Jangan Lebay! Al-Qur’an Langgam Jawa

Standar

Hampir 70 tahun negara ini merdeka sudah tujuh orang presiden yang memimpin negri ini, melihat panjangnya perjalanan sejarah negri ini sudah tidak layak lagi rasanya kita berbicara tentang primordial kasukuan dan kedaerahan. Ketika pendiri bangsa mendirikan negara ini mereka sepakat untuk membngan sebuah negara yang nasional yang tidak meninggikan satu golongan suku dan daerah manapun semua diikat dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia.

Kemarin secara tidak sengaja saya menonton pembacaan Al-Qur’an dengan langgam jawa melalui youtube dan sepertinya menjadi perdebatan diatara netizen dimedsos. Jujur saya mendengarnya bukan terenyuh justru saya tertawa buat saya yang bukan orang jawa pembacaan Al-Qur’an sangat lucu untuk didengar. Sebagai orang awam saya tidak bisa berkomentar tentang hukum membaca Al-Qur’an selain dari lahjah arab untuk hal ini lebih baik kita merujuk saja kepada alhi fatwa hukum Islam tentang bagaimana hukum membaca Al-Qur’an dengan langgam jawa. saya sendiri pernah belajar beberapa cara dalam membaca Al-Qur’an jika memang dikatakan demikian seperti bayati tapi saya tidak meneruskan belajar sampai saya mahir, saya berhenti karena saya anggap tidak ada gunanya saya teruskan karena suara saya tidak seindah suara ustad Muammar ZA apalagi Rhoma Irama.seandainya saya mahirpun pasti tidak enak untuk didengar. Terlepas dari itu saya yakin Allah SWT tuhan yang maha adil, saya yakin Allah tidak membalas pahala seseorang yang membaca Al-Qur’an bukan dari kemahiran dalam melagukan Al-Qur’an dan bagusnya suara seseorang dalam mambaca Al-Qur’an saya yakin pasti Allah membalas dari sejauh mana seseorang mampu menghayati dan mengamalkan Al-Qur’an itu sendiri.

kalau melihat Al-Qur’an secara keseluruhan saya melihat Al-Qur’an bukan saja mengajarkan nasionalisme tapi universalitas itu sebabnya sampai hari ini mushaf Al-Qur’an masih mempertahankan huruf Arab (Arabic letter) sebagai tulisannya walaupun telah diterjemahkan dalam bahasa lain. dan saya yakin universalitas Al-qur’an ini akan terus dipertahankan oleh ulama kita, karena Al-Qur’an diturunkan buat seluruh umat manusia, tidak hanya untuk bangsa arab apalagi jawa tapi untuk seluruh suku bangsa didunia

kembali lagi bicara nasionlisme, saya rasa kita harus berterima kasih pada Bung Karno, presiden pertama kita beliau adalah pemimpin nasional pemimpin yang bisa merangkul seluruh masayarat yang berbeda suku bangsa`untuk bergabung dalam bingkai NKRI.

Beliau orang jawa tulen, tetapi beliau berbicara menggunakan bahasa indonesia sebagai mana orang melayu melafalkannya, memang tidak bisa dilepaskan bahwa beliau pernah dibuang diasingkan Belanda dibeberapa lokasi dipulau sumatra dimana sebagian masyaraktnya melayu. Kalo melihat video pembacaan teks proklamasi dan pidato-pidato lainnya beliau hampir tidak pernah menyisipkan entri-entri bahasa jawa dalam pidato-pidatonya, nasional sekali sebagaimana sumpah pemuda yang mengatakan kita berbahsa satu bahasa Indonesia.

Dimasa permerintahan Soekarnopun pembangunan sudah dimulai dan banyak bangunan-bangunan yang beliau bangundan sekali lagi beliau sangat menghormati mereka yang diluar jawa, saya kira orang akan mencaci soekarno jika monas beliau beri nama monumen ken arok atau tunggul ametung, stadion gelora Bung Karno diberi nama gelora Joko Tingkir.

