Cut Nyak Dien Jilbaber

Standar

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan “apa salahnya kalau kita jujur mengakui Cut Nyak Dien berjilbab?”

Beberapa waktu yang lalu, sebelum peristiwa naas kecelakaan pesawat air asia, jagat raya dunia maya sempat bergetar diguncang sebuah foto. Sebuah foto lawas hitam putih yang dipost oleh fans page “seuramoe mekkah” menunjukkan sosok wanita yang memakai jilbab, oleh admin “Seuramoe mekkah” foto tersebut diklaim merupakan foto pahlawan nasionl Cut Nyak Dien yang asli, yaitu wanita yang berjilbab. Sementara foto atau lukisan yang biasa terdapat dibuku sejarah dianggap buatan para sekuler yang ingin menjauhkan masyarakat aceh dari agama islam.

1384149_858408900878676_2426134298039513677_n

Sebelum saya lanjutkan tulisan ini, saya harus jujur apa yang saya tulis tidak lebih dari asumsi pribadi. Saya kira tulisan ini sulit untuk mendekati tulisan ilmiah, sebab memang saya sendiri tidak memegang satu refrensipun tentang Cut Nyak Dien. Namun demikian saya berfikir saya tetap harus melanjutkan tulisan ini walau tanpa rujukan, nama sebesar Tan Malakapun ketika menyusun bukunya yang berjudul Madilog juga tidak menggunakan refrensi hanya berdasarkan bahan bacaan yang teringat dan terhafal dikepalanya jadi saya kira tidak masalah sebuah tulisan tanpa refrensi yang memadai. Untuk biografi Cut Nyak Dien ada lebih dari tiga buku yang sudah saya baca, salah satunya yang disusun Oleh Prof. Anhar Gonggong, tapi sayang buku tersebut tertinggal dimedan jadi tidak bisa untuk dirujuk dalam tulisan ini dan ada sebuah artikel menarik dari edisi kusus majalah sabili beberapa tahun silam yang mengangkat tentang Cut Nyak Dien, dan ketika sedang belajar di dayah (pesantren diaceh) saya juga membaca biografi Teungku Fakinah, seorang Ulama wanita aceh yang namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit, beliau adalah sahabat dan teman curhatnya Cut Nyak Dien.
Dalam tulisan ini saya ingin menulis apa adanya tentang beliau Cut Nyak Dien dan berusaha untuk menjauhi kesan meninggikan aceh baik sebagai daerah atau suku dan merendahkan daerah lain. karena saya tangkap dari indatu (nenek moyang) mereka tidak pernah merendahkan bangsa lain. buktinya Sultan Iskandar Muda mengangkat menantunya yang berasal dari negeri Seberang (Malaysia) menjadi raja Aceh selanjutnya. Dan kusus Cut Nyak Dien beliau juga bukan asli Aceh nenek Moyangnya berasal dari Minang Kabau bernama Datuk Makdum Sati. Walaupun bukan berasal dari aceh Datuk Makdum Sati dihormati dan konon diangkat menjadi penasehat raja karena ketinggian ilmunya dan inilah pelajaran yang saya tangkap dari indatu (nenek moyang) untuk menghormati orang lain.

Sebelum foto itu ramai menjadi perbincangan saya tidak begitu tertarik dengan foto tersebut ketika seorang teman mengirim foto tersebut diberanda akun Facebook saya, hanya sebuah foto fikir saya. Namun tak lama kemudian ada banyak surat kabar nasional yang menanggapi foto tersebut salah satunya majalah Historia yang menurunkan artikel khusus menanggapi foto tersebut. didalam artikel tersebut majalah historia membantah kalo Cut Nyak Dien berjilbab dan mengatakan bahwa foto yang diposting oleh fp “ Seuramo Mekkah” bukan foto Cut Nyak Dien tapi foto istri panglima Polem, dan menunjukkan sebuah foto lain dari media – KILTV.nl yang menunjukkan bahwa Cut Nyak Dien tidak berjilbab.

