Monthly Archives: November 2011

Kita dan Pemimpin Kita

Standar

analisis mencari pemimpin masa depan.

Mungkin anda termasuk orang yang sering marah melihat tingkah pemimpin – pemimpin kita yang tergabung dalam elit politik dinegri ini. mungkin ada termasuk orang yang sering kecewa dengan kebijakan pemimpin kita yang sepertinya tidak memihak pada rakayat. Atau justru anda adalah orang yang paling semangat untuk melaksanakan demonstrasi menentang kebijakan – kebijakan yang  menurut anda tidak bijak.

Sayapun demikian, ketika berkumpul dengan teman – teman mencoba berdiskusi tentang negri yang kita cintai ini, sering memaki elit pemimpin kita yang menurut saya tidak mampu berlaku jujur. menurut saya para elit dinegr ini seperti memerankan sandiwara yang melenakan kita, namun tidak pernah memberi bukti yang nyata yang benar  – benar bisa mensejahtrakan kita. Dalam perjalanannya saya sering merenung dan justru saya mendapat kesimpulan yang mengejutkan . mungkin anda bertanya, apa “kenyataanya pememimpin kita benar – benar memihak dan mensejahtrakan kita?” saya jawab “tidak” dan anda akan bertanya lagi “jadi apa kesimpulan yang mengejutkan tersebut, apa hal?”

Kalau kita melihat sejarah masyarakat primitive, kita akan dapati sebuah koloni masyarakat primitive terbentuk dari satu individu yang kemudian membentuk satu keluarga, desa, kecamatan yang kemudian berujung pada satu pemerintahan besar yang berbentuk kerajaan. Menurut catatan antropologi karakter seorang pemimpin dalam system masyarakat primitf ditentukan oleh individu – individu yang membentuk koloni masyarakat tersebut. Koloni yang dibentuk oleh manusia – manusia yang kuat,  akan melahirkan satu pemimpin yang sangat kuat, secara langsung individu yang paling kuat tadi akan muncul sebagai pelindung koloninya yang kita sebut saat ini sebagai pemimpin. Begitu juga koloni yang dibangun oleh manusia – manusia lemah akan melahirkan satu individu yang kuat .tapi, dia hanya menjadi manusia yang kuat diantara yang lemah.

Logika sederhananya kumpulan penjahat tidak mungkin dipimpin oleh padri dan sebaliknya kumpulan padri tidak mungkin dipimpin oleh penjahat. Melihat realita kita saat ini, semua sikap dan tingkah laku pemimpin kita saat ini, semua merupakan sikap dan tingkah laku kita sendiri. Ketika pemimpi kita korupsi itu karna kita yang secara tidak langsung suka malakukan korupsi, melihat pemimin kita yang amoral itu karna kita sendiri yang amoral sederhananya keburukan pemimpin kita adalah ceriman dari ahlak buruk kita.

Lantas apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus mengimpor pemimpin? Saya kira mengimpor pemimpin kita jadikan opsi terakrir ketika kita benar benar – benar tidak mampu lagi menemukan pemimpin yang amanah dinegri ini. Opsi yang utama yang harus kita lakukan kita harus memperbaiki individu – individu yang yang menjadi bahan utama terbentuknya negri ini. Kita harus memperbiki diri kita sendiri. Dan perbaika ini harus dimulai dari pendidikan sebagai mesin yang membentuk karakter generasi muda kita.

Bukannya setiap tahun kita meluluskan banyak sarjana dari univesitas local maupun dari mancanegara, berarti kita tidak kekurangan orang pintarkan? Ya ada banyak orang pintar dinegri ini, tapi kebanyakan mengecewakan, kepintarannya hanya untuk menipu, tidak memberi manfaat bagi orang lain. Kita harus akui pendidikan kita adalah pendidikan secular, dimana konsep keagamaan dan keduniaan dipisahkan. Pendidikan seperti ini hanya melahirkan manusia yang memiliki ambisi besar namun tidak memiliki filter untuk memikirkan sesamanya. Pendidikan secular yang diperaktekkan orang barat yang kemudian turut kita anut, menamkan benih pemikiran imperialis pada anak didiknya yang akan akan berbahaya jika sikap imperialis ini dipraktekkan dinegrinya sendiri, seperti kita rasakan saat ini justru kita dijajah oleh orang kita sendiri.