Sampai saat ini saya masih husnudzan dengan bapak Jokowi walaupun pada pilpres saya bukan dari kubu beliau saya yakin beliau memahami betul konsep nasionalisme yang digaungkan Bung Karno dan saya yakin spenuh hati tidak ada niat belaiu untuk menjawanisasi Indonesia. Dan kejadian pembacaan Al-Qur’an dengan langgam jawa saya yakin juga bukan kehendak beliau. Kalau saya boleh memberi keritikan saya ingin mengatakan protokuler negara jangan lebay! hanya karena presiden kita saat ini medok jawane semua yang ada didekat presiden dijawakan. Apalagi menjawakan Al-Qur’an yang telah memiliki ketentuan sendiri….Bisa Kualat sampean!!!!

Untuk Dia yang Terbuang dan Tersisih

Standar

Ku tulis ini untuk dia yang terbuang

untuk dia yang tersisih

untuk dia yang berada dalam sepi

bukan karena langkah yang salah

tapi karena makna yang sulit untuk terungkap

dilorong malam kala bulan benderang

secari kertas tak memimiliki arti buat hati yang telah mati

dia yang terbuang tersisih terus berjalan dalam makna yang hitam

memberi cahaya buat agar mereka bisa membaca

bulan menghilang bersama gelisahnya manusia

bukan cinta yang dibalas

namun darah yang ditumpahkan

buat dia yang terbuang tersisih dan

barakhir sunyi…

painan….

Siapa yang Boleh Berfikir

Standar

Selama bersetatus mahasiswa saya bisa digolong sebagai mahasiswa yang rajin untuk membolos ketika kuliah berlangsung, terutama untuk mata kuliah atau dosen yang tidak menarik sehingga membuat bosan untuk belajar.
Tapi ada satu ungkapan dari seorang dosen yang sampai saat ini masih saya ingat dan selalu menjadi bahan fikiran saya. Saya tidak ingat pasti kenapa dosen tersebut mengelurakan ungkapan tersebut, namun seandainya ungkapan tersebut diaplikasikan ditengah dunia pendidikan ungkapan tersebut merupakan pembodohan.
Jujur saya tidak ambil pusing dengan ungkapan dosen tersebut saya kira ungkapan itu cuma sampah yang tidak layak dimasukkan keotak. Namun beberapa waktu saya bertemu dengan seorag sahabat yang kebetulan lagi duduk diprogram pasca sarjana, dan teman tadi bercerita kalau dosen dipasca sarjanapun mengungkapakan ungkapan yang sama.
Saya berkuliah dijurusan Pendidikan Agama Islam, dan teman tadi diFakultas Usuluddin jurusan Tafsir Hadis. Kami berbeda kampus, kebetulan saya dikampus swasta dan teman saya dikampus plat merah dibawah naungan depag Sumatra Barat. Tapi kami menemukan ungkapan yang sama dari dosen yang juga pastinya berbeda, ungkapan tersebut adalah, “ MAHASISWA S1 S2 DILARANG BERPENDAPAT YANG BOLEH BERPENDAPAT ADALAH S3 ATAU PROFESOR”.
Sekilas pertama kali mendengar ungkapan ini saya kira ungkapan ini lucu bin aneh, apalagi samapai keluar dari uangkapan seorang dosen diperguruan tinggi islam, Pertama agama Islam merupakan agama yang mendorong dan memberi ruang berfikir bagi umatnya, namun mengapa batasan untuk berpendapat dibangaun berdasarkan gelar semata?