Sebenarnya bukan yang pertama sekali saya melihat foto dari kiltv tersebut, beberapa tahun yang lalu saya melihat foto tersebut di Edisi Kusus Majalah Sabili dan memang benar Cut Nyak Dien pada foto tersebut tidak memakai jilbab, dan juga saya yakin foto yang dipost oleh “seuramo mekkah” bukanlah foto Cut Nyak Dien tapi foto istri Panglima Polem. Walau demikian disanalah kunci tulisan ini, kunci dari asumsi saya yang mengatakan Cut Nyak Dien berjilbab.

Asumsi pertama

Disebutkan (menurut ingatan saya) ketika diasingkan ke Sumedang, Cut Nyak Dien dalam keadaan tidak lagi mampu untuk melihat dalam kata lain Cut Nyak Dien mengalami kebutaan dan menariknya dalam keadaan demikian Cut Nyak Dien masih tetap mengajar ngaji untuk masyarakat disekitar tempat beliau diasingkan bahkan beliau dianggap ulama dan diberi gelar ibu perbu.

Orang yang mengalami kebutaan namun masih mampu untuk mengajar mengaji haqqul yakin 90% orang tersebut menghafal Al-Qur’an dalam kata lain hafizh. Didalam tradisi yang berkembang diaceh seorang hafizh haruslah taat pada ajaran agama, salah satunya menutup aurat dan menjaga kehormatannya. Maka dari sini saya yakin Cut Nyak Dien yang hafal Al-Qur’an pasti menjaga dirinya dan kehormatannya dengan menutup aurat dengan baik dalam bahasa lain beliau berjilbab.

Asumsi kedua.

Walaupun beliau seorang bangsawan Cut Nyak Dien bersahabat dekat dengan Teungku Fakinah (Ulama wanita) dan sering datang keDayah (Pesantren) milik Teungku Fakinah. Terutama ketika Teuku Umar membelot kepada Belanda, Cut Nyak Dien banyak meminta saran Teungku Fakinah untuk bisa menyadarkan kekeliruan Teuku Umar. (Prof. Ali Hasjmy)

Dalam aturan Dayah (Pesantren) dari dahulu sampai sekarang, orang yang masuk kedayah harus menjaga kesopanan, wajib menutup aurat bagi laki-laki dan perempuan. Mustahil Cut Nyak Dien yang sering keluar masuk Dayah tidak menjaga kehormatannya, jadi saya cukup yakin Beliau memakai jilbab (berjilbab).

Asumsi Ketiga.

Dalam foto yang diklaim merupakan foto istri Panglima Polem, tampak wanita tersebut menggunakan jilbab dan menutup auratnya dengan baik. Saya sendiri jujur tidak mengenal wanita tersebut dan saya kira orang aceh lain juga tidak mengenal wanita itu, saya kira hal itu wajar karena keterlibatan istri Panglima Polem dalam prang sabil tidak sehebat Cut Nyak Dien.
Kalau Istri Panglima polem yang tidak dikenal saja menggunakan jilbab menutup aurat dengan baik, bagaimana dengan Cut Nyak Dien yang lebih terkenal, pilar utama perang sabil, orang yang selalu membacakan Hikayat Prang Sabi yang dekat dengan ulama, pasti Cut Nyak Dien lebih berjilbab menutup auratnya dengan lebih baik.

Asumsi Keempat.

Dalam foto kiltv Cut Nyak Dien memang tampak tidak menggunakan jilbab, namun kalau dipertikan ada sehelai kain yang membelit leher beliau. Admin “Seuramoe Mekkah” mengatakan bahwa ketika foto diambil, belanda memaksa Cut Nyak Dien untuk Melepaskan jilbabnya, menurut admin “Seuramo Mekkah” Cut Nyak Dien memalingkan wajahnya dalam foto tersebut karena malu tidak memakai jilbab.

Saya kira Asumsi Admin “Seuramo Mekkah” ada benarnya namun tidak sepenuhnya benar, jika Belanda berani melakukan demikian saya kira seluruh orang aceh ketika itu akan marah dan belanda tidak menginginkan hal tersebut. Kalau begitu benarkah Cut Nyak Dien tidak berjilbab? Saya kira tidak juga, sebenarnya sulit menerjemahkan sebuah foto apalagi tentang sejarah pada masa yang sulit.

