Teungku Azmi adalah abang, sekaligus guru bagi saya. Bukan cuma karena senior dahulu ketika diDayah (pondok pesantren) tapi karena banyak hal yang bisa diguguh dan ditiru dari sosok satu ini walaupun namanya belum banyak dikenal oleh masyarakat. Sebenarnya bukan tanpa alasan saya membubuhkan gelar “teungku” didepan nama abang saya tersebut, pembubuhan gelar tersebut adalah rasa takzim saya pada guru saya yang satu ini. teungku adalah gelar bagi orang yang alim dalam bidang agama diaceh, gelar bagi orang yang telah lulus dari Dayah, mampu membaca kitab kuning dan mampu untuk mengajarkannya. Dan saya yakin abang saya ini telah layak menyandangnya.

Para penuntut ilmu agama sering secara tidak langsung memakai kopiah sebagai marwah, sebagai bentuk penjagaan diri dari maksiat dan lebih dari itu sebagai bagian dari mengikut tradisi ulama (hal 27)
Beberapa minggu yang lalu bang Azmi mengirimi saya sebuah naskah novel yang beliau susun sendiri dari cairo sebab beliau adalah mahasiswa tingkat akhir universitas Al-Azhar Mesir, beliau mengirim naskah tersebut melalui akun facebook dimana kami sering berkomunikasi, Beliau megirim naskah novel tersebut untuk meminta komentar dan kritik saya terhadap novel yang beliau susun tersebut, padahal saya sendiri bukanlah orang yang faham apalagi mampu untuk mengeritik sebuah karya, karena beberapa bulan belakangan saya sendiri sibuk dengan urusan kuliah sehingga baru hari ini sempat untuk membacanya.

Sambil menjaga keponakan dan depot air isi ulang perlahan saya baca file microsof word sebanyak 133 halaman dengan spasi 2,0 dan font comic sans ms. Membacanya membuat imajinasi saya melayang meninggalkan Painan (Sumbar) tempat saya tinggal sekarang menuju banyak tempat. Pada lembaran awal saya seperti melayang menuju kota cairo saya seperti bertemu dengan orang mesir dan berbicara bahasa arab dengannya. Terbayang kembali cita-cita ketika didayah (pesantren) untuk bisa kuliah ditimur tengah, namun Allah memberi keputusan yang berbeda sehingga saya hanya mampu untuk belajar agama Islam didalam negri itupun dengan cara merangkak kesulitan.

Didalam bagian lain, dengan bahasa yang halus dan mengalir bang Azmi mampu menggiring imajinasi saya meninggalkan langit Painan (sumbar) menuju Aceh, beliau mengisahkan keindahan kampung halamannya di Aceh Pidie membacanya perlahan memori dikepala saya mengulang kembali rangkaian perjalanan hidup saya ketika bersekolah di Aceh, terbayang sawah yang hijau yang terbentang dibelakang asrama pondok, terbayang tempat dimana saya menyendiri ketika rindu kepada papa dan mama dimedan, terbayang kembali pada kecantikan gadis aceh yang alami seperti alam aceh yang indah. Membacanya membuat saya ingin pulang keaceh sekedar untuk bisa mengenang masa-masa bahagia diDayah.

Dihalaman awal sampai tengah novel ini tampak datar dan jauh dari konflik, bang azmi lebih banyak menceritakan tentang kampung halamnya tentang ayah yang menjadi inspirasi bagi kehidupannya ibu yang membimbingnya. Mengsahkan tentang kehidupannya didayah terutama dayah Jeumala Amal tempat dimana kami sama-sama pernah menuntut ilmu dan dikampus IAIN Arraniri tempat dimana bang Azmi sempat kuliah sebelum mengikuti seleksi beasiswa ke Universitas Al-Azhar mesir dan mengisahkan tentang aceh secara umum dan kritiknya terhadap masyarakat yang telah lalai pada agama.

Selainnya bang azmi menceritakan tentang mesir, mulai dari kehidupan masyarakatnya dan masalah politik yang berkembang dimesir. Bang azmi sendiri adalah saksi hidup ketika pristiwa Arab springs terjadi mulai dari lengsernya presiden Hosnie Mubarok dan kudeta terhadap Presiden Mursi sebab ketika peristiwa itu terjadi setahu saya bang Azmi barada dinegri Firaun tersebut.

Dinovel ini bang Azmi tegas mengeritik masyarakat indonesia yang sok tahu dengan apa yang terjadi dimesir, yang latah demo protes kesana kesini tanpa mengetahui permasalahan apa yang terjadi dinegri orang. Sehingga karena sikap latah tersebut menyusahkan masyarakat indonesia yang berada dimesir, sebab dianggap orang indonesia mencampuri urusan negara lain.
Dari sini saya lihat bang Azmi mencoba untuk bisa mendekatkan kembali antara Negri Mesir dan Aceh, ada beberapa bukti otentik yang dicantumkan bang Azmi untuk menunjukkan hubungan yang baik antara Mesir dan Aceh tempo dulu.

