Monthly Archives: September 2011

aku rindu

Standar

perlahan kubuka diaryku

kugoreskan huruf demi huruf

diatas kertas dengan pena

tiba – tiba tanganku membeku,

seluruh tubuhku kaku.

tak mampu meneruskan goresan yang kutulis.

 

tubuhku dirasuki rindu

yang datang seperti kabut

perlahan menyelinap memenjarakan hati.

 

fikiranku tak mampu lagi berfikir

karna dikuasai satu potret yang terpatri kuat.

gadis itu.

entah kenapa gadis itu

dan atas alasan apa untuknya aku rindu?

 

apakah dia juga merindukanku?

jika tidak, mengapa aku harus merinduinya?

 

perlahan, kabut rindu menghilang

kusaksikan dunia menjadi gelap

aku teringat ketika aku terbangun hanya ada satu kalimat dalam diaryku

 

aku rindu,,,

Standar

Apakabar sobat, kali ini aku mau lanjutkan ceritaku tentang pak tua Leo Tolstoy dan kenalanku Christopher Mc Chandles setelah ku renungkan perjalanan hidup mereka, aku mendapat sebuah kesimpulan yang menarik dari sikap ekstrim orang berdua itu.

 

Aku kenalkan sedikit, pak tua Leo Tolstoy dilahirkan dari kalangan bangsawan rusia yang secara hidup berkecukupan, bayangkan aja diusia 31 tahun dia sudah mandirikan sekolah yang menjadi sekolah percontohan dirusia. Beberapa tulisannya terinspirasi dari peperangan yang diikutinya salah satunya novel kisah – kisah Sebastopol, semakin beranjaknya usia terjadi perubahan dalam hidupnya dia justru menjauhi kemewahan dibuangnya gelar kebangsawanannya, berpakaian dengan pakaian petani hingga akhirnya diapun lari dari rumah karna istrinya tidak bisa menerima perubahannya dan meninggal ditahun 1910 diusia 82 tahun tak lama setelah lari dari rumah.

 

Kalau kenalanku yang dari Amerika si Chris Mc Candles lahir keluarga kaya bapak ibunya pegawai Nasa tahukan Nasa? Itu, perusahaan yang buat pesawat luar angkasa. Lulus dari Emory University dengan peridikat cumlaude kalau dalam bahasa arabnya mumtaz bahasa Indonesia lulusan terbaik. Setelah lulus kuliah dia menyumbangkan seluruh tabungannya kepada sebuah lembaga kemanusiaan. sebenarnya aku lupa lembaga kemanusiaan atawa pendidikan dalam hikayat yang kubaca dia sumbangkan seluruh tabungannya kapada Oxfam dan menyisakan sedikit untuk melakukan perjalanan, tapi dasar gila sisa uang yang dia bawa dia bakar. Katanya dia tak butuh uang untuk perjalanannya katanya dia supertramp edan...

 

Jujur aku tak suka dengan sikap ekstrim mereka yang menjauhi dunia, namun pada akhirnya aku bisa menerima keputusan ekstrim yang mereka buat alau tidak semuanya. Mereka sebenarnya membenci  ya bias dibilang memberontak dari kehidupan masyarakat bangsanya  yang terjangkiti sikap materialis dan hedonis.

Aku mlihat ditahun 1828 pak tua Leo Tolstoy karangkan sebuah hikayat judulnya Haji Murat. Haji Murat merupakan seorang pejuang dari checnya yang sedang berjuang memapertahankan negarinya dari serangan Rusia. Dan kau tahu, Leo Tolstoy mengambarkan Haji Murat sebagai pejuang pemberani yang cinta kemerdekaan dan yang aneh dia gambarkan Tsar Nikolai pamimpin rusia pemimpinnya sendiri sebagai despot yang tak berperikamanusiaan. Pak tang tua Leo tak menyukai kebijakan rusia yang menjajah checnya untuk mendapatkan kekayaan yang melimpah bagi bangsa Rusia.

