MOS Masa Orientasi Sontoloyo

Standard

Pendidikan adalah sebuah program besar dalam rangka membuat perubahan dan menciptakan perbaikan . pendidikan sebagai sarana pembentuk karakter dan intelektual manusia, secara tidak langsung juga akan merubah kebudayaan kehidupan masyarakat.
Berbicara tentang budaya dan kehidupan masyarakat apalagi masyarakat dunia, kita akan mendapati sebuah perubahan yang sangat cepat dan tak dapat dibendung. Kalau dulu kita mengenal profesi manusia seperti dokter, insinyur, ekonom, pilot dan petani maka kita kini dapati begitu banyaknya jenis profesi baru yang berkembang ditengah kebudayaan manusia , seperti programer, management development, smart cattle management dan lainnya yang dulunya tidak pernah kita dengar.
Perubahan yang cepat didunia, mau tidak mau akan melahirkan permasalahan baru yang tidak mungkin diselesaikan dengan cara kuno dengan cara yang sudah out of date. Permasalahan kekinian hanya bisa diselesaikan dengan cara kini dengan sistem kekinian pula, hal ini mendorong pendidikan untuk terus berubah, mulai dari kurikulumnya, medianya mata pelajarannya dan sistem pembelajarannya. Hal ini penting untuk melahirkan peserta didik yang up to date dan memahami problem kekinian serta siap untuk memecahknnya.
Beberapa menit yang lalu, pagi ini saya melihat beberapa pelajar yang berjalan kaki didepan rumah, dandanannya aneh menurut saya. Memakai bedak beras, putih seluruh wajahnya seperti pemain pantomim, dipundaknya memanggul tas dari karusng beras, dilehernya dikalungi dengan bermacam permen. Mereka mengatakan MOS (masa orientasi siswa) tapi yang terbesit dikepala saya kata “Goblok!!!” .
Melihat pemendangan seperti itu, saya melihat pendidikan kita seakan mundur kemasa seratus tahun yang lalu, model pendidikan seperti ini sama saja kita mengajarkan peserta didik menggunakan mesin ketik sementara orang lain sudah belajar menggunkan dan menciptakan perangkat elektronik yang supercanggih, bagaimana mungkin kita masih mengajarkan peserta didik kita menggunakan mesin ketik ketika orang sudah menciptakan mouse komputer dengan kedipan mata, bahkan sebagian fitur smart phone sudah bisa membaca perintah penggunanya dengan ucapan.
MOS seperti ini sama seperti mengajarkan peserta didik menggunakan burung merpati untuk mengirimkan pesan padahal satelit sudah sedemikian canggihnya. Bentuk seperti ini sama saja mengajarkan peserta didik menggunakan kentongan bambu sebagai sarana menyampaikan peringatan akan datangnya suatu hal yang membayakan padahal dijepang sudah ditemukan sistem peringatan dini bencana yang telah terintgrasi dengan seluruh negara dan dapat menyampaikan informasi bahaya dengan cepatnya.
Sejak tahun 2011 kita telah mewacanakan pendidikan karakter budi pekerti, kemudian wacana itu diimplementasikan dalam kurikulum 2013 yang akhirnya ditarik kembali oleh mentri pendidikan yang baru. Kalau kita hubungkan dengan pendidikan karakter menusia modren yang berakal dan berbudi pekerti mana yang mau menggunakan tas dari bahan karung beras, orang berkarakter mana yang mau memakai kalung permen dilehernya. Aneh bin ajaib.
Sebagian mereka mengatakan bahwa mos itu untuk mengajarkan siswa baru bahwa menuntut llmu itu sulit sehingga butuh perjuangan maka dibentuklah mos sedemikian rupa untuk memperkuat mentalnya, maka saya katakan filosofi dari masa seperti itu? kesulitan bukan untuk dipertontonkan didepan umum ditertawakan, kesulitan itu harus disembunyikan dan dijadikan lecutan untuk keberhasilan.antarafoto-Masa-Orientasi-Siswa-160712
Sampai titik ini saya tidak menyalahkan siapa-siapa, saya tidak menyalahkan siswa apalagi menyalahkan guru. Saya pahami keadaan guru di negara Indonesia saat ini. tapi saya berharap guru harus cerdas dalam membimbing muridnya, harus mampu menciptakan inovasi dan pembaruan dalam belajar mengajar. Mengikuti dan bersiap dengan segala kemajuan dalam perkembangan kebudayaan. guru harus up to date tidak bisa terus menerus menggunakan metode lama yang telah usang dalam belajar mengajar.

kalau saya boleh memberi ide, dari pada membuat peserta MOS menjadi orang tolol lebih baik mereka kita minta untuk memilih satu tokoh pahlawan nasional, misalnya salah seorang diantara mereka memilih Bung Karno, maka dia mengikuti MOS dengan gaya Soekarno memakai jas dan peci hitam. setiap peserta diwajibkan untuk mengenal dengan benar tokoh yang dia perankan. jadi ketika ia bertemu dengan guru dan seniornya dia wajib memperkenalkan dirinya, misalnya ” saya Soekarno presiden pertama indonesia, murid HOS Cokroaminoto dan seterusnya”. saya kira ide ini tidak sulit dan bisa memberikan wawasan kebangsaan pada peserta didik, memberikan pendidikan karakter sebagai pahlawan bangsa, meberikan kesan yang tidak akan terlupakan dan lebih manusiawi.

Painan.11/6/15

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam

ilustrasi gambar http://v-images2.antarafoto.com/g-pr/1342431076/masa-orientasi-siswa-76.jpg