10610729_860387260680840_3176047545536440771_n
Namun kalau saya membaca foto tersebut saya bisa berasumsi Cut Nyak Dien berjilbab. Kain yang menutup lehernya adalah selendang untuk menutup kepala dalam kata lain jilbab. Ketika itu adalah masa perang dimana beliau banyak bergerak, kalau kita perhatikan foto tersebut beliau memakai celana, dan jarang wanita Aceh memakai celana kebanyakan wanita aceh memakai sarung atau rok seperti yang digunakan oleh istri Panglima Polem dalam fotonya. karena dalam islam perempuan tidak boleh menyerupai laki-laki memakai celana. Karena butuh kelincahan saya kira beliau memilih memakai celana dan beliau mengatahui dalam keadaan darurat hukum Islam bisa berubah untuk hal yang lebih maslahat. Asumsi saya dalam foto itu beliau tidak memakai jilbab dengan baik karena situasinya adalah situasi perang dimana beliau harus bisa mobile bergerak.

Pentingkah Cut Nyak Dien berjilbab?

Banyak dari netizen yang mengatakan “tidak penting meributkan Cut Nyak Dien berjilbab atau tidak yang penting mengikuti semangat perjuangannya”.

Saya sepakat dengan pernyataan diatas yang penting adalah mengambil semangat perjuangan beliau sebagai pahlawan yang berjuang untuk agamanya Prang sabi(perang dijalan agama), kalau kita nonton film Cut Nyak Dien yang banyak adalah kata takbir “Allahu Akbar” bukan kata “merdeka”.

Sebenarnya kalau diizinkan saya ingin merubah pertanyaan diatas dengan pertanyaan berikut, penting tidakkah kita marah karena seekor kerbau bule yang dianggap keramat ditombak orang? Penting tidakkah kita marah kalau orang mengatakan kemben atau koteka dipapua melanggar norma kesopanan? Penting tidakkah kita marah kalau ada yang menyebut mengesot menghadap raja di alam sekarang kita sebut perbudakan modren? ini kalau dibolehkan.

Pada suatu hari ketika libur saya yang seorang santri Dayah (pesantren) diaceh berkesempatan pulang ke Tebing Tinggi Sumatra Utara, diatas bus dikota biruen saya melihat seorang wanita keturunan china menaiki bus Pelangi. Ketika itu wanita china yang saya yakin non muslim tersebut mengikatkan selendang atau kerudung dikepalanya.

Sebenarnya dia tidak perlu menggunakan kerudung dikepalanya sebab kalaupun ada raziah syariat Islam dia tidak akan ditindak walau dia tidak memakai jilbab karena dia non Muslim. Namun dari pemandangan tersebut saya mendapat pelajaran wanita China tersebut memakai kerudung bukan karena Qanun syariat Islam atau takut raziah wilayatul hisbah, tapi karena jilbab sudah merupakan budaya bagi orang Aceh karena wanita keturunan China tadi sudah merasa diri orang Aceh walaupun dia bukan Muslim dia memakai kerudung untuk menjaga kesopanannya.

Saya kira sudah terjawab bagi orang Aceh menjadi sangat penting Cut Nyak Dien berjilbab, karena Cut Nyak Dien adalah simbol keAcehan, simbol wanita Aceh, simbol prang sabil (jihad). Mengatakan Cut Nyak Dien tidak berjilbab sama saja mengatakan ibu kandung saya wanita murahan, sayapun tidak terima. Dan saya kira akan sama dengan marahnya orang dijawa sana yang marah karena kebo bulenya ditombak orang, atau marah karena sultannya dihina oleh seorang florence.

Memecah belahkah tema  seperti ini?

Dari perdebatan para netizen didunia maya bahkan dibeberapa surat kabar nasional banyak yang mengatakan hal-hal seperti ini tidak perlu diangkat karena hanya memecah belah, kita harus menjaga persatuan dan kesatuan dengan semboyan bineka tunggal ika.

Sebenarnya persatuan tidak bisa dipaksakan tetapi harus dibangaun dan dibentuk dengan baik, kita harus akui tiap daerah kita memiliki sejarah dan budaya yang berbeda. Bahkan ada banyak daerah yang dulunya merupakan kerajaan yang saling berperang, kuasai-menguasai, bukankah yang membunuh putri mahkota pajajaran Diah Pita Loka adalah Gajah Mada dari Majapahit? Bukankah yang menangkap Cut Nyak Dien dan membunuh Teuku Umar adalah tentara Marsose dari Jawa dan Sulawesi? Bukankah yang memerangi Tunku Imam Bonjol adalah Sentot Ali Basya? Kita tidak bisa hindari sejarah kita.