Kedua,berpendapat sangat terkait dengan dunia berfikir dan berpendapat erat kaitannya dengan apa yang didalam ilmu usul disebut Ijtihad, maka peryataan diatas sangat bertentangan dengan semangat pembaharu Islam yang selalu menggelorakan umat untuk senantiasa membuka pintu Ijtihad. Jadi seandainya kerangka berpendapat dibatasi oleh gelar akademik saya kira menjadi kerdillah agama ini, dan konsep Ijtihad yang seharusnya tebuka menjadi tertutup dimonopoli oleh ahli gelar.
Bagaimana berpendapat dalam Islam?
Berpendapat sebagaimana saya tulis sebelumnya berkaitan erat dengan berfikir, didalam Islam ada Istilah yang disebut Ijtihad yang artinya “usaha sungguh-sungguh memberikan keluasasan didalam bidang hukum syariah dengan jalan istimbath berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah”. Istimbath tidak mungkin dapat ditempuh jika tidak dengan jalan berfikir jadi berfikir dan berpendapat dalam Islam sangat terbuka lebar. Orang yang berIjtihad disebut mujthahid mereka memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, mereka digelari Al-Imam bukan doktor atau Profesor. Contoh mereka yang diberi gelar Al-Imam adalah Imam Mazhab yang empat, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad Bin Hambal.
Walaupun berpendapat dan berfikir diberi ruang yang luas dalam Islam namun, berpendapat tidak bisa dijalankan secara serampangan, karena ada qaidah-qaidah yang tidak boleh dilanggar, sehingga memang tidak semua orang bisa menjadi mujtahid.
Syarat-syarat Ijtihad antara lain:
1. mengetahui segala Ayat dan sunnah yang berkaiatan dengan hukum
2. mengetahui masalah-masalah yang telah diIjma’kan oleh para ahlinya
3. mengetahui nasakh mansukhmengetahui dengan sempurna bahasa Arab dan ilmunya.
4. mengetahui usul fiqh
5. mengetahui Assyarusysyariat
6. mengetahui Qawaidul Fiqh.
Adapun syarat-syarat khusus yang yang harus dimiliki seorang Mujtahid:
1. berakal kuat (cerdas)
2. adil
3. jujur
4. memiliki akhlak yang baik
5. mengetahui madarikil ahkami
6. memahami lughah
7. memahami tafsir
8. mengetahui asbabun nuzul
9. menguasai ilmu rijalul hadis
10. memahami dzar wa ta’dil
11. Mengetahui naskh wa mansukh
Ulama mengatakan mereka yang memiliki kualifikasi tersebut diatas maka berhaklah dia menggali langsung istimbath hukum berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, jadi mereka inilah yang berhak untuk berpendapat dalam islam secara mutlak.
Dan bagi mereka dikalangan umat Islam yang tidak mampu untuk mencapai derajat mujtahid maka dia dapat mengambil tingkatan kedua yaitu muttabi’, muttabi’ merupakan isim fail dari itiba’ ulama menjelaskan ittiba’ adalah “mengambil ucapan sesorang dan mengetahui dalil ucapan orang tersebut”. ittiba’ sendiripun tidak bisa dilepaskan dari berfikir sebab ada banyak ucapan dan fikiran yang dikemukakan oleh manusia yang harus ditimbang dan diukur dangan ketentun syariat, terkadang para mujthid satu dengan yang lain berbeda pendapat mereka tentang suatu hukum syar’i maka kita yang berittiba’ harus juga mengolah daya fikir kita menelusuri dalil-dalil yang dikemukakan para mujtahid untuk mencari yang paling shahih diantara pendapat mereka.
Ijtihad dan ittiba’ dianjurkan dan dituntut dalam Islam, dan ulama mencegah kita untuk ta’liq yaitu “mengikuti suatu ucapan seseorang baik itu ucapan mujtahid tanpa mengetahui dalilnya”.
Maka dari penjelasan diatas berfikir, berpendapat tidak dibatasi oleh gelar dan strata pendidikan, ada banyak ulama islam yang tidak sekolah formal, tidak mempunyai gelar akademik namun ilmunya lebih luas dan lebih banyak dari seorang profesor sekalipun. Haruskah mereka kita kerdilkan karena tidak memiliki gelar akademik???