Assassin (hasyasyin) dalam Lintas Sejarah

Standard

Beberapa tahun yang lalu ramai dengan beberapa tema game, film dan npvel yang mengangkat tema tentang Assassin, rata-rata semuanya menonjolkan tentang satu kelompok pembunuh bayaran. Dan tidak ada yang mengaitkan sejarah Assassin dengan Sekte Syi’ah.
Tulisan ini saya angkat untuk merekonstruksi kembali sejarah Assassin dan hubungannya dengan Syiah. Tulisan ini sendiri saya kutip secara utuh dari Fasal IX halaman 156 dari buku yag berjudul pertubuhan dan perkembanan aliran-aliran Syiah karya Ust. Joesoef Sou’yb terbitan tahun 1982. Dengan judul asli:
Kelompok Hasyasyin dalam Aliran IsmailiahDSC_0979
Sewaktu angkatan salib (1096-1270M) yang delapan angkatan dalam masa dekat dua abad lamanya itu pada akhirnya pulang kembali maka banyak yang dibawa pulang ke barat dari Timur.
Contoh kecil dari padanya, demikian Philip K. Hitti didalam karyanya The Arabs cetakan 1970, kebiasaan makan dengan tangan (memegang paha domba/ayam beserta roti dengan tangan) itu telah berganti dengan pakai sendok dan garpu.
Contoh paling terbesar adalah membawa pulang kembali hal-hal yang menyebabkan timbul Zaman Kebangunan (Renaisance) dibarat itu suatu zaman , yang oleh ahli-ahli sejarah dibarat sendiri, dipanggilkan Zaman Gelap (Dark Ages).
Diantara sekian banyak yang dibawa pulang kembali kebaratt itu termasuk kata (Hasyasyin), yang didalam logat perancis maupun Inggris, telah berobah ejaannya menjadi (assassin), bermakna: Pembunuh.
Kelompok Hasyasyin yang merupakan aliran Ismailiah itu merupakan Great Terror didalam masa dekat dua abad lamanya semenjak perbatasan Thian Shan di sebelah timur sampai kepada pesisir utara Afrika, amat menakutkan dan amat dibenci oleh para pembesar Daulat Abbasiah (750-1256 M) sendiri maupun oleh pembesar Angkatan Salib (1096-1270 M) karena banyak melakukan pembunuhan-pembunuhan politik secara gelap.
Para anggota kelompok Hasyasyin yang kena perintah oleh pemukanya untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan politik itu dipanggilakan dengan Fadeyen (al-Fidaiyin). Mereka itu menyelusip kedalam istana kediaman para pembesar yang menjadi tujuan pembunuhan itu dengan penyemaran yang sengat apik, sebagai pelayan istana ataupun pegawai istana, dan pada saat yang telah ditentukan terjadilah pembunuhan. Banyak korban politik berguguran dalam masa dekat dua abad ditangan kelompok Hasyasyin itu baik pada fihak Islam (daulat Abassiah) maupun pada fihak keristen (Angkatan Salib) dalam wilayah luas itu.
Tersebab itulah kata Hasyasyin (Assassin) itu berobah pengertiannya didunia barat dari pengertiaannya sepanjang bahasa Arab.
Panggilan Hasyasyin itu berasal dari akar kata Al-Hasyis, sejenis tumbuh –tumbuhan yang memabukkan yakni ganja. Para penghisap ganja itu dipangilakan dengan al-Hasyas, sebuah kata tunggal (Mufrad, singular) , dan untuk kata banyak ( jama’, plural) dipanggilkan dengan al-Hassyasyin. Tentang kenapa kelompok ismailiah yang muncul pada abad ke-5 hijrah atau abad ke-11 masehi itu dipanggilakn dengan Hasyasyin (para penghisap ganja) akan dijelskan nanti.
Sekalipun ajaran dan keyakinan yang dianut kelompok hasyasyin itu jauh menyimpang dari agama Islam akan tetapi mereka itu masih mengakui dirinya para pengikut al-Imam Ismail (Wafat 143H/761 M), putra Al Imam Jaafar Al Shadiq (wafat 148 H/766 M), turunan ke-6 dari Nabi Besar Muhammad. Dan sepenjang kenyataan sejarah memanglah kelompok-kelompok ismailiah itu, dengan alasan “mendukung” turunan Nabi Besar Muhammad, telah dijadikan alat oleh musuh-musuh Islam bagi menghancurkan kemurnian Agama Islam dari dalam.
Kelompok hasyasyin itu lahir dalam lingkungan aliran Ismailiah itu setelah kelompok Qaraithah leyap pamor kekuasaannya pada abad 10 Masehi (Abad ke-4 H) dan lambat laun lenyap sama sekali semenjak abad 11 masehi (Abad 5 H).
Sepert juga halnya dengan kelompok druzz dalam wilayah pegunungan Lebenon/syria itu berasal dari sisa-sisa kelompok qaramithah, dibangaun oleh pemukanya Hamzah ibn Ali Al Darazi (wafat 410 H/1019 M), maka demikian pula halnya dengan kelompok Hasysyin itu.
Sebagian kelompok Qaramithah itu sempat meluputkan dirinya dari semenanjung Arabia kedalam wilayah Iran Utara dibawah pemukanya Ibnu Attash, seorang da’i Ismailiah, dan membangun gerakan bawat tanah disitu.
Gerakan bawah tanah itu pada tahun 644H/1071M, demikian Preya Stark didalam karyanya The Valleys of the Assassins cetakan 1952 halaman 159, memperoleh seorang tokoh muda avonturir (petualang red) untuk ditatar menjadi kader bernama Hassan Al Sabbah (wafat 518 H/ 1124M).
Pemuda yang masih berusia 21 tahun itu, demikian Ferdinand Tottle didalam karyanya Munjid fil Adabi cetakan 1956 halaman 159, dikirim oleh Ibnu Attash pada tahun 465H/1072M ke Mesir untuk menjumpai Khalif al Muntashir (427-487 H/ 1035-1094M) dari Daulat Fathimiah (909-1171 M) dan selanjutnya untuk belajar pada perguruan tinggi Al Azhar disitu, yang pada masa pemerintahan Daulat Fathimiah dimesir itu merupakan lembaga pendidikan Syi’ah aliran Ismailiah.
Dalam usia 31 tahun iapun pulang kembali ke Iran, dan sewaktu Ibnu Attash wafat maka iapun menggantikan kedudukannya dan dia, demikian Freya Strak didalam The Vlalleys of the Assassin halaman 159, terpandang the First Grand Master of the Assassins (pemimpin agung yang pertama-tama dari kelompok Hasyasyin).
Gerakan bawah tanah itu sewaktu sudah berada dibawah pimpinannya mulai secara berangsur memeprlihatkan dirinya secara terbuka dan terjadilah penguasaan wilayah dataran tinggi pegunungan Elbrus, yang dewasa ini dikenal dengan wilayah Mazanderan, mempunyai sekian banyak kota-kota benteng (castle) yang kokoh seumpama Rock of Alamut dan Girdkuh dan Lamiasar. Tetapi yang terpandang paling kokoh ialah kota benteng Alamut diatas puncak gunung batu karang tertinggi, dengan ruangan ruangan luar biasa dan taman tersembunyi, peninggalan imperium Roma pada masa pemerintahan kaisar Trajanus (98-117M). Hassan al Subbah mengambil kota benteng Alamut itu sebagai tempat kedudukan bagi pusat kegiatan kelompok Hasyasyin dan dia sendiri berada dan berdiam disitu.
Daulat Abbasiah pada masa pemerintahan keluarga Seljuk, yang menggantikan pemerintahan keluarga Buwaihi itu, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Malik Shah (wafat 485 H/1092 M) dan masa Sultan Mahmud Shah (wafat 497 H/1108 M) beserta sultan-sultan berikutnaya, tiadalah berdaya merebut wilayah yang sangat starategis itu beserta tiada berdaya mengahancurkan kelompok hasyasyin yang merupakan Great Terror dewasa itu.
Dengan tumbangnya kekuasaan Buwaihi, yaitu kekuasaan Syia’ah, didalam lingkungan Abbasiah, bergantikan kekuasaan keluarga seljuk, yaitu kekuasaan Sunni, maka pihak Syi’ah aliran Ismailiah itu mencoba mempertahankan dirinya dalam wilayah dataran tingggi pegunungan Elbrus itu. Jaringan kakitangannya , yaitu kaum Fedayen, menyelusup dan merayap kedalam hampir setiap istana maupun gedong kediaman para pembesar.
Tersebab itulah Hassan al Sabbah itu, kecuali beroleh panggilan Rais al Azhim (Grand Master), maka iapun pada masa belakangan dikenal oleh para pengikutnya maupun fihak luar dengan panggilan Shaikh al Jabal bermaknya. Orang tua dari wilayah pegunungan. Freya Stark menyalin panggilan terakhir itu dengan Old Man of the montain.
Freya Stark itu wartwan wanita turunan Inggris dengan perpaduan darah Prancis/Itali dari pihak ibunya, menjabat staf redaksi Bagdad Time di Bagdad, menguasai bahasa Arab dan bahasa Parsi. Ia banyak melakukan lawatan. Atas izin Shah Iran pada tahun 1930-1931 maka iapun merupakan wanita-putih pertama yang melakukan lawatan terhadap wilayah bekas kekuasaan kelompok Hasyasyin pada masa dahulu itu dan terpandang berjasa membikin peta baru terperinci mengenai wilayah itu guna kepentingan peta dunia. Ia mengabadikan lawatannya itu dengan karyanya The Valleys of the Assassins.
Dengan memerpegangi sumber-sumber sejarah tertua dalam dunia Islam maka iapun menyimpulkan pertumbuhan dan perkembngan kelompok Hasyasyin itu, halaman 159-161, sebagai berikut:
“Assassin itu sebuah sekte Parsi. Cabang dari aliran Ismailiah, didalam lingkungan sekta syi’ah, yang memualiakan turunan Ali (ibn Abithalib), menantu (Nabi Besar) Muhammad, beserta Imam-imam turunan Ali itu.
Aliran Ismailiah itu memisahkan dirinya dari aliran-aliran lainnya sepeninggal Imam ke-7, Imam Jaafar (al Shadiq). Bukanlah theologi anutan sekta Assassins itu lebih menarik perhatian segala fihak akan tetapi tindakan-tindakannya dalam dunia politik.
Kelompok Assassins itu dieksploitisir oleh sebuah keluarga Parsi yang berkemampuan dan brangasan, (by an able and uncscrupolous persian family), yang belakangan meluaskan cengkramannya ke Palestina. Mereka itu menyerahkan hidupnya untuk merongrong dan menghancurkan secara berangsur terhadap segala jenis keimanan (anutan agama Islam) dengan suatu sistem initasiasi (tahbisan) yang secara halus dan berangsur, melalui beberapa tahap. Menusukkan kesangsian-kesangsian (terhadap anutan sebelumnya) hingga kemudian tiba, yakni tingkat tertinggi, pada tahap berfikir bebas dan bersikap serba bebas.