Lantas pendidikan seperti apa yang harus kita kembangkan? Secara pribadi saya menawarkan konsep pendidikan relijius, pendidikan berdasarkan konsep ketuhanan. dan saya kira kita tidak perlu alergi dengan konsep ini sebab, kita sepakat Negara kita berdasarkan ketuhanan bukan komunis.  Pada dasarnya pendidikan relijius tetap akan melahirkan individu yang memiliki ambisi untuk kemajuan dan kejayaan, hanya saja dalam sikapnya akan difilter oleh norma agama yang mengarahkan manusia kepada kepada moralitas. Mudahnya, orang pintar yang lahir dari pendidikan relijius adalah orang pintar yang benar – benar bermoral. Bukan berwatak penjajah.

Saya memiliki keyakinan Ketika individu – individu dinegri terdiri dari orang pintar bermoral, suatu saat kita akan memliki satu individu pemimpn yang benar  – benar bisa mengantarkan kita pada satu peradaban besar dan saya kita ini bukan satu hal yang mustahil .

Refleksi Hari Pahlawan

Standar

Tepat pada tanggal 10 november 66 tahun yang lalu, bangsa ini membuktikan bahwa bangsa memiliki manusia – manusia yang punya harga diri, bangsa ini membuktikan bahwa bangsa ini memiliki manusia – manusia yang pemberani. Kamerdekaan yang baru saja dinikmati tida boleh lepas begitu saja dari genggaman. Harus ada perlawanan walau hanya dengan bambu runcing.

Pada tanggal 10 november 66 tahun yang lalu dengan congkaknya, sekutu ingin mengembalikan negri yang beru merdeka ini kepada belanda. Segenap rakyat Surabaya tidak terima, perlawanan harus dilakukan walau nyawa yang harus jadi taruhan. dibawa komando seorang kesatria yang kerap dipanggil bung Tomo semua rakyat satu kata satu barisan usir penjajah dari negri ini, dikabarkan oleh kitab sejarah 6000 sampai 16000 nyawa yang binasa, terkubur dalam makan tanpa nisan.

66 tahun telah berlalu, sudah tidak ada lagi penjajah, mereka sudah pulang kekampungnya dieropa sana,  pekik takbir bung Tomo memberi semangat pada pasukannyapun sudah meredup dan dilupakan, ya, bangsa ini cepat sekali melupakan sejarah.

Sudah berlalu setengah abad lebih, tapi kebahagaiaan masih merupakan mimpi dinegri ini. kemerdekaan hanya isapan jempol yang tidak pernah nyata. Tirani masih bercokol, menghantui rakyat. Penjajah hanya berubah kulit tapi nyata adanya.  Kebodohan bagaikan benalu semakin dihilangkan semakin banyak adanya karna racun untuk menghilangkan kebodohan, racun palsu yang tak guna. Kebodohan sengaja dipelihara agar penjajah berhidung pesek  berkulit kuning langsat mudah merampas semua hasil negri ini.

Kukatakan, perjuangan belum selasai lapangan perjuangan ini masih membutuhkan pemuda –pemuda iklas yang mempunyai harga diri yang sama seperti  pemuda – pemuda 66 tahun yang lalu, pemuda – pemuda yang mempunya keberanian yang sama dengan pemuda – pemuda 66 tahun yang lalu.

Kukatakan, perjuangan ini harus kita tahtakan didalam dada – dada kita dilam hati kita agar menyatu dengan nafas dan darah kita, agar tidak telepas karna nikmat dunia. perjuangan ini harus tetap kita lanjutkan, penjajahan harus kita basmi, kemiskinan kita lenyapkan, tirani harus kita bantai yang paling utama kebodohan  harus kita buang jauh – jauh.Kejujuran kita tegakkan, keadilan kita letakkan pada tempatnya, dan niat iklas harus jadi panduan utamanya.

Tidakkah kita jenuh dengan korupsi yang berurat mengakar, tidakkah kita bosan dengan penipuan, sampai kapan kawan kita biarkan semua ini. Ini harus segera diakhiri!!! Diakhir. Dengan perjuangan ini kawan kita goreskan nama kita dalam diperasati pejuang.

Ketika penjajah menginjak – injak hara diri bangsa ini, pemudalah yang dipanggil oleh bung tomo, karna darah kita yang panas semangat kita yang menyala. Sekarang kitalah pemuanya dengarkan seruan bung Tomo yang menyebut – nyebut nama kita, dengarkan seruan bung Tomo untuk menyongsong perjuangan.

Ayo kawan kita bangkit, serukan kejujuran dinegri ini, galakkan keiklasan, bangkitkan ilmu pengetahuan kelak kalian akan dikenang sebagai pahlawan peradaban yang membawa kebahagiaan.

hari pahlawan, dan puisi 36 jam cak Madi

Standar

Ada banyak kegiatan yang dilakukan  masyarakat untuk mempringati hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 november, ada yang melakukan tabur bunga dimakam pahlawan, mengadakan perlombaan, khususnya disekolah – sekolah,atau ada yang memilih mengunjungi museum.

