CERPEN

Standar

Izinkan catatan ini berkisah

Cerita apa yang harus ku tulis untuknya, kepalaku  sangat jenuh untuk menulis sebuah jalan cerita. Apalagi untuknya, dia yang pernah menjadi seseorang yang special dalam dirikuku. Aku juga tak tahu entah mengapa dia  menginginkan sebuah cerita sebagai kado ulang tahunnya dariku. Yang membuatku cemas ulang tahunnya dua hari lagi, Sudah kucoba untuk memeras otak tapi tak ada juga ide yang melintas dibenak ku.

 Aku tak kuasa mengatakan aku tak mampu menulis untuknya. Aku jadi Menyesal mengatakan pekerjaanku sebagai penulis mungkin kalau dia minta spongebob, patric atau sekuntum mawar aku pasti tak segundah ini.

Aku hampir putus asa  untuk menulis, hingga terpikir di benakku untuk membuka catatan – catatan lama. Barang kali ada cerpen yang belum di terbitin atau kuselesaikan dan mungkin bisa ku kirim dihari ulang tahunnya.

lembaran demi lembaran ku buka dan ku baca satu – persatu. kemudiaku aku tertegun ketika membaca salah satu lembaran itu, rangkuman diary yang ku tulis selama kelas tiga smp, tahun dimana seluruh pikiranku hanya untuknya.

 

                                                 

 

 

*     *     *

 

 

 

           

Sekolahku sudah tampak ramai setelah tiga minggu aku tinggalkan berlibur. Kini masuk tahun ajaran baru, kelas baru, baju baru, sepatu baru, tas baru, dan posisi baru aku jadi senior sekarang,  dan berarti aku punya adik kelas baru.

Ketika itu dengan bangga aku berjalan keliling sekolah seakan – akan memproklamirkan pada anak  baru bahwa aku adalah senior yang harus disegani, terlebih aku mempunyai jabatan yang sangat penting di kepengurusan OSIS. Wakil ketua dua kata yang ku banggakan dalam diriku waktu itu, walaupun aku kalah suara dengan anak putri ketika pemilihan ketua OSIS yang pentingkan masih ada kata ketua, dari pada tidak sama sekali.

            Selain sebagai wakil ketua osis aku juga di plot sebagai pemimpin upacara setiap hari senin, dan aku selalu berusaha lantang katika memimpin upacara sehingga menambah kesan aku orang yang tegas dan berwibawa. Luar biasa rasanya waktu itu   

            Dibelakang sekolah aku bertemu Andri adik kelas dibawah ku satu tahun. Dia memang dekat padaku, yah kalau ada masalah dia pasti minta bantuan padaku. Ketika itu dia mengajakku kedepan sekolah, dan dia menunjuk kesalah satu anak baru yang sedang menjalani MOS didepan sekolah. “bang, cewek yang itu namanya Dian cantikkan orangnya?” katanya waktu itu. Dia memang tau aku belum punya pacar, jadi dia berinisiatif mencarikan ku pacar “ kalau yang itu sih biasa aja.” Jawab ku padannya waktu itu, “ada yang lain gak?” aku bertanya padanya “yah, cantiknya gitu di bilang biasa aja. Andai aku kayak abang punya jabatan di Osis ganteng lagi, aku pasti kejer dia”  “sadar juga kamu kalau aku ganteng” aku menimpali perkataanya. Terus terang aja aku memang narsis karena menurutku kalau tak memuji diri sendiri siapa lagi yang memuji diriku.

            Aku tak pernah tahu kenapa pandangan yang menurutku biasa saja bisa menarik perhatianku. Perlahan tapi pasti aku benar – benar jatuh hati padanya tak ayal yang ada dipikiranku hanya namanya,ya hanya namanya. aku telah terhipnotis dengan pandangan pertama.Setahun penuh konsentrasiku hanya padanya. Bagai ditektif swasta james bond yang mengintai targetnya aku mencari tau di sebelah mana bangkunya,kapan lahirnya, dimana alamatnya dan segala – galanya tentang dia. Dan ku kerah kan segala usaha untuk mendapatkannya dari hal yang wajar sampai hal yang koyol kulakukan untuk mendapatkan cintanya. Tapi sayang semua usaha ku gagal total gak ada satu pun yang sukses.