Mereka itu menanamkan prinsip patuh-taat (obedience) kepada seseorang anggota keluarga tersebut didalam prinsip amanat hikmat illahi (as the depositary of the divine wisdom). Satu fihak menempatkan dirinya pada tahta kekuasaan di Mesir, atas nama dinasti Fathimiah, lalu memperkembangkan kemakmurannya dan kekuasaannya, dan selanjutnya merangsang kegairahan mempelajari prinsip-prinsip mereka itu. mesir itu pada suatu tahap masa memang merupakan suatu pusat kebudayaan, tempat pertemuan da’i-da’i Ismailiah semenjak dari maroko sampai perbatasan tiongkok.
Seorang diantara da’i ismailiah itu adalah pemuda keturan Parsi, berasal dari kota rayy, bernama Hassan Al Sabbah. Ia bermula menjadi anggota sekta syi’ah itu pada tahun 1070 M. Dia pada masa kemudian menjadi pemimpin Agung yang pertama dai kelompok Assassins ( the firs Grand Master of the Assassins).
Avonturir-avonturir serupa itu keliwat banyak jumlahnya masa itu ditanah parsi. Tetapi pemuda Hasan itu jauh lebih dari orang-orang muda seperangkatannya. Ia menciptakan suatu penemuannya sendiri, membawa idea baru kedalam ilmu politik pada masanya itu, yakni prinsip pembunuhan-pembunuhan yang cuma karena haus darah itu telah dialihkan kini menjadi suatu alat politik berazaskan sumpah.
Alat politik tersebut pada masa hidupnya telah membawanya kepuncak kekuasaan (yang mengerikan orang) semenjak Iran Utara sampai pesisir Lautan Tengah. Taman Rahasia (scret garden), tempat dia membius dan memikat para pengikutnya kepada dirinya, amat terkenal sekali dalam pemberitaan kalangan Angkatan Salib (Crusades) di Eropa. Dan memberikan kata Assassins kepada kita, yang berasal dari kata Hasyasyin.
Dimenjadi tokoh yang mengerikan bagi wilayah-wilayah sekitarnya. Disebabkan tidak mampu mencapainya dan mendekati tempat kedudukannya maka para penguasa wilayah sekitarnya itu berbalik bertindak memburu dan membasmi para pengikut Ismailiah didalam wilayahnya. Kalangan ortodoks (Sunni) menganggap mereka itu paling berbahaya dari pada kelompok Qaramithah.
Sementara itu pecahan sekta itu ditanah mesir berangsur hilang pamur kekuasaanya dibawah serangan kekuasaan seljuk. Dan terakhir ditumbangkan oleh sultan Salahuddin al Ayyubi (wafat 598H/1193M), dan dipulihkan kembali kekuasaan sunni diwilayah Mesir itu.
Akan tetapi kelompok assassins itu masih berkelanjutan pengaruh kekuasaanya beberapa masa lamanya. Mereka mengambil alih pimpinan aliran Ismailiah beserta kota-kota benteng kedudukannya dalam wilayah Syria, bersifat semi independent dari kekuasaan pusatnya yang berkedudukan di Iran Utara itu, dan langsung berbenturan terus menerus dengan para pangeran (Princes) dari angkatan salib.
Sampai kini belum pernah diperjelas tentang berapa jauh ordo-ordo pejuang pihak kristen sendiri telah mengambil alih sikap setia kawanan dari kelompok non kristen itu. (it has never been made clear how much the organization of the great Christian fighting orders owed to this unchristian confraternity). Konon ordo templars yang terkenal itu, sampai satu tahap, mengambil dasar-dasar kelompok lawan itu. perbandingan hirarki dan administrasi umum antara kedua kelompok itu memperlihatkan ciri-ciri identik yang membangkitan perhatian sekali. Mungkin inilah yang menjadi sumber desas-desus dan tuduhan-tuduhan terhadap ordo Templars itu hingga berakibat pebubaran ordo tersebut, sewaktu belakangan, dana ordo tersebut, sewaktu belakangan, dana ordo yang kaya raya itu telah menyebabkan para pengacara dibawah pimpinan Philippe Lebel melancarkan tuduhan yang sangat berat. Sementara itu kelompok Assassin sendiri mulai pudar pamur kekuasaannya. Pada masa belakangan.
Kalangan fedayen syria sendiri, yakni (kalangan Druzz) yang sudah kehilangan kebebasannya itu, lambatlah sudah menunjukkan kemunduran pula. Pada masa-masa perlawatan Ibnu Batutah (Wafat 780H/1378M), kelompok fadayen syria yang terkenal (dan mengerikan segala fihak) itu telah merosot dari syahid-syahid politik menjadi pembunuh bayaran. Jikalau mereka \berhasil dan selamat, demikian Ibnu Batutah, maka merekapun menikmati bayarannya itu; jikalau sebaliknya, maka barannya untuk membantu keluarganya.
Di tanah Iran sendiri, bangsa penakluk mongol yang meju dari timur arah kebarat pada tahun 1256 M dibawah pimpinan Hulagu Khan (wafat 1265M) cucu Jengish Khan (wafat 1227M) bahwa kecuali menumbangkan Daulat Abbasiah dan menguasai kota Baghdad, maka juga Hulagu Khan itu telah berhasil merebut dan menguasai kota-kota benteng tempat kedudukan kolompok Hasyasyin di Iran Utara itu, yakni kota-kota benteng yang dekat du abad lamanya mampu bertahan dengan tangguh. Berlangsuang pengejaran-pengejaran dan pembunuhan masal terhadap para pengikut kelompok Hasyasyin itu. semenjak itu hapuslah kelompok Hasyasyin itu sebagai organisasi yang tertatur.
Puncak kemegahan organisasi itu adalah pada masa penggemblengan Hasan al Sabbah. Setelah pulang dari tanah Mesir dan melakukn propagandanya selama sembilan tahun lamanya, bahkan pernah menjadi tamu Gubernur (Al Wali) di Kazwin, ibu kota wilayah Mazanderan; maka pada akhirnya didalam tahun 1091, yaknu diusia 40 tahun, iapun berhasil menguasai menguasai kota-benteng Alamut, yang terkenal itu beserta kota-kota benteng lainnya pada dataran tinggi pegunungan Elbruz itu, yang konon tempat keturunan raja-raja parsi yang terkenal gagah perkasa sepanjang sejarah. Semenjak itu, yakni selama 34 tahun menjelang dia wafat, iapun tidak pernah lagi meninggalkan pusat kedudukannya itu. disitulah dia menggembleng pengikutnya hingga menjadi pengikut-pengikut fanatik guna dijadikan alat-alat politik. Dia menciptakan disitu sejenis Taman Rahasia (scret garden) dan kaum fedayen mengelilingi dirinya.
Setelah dekat dua ratus tahun lamanya maka kegila-gilaan dan kelemahan merayapi para penguasa Alamut itu. pada masa Rukneddin, yang berhasil ditawan oleh pasukan Mongol, iapun memerintahkan tempat-tempat pertahanan diserahkan dengan ddamai kepada Great Khan dari Mongol, yakni Mangu Khan(sebagai atasan Hulagu Khan), akan tetapi dia sempat dibunuh oleh seorang fedayan, pengikutnya sendiri, sewaktu dalam perjalanan pada dataran tinggi itu sebagi tawanan.
Pasukan mongol berhasil menghancurkan mereka itu. turunan Rukneddin itu meluputkan diri arah selatan, kekota Qum, kemudian melanjutkan perjalananya ke lembah sind; lalu memegang pimpinan sprituil disitu terhadap kalangan Ismailiah, yang sampai kepada masa ini masih tersebar pengikutnya semenjak dari India dan parsi dan Zanzibar. Hight Highness (H.H) Agha Khan sampai kepada masa ini, sebagai kepala sekte Ismailliah itu, masih menerimakan tithe (sumbangan wajib sepersepuluh hasil) yangdirumuskan dan ditetapkan pada masa dulu oleh Hasan al Sabbah. Hak keluarganya menerimakan tithe itu pernah dipersoalkan akan tetapi High Court (Pengadilan Tinggi) di Bombay pada tahun 1866 mengukuhkan haknya itu setelah Agha Khan mengemukakan silsilah turunannya dan berhasil membuktikan bahwa dia memang turunan Old Man of the Montain (shaik al Jabal)…”
Demikian freya Stark didalam The Valleys of the Assassin, dan selanjutnya pada halaman 190, iapun menulis sebagai berikut:
“Sewaktu Hulagu Khan mengobrak abrik wilayah timur tengah pada tahun 1256 M iapun berhasil merebut dan menghancurkan lebih lima puluh buah kastel (kota benteng) yang dikuasai pihak Assassin itu. diantara seluruh benteng-benteng pertahanan itu, yang kisahnya dapat didengar setiap orang semenjak dari utara Parsi sampai perbatasan Khurasan dan begitupun dalam kalagan orang Arab di Irak sendiri, bahwa Cuma dua benteng saja yang sempat bertahan lebih lama. Keduanya itu adalah benteng Girdkuh dan kota benteng Lamiasar. Mereka disitu sempat bertahan enam bulan lamanya, setelah kota benteng Alamut sendiri menyerah atas perintah Lord of Alamut yang terakhir, yang berhasil ditawan pihal Mongol.
Bangsa penakluk mongol itu bukanlah kelompok liar tanpa mempunyi keahlian dan peralatan perang. (the Mongols Were not a more hords withaut engines of war). Mereka melancarkan serangan-serangannya itu dengan cara ilmiah, membawa insinyur-insinyur Tionghoa, beserta peralatan mutakhir, didukung pasukan-pasukan yang beroleh letihan luar biasa dan khusus agar serasi dan mampu menyesuaikan diri dengan wilayah-wilayah yang belum dikenal mereka selama ini tetapi banyak mendengar cerita tentang kekuatan pertahanannya dan tentang kemakmurannya. Tempat-tepat tersebut itu dihancurkan dan didatarkan.
Tersebab itulah, didalam masa sekian abad belakangan, tidak ada kunci petunjuk (clues) bagi menunjukkan tempat berdiri kota benteng girkuh ittu, kecuali bahwa kota benteng yang kukuh dan teguh itu pernah disebut dan diceritakan didalam karya Yaqut (Yaqut al Rumi didalam Mu’jamul Buldan, Wafat 627h/1229M) dan juga oleh Mustawfi (penulis Diwan al Zummam), dengan menyatakan terletak sejauh perjalanan satu hari dari kota Damaghan.