sumber tulisan

1. Pengantar Hukum Islam oleh T.M Hasbi Assyddiqy

2. kitab Mabadi awaliyah ustad Abdul Hamid Hakim

4 Tahun Sudah

Standar

Tahun ini genap sudah 4 tahun blog ini didunia maya, menjadi tempat curahan isi kepala yang tak lagi mampu tertampung dimemori otak. Blog ini saya buat pertama sekali diKota Surabaya 4 tahun silam, dan kebanyakan tulisan diblog ini juga ditulis di Surabaya padahal hanya setengah tahun disana.
Keadaan asrama yang serba tertutup nampaknya yang membuat saya aktif menulis karena banyak gangguan , dan juga untuk mengusir kebosanan karena banyak waktu luang ketika itu. Tahun-tahun berikutnya inspirasi menulis seperti mata air yang mati, kering tidak ada keinginan untuk menulis, padahal ada banyak ide yang berkeliaran dikepala.
Tahun ini hampir genap pula usia saya semperempat abad 25 tahun, tanpa terasa sudah banyak hal yang terlewati. Bertambahnya usia mau-tak mau mendorong kita untuk memperbaiki diri, bersiap untuk melangkah menjalani hidup kedepannya, bersiapa untuk mandiri dalam melewati kehidupan yang pastinya banyak onak dan durinya penuh dengan gelombang dan badai. Dari usia yang semakin matang pula isi diblog ini juga harus menjadi lebih baik sebagai tanda perubahan dalam ide dan fikiran.
Sejak awal tahun ini saya sudah mencoba merubah tampilan blog ini sedemikian rupa, termasuk mengganti moto “menggenggam angan kehidupan” dengan “Bara semangat yang takkan padam” kedepan saya ingin memperbanyak tulisan, paling tidak target saya 2 judul tiap bulan minimalnya. Kemudian saya akan memposting makalah-makalah yang pernah saya susun selama kuliah di Jurusan Tarbiyah, dari pada makalah-makalah itu mengendap dimemori laptop mungkin lebih baik di share diblog ini. artikel yang berbentuk reportase juga akan dimatangkan dengan sistematika penulisan jurnalistik, artikel-artikel yang bermuatan ilmiah harus diperbaiki agar mendekati karya ilmiah seutuhnya.
usia yang bertambah dan juga pengalaman sembilan tahun mendalami agama dipesantren maupun dikampus mendorong juga diri pada kecintaan terhadap agama dan tuhan, jika selama ini jarang menyentuh hal-hal agama Insya Allah kedepan mungkin ada satu dua judul tentang agama.

DSC_0202
Dan terakhir saya berharap blog ini bisa beranfaat tidak hanya untuk saya tapi juga buat orang lain.

Terus berjalan

Standar

Blog ini sudah sepertti rumah yang ditinggalkan penghuninya, lama tidak ada tulisan yang terupdate. Sejak tahun baru blog ini tak lagi tersentuh, aku kehilangan moment untuk menulis. Jenuh sepertinya ada sesuatu yag hilang yang membuat remuknya semangat. tidak ada bahan bakar untuk menulis diblog ini lagi.
Kalo dihitung dari tahun ku buat blog ini, bararti sudah 4 tahun blog ini sebagai wadah dari isi kepalaku. Cukup lama sepertinya. Tapi semuanya tidak ada perkembangannya. Tulisanku tetap tidak berbobot, tetap tidak berisi dan bermakna.
Pada akhirnya aku berfikir, apa sebenarnya yang salah?

Foto(650)
Dari pada aku lelah berfikir, biarlah, yang terpenting terus berjalan, berjuang dan berusaha. Harus terus mencoba buakan berhenti. Makanya aku kembali lagi keblog ini, ini rumahku tempat yang mempung segala aspirasi dikepalaku, dan ini untukku untuk aku berfikir dan merenung tentang hidupku.
PUNCAK NISKALA….. KITA DAKI DUNIA….

BUKAN SEDIH INI YANG MEMBUAT LUKA

Standar

BUKAN SEDIH INI YANG MEMBUAT LUKA
bukan sedih ini yng membuat luka,’
Tapi duka yang datang tiba-tiba.
Bukan perih ini yang membuat sakit
Tapi sayatan yang mengoyak kulit.

Ah, pahit benar
Tak ada lagi seberkas sinar yang terpancar.

Ah, tragis.
Tak mugkin mata harus menagis

Ah, gila
Tak mu10420241_371290803023810_6184146704993634712_nngkin pula mulut harus mencerca.
Toh tak mungkin pula dia kembali…
Painan, 25/4/15
Duka laptopku pecah lcdnya
Cobaan dari Allah…. Allahumma ghfirli…

Cut Nyak Dien Jilbaber

Standar

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan “apa salahnya kalau kita jujur mengakui Cut Nyak Dien berjilbab?”

Beberapa waktu yang lalu, sebelum peristiwa naas kecelakaan pesawat air asia, jagat raya dunia maya sempat bergetar diguncang sebuah foto. Sebuah foto lawas hitam putih yang dipost oleh fans page “seuramoe mekkah” menunjukkan sosok wanita yang memakai jilbab, oleh admin “Seuramoe mekkah” foto tersebut diklaim merupakan foto pahlawan nasionl Cut Nyak Dien yang asli, yaitu wanita yang berjilbab. Sementara foto atau lukisan yang biasa terdapat dibuku sejarah dianggap buatan para sekuler yang ingin menjauhkan masyarakat aceh dari agama islam.