Sekali lagi persatuan tidak bisa dipaksakan, atas dasar persatuan kita tidak bisa paksakan gamelan dimainkan dirumah bolon, sebab belum tentu orang batak mampu menikmati gamelan, demi persatuan kita tidak bisa memaksakan tari perang papua dimainkan orang bali  sebab orang Bali yang gemulai belum tentu jari-jarinya menikmati tari perang dari papua.
Lantas bagaimana bisa menjaga persatuan yang bernama Indonesia saat ini?

Yang paling utama menjaga persatuan kita saat ini adalah kejujuran, kita harus menghindari tipuan dan muslihat, kita harus jujur terhadap sejarah. Apa sulitnya jujur mengatakan Cut Nyak Dien adalah wanita muslim yang shaleh? Kanapa harus ditutupi dengan lukisan murahan menggambarkan Cut Nyak Dien menggunakan sanggul? Apa sulitnya jujur mengatakan benar bahwa Soekarno pernah berjanji pada Teungku Daud Beureuh, seandainya Aceh bergabung dengan Indonesia maka Aceh diberikan hak Istimewa untuk menjalankan syariat Islam? Apa sulitnya jujur pada sejarah?

Saya kira kalau kita jujur sejak awal  tidak akan ada pemberontakan, kalau pemerintah orde lama jujur dan memberikan penghargaan bagi pasukan hisbullah baik pimpan S.M Kartoswirya atau kahar Muzakkar saya kira tidak akan ada pemberontakan DI/TII, Kalau pemerintah orde lama mau jujur dan mendengarkan nasehat dewan banteng saya kira tidak akan ada pemberontakan PRRI Permesta, seandainya sejarah mau jujur saya kira Teungku Daud Beureuh pun tak akan mengangkat senjata melawan Soekarno.

Perpecahan hanya terjadi jika pemerintah tidak mau jujur, despot, menipu rakyatnya, bertindak bak Marsose pada rakyat sendiri. Ketidak jujuran pemerintah akan menyebabkan ada rakyat yang merasa ditindas, dilecehkan, dan terhina.Harga diri yang terhinalah yang lebih banyak membuat pemberontakan terjadi, dibandingkan ketidak adilan.

Kita harus segera jujur

Perdebatan didunia maya pada akhirnya bermuara pada dua foto, foto istri Panglima Polem dan foto Cut Nyak Dien versi kilvt dan kita melupakan lukisan wanita bersanggul yang diklaim buku sejarah sekolah adalah lukisan Cut Nyak Dien. Lantas lukisan siapakah itu? Benarkah lukisan Cut Nyak Dien?Saya yakin itu bukan lukisan otentik Cut Nyak Dien, sebab ulama Aceh mengharamkan lukisan dan kapan Cut Nyak Dien sempat membuat lukisan dirinya?

cut-nyak-dhien

benarkah ini lukisan Cut Nyak Dien? siapa pelukisnya?

Saya ingat dalam sebuah berita diTv, ada berita yang mengabarkan polemik hak cipta gambar Sultan Mahmud Badaruddin II sultan Palembang, yang terdapat pada uang Rp.10.000,-. Pelukis wajah Sultan Palembang tersebut menuntut royalti lukisannya dari Bank Indonesia atas dimuatnya lukisan Sultan Mahmud Badaruddin II diuang cetakan Bank Indonesia. Sebenarnya bukan polemik itu yang membuat saya tertarik, dalam berita yang menerupai film dokumenter tersebut, sipelukis menceritakan dia melukis sang Sultan untuk mengikuti saimbara melukis wajah Sultan Mahmud Badaruddin II dan dia melukis bukan dari sebuah gambar atau foto asli Sultan, tapi dari deskripsi tentang wajah Sultan dan si pelukis sendiri tidak mengetahui pasti wajah Sultan seperti apa. Artinya lukisan tersebut tidak otentik gambaran wajah Sultan Badaruddin II sepenuhnya.