Sedangkan kota benteng Lamiasar itu tercatat dalm sejarah bahwa direbut dan dikuasai pihak Assassin pada tahun 495 H/1083M dibawah pimpinan Kiya Buzurg Umir. Yang menjabat wazir dari Shaik al Jabal dan pada maasa kemudian menggantikannya. Dia berasal dari Rudbar dataran tinggi sebelah utara yang termasuk dalam wilayah lembah Shah Rud dalam pertemuan perbatasannya dengan lembah Qizil Uzun pada suatu tempat bernama Manjil, pada tempat itu pula bermula lembah Alamut dan Talaghan pada bagian timurnya.
Sewaktu saya berada di Kazwin, dan seorang sahabat bangsa Parsi mengetahui perhatianku yang sedemikian besar terhadap bekas-bekas kastel tua itu iapun bercerita bahwa runtuhan kastel tua lamiasar itu terletak dalam wilayah Rudbar. Minatku untuk menjelajahi bekas “wilayah terlarang itu makin besar…”
Demikian Freya Stark, yang kami pungutkan sekedarnya dari karyanya itu, bagi memperjelas bebrapa aspek dari pertumbuhan dan perkembangan kelompok Hasyasyin itu sampai kepada masa kehancurannya.
Barangsiapa pada tahun limapuluhan pernah menontn film The Adventure of Umar Khaya dari paramount production, dibintangi oleh Jhon Derek dan Debra Paget, diangkat dari karya Manuel Komroff, niscaya dapat menyaksikan betapa kedasyatan pertempuran bagi menghancurkan kota benteng Alamut, tempat kedudukan Old Man of The Mountain itu. Cuma jalan sejarah didalam film itu digeser sedikit, bahwa perebutan dan penghancuran kota benteng itu terjadi pada masa Sultan Malik Shah (465-485H/1072-1092M), putra Sultan Alep Arslan (455-465H/1063-1072M) dari keluarga Seljuk, guna memperoleh klimaks dari thema cerita, yaitu selisih sengit pada masa belakangan antar tiga sahabat pada masa belia remaja Hasan al Sabbah, yang pada msa belakangan menjabat pemuka Hasyasyin, dan Nizam al Muluk (wafat 485H/1092M) yang pada masa belakangan menjabat wazir besar Sultan Alep Arslan dan Sultan Malik Shah, pembangun perguruan Tinggi Nizamiah yang terkenal itu dibaghdad, perguruan sunni, bagi menandingi perguruan tinggi Al Azhar di Mesir, perguruan syiah pada masa itu; dan Omar Khayyam (wafat 527 H/1132 M), seorang sarjana tehnik dan astronomi pada masanya, akan tetapi lebih dikenal sebagai penyair Islam dengan himpunan Rubiyyat. Serupa halnya dengan Leonardo da Vinci (Wafat 1519 M) pada lima ratus tahun belakangan, seorang sarjana tehnik akan tetapi lebih dikenal dengan pigura-pigura lukisannya.
Tiga sahabat semasa belia remaja itu, menurut catatan buku-buku sejarah tertua dalam dunia Islam, pernah mengikat janji bahwa akan saling bantu membantu jikalau pada masa belakangan ternyata ada salah seorang diantaranya beroleh nasib mujur.
Tetapi ketiga-tiganya pada masa belakangan ternyata sama menempati posisi pentinng . Satu diantaranya berkisar kepada aliran Ismailiah tetapi yang dua lagi tetap sunni, Nizam al Muluk seperti juga halnya dengan Sultan Malik Shah tewas ditangan Fedayen yang diperintahakan Hasan al Sabbah karena jabatan yang dipegang sahabatnya itu amat menentukan dan bagaikan buku mata pada Hasan al Sabbah. Sedangkan Omar al Khayyam, karena hidupnya disumbangkan sepenuhnya untuk bidang Ilmiah, murid dari ahli fikir Ibnu Sina (wafat 428H/1037M), sempat beroleh usia panjang dan bahkan lebih lanjut usianya daripada Hasan al Sabbah sendiri.
Tentang ajaran dan keyakinan yang dianut kelompok Hasysyin itu serupa dengan ajaran dan keyakinan yang dianut kelompok Qaramithah maupun kelompok Druzz. Tetapi kelompok Fathimiah agak lebih moderat dari pada ketiga kelompok itu akan tetapi masih ekstrim terbanding kepada aliran Imamiah, yakni aliran sittah ataupun Istna Asyarah. Apalagi jika dibandingkan dengan aliran Zaidiah yang lebih mendekati Sunni.
Menurut ajaran kelompok Hasyasyin itu /bahwa kitab sui Al-Qur’an itu, disamping memiliki pengertian-pengertian lahiriah (Zhahiriyah, Exoteic) , sebetulnya mempunyai pengertian-pengertian yang lebih tersembunyi (batiniah, exoteric).
Pengertian-pengertian lahiriah itu Cuma layak bagi orang yang masih dangkal pengetahuannya, dan tersebab itulah mereka itu tetap terikat kepada kewajiban-kewajiban taklifiyah, yaitu kemestian mematuhi syariat. Tetapi seseorang yang betul-betul mempunyai pengetahuan Ilahiat yang lebih dalam, maka, iapun akan mengenali pengertian-pengertian yang lebih tersembunyi dan iapun terbebaslah dari seluruh kewajiban-kewajiban Taklifiah itu, kecualai harus tunduk sepenuhya kepada atasan yang mempunyai pengetahuan ilahiat yang lebih tinggi itu. karena seseorang cuma bisa mengetahui pengertian-pengertian yang lebih dalam dan tersembunyi itu adalah cuma dengan perantaranya. Dia itulah Imam al Zaman, menjabat al Imam pada suatu tahap masa, dan kepatuahan penuh itu haruslah ditunjukkan terhadapnya dan terhadap wakil-wakil yang ditunjuknya. Dia itulah bayangan ilahi dimuka bumi, penjelmaan Allah dalam bentuk jasad.
Dengan memberikan pengertian-pengertian esoteric serupa itu terhadap setiap ayat didalam kitab suci Al-Qur’an itu, sehingga sudah jauh menyimpang dari ajaran Agama Islam, maka rubuhlah sendi-sendi agama islam yang dibangun dan diajarkan oleh nabi besar Muhammad s.a.w. jikalau nabi Muhammad sendiri menjalankan shalat wajib, shalat sunnah, puasa, dan kewajiban lainnya, tetapi kelompok Hasyasyin telah terbebas dari seluruhnya. Jikalau seseorang kelompok Hasyasyin itu tengah berada dalam lingkungan lawan dan disitulah turun menjalankan syariat-syariat Lahiriah itu maka hal iyu diperbuat, menurut ajaran kelompok Hasyasyin maupun kelompok Qaramithah, atas dasar Taqiyat. Dimaksudkan ialah melindungi diri dan pendirian sebelum datang saatnya bagi melahirkannya secara terrbuka.
Demikian garis besar ajaran dan keyakinan kelompok Hasyasyin itu. secara panjang lebar telah diuraikan pada saat menjelaskan kelompok Qaramithah. Tetapi yang lebih membangkitkan perhatian berbagai fihak terhadap kelompok Hasyasyin itu, terutama kalangan peneliti sejarah, bukanlah ajaran dan keyakinan Theologis itu; akan tetapi cara para pemuka kelompok Hasysyin itu melaksanakan pengaturan organisasinya dan cara yang dipergunakan bagi pengemblengan para pengikutnya itu sehingga menjadi manusia-manusia fanatik untuk dijadikan alat politik. Berbeda dengan kelompok qaramithah, setiap tatalaksana itu dan tatacara itu bersifat sistematik dan metodik.
Bermula dari kedudukan sebagai al-Murid (calon, novice) hingga menjadi al-Fidai (tenaga berani mati); dan jikalau dalam kedudukan terakhir itu selamat memperlihatkan kecerdasannya lalu digembleng selanjutnya menjadi Da’i (Propagandist), dan tingkatan itu termasuk dalam lapisan al-Khawash (piors), beroleh pasilitas dan keistimewaan.
Kedudukan yang lebih tinggi dari itu disebut Khawasul khawas (high Piors), berhak mendampingi Imam al zaman ataupun mendampingi wakil mutlak dari imam al zaman itu.
Lapisan bawahancuma mengenal lapisan atasannya, langsung berhubungan dengan lapisan atsannya itu, tetapi tidak mengenali lapisan-lapisan yang lebih tinggi. Demikian halnya dengan setiap tingkatan lapisan tersebut.
Setiap tingkatan lapisan itu berkewajian dan bertugas menggembleng lapisan bawahannya. Hasan al Sabbah bermula dengan menggembleng beberapa orang pilihannya, yang belakangan menepati kedudukan paling teristimewa (Khawasul Khawas) dan terjadilah merantai selanjutnya didalam perkembangan kelompok Hasyasyin itu.
Demikian hirarki didalam tatalaksana organisasi Hasyasyin itu. tersebab itulah, dengan meminjam keterangan Freya Stark, bahwa orde templars yang amat terkenal pada masa-masa perang Salib itu beroleh tuduhan-tuduhan berat pada akhirnya karena identik dengan kelompok Hasyasyin yang sangat dibenci itu.
Tentang tatacara didalam pengemblengan seseorang al Murid (calon, novice) itu dapat dilukiskan dengan suatu gambaran singkat: bermula dengan seorang yang menaruh keimanan didalam dirinya, yakni keimanan Islam, tetapi pada akhirnya tiba pada tingkatan berfikir bebas dan bersikap serba bebas.
Hal itu dimulai dengan pendekatan-pendekatan secara tak kentara, dengan mengajukan soal-soal yang membingungkan oleh fihak Da’i, hingga lambatlaun dan berangsur-rangsur timbul kesangsian dalam diri orang tersebut terhadap anutannya selama ini.
Pada saat kesangsian dalam diri orang itu telah dipandang matang, dinantikan dan ditunggukan dengan penuh kesabaran. Baharulah ditarik untuk menjadi al –Murid. Pada saat itulah berlangsuang penataran terhadap orang itu semasak-masaknya hingga menerima ajaran dan anutan baru dengan segala keyakinan didalam dirinya.
Jikalau dalam sejarah soviet uni pada masa Stalin dan begitupun sejarah Tiongkok pada masa Mao Tse Tung dikenal dengan istilah “Brain Washing”, yakni “cuci otak”, maka tatacara cuci otak tersebut adalah cuma “jiplakan” dari tata cara “cuci otak” yang dilakukan para pemuka kelompok Hasyasin pada sembilan abad silam.
Pihak al-Murid itu menerima ajaran dan anutan baru itu dengan kelegaan, karena, dirinya kini disebut Muslim Murni. Menerimakan ajaran-ajaran yang lebih tersembunyi (esoteric) yang tidak sembarang orang saja bisa memahamkannya.
Dari tingkatan itu iapun ditatar selanjutnya untuk tingkatan al-Fidai, yakni tenaga berani mati ataupun tenaga jibaku. Pada tingkatan itulah buat pertama kalinya diperkenalkan kepadanya sejenis minuman yang terbuat campurannya dari al-Hasyis (ganja).