1384149_858408900878676_2426134298039513677_n

Sebelum saya lanjutkan tulisan ini, saya harus jujur apa yang saya tulis tidak lebih dari asumsi pribadi. Saya kira tulisan ini sulit untuk mendekati tulisan ilmiah, sebab memang saya sendiri tidak memegang satu refrensipun tentang Cut Nyak Dien. Namun demikian saya berfikir saya tetap harus melanjutkan tulisan ini walau tanpa rujukan, nama sebesar Tan Malakapun ketika menyusun bukunya yang berjudul Madilog juga tidak menggunakan refrensi hanya berdasarkan bahan bacaan yang teringat dan terhafal dikepalanya jadi saya kira tidak masalah sebuah tulisan tanpa refrensi yang memadai. Untuk biografi Cut Nyak Dien ada lebih dari tiga buku yang sudah saya baca, salah satunya yang disusun Oleh Prof. Anhar Gonggong, tapi sayang buku tersebut tertinggal dimedan jadi tidak bisa untuk dirujuk dalam tulisan ini dan ada sebuah artikel menarik dari edisi kusus majalah sabili beberapa tahun silam yang mengangkat tentang Cut Nyak Dien, dan ketika sedang belajar di dayah (pesantren diaceh) saya juga membaca biografi Teungku Fakinah, seorang Ulama wanita aceh yang namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit, beliau adalah sahabat dan teman curhatnya Cut Nyak Dien.
Dalam tulisan ini saya ingin menulis apa adanya tentang beliau Cut Nyak Dien dan berusaha untuk menjauhi kesan meninggikan aceh baik sebagai daerah atau suku dan merendahkan daerah lain. karena saya tangkap dari indatu (nenek moyang) mereka tidak pernah merendahkan bangsa lain. buktinya Sultan Iskandar Muda mengangkat menantunya yang berasal dari negeri Seberang (Malaysia) menjadi raja Aceh selanjutnya. Dan kusus Cut Nyak Dien beliau juga bukan asli Aceh nenek Moyangnya berasal dari Minang Kabau bernama Datuk Makdum Sati. Walaupun bukan berasal dari aceh Datuk Makdum Sati dihormati dan konon diangkat menjadi penasehat raja karena ketinggian ilmunya dan inilah pelajaran yang saya tangkap dari indatu (nenek moyang) untuk menghormati orang lain.

Sebelum foto itu ramai menjadi perbincangan saya tidak begitu tertarik dengan foto tersebut ketika seorang teman mengirim foto tersebut diberanda akun Facebook saya, hanya sebuah foto fikir saya. Namun tak lama kemudian ada banyak surat kabar nasional yang menanggapi foto tersebut salah satunya majalah Historia yang menurunkan artikel khusus menanggapi foto tersebut. didalam artikel tersebut majalah historia membantah kalo Cut Nyak Dien berjilbab dan mengatakan bahwa foto yang diposting oleh fp “ Seuramo Mekkah” bukan foto Cut Nyak Dien tapi foto istri panglima Polem, dan menunjukkan sebuah foto lain dari media – KILTV.nl yang menunjukkan bahwa Cut Nyak Dien tidak berjilbab.

Sebenarnya bukan yang pertama sekali saya melihat foto dari kiltv tersebut, beberapa tahun yang lalu saya melihat foto tersebut di Edisi Kusus Majalah Sabili dan memang benar Cut Nyak Dien pada foto tersebut tidak memakai jilbab, dan juga saya yakin foto yang dipost oleh “seuramo mekkah” bukanlah foto Cut Nyak Dien tapi foto istri Panglima Polem. Walau demikian disanalah kunci tulisan ini, kunci dari asumsi saya yang mengatakan Cut Nyak Dien berjilbab.

Asumsi pertama

Disebutkan (menurut ingatan saya) ketika diasingkan ke Sumedang, Cut Nyak Dien dalam keadaan tidak lagi mampu untuk melihat dalam kata lain Cut Nyak Dien mengalami kebutaan dan menariknya dalam keadaan demikian Cut Nyak Dien masih tetap mengajar ngaji untuk masyarakat disekitar tempat beliau diasingkan bahkan beliau dianggap ulama dan diberi gelar ibu perbu.