dari hal diatas, saya khawatir lukisan wanita bersanggul yang diklaim wajah Cut Nyak Dien oleh buku sejarah juga bukan lukisan otentik tapi lukisan hasil deskripsi. Kalau begitu lukisan itu adalah bohong adanya. Seperti saya katakan kita harus jujur, jikalau lukisan tersebut bukan lukisan otentik Cut Nyak Dien sejarawan harus jujur dan lukisan lebih baik dibuang dan ditinggalkan. Kalau memang tidak ada lukisan otentik tentang Cut Nyak Dien tak perlulah dipaksakan cukup tulisakan saja Cut Nyak Dien adalah Pahlawan nasional, wanita shalehah yang taat pada agamanya yang berjuang melawan penjajah kafir yang ingin memurtadkan bangsa Aceh, saya kira tidak akan ada lagi yang merasa dihinakan.

Tanpa Judul

Standar

Hujan, air kesunyian.
Gelap mendung dingin
Pepohonan yang basah
Gemericik air yang jatuh dari langit
Air mengalir sementara ayam menggigil disudut
Ranting yang bergoyang ditiup angin
Sementara kontrakan sunyi jauh dari cinta
Kubah mesjid hijau diujung jalan
Lalu hujan semakin deras
Disampingku ada buku sebagai teman
Ketika petir mengejutkan lamunan

Membaca “Asyi (aceh)” dan “Meuse (Mesir)” melalui Teungku Azmi Abubakar Mali

Standar

Teungku Azmi adalah abang, sekaligus guru bagi saya. Bukan cuma karena senior dahulu ketika diDayah (pondok pesantren) tapi karena banyak hal yang bisa diguguh dan ditiru dari sosok satu ini walaupun namanya belum banyak dikenal oleh masyarakat. Sebenarnya bukan tanpa alasan saya membubuhkan gelar “teungku” didepan nama abang saya tersebut, pembubuhan gelar tersebut adalah rasa takzim saya pada guru saya yang satu ini. teungku adalah gelar bagi orang yang alim dalam bidang agama diaceh, gelar bagi orang yang telah lulus dari Dayah, mampu membaca kitab kuning dan mampu untuk mengajarkannya. Dan saya yakin abang saya ini telah layak menyandangnya.

Para penuntut ilmu agama sering secara tidak langsung memakai kopiah sebagai marwah, sebagai bentuk penjagaan diri dari maksiat dan lebih dari itu sebagai bagian dari mengikut tradisi ulama (hal 27)
Beberapa minggu yang lalu bang Azmi mengirimi saya sebuah naskah novel yang beliau susun sendiri dari cairo sebab beliau adalah mahasiswa tingkat akhir universitas Al-Azhar Mesir, beliau mengirim naskah tersebut melalui akun facebook dimana kami sering berkomunikasi, Beliau megirim naskah novel tersebut untuk meminta komentar dan kritik saya terhadap novel yang beliau susun tersebut, padahal saya sendiri bukanlah orang yang faham apalagi mampu untuk mengeritik sebuah karya, karena beberapa bulan belakangan saya sendiri sibuk dengan urusan kuliah sehingga baru hari ini sempat untuk membacanya.

Sambil menjaga keponakan dan depot air isi ulang perlahan saya baca file microsof word sebanyak 133 halaman dengan spasi 2,0 dan font comic sans ms. Membacanya membuat imajinasi saya melayang meninggalkan Painan (Sumbar) tempat saya tinggal sekarang menuju banyak tempat. Pada lembaran awal saya seperti melayang menuju kota cairo saya seperti bertemu dengan orang mesir dan berbicara bahasa arab dengannya. Terbayang kembali cita-cita ketika didayah (pesantren) untuk bisa kuliah ditimur tengah, namun Allah memberi keputusan yang berbeda sehingga saya hanya mampu untuk belajar agama Islam didalam negri itupun dengan cara merangkak kesulitan.