assassinscreed
Pada saat sudah linglung, hampir-hampir tidak sadarkan diri, iapun diangkut kepada apa yang disebutkan Scret Garden (Taman Rahasia) pada kastel Alamut itu, melalui berbagai ruangan yang berbelit. Diantara sadar dengan tak sadar itu iapun menyaksikan taman yang indah.Iapun dikelilingi oleh gadis-gadis muda belia dan cantik molek beserta nyanyian dan tarian dan pesta pora. Menjelang sore hari iapun diberi minuman al-Hasyis kembali; dan dalam keadaan tidak sadar iapun diangkut kembali kedalam kamarnya yang polos itu dan tertidur disitu. Sewaktu dia terbangun dan sadar kembali iapun merasakan bagai mimpi; sejak itulah ditanamkan kepadanya terus menerus bahwa apa yang disaksiakannya dalam mimpi adalah sorga. Jannat al Naim dengan bidadari-bidadari cantik molek, yang akan diterimakannya sebagai imbalannya jikalau tetap patuh dan ta’at kepada apapun yang diperintahkan oleh wakil mutlak dari Imam al Zaman. Begitulah tatacara pembentukan pasukan berani mati. (al Fedayen yang dipanggilkan dengan al Hasyasyin itu).
Painan, 8-10/6/15