Orang yang mengalami kebutaan namun masih mampu untuk mengajar mengaji haqqul yakin 90% orang tersebut menghafal Al-Qur’an dalam kata lain hafizh. Didalam tradisi yang berkembang diaceh seorang hafizh haruslah taat pada ajaran agama, salah satunya menutup aurat dan menjaga kehormatannya. Maka dari sini saya yakin Cut Nyak Dien yang hafal Al-Qur’an pasti menjaga dirinya dan kehormatannya dengan menutup aurat dengan baik dalam bahasa lain beliau berjilbab.

Asumsi kedua.

Walaupun beliau seorang bangsawan Cut Nyak Dien bersahabat dekat dengan Teungku Fakinah (Ulama wanita) dan sering datang keDayah (Pesantren) milik Teungku Fakinah. Terutama ketika Teuku Umar membelot kepada Belanda, Cut Nyak Dien banyak meminta saran Teungku Fakinah untuk bisa menyadarkan kekeliruan Teuku Umar. (Prof. Ali Hasjmy)

Dalam aturan Dayah (Pesantren) dari dahulu sampai sekarang, orang yang masuk kedayah harus menjaga kesopanan, wajib menutup aurat bagi laki-laki dan perempuan. Mustahil Cut Nyak Dien yang sering keluar masuk Dayah tidak menjaga kehormatannya, jadi saya cukup yakin Beliau memakai jilbab (berjilbab).

Asumsi Ketiga.

Dalam foto yang diklaim merupakan foto istri Panglima Polem, tampak wanita tersebut menggunakan jilbab dan menutup auratnya dengan baik. Saya sendiri jujur tidak mengenal wanita tersebut dan saya kira orang aceh lain juga tidak mengenal wanita itu, saya kira hal itu wajar karena keterlibatan istri Panglima Polem dalam prang sabil tidak sehebat Cut Nyak Dien.
Kalau Istri Panglima polem yang tidak dikenal saja menggunakan jilbab menutup aurat dengan baik, bagaimana dengan Cut Nyak Dien yang lebih terkenal, pilar utama perang sabil, orang yang selalu membacakan Hikayat Prang Sabi yang dekat dengan ulama, pasti Cut Nyak Dien lebih berjilbab menutup auratnya dengan lebih baik.

Asumsi Keempat.

Dalam foto kiltv Cut Nyak Dien memang tampak tidak menggunakan jilbab, namun kalau dipertikan ada sehelai kain yang membelit leher beliau. Admin “Seuramoe Mekkah” mengatakan bahwa ketika foto diambil, belanda memaksa Cut Nyak Dien untuk Melepaskan jilbabnya, menurut admin “Seuramo Mekkah” Cut Nyak Dien memalingkan wajahnya dalam foto tersebut karena malu tidak memakai jilbab.

Saya kira Asumsi Admin “Seuramo Mekkah” ada benarnya namun tidak sepenuhnya benar, jika Belanda berani melakukan demikian saya kira seluruh orang aceh ketika itu akan marah dan belanda tidak menginginkan hal tersebut. Kalau begitu benarkah Cut Nyak Dien tidak berjilbab? Saya kira tidak juga, sebenarnya sulit menerjemahkan sebuah foto apalagi tentang sejarah pada masa yang sulit.

10610729_860387260680840_3176047545536440771_n
Namun kalau saya membaca foto tersebut saya bisa berasumsi Cut Nyak Dien berjilbab. Kain yang menutup lehernya adalah selendang untuk menutup kepala dalam kata lain jilbab. Ketika itu adalah masa perang dimana beliau banyak bergerak, kalau kita perhatikan foto tersebut beliau memakai celana, dan jarang wanita Aceh memakai celana kebanyakan wanita aceh memakai sarung atau rok seperti yang digunakan oleh istri Panglima Polem dalam fotonya. karena dalam islam perempuan tidak boleh menyerupai laki-laki memakai celana. Karena butuh kelincahan saya kira beliau memilih memakai celana dan beliau mengatahui dalam keadaan darurat hukum Islam bisa berubah untuk hal yang lebih maslahat. Asumsi saya dalam foto itu beliau tidak memakai jilbab dengan baik karena situasinya adalah situasi perang dimana beliau harus bisa mobile bergerak.

Pentingkah Cut Nyak Dien berjilbab?

Banyak dari netizen yang mengatakan “tidak penting meributkan Cut Nyak Dien berjilbab atau tidak yang penting mengikuti semangat perjuangannya”.