Didalam bagian lain, dengan bahasa yang halus dan mengalir bang Azmi mampu menggiring imajinasi saya meninggalkan langit Painan (sumbar) menuju Aceh, beliau mengisahkan keindahan kampung halamannya di Aceh Pidie membacanya perlahan memori dikepala saya mengulang kembali rangkaian perjalanan hidup saya ketika bersekolah di Aceh, terbayang sawah yang hijau yang terbentang dibelakang asrama pondok, terbayang tempat dimana saya menyendiri ketika rindu kepada papa dan mama dimedan, terbayang kembali pada kecantikan gadis aceh yang alami seperti alam aceh yang indah. Membacanya membuat saya ingin pulang keaceh sekedar untuk bisa mengenang masa-masa bahagia diDayah.

Dihalaman awal sampai tengah novel ini tampak datar dan jauh dari konflik, bang azmi lebih banyak menceritakan tentang kampung halamnya tentang ayah yang menjadi inspirasi bagi kehidupannya ibu yang membimbingnya. Mengsahkan tentang kehidupannya didayah terutama dayah Jeumala Amal tempat dimana kami sama-sama pernah menuntut ilmu dan dikampus IAIN Arraniri tempat dimana bang Azmi sempat kuliah sebelum mengikuti seleksi beasiswa ke Universitas Al-Azhar mesir dan mengisahkan tentang aceh secara umum dan kritiknya terhadap masyarakat yang telah lalai pada agama.

Selainnya bang azmi menceritakan tentang mesir, mulai dari kehidupan masyarakatnya dan masalah politik yang berkembang dimesir. Bang azmi sendiri adalah saksi hidup ketika pristiwa Arab springs terjadi mulai dari lengsernya presiden Hosnie Mubarok dan kudeta terhadap Presiden Mursi sebab ketika peristiwa itu terjadi setahu saya bang Azmi barada dinegri Firaun tersebut.

Dinovel ini bang Azmi tegas mengeritik masyarakat indonesia yang sok tahu dengan apa yang terjadi dimesir, yang latah demo protes kesana kesini tanpa mengetahui permasalahan apa yang terjadi dinegri orang. Sehingga karena sikap latah tersebut menyusahkan masyarakat indonesia yang berada dimesir, sebab dianggap orang indonesia mencampuri urusan negara lain.
Dari sini saya lihat bang Azmi mencoba untuk bisa mendekatkan kembali antara Negri Mesir dan Aceh, ada beberapa bukti otentik yang dicantumkan bang Azmi untuk menunjukkan hubungan yang baik antara Mesir dan Aceh tempo dulu.

Konflik novel ini terjadi ketika Zaidul Fahmi mahasiswa Universitas Al-Azhar pulang ke aceh setelah menamatkan kuliahnya. Saya kira Zaidul adalah bang Azmi sendiri, sebab 98 persen kehidupan zaidul identik dengan kehidupan bang Azmi. Konflik ini berkisah tentang cinta segi tiga antara Zaid, Amru sahabat Zaid, dan Cut Buleun gadis yang dicintai oleh Zaid.
Ketika sampai pada bagian konflik ini saya jadi tesenyum-senyum sendiri membacanya. Cut Buleun membuat saya teringat pada seorang gadis didayah dahulu yang juga memiliki gelar “Cut’ paling tidak membuat saya bertanya-tanya dihati dimana gerangan dirinya kini. Cut adalah gelar bagi bangsawan Aceh dan biasanya mereka yang memiliki gelar ini cantik-cantik seperti Cut Nyak Dien. Apalagi diberi nama Buleun yang kalo tidak salah artinya Bulan.

NOVEL

Konfliknya bermula ketika Zaid ingin menemui Cut Buleun, namun ketika Zaid bertemu dengan Cut Buleun dirumahnya Cut Buleun tengah terbaring lemah karena sakit. Namun sakit yang dialami Cut Buleun bukan Sakit biasa, Cut Buleun di guna-guna oleh orang dan yang mengguna-gunai adalah Amru.
Amru sendiri adalah sahabat lama Zaid hal ini membuat marah zaid kepada Amru, dan ternyata setelah diselidiku Amru banyak melakukan kejahatan mulai dari menjadi pengedar ganja dan melakukan perampokan. Sehingga zaid yang mulanya marah pada sahabatnya justru menjadi kasihan pada Amru.
Bang Azmi cukup lihai mengakhiri, novel ini beliau menggantung andingnya sehingga tak tergambarkan akhir kisah cinta ini. namum saya yakin tidak ada satu orang tuapun diaceh yang menolak pinangan seorang teungku.

