lama kumencari keberadaan rini tetap menjadi teka teki bagiku.

Seperti biasa aku mencari rini melalui internet sampai aku lupa aku ada janji dengan dosenku di kampus. Aku tak mau terjadi masalah dengan skripsiku dengan terburu buru aku mengendarai motor temanku hingga aku lupa memakai helm dan membawa stnk nasib apespun menimpaku   sesampainya diperempatan  aku tertangkap polisi. Aku coba bicara baik – baik padanya kukatakan aku buru – buru karna harus bertemu dengan dosenku tapi polisi itu tak mau tau hingga tensiku sedikit meninggi aku dan dia pun mulai menaikkan suara kemudian aku melunak dan kucoba menggunakan cara mudah dalam negosiasi dinegara ini dan caraku pun berhasil sebelum aku meninggalkannya aku melihat anak kecil yang berlari ingin memeluk polisi itu namun aku terpana gadis kecil itu mirip sekali dengan gadis kecil yang ada dalam mimpiku  perhatianku tak berpindah darinya sampai ku mendengar seorang wanita yang memekai seragam kepolisian berdiri di belakang gadis itu dan memanggil namaku “bang Zaki.” Kuangkat suaraku melihat sipemilik suara.

Suara lembut yang sangat kukenal dan kucari itu merayap ketelingaku diikuti keringat dingin yang mengucur di seluruh tubuhku lalu ku rasakan ribuan kunang kunang menyerang mataku hingga akhirnya gelap

Jakarta 13 februari 2009