Saya sepakat dengan pernyataan diatas yang penting adalah mengambil semangat perjuangan beliau sebagai pahlawan yang berjuang untuk agamanya Prang sabi(perang dijalan agama), kalau kita nonton film Cut Nyak Dien yang banyak adalah kata takbir “Allahu Akbar” bukan kata “merdeka”.

Sebenarnya kalau diizinkan saya ingin merubah pertanyaan diatas dengan pertanyaan berikut, penting tidakkah kita marah karena seekor kerbau bule yang dianggap keramat ditombak orang? Penting tidakkah kita marah kalau orang mengatakan kemben atau koteka dipapua melanggar norma kesopanan? Penting tidakkah kita marah kalau ada yang menyebut mengesot menghadap raja di alam sekarang kita sebut perbudakan modren? ini kalau dibolehkan.

Pada suatu hari ketika libur saya yang seorang santri Dayah (pesantren) diaceh berkesempatan pulang ke Tebing Tinggi Sumatra Utara, diatas bus dikota biruen saya melihat seorang wanita keturunan china menaiki bus Pelangi. Ketika itu wanita china yang saya yakin non muslim tersebut mengikatkan selendang atau kerudung dikepalanya.

Sebenarnya dia tidak perlu menggunakan kerudung dikepalanya sebab kalaupun ada raziah syariat Islam dia tidak akan ditindak walau dia tidak memakai jilbab karena dia non Muslim. Namun dari pemandangan tersebut saya mendapat pelajaran wanita China tersebut memakai kerudung bukan karena Qanun syariat Islam atau takut raziah wilayatul hisbah, tapi karena jilbab sudah merupakan budaya bagi orang Aceh karena wanita keturunan China tadi sudah merasa diri orang Aceh walaupun dia bukan Muslim dia memakai kerudung untuk menjaga kesopanannya.

Saya kira sudah terjawab bagi orang Aceh menjadi sangat penting Cut Nyak Dien berjilbab, karena Cut Nyak Dien adalah simbol keAcehan, simbol wanita Aceh, simbol prang sabil (jihad). Mengatakan Cut Nyak Dien tidak berjilbab sama saja mengatakan ibu kandung saya wanita murahan, sayapun tidak terima. Dan saya kira akan sama dengan marahnya orang dijawa sana yang marah karena kebo bulenya ditombak orang, atau marah karena sultannya dihina oleh seorang florence.

Memecah belahkah tema  seperti ini?

Dari perdebatan para netizen didunia maya bahkan dibeberapa surat kabar nasional banyak yang mengatakan hal-hal seperti ini tidak perlu diangkat karena hanya memecah belah, kita harus menjaga persatuan dan kesatuan dengan semboyan bineka tunggal ika.

Sebenarnya persatuan tidak bisa dipaksakan tetapi harus dibangaun dan dibentuk dengan baik, kita harus akui tiap daerah kita memiliki sejarah dan budaya yang berbeda. Bahkan ada banyak daerah yang dulunya merupakan kerajaan yang saling berperang, kuasai-menguasai, bukankah yang membunuh putri mahkota pajajaran Diah Pita Loka adalah Gajah Mada dari Majapahit? Bukankah yang menangkap Cut Nyak Dien dan membunuh Teuku Umar adalah tentara Marsose dari Jawa dan Sulawesi? Bukankah yang memerangi Tunku Imam Bonjol adalah Sentot Ali Basya? Kita tidak bisa hindari sejarah kita.

Sekali lagi persatuan tidak bisa dipaksakan, atas dasar persatuan kita tidak bisa paksakan gamelan dimainkan dirumah bolon, sebab belum tentu orang batak mampu menikmati gamelan, demi persatuan kita tidak bisa memaksakan tari perang papua dimainkan orang bali  sebab orang Bali yang gemulai belum tentu jari-jarinya menikmati tari perang dari papua.
Lantas bagaimana bisa menjaga persatuan yang bernama Indonesia saat ini?

Yang paling utama menjaga persatuan kita saat ini adalah kejujuran, kita harus menghindari tipuan dan muslihat, kita harus jujur terhadap sejarah. Apa sulitnya jujur mengatakan Cut Nyak Dien adalah wanita muslim yang shaleh? Kanapa harus ditutupi dengan lukisan murahan menggambarkan Cut Nyak Dien menggunakan sanggul? Apa sulitnya jujur mengatakan benar bahwa Soekarno pernah berjanji pada Teungku Daud Beureuh, seandainya Aceh bergabung dengan Indonesia maka Aceh diberikan hak Istimewa untuk menjalankan syariat Islam? Apa sulitnya jujur pada sejarah?