Peluru

Standard

Ketika itu aku masih kanak masih dalam pangkuan bunda
Belum kufahami apa itu benci apa itu cinta
Belum ku tahu apa makna derita dan makna bahagia
Tidak aku mengerti apa itu amarah apa itu tawa.

Malam baru saja meliputi kampung.
Sayup-sayup masih kudengar lantunan Al-Qur’an dari meunasah
Gerimis yang turunpun cukup membuaat bumi basah
Dalam buaian bunda aku tercekat
Dan bundapun turut melompat.

Sebuah senjata menyalak melontarkan sebuah peluru
peunyan bunda?tanyaku lugu
bunda tak menjawab, semakin erat iya memelukkku

tak lama kemudian semua hening sunyi dan mati.
Teriakan tangis kudengar dari tetangga sebelah utara
Darah mengalir dari sebuah lubang peluru yang menembus hati
Ketika itu aku belum mengerti untuk apa semuanya.

Lama sudah waktu kulewati
Kini aku bukan kanak lagi
Kemarin dibelakang rumah kudapati
Sebuah selongsong peluru
Pengingat masa lalu

Peluru itu aku ambil aku simpan dalam lemari
Disebelahnya sebuah potret hitam putih
Dari seorang lelaki yang tak pernah kutemui
Yang pergi bersamaan dengan terlontarnya peluru diawal pagi

Kusimpan peluru itu
Sebagai mimpi buruk
Yang kuharap tak pernah terulang lagi

Painan 3/6/15

Kritik Tan Malaka Terhadap Boedi Oetomo

Standard

Beberapa minggu lalu kita memperingati hari kebangkitan nasional. Penetapan hari kebangkitan nasional ini sendiri diambil dari momen hari dimana organisasi boedi oetomo pertama kali didirikan. Diambilnya tanggal lahirnya boedi oetomo sebagai hari kebangkitan nasional karena anggapan Boedi Oetomolah organisasi kebangsaan yang pertama sekali menginginkan Indonesia merdeka.

Dalam perjalananya organisasi yang digawangi para priyayi jawa didikan belanda ini tidak lepas dari lontaran kritik yang tidak saja dilepaskan oleh penjajah tetapi juga para tokoh pergerakan, salah satunya oleh Tan Malaka. Jika pemerintah menganggap bahwa lahirnya Boedi Oetomo sebagai ikon pertama kesadaran nasional untuk mecapai indonesia yang merdeka dari Sabang sampai Merauke Tan Malaka justru memberikan kritikan sebaliknya.

Didalam buku aksi masa yang ditulis Tan Malaka ditahun 1926, Tan Malaka menyoroti beberapa hal sebagai kelemahan Boedi Oetomo sebagai organisasi pergerakan nasional antara lain:

Boedi Oetomo Bersifat Kedaerahan (Kebangkitan jawa).

” Budi Utomo yang mengangkat kembali senjata-senjata Hindu-
Jawa yang berkarat dan sudah lama dilupakan itu, sungguh tidak
taktis dan jauh dari pendirian nasionalis umum. Perbuatan itu
menimbulkan kecurigaan golongan lain yang mencita-citakan
persaudaraan dan kerja sama antara penduduk di seluruh
Indonesia (bukan antara penjajah satu terhadap Iainnya). Dengan
jalan sedemikian, Budi Utomo menimbulkan gerakan ke daerah
yang bila perlu (misalnya Budi Utomo kuat), dengan mudah
dapat dipergunakan imperialisme Belanda. Dengan keadaan
seperti ini, keinginan “luhur” yang satu dapat diadu dengan yang
lain, yang akibatnya sangat memilukan, Indonesia tetap jadi
negeri budak.”

Sikap Koopertif dengan belanda

“Panjangnya umur Budi Utomo sebagian besar
diperolehnya dari “mantera-mantera” pemimpinnya, dari hasil
“main mata” dengan pemerintah dan dari hasil kelemahan teman
seperjuangannya. Sebuah semangat kosong seperti Budi Utomo
dapat diterima oleh pemerintah seperti Belanda.”

Menganut Ilmu Kebatinan dan Klenik (Kejawen)

“siang malam. Di dalam “lingkungan sendin” kerapkali dukundukun
politik itu menyuruh Hayam Wuruk — Raja Hindu atau
setengah Hindu itu — dengan laskarnya yang kuat berbaris di
muka mereka. Di luar hal-hal gaib itu, paling banter hanya
dibicarakan soal-soal yang tak berbahaya. Di dalam Kongres
Budi Utomo berkali-kali (sampai menjemukan) kebudayaan dan
seni Jawa (?) dibicarakan.”

Tidak memiliki kegiatan yang berefek langsung terhadap pergerakan kemerdekan

”Budi Utomo — didirikan pada tahun 1908 — adalah sebuah
partai yang semalas-malasnya di antara segenap partai-partai
borjuis di Indonesia. Seperti seekor binatang pemalas, ia merana
sombong karena umurnya panjang. Karena ia tak mendapat caracara
aksi borjuis yang radikal dan tidak berani mendekati dan
menggerakkan rakyat maka dari dulu sampai sekarang, kaum
Budi Utomo menghabiskan waktu dengan memanggil-manggil
arwah yang telah lama meninggal dunia. Borobudur yang kolot,
wayang dan gamelan yang merana, semua basil “kebudayaan
perbudakan”ditambah dan digembar-gemborkan oleh mereka
siang malam.”

Saya tidak ingin mengambil kesimpulan buat kritik Tan Malaka terhadap Boedi Oetomo, karena saya sependapat dengan Tan Malaka dan juga sependapat dengan kawan-kawan yang lebih memilik sjarekat Islamlah ikon kebangkitan nasional. Saya hanya berharap kita jujur dengan sejarah, karena Bung Karno mengajarkan kita untuk menghargai sejarah.

*sumber tulisan dari buku Aksi Masa karya Tan Malaka 1926 disingapura edisi Pdf ECONARCH Institute

Jangan Lebay! Al-Qur’an Langgam Jawa

Standard

Hampir 70 tahun negara ini merdeka sudah tujuh orang presiden yang memimpin negri ini, melihat panjangnya perjalanan sejarah negri ini sudah tidak layak lagi rasanya kita berbicara tentang primordial kasukuan dan kedaerahan. Ketika pendiri bangsa mendirikan negara ini mereka sepakat untuk membngan sebuah negara yang nasional yang tidak meninggikan satu golongan suku dan daerah manapun semua diikat dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia.