 

Ketika aku berfikir tentang Chris aku bisa membanyangkan diriku sendiri, seorang pemuda yang mencari jawaban kehidupan, ketika melihat kehidupan mewah yang disodorkan kedua orang tuanya dia melihat bukan itu yang dia inginkan, ada keindahan yang tidak dia rasakan ketika menerima kemewahan itu. Seperti budha yang mengasingkan diri dari kehidupan dia mencoba mencari pencerahan yang bisa membawa dia kepada kebahagiaan dari petualangan yang dia lakukan. tapi sayang sampai kematiannya dia tak mendapatkan kebahagiaan yang dia cari.

 

Aku melihat masyarakat Indonesia Negara tempat aku malangkahkan kaki saat ini, mulai pula terjangkiti kehidupan hedonis, acuh tak acuh pada sesama, terlalu cinta pada harta dan kemewahan. Dan aku kira telah terjerumus dalam jurang yang paling dalam kita sudah kehilangan moral dan hal ini saat berbahaya, beberapa minggu ini lagi ramai kita dengar kasus korupsi, ini tak lepas dari sikap mengejar kekayaan yang melimpah dengan tidak memperdulikan orang lain. Beberapa minggu sebelumnya ada kasus ditemukan Wts dibawah umur, kasian sekali dan yang lebih sedih ketika ditanya mengapa mereka yang masih belia mau manjadi wts jawabannya tak lebih karna ingin hp baru, baju bagus, dan senang – senang. aku melihat ada kesenjangan antara kaum agamawan dan masyarakat seperti jaman penjjahan belanda ada islam putihan dan islam abangan, kaum agmawan tidak berusaha melebur justru memisahkan diri kalau seperti ini keadaan kita hanya ada satu kata buat bangsa Indonesia BERUBAH ATAU PUNAH.

 

Aku tak akan mengambil sikap yang sama seperti mereka dua pak tua Leo dan chris, aku hanya ingin menjadikan kehidupan mereka sebagai pelajaran harta yang berlimpah kemewahan yang diterima tidak bisa dijadikan patokan untuk memperoleh bahagia justru bisa menjadi bumerang yang akan membunuh sipemiliknya. Aku hanya ingin berusaha membantu dengan akal yang ALLAH berikan, menyumbang fikiran membangun peradaban yang bermartabat untuk bangsa ini. amin ya ALLAH

 

 

 

Bahagia

Standar

Seminggu ini sulit tidurkarna flu dan batuk yang menyerang anti bodi tubuhku penyebabnyasih Karena aku main ditoko buku yang berAc pulangnyapun naik bus berAc, temenku bilang aku tak bisa jadi orang kaya alergi fasilitas bagus heheheh. Ya Bisa jadi pendapat itu benar, dan aku pun tak ingin pula menjadi kaya. Aku hanya ingin bahagia, bahagia dunia diakhiratpun bahagia.

 

Kali ini aku tidak bicara hal yang berlebihan, itulah keinginanku. Aku tak ingin kaya aku hanya ingin menjadi petani , mempunyai beberapa petak sawah yang kutanami padi, beberapa ekor ayam dan kambing, yang terpenting dimalam hari aku bisa berbagi pengalaman dan ilmu NGAJAR NGAJI betapa indahnya hidup jika bisa demikian menghanyalkannya terkadang membuatku tak bisa tidur.

 

Aku terkesan dengan  dicerita temanku, ketika  diaceh dia bercerita bahwa teungku didayahnya tidak pernah menetapkan biaya belajar untuk muridnya, ketika  kutanya mengapa demikian temanku  jawab itulah “ikhlas”. Aku setuju ikhlas ku kira hiduppun harus ikhlas. Dan itulah yang takku dapatkan dari manusia sekarang  sibuk dengan materi yang tak ada puasnya untuk dikumpulkan tanpa mau barbagi. Kt leo Tolstoy “tak ada kebahagiaan untuk sendiri, sebab orang lainpun akan berusaha merebut kebahagiaan yang kita miliki sendiri” bahagia itu hanya ada jika kita mau berbagi.