 Semua teori untuk mendapatkan gadis yang ku baca dimajalah remaja juga gak ada artinya. Hal yang paling konyol yang kulakukan saat itu aku minta tolong sama wali kelasnya yang mengajar biologi dikelasku. Waktu pelajaran usai aku memanggil ibu itu, “bu,bisa bantu saya gak?” “apa yang ibu bisa bantu Fadhil?” Tanya ibu itu padaku. Tanpa ragu aku berterus terang “bu sampaikan salam ku untuk dian!” “oh yang pinter itu, yang dikelas ibu kan?” “iya bu tolong sampaikan ya bu” aku minta tolong pada ibu fitri saat itu. Ku akui dia memang pandai di semester satu aja dia juara umum sedangkan aku tenggelam tak tau dikedalaman berapa kaki, tapi sebenarnya aku gak bodoh – bodoh amat Cuma kurang beruntung aja kali. Ibu fitri wali kelasku waktu aku duduk di kelas dua.Jadi aku biasa berterus terang padanya kalau ada masalah.

             Dan aku ingat hal yang paling memalukan ketika aku menngungkapkan rasa cintaku padanya kayak acara katakan cinta yang lagi ngetren. Jadi ketika aku mendekati dia, dia langsung lari yang buat aku malu di sekitar itu ada kawan skelasku yang kontan aja menyorakiku. Tapi aku tak patah semangat tak ada kamus menyerah dalam hidupku.

            Setahun penuh aku tidak melewatkan jalan bersama dian walaupun sebenarnya aku jalan dibelakangnya. Bukan aku gak berani jalan di sampingnya soalnya kalau dia lihat aku dia pasti lari ku pikir biarlah di belakangnya yang penting aku bisa melihatnya.  Ada rasa senang ketika bisa melihat hambutnya yang sebahu ditiup angin seakan – akan angin itu membawaku terbang melayang keangkasa dan membisikan  lagu adaband yang lagi pupuler “mungkin kutakkan bisa jadikan dirimu kekasih yang seutuhnya mencinta namun kurelakan diri jika setengah hati kan sejukkan jiwaku.

            Ujian semester akhir adalah momok yang menakutkan bagiku berarti tak lama lagi aku akan meninggalkan sekolah dan  pasti aku tak akan bisa tiap hari berjumpa dengannya jadi aku tidak melewatkan kesempatan untuk bisa melihat wajahnya di tiap kesempatan untuk memuaskan hati ku, dari jendela kelas atau apa saja yang penting bisa melihat wajahnya suatu kenikmatan bagiku. Ku harap jika aku telah puas memandangnya aku  akan bisa melupakannya.

            Waktu perpisahan aku diminta baca puisi, memang waktu itu aku telah dikenal sebagai sang penyair karna memimpin redaksi mading sekolah, waktu aku baca puisi semua memberi uplause padaku, dalam hati sebenarnya aku berteriak “puisi perpisahan ini bukan untuk kalian puisi ini buat seseorang yang duduk di depan yang bernama dian, bukan untuk kalian kenapa kalian yang tepuk tangan lucu kalian, Diannya aja gak seheboh kalian.” Aku kecewa puisi ku tulis dan kubacakan tak memberi ekspresi apapun pada Dian. Rasa kecewa itu belum apa – apa, lebih sedih rasanya ketika aku  akan berpisah dari Dian. 

            Hari telah larut malam besok aku akan meninggalkan semua kenangan indah ini, tanpa jawaban pasti dari dian apakah menerima cintaku  atau menolaknya. Kalau dia membenciku biarlah diatas kertas ini ku ucapkan maaf  kalau aku sering menggangunya. Kalau rindu izinkan kertas ini yang akan berkisah tentang cintaku selamat tinggal dian apabila  kita bertemu lagi aku tak kan menagih jawaban darimu.ku harap kau  Iznkan  kertas ini yang berkisah memberi jawaban bagiku.

 

 

                              *   *    *

 

 

 

 

            Lucu juga rasanya membaca tulisanku, ternyata dari SMP bakat menulisku udah kelihatan. Dari pada pusing – pusing mikir cerita apa yang harus ditulis ini aja yang kukirim tinggal ku edit, nama tokohnya jadi dah.terus ku kirim melalui email di hari ulang tahunnya. kalau dia baca pasti tertawa terbahak – bahak.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s