Kemarin secara tidak sengaja saya menonton pembacaan Al-Qur’an dengan langgam jawa melalui youtube dan sepertinya menjadi perdebatan diatara netizen dimedsos. Jujur saya mendengarnya bukan terenyuh justru saya tertawa buat saya yang bukan orang jawa pembacaan Al-Qur’an sangat lucu untuk didengar. Sebagai orang awam saya tidak bisa berkomentar tentang hukum membaca Al-Qur’an selain dari lahjah arab untuk hal ini lebih baik kita merujuk saja kepada alhi fatwa hukum Islam tentang bagaimana hukum membaca Al-Qur’an dengan langgam jawa. saya sendiri pernah belajar beberapa cara dalam membaca Al-Qur’an jika memang dikatakan demikian seperti bayati tapi saya tidak meneruskan belajar sampai saya mahir, saya berhenti karena saya anggap tidak ada gunanya saya teruskan karena suara saya tidak seindah suara ustad Muammar ZA apalagi Rhoma Irama.seandainya saya mahirpun pasti tidak enak untuk didengar. Terlepas dari itu saya yakin Allah SWT tuhan yang maha adil, saya yakin Allah tidak membalas pahala seseorang yang membaca Al-Qur’an bukan dari kemahiran dalam melagukan Al-Qur’an dan bagusnya suara seseorang dalam mambaca Al-Qur’an saya yakin pasti Allah membalas dari sejauh mana seseorang mampu menghayati dan mengamalkan Al-Qur’an itu sendiri.

kalau melihat Al-Qur’an secara keseluruhan saya melihat Al-Qur’an bukan saja mengajarkan nasionalisme tapi universalitas itu sebabnya sampai hari ini mushaf Al-Qur’an masih mempertahankan huruf Arab (Arabic letter) sebagai tulisannya walaupun telah diterjemahkan dalam bahasa lain. dan saya yakin universalitas Al-qur’an ini akan terus dipertahankan oleh ulama kita, karena Al-Qur’an diturunkan buat seluruh umat manusia, tidak hanya untuk bangsa arab apalagi jawa tapi untuk seluruh suku bangsa didunia

kembali lagi bicara nasionlisme, saya rasa kita harus berterima kasih pada Bung Karno, presiden pertama kita beliau adalah pemimpin nasional pemimpin yang bisa merangkul seluruh masayarat yang berbeda suku bangsa`untuk bergabung dalam bingkai NKRI.

Beliau orang jawa tulen, tetapi beliau berbicara menggunakan bahasa indonesia sebagai mana orang melayu melafalkannya, memang tidak bisa dilepaskan bahwa beliau pernah dibuang diasingkan Belanda dibeberapa lokasi dipulau sumatra dimana sebagian masyaraktnya melayu. Kalo melihat video pembacaan teks proklamasi dan pidato-pidato lainnya beliau hampir tidak pernah menyisipkan entri-entri bahasa jawa dalam pidato-pidatonya, nasional sekali sebagaimana sumpah pemuda yang mengatakan kita berbahsa satu bahasa Indonesia.

Dimasa permerintahan Soekarnopun pembangunan sudah dimulai dan banyak bangunan-bangunan yang beliau bangundan sekali lagi beliau sangat menghormati mereka yang diluar jawa, saya kira orang akan mencaci soekarno jika monas beliau beri nama monumen ken arok atau tunggul ametung, stadion gelora Bung Karno diberi nama gelora Joko Tingkir.

Sampai saat ini saya masih husnudzan dengan bapak Jokowi walaupun pada pilpres saya bukan dari kubu beliau saya yakin beliau memahami betul konsep nasionalisme yang digaungkan Bung Karno dan saya yakin spenuh hati tidak ada niat belaiu untuk menjawanisasi Indonesia. Dan kejadian pembacaan Al-Qur’an dengan langgam jawa saya yakin juga bukan kehendak beliau. Kalau saya boleh memberi keritikan saya ingin mengatakan protokuler negara jangan lebay! hanya karena presiden kita saat ini medok jawane semua yang ada didekat presiden dijawakan. Apalagi menjawakan Al-Qur’an yang telah memiliki ketentuan sendiri….Bisa Kualat sampean!!!!

Untuk Dia yang Terbuang dan Tersisih

Standard

Ku tulis ini untuk dia yang terbuang

untuk dia yang tersisih

untuk dia yang berada dalam sepi

bukan karena langkah yang salah

tapi karena makna yang sulit untuk terungkap

dilorong malam kala bulan benderang

secari kertas tak memimiliki arti buat hati yang telah mati

dia yang terbuang tersisih terus berjalan dalam makna yang hitam

memberi cahaya buat agar mereka bisa membaca

bulan menghilang bersama gelisahnya manusia

bukan cinta yang dibalas

namun darah yang ditumpahkan

buat dia yang terbuang tersisih dan

barakhir sunyi…

painan….

Siapa yang Boleh Berfikir

Standard

Selama bersetatus mahasiswa saya bisa digolong sebagai mahasiswa yang rajin untuk membolos ketika kuliah berlangsung, terutama untuk mata kuliah atau dosen yang tidak menarik sehingga membuat bosan untuk belajar.
Tapi ada satu ungkapan dari seorang dosen yang sampai saat ini masih saya ingat dan selalu menjadi bahan fikiran saya. Saya tidak ingat pasti kenapa dosen tersebut mengelurakan ungkapan tersebut, namun seandainya ungkapan tersebut diaplikasikan ditengah dunia pendidikan ungkapan tersebut merupakan pembodohan.
Jujur saya tidak ambil pusing dengan ungkapan dosen tersebut saya kira ungkapan itu cuma sampah yang tidak layak dimasukkan keotak. Namun beberapa waktu saya bertemu dengan seorag sahabat yang kebetulan lagi duduk diprogram pasca sarjana, dan teman tadi bercerita kalau dosen dipasca sarjanapun mengungkapakan ungkapan yang sama.
Saya berkuliah dijurusan Pendidikan Agama Islam, dan teman tadi diFakultas Usuluddin jurusan Tafsir Hadis. Kami berbeda kampus, kebetulan saya dikampus swasta dan teman saya dikampus plat merah dibawah naungan depag Sumatra Barat. Tapi kami menemukan ungkapan yang sama dari dosen yang juga pastinya berbeda, ungkapan tersebut adalah, “ MAHASISWA S1 S2 DILARANG BERPENDAPAT YANG BOLEH BERPENDAPAT ADALAH S3 ATAU PROFESOR”.
Sekilas pertama kali mendengar ungkapan ini saya kira ungkapan ini lucu bin aneh, apalagi samapai keluar dari uangkapan seorang dosen diperguruan tinggi islam, Pertama agama Islam merupakan agama yang mendorong dan memberi ruang berfikir bagi umatnya, namun mengapa batasan untuk berpendapat dibangaun berdasarkan gelar semata?