Kebanyakan manusia mengejar kesuksesan, padahal manusia sendiri juga sulit untuk mendefinisikan kesuksesan itu apa, apakah menjadi presiden itu sukses? Belum tentu, jadi mentri, dokter itu sukses beum tentu. Ni definisi pribadi diriku tentang sukses aku bisa bersyukur dengan apa yang aku miliki dan aku bisa berbagi hingga aku bahagia. Boleh setuju boleh tidak, boleh juga pnya pemikiran yang berbeda.

 

Bicara tentang materi Kupetik sedikit dari Al-qur’an “dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan – perempuan, anak – anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan sisi ALLAH tempat kembali yang baik”(ali imran)

 

Semakin besar materi dikumpulkan semakin besar tanggung jawab, semakin besar cobaan, semakin besar kemungkinan untuk terjatuh dan tak bangkit lagi. Ya,,,, walaupun semua kembali pada pribagdi masing – masing aku manatap dengan cita – citaku aku hanya ingin bahagia.

Sebanarnya masih banyak yangg mau aku obrolkan kali ini sampai disini dulu, kapan ada waktu aku mau cerita lagi tentang bapak leo Tolstoy dan Christopher McCandless.

catatan leo tolstoy

Standar

Aku tak tahu, itu kata yang terucap. semenjak aku mengenalnya semakin aku terus ingin mengetahui dirinya.namanya leo Tolstoy dia berasal dari rusia, dia seorang pujangga.

 

Aku terus penasaran dan ingin terus membaca karyanya, kemarin baru selesai aku membaca novelnya yang berjudul rumah tangga yang berakhir bahagia. Namun aku tahu dia tidak berbahagia dengan cintanya leo Tolstoy lari dari rumah karna dia menganggap rumahnya seperti neraka hahaha dasar gila.

 

 

 

namun, bukan aku saja yang tertarik dengan leo Tolstoy aku mempunyai kenalan di  Amerika, aku mengenalnya dari sebuah jurnal yang dia tinggalkan diambang kematiaanya namanya Christopher McCandless pemuda cerdas lulusan Emory University. Jika kamu ingin mengenal kenalanku ini bacalah buku into the wild atau filmnya, tapi aku tak suka filmnya gak da sensornya. Kamu tahu, kenalanku itu, si chris melakukan perjalan keliling amerika dan ia ingin menghabiskan musim dinginnya di Alaska daerah paling liar didunia dan seluruh perjalanan itu terinspirasi dari leo Tolstoy dan kamu tahu buku yang dia baca diakhir hidupnya, buku yang kemarin aku baca rumah tanggga yang berakhir bahagia.

 

 

 

 

 

 

 

CERPEN

Standar

Izinkan catatan ini berkisah

Cerita apa yang harus ku tulis untuknya, kepalaku  sangat jenuh untuk menulis sebuah jalan cerita. Apalagi untuknya, dia yang pernah menjadi seseorang yang special dalam dirikuku. Aku juga tak tahu entah mengapa dia  menginginkan sebuah cerita sebagai kado ulang tahunnya dariku. Yang membuatku cemas ulang tahunnya dua hari lagi, Sudah kucoba untuk memeras otak tapi tak ada juga ide yang melintas dibenak ku.

 Aku tak kuasa mengatakan aku tak mampu menulis untuknya. Aku jadi Menyesal mengatakan pekerjaanku sebagai penulis mungkin kalau dia minta spongebob, patric atau sekuntum mawar aku pasti tak segundah ini.

Aku hampir putus asa  untuk menulis, hingga terpikir di benakku untuk membuka catatan – catatan lama. Barang kali ada cerpen yang belum di terbitin atau kuselesaikan dan mungkin bisa ku kirim dihari ulang tahunnya.

lembaran demi lembaran ku buka dan ku baca satu – persatu. kemudiaku aku tertegun ketika membaca salah satu lembaran itu, rangkuman diary yang ku tulis selama kelas tiga smp, tahun dimana seluruh pikiranku hanya untuknya.