Satu  kegiatan yang mungkin cukup unik dalam memperingati hari pahlawan adalah apa yang diperagakan pak Madi, seorang tukang becak yang melek sastra yang juga sering dipanggil cak Madi. Lelaki paru baya kelahiran kampong rangkah, Surabaya yang kesehariannya sebagai tukang becak, membacakan puisi – puisi yang telah dia susun selama 36 jam dalam tiga bahasa, bahasa jawa, Madura, dan  bahasa Indonesia disalah satu trotoar dikota Surabaya. Kegiatan ini dimulai sejak tanggal 9 oktober  tepat jam 06.00 wib dan akan ditutup tanggal 10 november  tepat jam 12 malam.

Disebutkan dalam profilnya, visi dari pak Madi mengadakan kegiatan ini, bermaksud untuk meramaikan acara pekik  trotoar yang ia gagas bersama komunitas wisata sastra, sebuah mozaik kreatif dari forum pencerahan bangbang wetan, yang akhirnya menghasilkan keputusan untuk melaksanakan kegiatan baca puisi selama 36 jam ini.

Dan disebutkan juga, kegiatan ini digagas karna rasa keterpannggilan jiwa arek suroboyo untuk bisa larut dalam peringatan hari pahlawan yang marak dikota Surabaya. Juga didorong keinginan kuat untuk memasyarakatkan puisi dan mempuisikan masyarakat.

Berikut beberapa puisi yang dikarang sendiri oleh pak Madi, yang mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kita generasi muda:

Bissmillah

Nepaki bangbang myemburat teko etan

Nduk pojokmu, Suroboyo tak ambung

Maesane pahlawan

Mergo sak akehe arek wes ngepelno tangan

Ambek mesem

Mbejudul krentek ngerngok langit

Alhamdulillah

Nerusno laku

Ngencik’l nggal situk palangane ondo sikil

Langit

Kepingin ndelok cemlorote kluwung negoro

 

Bissmillah

Tepak are gik burru nyogok dunnya

Bedhe neng bujelle eddeh, sengkok nyeoma

Pae pahlawan

Polanna kacong – jebing la padhe mesem

Dallem kota

Tera’ de du’a Alhamdulillah

Peterros lebbet andhe entarra sokolangek

Terro tao gembberra… (pelangi) nagere

 

Bismillah

Selamat pagi Surabaya

Di sudutmu kucium nisan pahlawan

Bahwasanya para arek luruh dalam senyum

Pun di setangkup kota

Menyeruakan aura Alhamdulillah

Lantas

Pada anak tanggamu wahai horizon

Titian tahap berkehendak memendangi

Pelangi – pelangi.

 

Berandai – Andai

Ketika rakyat bersenda gurau

Mencoba berhitung seupama

Lalu berkumpul sepertemanan

Ada jikalau, juga misalkan

Ada andaikata, serta apabila

 

Ngomong ngalor

Ngomong ngidul

 

Jikalau pemerintah legowo

Pejabat bawah sampai atasan

Dari lurah, camat, walikota,

bupati, gubernur, para mentri pejabat tinggi sampai presiden

termasuk juga wakilnya

berikut semua DPRD pun DPR

DPD serta MPR, BUMN, BUMD

bersatu dalam institusi legal

memotong separo gaji bulanan

lalu dibuat subsidi sembako

alangkah indah senyum akar rumput

takkan lagi kerja sehari penuh

hanya untuk makan itupun tak kenyang

namun bias sisihkan buat sangu anak sekolah

 

ngomong ngalor

ngomong ngidul

 

ketika rakyat bersenda gurau

mencoba berhitung seumpamanya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ketika Berakhir Masanya.

Standar

“Demi masa” salah satu firman Allah dalam Al-Qur’an. masa adalah sebuah kesempatan yang dimiliki oleh setiap benda, termasuk didalamnya manusia. Seandainya kita mundurkan beberapa tahun yang lalu, kita akan dapati lokomotif – lokomotif ini masih gagah diatas rel, masih berjalan membelah siang dan malam mengantar manusia menuju tujuannya.

kini masanya telah berakhir, waktunya sudah habis. Lokomotif – lokomotif ini tidak mampu lagi berjalan, seluruh besinya sudah dimakan karat, dan tidak ada seorangpun yang meliriknya. walau begitu mereka telah menunaikan tugas mereka dengan sebaiknya, membantu kehidupan manusia. lantas bagaimana dengan kita???

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.