Standar

Apakabar sobat, kali ini aku mau lanjutkan ceritaku tentang pak tua Leo Tolstoy dan kenalanku Christopher Mc Chandles setelah ku renungkan perjalanan hidup mereka, aku mendapat sebuah kesimpulan yang menarik dari sikap ekstrim orang berdua itu.

 

Aku kenalkan sedikit, pak tua Leo Tolstoy dilahirkan dari kalangan bangsawan rusia yang secara hidup berkecukupan, bayangkan aja diusia 31 tahun dia sudah mandirikan sekolah yang menjadi sekolah percontohan dirusia. Beberapa tulisannya terinspirasi dari peperangan yang diikutinya salah satunya novel kisah – kisah Sebastopol, semakin beranjaknya usia terjadi perubahan dalam hidupnya dia justru menjauhi kemewahan dibuangnya gelar kebangsawanannya, berpakaian dengan pakaian petani hingga akhirnya diapun lari dari rumah karna istrinya tidak bisa menerima perubahannya dan meninggal ditahun 1910 diusia 82 tahun tak lama setelah lari dari rumah.

 

Kalau kenalanku yang dari Amerika si Chris Mc Candles lahir keluarga kaya bapak ibunya pegawai Nasa tahukan Nasa? Itu, perusahaan yang buat pesawat luar angkasa. Lulus dari Emory University dengan peridikat cumlaude kalau dalam bahasa arabnya mumtaz bahasa Indonesia lulusan terbaik. Setelah lulus kuliah dia menyumbangkan seluruh tabungannya kepada sebuah lembaga kemanusiaan. sebenarnya aku lupa lembaga kemanusiaan atawa pendidikan dalam hikayat yang kubaca dia sumbangkan seluruh tabungannya kapada Oxfam dan menyisakan sedikit untuk melakukan perjalanan, tapi dasar gila sisa uang yang dia bawa dia bakar. Katanya dia tak butuh uang untuk perjalanannya katanya dia supertramp edan...

 

Jujur aku tak suka dengan sikap ekstrim mereka yang menjauhi dunia, namun pada akhirnya aku bisa menerima keputusan ekstrim yang mereka buat alau tidak semuanya. Mereka sebenarnya membenci  ya bias dibilang memberontak dari kehidupan masyarakat bangsanya  yang terjangkiti sikap materialis dan hedonis.

Aku mlihat ditahun 1828 pak tua Leo Tolstoy karangkan sebuah hikayat judulnya Haji Murat. Haji Murat merupakan seorang pejuang dari checnya yang sedang berjuang memapertahankan negarinya dari serangan Rusia. Dan kau tahu, Leo Tolstoy mengambarkan Haji Murat sebagai pejuang pemberani yang cinta kemerdekaan dan yang aneh dia gambarkan Tsar Nikolai pamimpin rusia pemimpinnya sendiri sebagai despot yang tak berperikamanusiaan. Pak tang tua Leo tak menyukai kebijakan rusia yang menjajah checnya untuk mendapatkan kekayaan yang melimpah bagi bangsa Rusia.

 

Ketika aku berfikir tentang Chris aku bisa membanyangkan diriku sendiri, seorang pemuda yang mencari jawaban kehidupan, ketika melihat kehidupan mewah yang disodorkan kedua orang tuanya dia melihat bukan itu yang dia inginkan, ada keindahan yang tidak dia rasakan ketika menerima kemewahan itu. Seperti budha yang mengasingkan diri dari kehidupan dia mencoba mencari pencerahan yang bisa membawa dia kepada kebahagiaan dari petualangan yang dia lakukan. tapi sayang sampai kematiannya dia tak mendapatkan kebahagiaan yang dia cari.

 

Aku melihat masyarakat Indonesia Negara tempat aku malangkahkan kaki saat ini, mulai pula terjangkiti kehidupan hedonis, acuh tak acuh pada sesama, terlalu cinta pada harta dan kemewahan. Dan aku kira telah terjerumus dalam jurang yang paling dalam kita sudah kehilangan moral dan hal ini saat berbahaya, beberapa minggu ini lagi ramai kita dengar kasus korupsi, ini tak lepas dari sikap mengejar kekayaan yang melimpah dengan tidak memperdulikan orang lain. Beberapa minggu sebelumnya ada kasus ditemukan Wts dibawah umur, kasian sekali dan yang lebih sedih ketika ditanya mengapa mereka yang masih belia mau manjadi wts jawabannya tak lebih karna ingin hp baru, baju bagus, dan senang – senang. aku melihat ada kesenjangan antara kaum agamawan dan masyarakat seperti jaman penjjahan belanda ada islam putihan dan islam abangan, kaum agmawan tidak berusaha melebur justru memisahkan diri kalau seperti ini keadaan kita hanya ada satu kata buat bangsa Indonesia BERUBAH ATAU PUNAH.

 

Aku tak akan mengambil sikap yang sama seperti mereka dua pak tua Leo dan chris, aku hanya ingin menjadikan kehidupan mereka sebagai pelajaran harta yang berlimpah kemewahan yang diterima tidak bisa dijadikan patokan untuk memperoleh bahagia justru bisa menjadi bumerang yang akan membunuh sipemiliknya. Aku hanya ingin berusaha membantu dengan akal yang ALLAH berikan, menyumbang fikiran membangun peradaban yang bermartabat untuk bangsa ini. amin ya ALLAH

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s