 

                                                 

 

 

*     *     *

 

 

 

           

Sekolahku sudah tampak ramai setelah tiga minggu aku tinggalkan berlibur. Kini masuk tahun ajaran baru, kelas baru, baju baru, sepatu baru, tas baru, dan posisi baru aku jadi senior sekarang,  dan berarti aku punya adik kelas baru.

Ketika itu dengan bangga aku berjalan keliling sekolah seakan – akan memproklamirkan pada anak  baru bahwa aku adalah senior yang harus disegani, terlebih aku mempunyai jabatan yang sangat penting di kepengurusan OSIS. Wakil ketua dua kata yang ku banggakan dalam diriku waktu itu, walaupun aku kalah suara dengan anak putri ketika pemilihan ketua OSIS yang pentingkan masih ada kata ketua, dari pada tidak sama sekali.

            Selain sebagai wakil ketua osis aku juga di plot sebagai pemimpin upacara setiap hari senin, dan aku selalu berusaha lantang katika memimpin upacara sehingga menambah kesan aku orang yang tegas dan berwibawa. Luar biasa rasanya waktu itu   

            Dibelakang sekolah aku bertemu Andri adik kelas dibawah ku satu tahun. Dia memang dekat padaku, yah kalau ada masalah dia pasti minta bantuan padaku. Ketika itu dia mengajakku kedepan sekolah, dan dia menunjuk kesalah satu anak baru yang sedang menjalani MOS didepan sekolah. “bang, cewek yang itu namanya Dian cantikkan orangnya?” katanya waktu itu. Dia memang tau aku belum punya pacar, jadi dia berinisiatif mencarikan ku pacar “ kalau yang itu sih biasa aja.” Jawab ku padannya waktu itu, “ada yang lain gak?” aku bertanya padanya “yah, cantiknya gitu di bilang biasa aja. Andai aku kayak abang punya jabatan di Osis ganteng lagi, aku pasti kejer dia”  “sadar juga kamu kalau aku ganteng” aku menimpali perkataanya. Terus terang aja aku memang narsis karena menurutku kalau tak memuji diri sendiri siapa lagi yang memuji diriku.

            Aku tak pernah tahu kenapa pandangan yang menurutku biasa saja bisa menarik perhatianku. Perlahan tapi pasti aku benar – benar jatuh hati padanya tak ayal yang ada dipikiranku hanya namanya,ya hanya namanya. aku telah terhipnotis dengan pandangan pertama.Setahun penuh konsentrasiku hanya padanya. Bagai ditektif swasta james bond yang mengintai targetnya aku mencari tau di sebelah mana bangkunya,kapan lahirnya, dimana alamatnya dan segala – galanya tentang dia. Dan ku kerah kan segala usaha untuk mendapatkannya dari hal yang wajar sampai hal yang koyol kulakukan untuk mendapatkan cintanya. Tapi sayang semua usaha ku gagal total gak ada satu pun yang sukses.

 Semua teori untuk mendapatkan gadis yang ku baca dimajalah remaja juga gak ada artinya. Hal yang paling konyol yang kulakukan saat itu aku minta tolong sama wali kelasnya yang mengajar biologi dikelasku. Waktu pelajaran usai aku memanggil ibu itu, “bu,bisa bantu saya gak?” “apa yang ibu bisa bantu Fadhil?” Tanya ibu itu padaku. Tanpa ragu aku berterus terang “bu sampaikan salam ku untuk dian!” “oh yang pinter itu, yang dikelas ibu kan?” “iya bu tolong sampaikan ya bu” aku minta tolong pada ibu fitri saat itu. Ku akui dia memang pandai di semester satu aja dia juara umum sedangkan aku tenggelam tak tau dikedalaman berapa kaki, tapi sebenarnya aku gak bodoh – bodoh amat Cuma kurang beruntung aja kali. Ibu fitri wali kelasku waktu aku duduk di kelas dua.Jadi aku biasa berterus terang padanya kalau ada masalah.