Sisi positif dari novel ini adalah bang Azmi tidak melupakan kealimannya dalam agama. Bebarapa waktu yang lalu saya pernah meminta nasehat dari beliau untuk menghilangkan kegundahan hati yang belakangan menghantui saya, membaca novel ini terasa bang azmi menasehati saya akan banyak hal, mulai dari pentingnya menuntut ilmu, bersabar dengan cobaan dan untuk tekun dan ikhlas beribadah pada Allah SubhanaWata’ala.

“Sebenarnya prestasi di kelas bukanlah segalanya, hanya keberkahan ilmu yang sangat penting. Bagaimana cara kita menghormati guru dan memuliakan ilmu tersebut. (hal 29)

Selain berisi dengan banyak unsur nasehat novel ini juga banyak bersisi dengan syair-syair yang indah, dimana sebagianya merupakan kutipan dari syair arab ini karena kemampuan bahasa Arab beliau yang bagus dan juga pemahaman beliau yang bagus tentang syair arab.

Kita Adalah Musafir Hidup
Matahari yang gagah berani itu
Datang pada puncak bukit
Menyapa bunga Zaitun yang ranum
Pada puncak bukit
Mata Zaitun dan matahari beradu (hal 113)

Kalu saya boleh memberi nilai buat novel ini saya akan beri nilai “Mumtaz” , saya dapetin naskah novel ini belum memiliki judul kalo saya boleh nyumbang ide buat novel ini saya berharap novel ini diberi judul “seberkas cahaya rembulan dilangit mesir” dan saya berharap ada penerbit yang mau menerbitkan novel ini, kalo tidak saya berharap ada inisiatif dari kawan-kawan alumni dayah jeumala amal terutama yang diposkadja untuk bisa membantu menerbitkannya secara independen (indi) ini adalah prestasi luar biasa dari lulusan dayah Jeumal Amal, mungkin kontribusi akhir dari saya sebuah desain cover untuk novelnya cover ini sebagai doa saya semoga novel ini segera bisa diterbitkan Aamiin.. “Allahualam bisshawab”.

Tertawan

Standar

matahari mulai merangkak kebrat
ketika induk ayam berkotek membawa anaknya masuk kekandang
sementara bulan mulai mencari tempat memamerkan cahayanya
menggoda pungguk yang selalu bermimpi menggapai rembulan.

sayup sayup jam dinding berdentang 12 kali
ketika aku tak mampu memejamkan mataku

disudut kamar aku sendiri dalam sepi
tertawan oleh rasa rindu.

ingin kumaki mata yang tak juga terlelap
tapi apa lacur hatipun tak ingin untuk tak memikirkannya.

images

ah,ternyata bukan hanya au semua organku tubuhku puntertawan

semakin cepat jam berputar semakin aku menjadi panik
bagaimana bisa ku usir bayangannya.

aku tak mau terjajah walau aku mencintainya…

Apa Mimpi ini Terlalu Dalam?

Standar

Angin berhembus menggulung ombak,
Menggoyangkan dahan cemara ditepi pantai
Dan terik metahari memerahkan pasir yang membentang.

Dua anak kecil berlari berkejaran dihadapanku,
Sementara aku berjalan dalam kesepian
Sambil menatap jauh keujung cakrawala dunia.

Hari menjelang petang perahu nelayan mulai berarak menuju lautan,
Kusaksikan tuhan tersenyum kepadaku dan menurunkan bidadarinya.
Aku tercekat, aku kaget terkejut, Apa mimpi ini terlalu dalam?

wandai

Suara kicau burung menggema
Sejenak kemudian dunia berubah
Sejuta bunga tumbuh dan mekar mengelilingiku
Bidadari itu melambai menampakkan kebaikan dan kebahagiaan
Menyapaku dengan sopan bak putri diistana raja, ia mendudukkanku
Diatas singgasana dan membisikkan kata kata cinta.

Malam menjelang ketika sayup – sayup terdengar kumandang azan
Dalam kemustahilan aku bertanya benarkah ini nyata???

Painan, 10 juli 2014