Kedua,berpendapat sangat terkait dengan dunia berfikir dan berpendapat erat kaitannya dengan apa yang didalam ilmu usul disebut Ijtihad, maka peryataan diatas sangat bertentangan dengan semangat pembaharu Islam yang selalu menggelorakan umat untuk senantiasa membuka pintu Ijtihad. Jadi seandainya kerangka berpendapat dibatasi oleh gelar akademik saya kira menjadi kerdillah agama ini, dan konsep Ijtihad yang seharusnya tebuka menjadi tertutup dimonopoli oleh ahli gelar.
Bagaimana berpendapat dalam Islam?
Berpendapat sebagaimana saya tulis sebelumnya berkaitan erat dengan berfikir, didalam Islam ada Istilah yang disebut Ijtihad yang artinya “usaha sungguh-sungguh memberikan keluasasan didalam bidang hukum syariah dengan jalan istimbath berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah”. Istimbath tidak mungkin dapat ditempuh jika tidak dengan jalan berfikir jadi berfikir dan berpendapat dalam Islam sangat terbuka lebar. Orang yang berIjtihad disebut mujthahid mereka memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, mereka digelari Al-Imam bukan doktor atau Profesor. Contoh mereka yang diberi gelar Al-Imam adalah Imam Mazhab yang empat, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad Bin Hambal.
Walaupun berpendapat dan berfikir diberi ruang yang luas dalam Islam namun, berpendapat tidak bisa dijalankan secara serampangan, karena ada qaidah-qaidah yang tidak boleh dilanggar, sehingga memang tidak semua orang bisa menjadi mujtahid.
Syarat-syarat Ijtihad antara lain:
1. mengetahui segala Ayat dan sunnah yang berkaiatan dengan hukum
2. mengetahui masalah-masalah yang telah diIjma’kan oleh para ahlinya
3. mengetahui nasakh mansukhmengetahui dengan sempurna bahasa Arab dan ilmunya.
4. mengetahui usul fiqh
5. mengetahui Assyarusysyariat
6. mengetahui Qawaidul Fiqh.
Adapun syarat-syarat khusus yang yang harus dimiliki seorang Mujtahid:
1. berakal kuat (cerdas)
2. adil
3. jujur
4. memiliki akhlak yang baik
5. mengetahui madarikil ahkami
6. memahami lughah
7. memahami tafsir
8. mengetahui asbabun nuzul
9. menguasai ilmu rijalul hadis
10. memahami dzar wa ta’dil
11. Mengetahui naskh wa mansukh
Ulama mengatakan mereka yang memiliki kualifikasi tersebut diatas maka berhaklah dia menggali langsung istimbath hukum berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, jadi mereka inilah yang berhak untuk berpendapat dalam islam secara mutlak.
Dan bagi mereka dikalangan umat Islam yang tidak mampu untuk mencapai derajat mujtahid maka dia dapat mengambil tingkatan kedua yaitu muttabi’, muttabi’ merupakan isim fail dari itiba’ ulama menjelaskan ittiba’ adalah “mengambil ucapan sesorang dan mengetahui dalil ucapan orang tersebut”. ittiba’ sendiripun tidak bisa dilepaskan dari berfikir sebab ada banyak ucapan dan fikiran yang dikemukakan oleh manusia yang harus ditimbang dan diukur dangan ketentun syariat, terkadang para mujthid satu dengan yang lain berbeda pendapat mereka tentang suatu hukum syar’i maka kita yang berittiba’ harus juga mengolah daya fikir kita menelusuri dalil-dalil yang dikemukakan para mujtahid untuk mencari yang paling shahih diantara pendapat mereka.
Ijtihad dan ittiba’ dianjurkan dan dituntut dalam Islam, dan ulama mencegah kita untuk ta’liq yaitu “mengikuti suatu ucapan seseorang baik itu ucapan mujtahid tanpa mengetahui dalilnya”.
Maka dari penjelasan diatas berfikir, berpendapat tidak dibatasi oleh gelar dan strata pendidikan, ada banyak ulama islam yang tidak sekolah formal, tidak mempunyai gelar akademik namun ilmunya lebih luas dan lebih banyak dari seorang profesor sekalipun. Haruskah mereka kita kerdilkan karena tidak memiliki gelar akademik???

sumber tulisan

1. Pengantar Hukum Islam oleh T.M Hasbi Assyddiqy

2. kitab Mabadi awaliyah ustad Abdul Hamid Hakim

4 Tahun Sudah

Standard

Tahun ini genap sudah 4 tahun blog ini didunia maya, menjadi tempat curahan isi kepala yang tak lagi mampu tertampung dimemori otak. Blog ini saya buat pertama sekali diKota Surabaya 4 tahun silam, dan kebanyakan tulisan diblog ini juga ditulis di Surabaya padahal hanya setengah tahun disana.
Keadaan asrama yang serba tertutup nampaknya yang membuat saya aktif menulis karena banyak gangguan , dan juga untuk mengusir kebosanan karena banyak waktu luang ketika itu. Tahun-tahun berikutnya inspirasi menulis seperti mata air yang mati, kering tidak ada keinginan untuk menulis, padahal ada banyak ide yang berkeliaran dikepala.
Tahun ini hampir genap pula usia saya semperempat abad 25 tahun, tanpa terasa sudah banyak hal yang terlewati. Bertambahnya usia mau-tak mau mendorong kita untuk memperbaiki diri, bersiap untuk melangkah menjalani hidup kedepannya, bersiapa untuk mandiri dalam melewati kehidupan yang pastinya banyak onak dan durinya penuh dengan gelombang dan badai. Dari usia yang semakin matang pula isi diblog ini juga harus menjadi lebih baik sebagai tanda perubahan dalam ide dan fikiran.
Sejak awal tahun ini saya sudah mencoba merubah tampilan blog ini sedemikian rupa, termasuk mengganti moto “menggenggam angan kehidupan” dengan “Bara semangat yang takkan padam” kedepan saya ingin memperbanyak tulisan, paling tidak target saya 2 judul tiap bulan minimalnya. Kemudian saya akan memposting makalah-makalah yang pernah saya susun selama kuliah di Jurusan Tarbiyah, dari pada makalah-makalah itu mengendap dimemori laptop mungkin lebih baik di share diblog ini. artikel yang berbentuk reportase juga akan dimatangkan dengan sistematika penulisan jurnalistik, artikel-artikel yang bermuatan ilmiah harus diperbaiki agar mendekati karya ilmiah seutuhnya.
usia yang bertambah dan juga pengalaman sembilan tahun mendalami agama dipesantren maupun dikampus mendorong juga diri pada kecintaan terhadap agama dan tuhan, jika selama ini jarang menyentuh hal-hal agama Insya Allah kedepan mungkin ada satu dua judul tentang agama.

DSC_0202
Dan terakhir saya berharap blog ini bisa beranfaat tidak hanya untuk saya tapi juga buat orang lain.

Terus berjalan

Standard

Blog ini sudah sepertti rumah yang ditinggalkan penghuninya, lama tidak ada tulisan yang terupdate. Sejak tahun baru blog ini tak lagi tersentuh, aku kehilangan moment untuk menulis. Jenuh sepertinya ada sesuatu yag hilang yang membuat remuknya semangat. tidak ada bahan bakar untuk menulis diblog ini lagi.
Kalo dihitung dari tahun ku buat blog ini, bararti sudah 4 tahun blog ini sebagai wadah dari isi kepalaku. Cukup lama sepertinya. Tapi semuanya tidak ada perkembangannya. Tulisanku tetap tidak berbobot, tetap tidak berisi dan bermakna.
Pada akhirnya aku berfikir, apa sebenarnya yang salah?

Foto(650)
Dari pada aku lelah berfikir, biarlah, yang terpenting terus berjalan, berjuang dan berusaha. Harus terus mencoba buakan berhenti. Makanya aku kembali lagi keblog ini, ini rumahku tempat yang mempung segala aspirasi dikepalaku, dan ini untukku untuk aku berfikir dan merenung tentang hidupku.
PUNCAK NISKALA….. KITA DAKI DUNIA….

BUKAN SEDIH INI YANG MEMBUAT LUKA

Standard

BUKAN SEDIH INI YANG MEMBUAT LUKA
bukan sedih ini yng membuat luka,’
Tapi duka yang datang tiba-tiba.
Bukan perih ini yang membuat sakit
Tapi sayatan yang mengoyak kulit.

Ah, pahit benar
Tak ada lagi seberkas sinar yang terpancar.

Ah, tragis.
Tak mugkin mata harus menagis

Ah, gila
Tak mu10420241_371290803023810_6184146704993634712_nngkin pula mulut harus mencerca.
Toh tak mungkin pula dia kembali…
Painan, 25/4/15
Duka laptopku pecah lcdnya
Cobaan dari Allah…. Allahumma ghfirli…