             Dan aku ingat hal yang paling memalukan ketika aku menngungkapkan rasa cintaku padanya kayak acara katakan cinta yang lagi ngetren. Jadi ketika aku mendekati dia, dia langsung lari yang buat aku malu di sekitar itu ada kawan skelasku yang kontan aja menyorakiku. Tapi aku tak patah semangat tak ada kamus menyerah dalam hidupku.

            Setahun penuh aku tidak melewatkan jalan bersama dian walaupun sebenarnya aku jalan dibelakangnya. Bukan aku gak berani jalan di sampingnya soalnya kalau dia lihat aku dia pasti lari ku pikir biarlah di belakangnya yang penting aku bisa melihatnya.  Ada rasa senang ketika bisa melihat hambutnya yang sebahu ditiup angin seakan – akan angin itu membawaku terbang melayang keangkasa dan membisikan  lagu adaband yang lagi pupuler “mungkin kutakkan bisa jadikan dirimu kekasih yang seutuhnya mencinta namun kurelakan diri jika setengah hati kan sejukkan jiwaku.

            Ujian semester akhir adalah momok yang menakutkan bagiku berarti tak lama lagi aku akan meninggalkan sekolah dan  pasti aku tak akan bisa tiap hari berjumpa dengannya jadi aku tidak melewatkan kesempatan untuk bisa melihat wajahnya di tiap kesempatan untuk memuaskan hati ku, dari jendela kelas atau apa saja yang penting bisa melihat wajahnya suatu kenikmatan bagiku. Ku harap jika aku telah puas memandangnya aku  akan bisa melupakannya.

            Waktu perpisahan aku diminta baca puisi, memang waktu itu aku telah dikenal sebagai sang penyair karna memimpin redaksi mading sekolah, waktu aku baca puisi semua memberi uplause padaku, dalam hati sebenarnya aku berteriak “puisi perpisahan ini bukan untuk kalian puisi ini buat seseorang yang duduk di depan yang bernama dian, bukan untuk kalian kenapa kalian yang tepuk tangan lucu kalian, Diannya aja gak seheboh kalian.” Aku kecewa puisi ku tulis dan kubacakan tak memberi ekspresi apapun pada Dian. Rasa kecewa itu belum apa – apa, lebih sedih rasanya ketika aku  akan berpisah dari Dian. 

            Hari telah larut malam besok aku akan meninggalkan semua kenangan indah ini, tanpa jawaban pasti dari dian apakah menerima cintaku  atau menolaknya. Kalau dia membenciku biarlah diatas kertas ini ku ucapkan maaf  kalau aku sering menggangunya. Kalau rindu izinkan kertas ini yang akan berkisah tentang cintaku selamat tinggal dian apabila  kita bertemu lagi aku tak kan menagih jawaban darimu.ku harap kau  Iznkan  kertas ini yang berkisah memberi jawaban bagiku.

 

 

                              *   *    *

 

 

 

 

            Lucu juga rasanya membaca tulisanku, ternyata dari SMP bakat menulisku udah kelihatan. Dari pada pusing – pusing mikir cerita apa yang harus ditulis ini aja yang kukirim tinggal ku edit, nama tokohnya jadi dah.terus ku kirim melalui email di hari ulang tahunnya. kalau dia baca pasti tertawa terbahak – bahak.

 

CERPEN

Standar

AKHIRNYA GELAP

 

Kutatap haru rumahku setelah perjalanan melelahkan dari bandara, tak ada perubahan yang berarti dengan rumah ini setelah lama ku tinggal. Akupun langsung mengucapkan salam namun setelah beberapa kali ku ucapkan salam dan ku ketok pintu, aku tak menemukan seseorangpun dirumah. Memang aku sengaja tidak memberitahukan kepulanganku pada ayah dan ibu, aku ingin memberi surpraise pada mereka hingga tak ada penyambutan berarti pada kepulangaanku. 