Saya kira kalau kita jujur sejak awal  tidak akan ada pemberontakan, kalau pemerintah orde lama jujur dan memberikan penghargaan bagi pasukan hisbullah baik pimpan S.M Kartoswirya atau kahar Muzakkar saya kira tidak akan ada pemberontakan DI/TII, Kalau pemerintah orde lama mau jujur dan mendengarkan nasehat dewan banteng saya kira tidak akan ada pemberontakan PRRI Permesta, seandainya sejarah mau jujur saya kira Teungku Daud Beureuh pun tak akan mengangkat senjata melawan Soekarno.

Perpecahan hanya terjadi jika pemerintah tidak mau jujur, despot, menipu rakyatnya, bertindak bak Marsose pada rakyat sendiri. Ketidak jujuran pemerintah akan menyebabkan ada rakyat yang merasa ditindas, dilecehkan, dan terhina.Harga diri yang terhinalah yang lebih banyak membuat pemberontakan terjadi, dibandingkan ketidak adilan.

Kita harus segera jujur

Perdebatan didunia maya pada akhirnya bermuara pada dua foto, foto istri Panglima Polem dan foto Cut Nyak Dien versi kilvt dan kita melupakan lukisan wanita bersanggul yang diklaim buku sejarah sekolah adalah lukisan Cut Nyak Dien. Lantas lukisan siapakah itu? Benarkah lukisan Cut Nyak Dien?Saya yakin itu bukan lukisan otentik Cut Nyak Dien, sebab ulama Aceh mengharamkan lukisan dan kapan Cut Nyak Dien sempat membuat lukisan dirinya?

cut-nyak-dhien

benarkah ini lukisan Cut Nyak Dien? siapa pelukisnya?

Saya ingat dalam sebuah berita diTv, ada berita yang mengabarkan polemik hak cipta gambar Sultan Mahmud Badaruddin II sultan Palembang, yang terdapat pada uang Rp.10.000,-. Pelukis wajah Sultan Palembang tersebut menuntut royalti lukisannya dari Bank Indonesia atas dimuatnya lukisan Sultan Mahmud Badaruddin II diuang cetakan Bank Indonesia. Sebenarnya bukan polemik itu yang membuat saya tertarik, dalam berita yang menerupai film dokumenter tersebut, sipelukis menceritakan dia melukis sang Sultan untuk mengikuti saimbara melukis wajah Sultan Mahmud Badaruddin II dan dia melukis bukan dari sebuah gambar atau foto asli Sultan, tapi dari deskripsi tentang wajah Sultan dan si pelukis sendiri tidak mengetahui pasti wajah Sultan seperti apa. Artinya lukisan tersebut tidak otentik gambaran wajah Sultan Badaruddin II sepenuhnya.

dari hal diatas, saya khawatir lukisan wanita bersanggul yang diklaim wajah Cut Nyak Dien oleh buku sejarah juga bukan lukisan otentik tapi lukisan hasil deskripsi. Kalau begitu lukisan itu adalah bohong adanya. Seperti saya katakan kita harus jujur, jikalau lukisan tersebut bukan lukisan otentik Cut Nyak Dien sejarawan harus jujur dan lukisan lebih baik dibuang dan ditinggalkan. Kalau memang tidak ada lukisan otentik tentang Cut Nyak Dien tak perlulah dipaksakan cukup tulisakan saja Cut Nyak Dien adalah Pahlawan nasional, wanita shalehah yang taat pada agamanya yang berjuang melawan penjajah kafir yang ingin memurtadkan bangsa Aceh, saya kira tidak akan ada lagi yang merasa dihinakan.

Tanpa Judul

Standar

Hujan, air kesunyian.
Gelap mendung dingin
Pepohonan yang basah
Gemericik air yang jatuh dari langit
Air mengalir sementara ayam menggigil disudut
Ranting yang bergoyang ditiup angin
Sementara kontrakan sunyi jauh dari cinta
Kubah mesjid hijau diujung jalan
Lalu hujan semakin deras
Disampingku ada buku sebagai teman
Ketika petir mengejutkan lamunan