Kita dan Pemimpin Kita

Standar

analisis mencari pemimpin masa depan.

Mungkin anda termasuk orang yang sering marah melihat tingkah pemimpin – pemimpin kita yang tergabung dalam elit politik dinegri ini. mungkin ada termasuk orang yang sering kecewa dengan kebijakan pemimpin kita yang sepertinya tidak memihak pada rakayat. Atau justru anda adalah orang yang paling semangat untuk melaksanakan demonstrasi menentang kebijakan – kebijakan yang  menurut anda tidak bijak.

Sayapun demikian, ketika berkumpul dengan teman – teman mencoba berdiskusi tentang negri yang kita cintai ini, sering memaki elit pemimpin kita yang menurut saya tidak mampu berlaku jujur. menurut saya para elit dinegr ini seperti memerankan sandiwara yang melenakan kita, namun tidak pernah memberi bukti yang nyata yang benar  – benar bisa mensejahtrakan kita. Dalam perjalanannya saya sering merenung dan justru saya mendapat kesimpulan yang mengejutkan . mungkin anda bertanya, apa “kenyataanya pememimpin kita benar – benar memihak dan mensejahtrakan kita?” saya jawab “tidak” dan anda akan bertanya lagi “jadi apa kesimpulan yang mengejutkan tersebut, apa hal?”

Kalau kita melihat sejarah masyarakat primitive, kita akan dapati sebuah koloni masyarakat primitive terbentuk dari satu individu yang kemudian membentuk satu keluarga, desa, kecamatan yang kemudian berujung pada satu pemerintahan besar yang berbentuk kerajaan. Menurut catatan antropologi karakter seorang pemimpin dalam system masyarakat primitf ditentukan oleh individu – individu yang membentuk koloni masyarakat tersebut. Koloni yang dibentuk oleh manusia – manusia yang kuat,  akan melahirkan satu pemimpin yang sangat kuat, secara langsung individu yang paling kuat tadi akan muncul sebagai pelindung koloninya yang kita sebut saat ini sebagai pemimpin. Begitu juga koloni yang dibangun oleh manusia – manusia lemah akan melahirkan satu individu yang kuat .tapi, dia hanya menjadi manusia yang kuat diantara yang lemah.

Logika sederhananya kumpulan penjahat tidak mungkin dipimpin oleh padri dan sebaliknya kumpulan padri tidak mungkin dipimpin oleh penjahat. Melihat realita kita saat ini, semua sikap dan tingkah laku pemimpin kita saat ini, semua merupakan sikap dan tingkah laku kita sendiri. Ketika pemimpi kita korupsi itu karna kita yang secara tidak langsung suka malakukan korupsi, melihat pemimin kita yang amoral itu karna kita sendiri yang amoral sederhananya keburukan pemimpin kita adalah ceriman dari ahlak buruk kita.

Lantas apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus mengimpor pemimpin? Saya kira mengimpor pemimpin kita jadikan opsi terakrir ketika kita benar benar – benar tidak mampu lagi menemukan pemimpin yang amanah dinegri ini. Opsi yang utama yang harus kita lakukan kita harus memperbaiki individu – individu yang yang menjadi bahan utama terbentuknya negri ini. Kita harus memperbiki diri kita sendiri. Dan perbaika ini harus dimulai dari pendidikan sebagai mesin yang membentuk karakter generasi muda kita.

Bukannya setiap tahun kita meluluskan banyak sarjana dari univesitas local maupun dari mancanegara, berarti kita tidak kekurangan orang pintarkan? Ya ada banyak orang pintar dinegri ini, tapi kebanyakan mengecewakan, kepintarannya hanya untuk menipu, tidak memberi manfaat bagi orang lain. Kita harus akui pendidikan kita adalah pendidikan secular, dimana konsep keagamaan dan keduniaan dipisahkan. Pendidikan seperti ini hanya melahirkan manusia yang memiliki ambisi besar namun tidak memiliki filter untuk memikirkan sesamanya. Pendidikan secular yang diperaktekkan orang barat yang kemudian turut kita anut, menamkan benih pemikiran imperialis pada anak didiknya yang akan akan berbahaya jika sikap imperialis ini dipraktekkan dinegrinya sendiri, seperti kita rasakan saat ini justru kita dijajah oleh orang kita sendiri.

Lantas pendidikan seperti apa yang harus kita kembangkan? Secara pribadi saya menawarkan konsep pendidikan relijius, pendidikan berdasarkan konsep ketuhanan. dan saya kira kita tidak perlu alergi dengan konsep ini sebab, kita sepakat Negara kita berdasarkan ketuhanan bukan komunis.  Pada dasarnya pendidikan relijius tetap akan melahirkan individu yang memiliki ambisi untuk kemajuan dan kejayaan, hanya saja dalam sikapnya akan difilter oleh norma agama yang mengarahkan manusia kepada kepada moralitas. Mudahnya, orang pintar yang lahir dari pendidikan relijius adalah orang pintar yang benar – benar bermoral. Bukan berwatak penjajah.

Saya memiliki keyakinan Ketika individu – individu dinegri terdiri dari orang pintar bermoral, suatu saat kita akan memliki satu individu pemimpn yang benar  – benar bisa mengantarkan kita pada satu peradaban besar dan saya kita ini bukan satu hal yang mustahil .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s