Lalu ku putuskan pergi ke belakang rumah barangkali mereka sedang membesihkan pekarangan belakang, namun aku juga tak menemukan mereka disana. akhirnya karna lelah aku beristirahat dibawah pohon mancang yang usianya jauh lebih tua dari usiaku daunya yang lebat tidak membiarkan cahanya matahari bebas menembus kebawah hingga memberi kesejukan bagi siapa saja yang ada dibawahnya. Aku memilih duduk diatas akarnya yang menonjol diatas tanah, menunggu mereka pulang barang kali mereka memungut lom atau mangkokan di perkebunan karet.

Sambil menunggu mereka aku mengingat masa lalu ku sebelum meninggalkan semua ini, tak terasa kelopak mataku menjadi sayu karna hembusan angin, hingga  melenakan pikiranku ke alam lain. Di alam mimpi aku melihat sepasang anak kecil sedang bermain dibawah pohon ini. Aku mengenal yang pria, dia tubuhku waktu masih kecil. Tubuh kecilku tampak riang bercengkrama dengan gadis itu, tampak olehku gadis itu menggendong boneka dan menina bobokannya sepintas lalu aku mendengar tubuh kecilku berceloteh. “rin, abang yang jadi bapaknya rini yang jadi mamaknya! Terus anaknya  kita kasih nama irfan ajaya.” kata tubuh kecilku polos dan aku melihat gadis kecil itu tersapu malu mendengar permintaanku. Sebenarnya aku juga lucu mendengar perkataan tubuh kecilku yang polos itu. Aku tak menyangka tubuh kecilku mampu berbicara seperti itu. “Mamak lagi masak apa mak bapak udah laperni capek pulang kerja”

        “mamak masak godong ubi tapi belum masak bapak sabar dulunya!

         “iya uwes si irfan kene sama bapak wae biar mamak gak repot.” Aku tertawa geli mendengar percakapan mereka seperti nonton sinetron saja.

         “eh sudah malam bapak tutup pintu dulu, ayo mamak masuk nanti ada hantu ” kata tubuh kecilku “aunggggggg, aungggggggg tubuh kecilku melolong meniruka suara serigala yang ada difilm hantu dan ku lihat gadis itu merapat ditubuh kecilku seperti memang benar – benar ada hantu.

         Ketika tubuh kecilku sedang asik bermain datang dua orang remaja dan aku mengenal keduanya yang rambutnya panjang, lurus itu mbak ida yang ikal mbak fitri mereka tetengga depan rumahku.

mereka berdua menggangu tubuh kecilku dan gadis kecil itu, “hayoo pacaranya, mbak kasih tau sama ibuknya zaky nanti” kata mbak fitri menggoda tubuh kecilku aku sangat yakin tubuh kecilku belum mengerti makna pacaran tapi kalimat mbak kasih tau sama ibuku membuat nyali tubuh kecilku menjadi ciut sebenarnya aku ingin mengusir mereka namun aku seperti berdiri di dua alam tubuhku hanya tampak seperti bayangan.

 Mereka berdua terus saja menggangu tubuh kecilku dan gadis kecil itu, aku ak tahu apa yang ada dipikiran mereka tiba – tiba mereka menyuruh tubuh kecil ku mencium gadis kecil itu. Aku tak menyangka tubuh kecilku mencium gadis kecil itu namun sebelum aku melhat adegan itu aku tersentak  dari  tidurku. Ibuku memeluk erat tubuhku kulihat air mata haru membanjiri wajahnya yang yang sudah keriput, “tole – tole mule kok ora ngomong mamak piker siopo kok turu di bawah pohon” kata mamakku sambil terisak tangis. Lalu aku menyalami ayahku yang telah berdiri disamping ibuku “piye kabare apik toh, kapan di wisuda? Tanya bapak pada ku tapi sebelum aku menjawab ibu sudah menarikku kerumah “ ya wes dirumah wae ceritanya.”kata ibu

 

*   *    *

Malam ini rumahku ramai oleh tetangga dan teman lamaku ada yang sekedar menayakan kabar ku atau bertanya tentang Jakarta tempat aku menuntut ilmu, dirumah aku berjumpa  sama Rudi temanku satu bangku waktu di SD,

“piye kabarmu?” Tanya Rudi padaku

“apik riko sendiri piye? Wes piro anak riko?”

“alhamduliLLAH sehat anak ku baru siji laki laki.”

“kapan diwisuda wes punya calon belum?”

“InsyaALLAH wisuda tahun depan belum ada yang daftar ada simpenan gak kalo ada bagi samaku satu” jawabku “masak ora enek perempuan yang mau ma pak calon sajana, kalah sama tukang deres” kami tertawa geli Rudi mengejekku yang belum mempunyai calon istri

“ngomong – ngomong kerjaan piye karyawan perkebunan lebih penak dari dulutoh?” Tanya ku pada rudi “ sekarang lebih baekla dari pada dulu, aku da jadi mandor sekarang kalo rejeki jadi asisten juga bisa semenjak reformasi keampuan lebih diutamakan. hak – karyawan  wes diperhatikan staf – staf juga gak semena – mena.” kebanyakan dari kami adalah keturunan kuli kontrak yang di bawa orang – orang belanda ke Sumatra kami lebih memilih menjadi karyawan perkebunan dari pada mencari pekerjaan lain seperti berdagang atau lainya bukan kami tak ingin maju  karna orang tua kami hanya meninggalkan ilmu menders getah rambung dan mendodos sawit kebanyakan dari kami sekolah hanya sampai smp jadi tidak ada pilihan untuk mencari pekerjaan lain. petinggi – petinggi diperusahaan juga lebih memilih kami menjadi karyawan dari orang batak atau orang melayu yang nota bene penduduk asli bukan saja kami rajin bekerja tapi karna kami tidak banyak permintaan. Ketika pemilu kami menjadi bulan – bulan partai yang berkuasa untuk mencoblos mereka.itulah sebabnya aku malas tetep di sini terus saja di bodoh – bodohi bermodalkan bea siswa aku nekat ke jakarta. Semenjak runtuhnya orde baru aku melihat ada perubahan bagi karyawan rendahan hak – hak mereka telah dipehatikan dan telah diberi kebebasan memilih partai yang di inginkanya.

Setelah Rudi pamitan pulang rumahku menjadi sepi kembali tinggal aku dan kedua orang tuaku, namun ada sesuatu yang mengganjal pikiranku aku tidak melihat rini gadis kecil yang ada didalam mimpiku padahal dirinyalah alasan utamaku pulang aku ingin memebawanya kejakarta setelah ku mendapat gelar sarjana. Tapi ku pkir dia belum mendengar kepulanganku atau mungkin dia kuliah di  kota kupikir biarlah besok aku kerumahnya sekalian bertemu orangtuanya.

 

*  *  *

 

Angin sore berhembus perlahan mendorong tubuhku yang lemas  karna kecewa aku tak menemukan rini dan keluarganya rumah mereka sudah berganti penghuni. sesampainya dirumah ku hempaskan tubuhku di bayang yang ada didekat pintu samping rumahku lalu ibuku dating mendekatiku seakan mengetahui dilema yang kuhadapi. “napa tole? Kok kayak enek masalah?”

“tadi aku kerumah rini, tapi rumahya udah ditempati orang laen” kataku pada ibu

“dua bulan sejak kue pergi kejakarta bapak rini enek masalah, ibu juga ak ngerti masalah apa.ya setahu ibu sejak kejadian itu rumah itu jual.”

“trus rini ma keluarganya kemana buk?”

“ibu denger dari orang – orang mereka numpang dirumah saudaranya”

“saudaranya tinggal dimana buk?”

“ibu juga gak tahu orang mereka gk pamit sama ibu langsung pergi aja” jawaban dari ibu hanya memberi teka tiki paaku dan aku kasihan pada rini dimana dia sekarang dalam hati aku berjanji aku akan mencari alamat rini.

Aku dan rini telah beteman sejak kami dalam gendongan dan usia kami hanya tertaut beberapa bulan walaupun begitu sejak kecil rini selalu memenggilku abang dan sejak kecil kami terus bersama tak pernah dalam pikiranku untuk berpisah darinya kecuali keinginanku untuk merubah nasib yang akhirnya memisahkan kami

Esoknya aku kerumah Rudi barang kali dia tahu keberadaan rini namun jawabannya sama seperti ibu tidak memberi kejalasan yang pasti tapi aku ingat waktu aku akan berang kat kejakarta  rini  bilang kalau dia punya saudara dijakarta.

“Bang kalau da dijakarta jangan lupa mariniya!”

“doakan aja abang sukses nanti rini abang bawa kejakarta”

“rini juga kepingin kejarta ada saudara rini di sana.” Katanya waktu itu. ada keyakinan dalam hatiku yang mengatakan rini di Jakarta sekarang  Aku tak akan patah semangat aku akan mencari rini karna aku telah berjanji kelak dia yang akan mengurus rumahku aku tak perduli walaupun dia cacat atau wajahnya menyeramkan aku akan tetap mendampinginya

 

* * *    

            Udara panas Jakarta telah menggantikan udara sejuk Sumatra kini aku telah berkutat dengan sibuknya kota Jakarta dan skripsiku. tapi aku tak lupa untuk mencari rini.  Aku terus mencari mulai dari Koran sampai situs jejering sosial namun hasilnya tetap nihil dan uang tabungan ku pun sudah habis untuk memesang iklan dikoran.Lalu aku berpikir mencari rini melalui orang – orang perntauan dari medan barang kali diantara mereka ada yang mengenal rini namun setelah lama kumencari keberadaan rini tetap menjadi teka teki bagiku.

            Seperti biasa aku mencari rini melalui internet sampai aku lupa aku ada janji dengan dosenku di kampus. Aku tak mau terjadi masalah dengan skripsiku dengan terburu buru aku mengendarai motor temanku hingga aku lupa memakai helm dan membawa stnk nasib apespun menimpaku   sesampainya diperempatan  aku tertangkap polisi. Aku coba bicara baik – baik padanya kukatakan aku buru – buru karna harus bertemu dengan dosenku tapi polisi itu tak mau tau hingga tensiku sedikit meninggi aku dan dia pun mulai menaikkan suara kemudian aku melunak dan kucoba menggunakan cara mudah dalam negosiasi dinegara ini dan caraku pun berhasil sebelum aku meninggalkannya aku melihat anak kecil yang berlari ingin memeluk polisi itu namun aku terpana gadis kecil itu mirip sekali dengan gadis kecil yang ada dalam mimpiku  perhatianku tak berpindah darinya sampai ku mendengar seorang wanita yang memekai seragam kepolisian berdiri di belakang gadis itu dan memanggil namaku “bang Zaki.” Kuangkat suaraku melihat sipemilik suara.

            Suara lembut yang sangat kukenal dan kucari itu merayap ketelingaku diikuti keringat dingin yang mengucur di seluruh tubuhku lalu ku rasakan ribuan kunang kunang menyerang mataku hingga akhirnya gelap

PUISI

Standar

dunia dan kealpaanku

dunia dan kealpaan, pada siapa kan bertanya?????
semua alpa aku dia kamu
aku tanya pada rumput yang sujud dia pun benci melihatku
yang kotor penuh debu

kuputuskan berkelana membelah gurun
aku berlari melintasi belantara hutan
namun kuhanya menemukan kesia-siaan
hanya menyisakan aku pada malam

aku pun kembali
kutemukan rumput tengah sujud menangis
aku mengiba padanya
dimana dia punya rahasia

dia berontak
aku memaksa
dan dia mengala

dan dia berkata padaku
kembalilah,kau punya pencipta
sama seperti aku
namun kau tak pernah sadar

buka kitab yang kau pelajari dulu
ketika kanak-kanak
aba ta tsa kau eja perlahan
bukalah

tak kau ingat kata gurumu yang renta itu
apa hakikat hidupmu
kemana sesudah matimu

aku menangis tersedu
ingat ayah yang telah tiada
namun aku tak pernah beri doa

aku mohon ampun pada tuhan
ALLAH ampuni dosaku
aku alpa