Konflik novel ini terjadi ketika Zaidul Fahmi mahasiswa Universitas Al-Azhar pulang ke aceh setelah menamatkan kuliahnya. Saya kira Zaidul adalah bang Azmi sendiri, sebab 98 persen kehidupan zaidul identik dengan kehidupan bang Azmi. Konflik ini berkisah tentang cinta segi tiga antara Zaid, Amru sahabat Zaid, dan Cut Buleun gadis yang dicintai oleh Zaid.
Ketika sampai pada bagian konflik ini saya jadi tesenyum-senyum sendiri membacanya. Cut Buleun membuat saya teringat pada seorang gadis didayah dahulu yang juga memiliki gelar “Cut’ paling tidak membuat saya bertanya-tanya dihati dimana gerangan dirinya kini. Cut adalah gelar bagi bangsawan Aceh dan biasanya mereka yang memiliki gelar ini cantik-cantik seperti Cut Nyak Dien. Apalagi diberi nama Buleun yang kalo tidak salah artinya Bulan.

NOVEL

Konfliknya bermula ketika Zaid ingin menemui Cut Buleun, namun ketika Zaid bertemu dengan Cut Buleun dirumahnya Cut Buleun tengah terbaring lemah karena sakit. Namun sakit yang dialami Cut Buleun bukan Sakit biasa, Cut Buleun di guna-guna oleh orang dan yang mengguna-gunai adalah Amru.
Amru sendiri adalah sahabat lama Zaid hal ini membuat marah zaid kepada Amru, dan ternyata setelah diselidiku Amru banyak melakukan kejahatan mulai dari menjadi pengedar ganja dan melakukan perampokan. Sehingga zaid yang mulanya marah pada sahabatnya justru menjadi kasihan pada Amru.
Bang Azmi cukup lihai mengakhiri, novel ini beliau menggantung andingnya sehingga tak tergambarkan akhir kisah cinta ini. namum saya yakin tidak ada satu orang tuapun diaceh yang menolak pinangan seorang teungku.

Sisi positif dari novel ini adalah bang Azmi tidak melupakan kealimannya dalam agama. Bebarapa waktu yang lalu saya pernah meminta nasehat dari beliau untuk menghilangkan kegundahan hati yang belakangan menghantui saya, membaca novel ini terasa bang azmi menasehati saya akan banyak hal, mulai dari pentingnya menuntut ilmu, bersabar dengan cobaan dan untuk tekun dan ikhlas beribadah pada Allah SubhanaWata’ala.

“Sebenarnya prestasi di kelas bukanlah segalanya, hanya keberkahan ilmu yang sangat penting. Bagaimana cara kita menghormati guru dan memuliakan ilmu tersebut. (hal 29)

Selain berisi dengan banyak unsur nasehat novel ini juga banyak bersisi dengan syair-syair yang indah, dimana sebagianya merupakan kutipan dari syair arab ini karena kemampuan bahasa Arab beliau yang bagus dan juga pemahaman beliau yang bagus tentang syair arab.

Kita Adalah Musafir Hidup
Matahari yang gagah berani itu
Datang pada puncak bukit
Menyapa bunga Zaitun yang ranum
Pada puncak bukit
Mata Zaitun dan matahari beradu (hal 113)

Kalu saya boleh memberi nilai buat novel ini saya akan beri nilai “Mumtaz” , saya dapetin naskah novel ini belum memiliki judul kalo saya boleh nyumbang ide buat novel ini saya berharap novel ini diberi judul “seberkas cahaya rembulan dilangit mesir” dan saya berharap ada penerbit yang mau menerbitkan novel ini, kalo tidak saya berharap ada inisiatif dari kawan-kawan alumni dayah jeumala amal terutama yang diposkadja untuk bisa membantu menerbitkannya secara independen (indi) ini adalah prestasi luar biasa dari lulusan dayah Jeumal Amal, mungkin kontribusi akhir dari saya sebuah desain cover untuk novelnya cover ini sebagai doa saya semoga novel ini segera bisa diterbitkan Aamiin.. “Allahualam bisshawab”.

Tertawan

Posted: Agustus 12, 2014 in Uncategorized

matahari mulai merangkak kebrat
ketika induk ayam berkotek membawa anaknya masuk kekandang
sementara bulan mulai mencari tempat memamerkan cahayanya
menggoda pungguk yang selalu bermimpi menggapai rembulan.

sayup sayup jam dinding berdentang 12 kali
ketika aku tak mampu memejamkan mataku

disudut kamar aku sendiri dalam sepi
tertawan oleh rasa rindu.

ingin kumaki mata yang tak juga terlelap
tapi apa lacur hatipun tak ingin untuk tak memikirkannya.

images

ah,ternyata bukan hanya au semua organku tubuhku puntertawan

semakin cepat jam berputar semakin aku menjadi panik
bagaimana bisa ku usir bayangannya.

aku tak mau terjajah walau aku mencintainya…

Apa Mimpi ini Terlalu Dalam?

Posted: Juli 10, 2014 in Uncategorized

Angin berhembus menggulung ombak,
Menggoyangkan dahan cemara ditepi pantai
Dan terik metahari memerahkan pasir yang membentang.

Dua anak kecil berlari berkejaran dihadapanku,
Sementara aku berjalan dalam kesepian
Sambil menatap jauh keujung cakrawala dunia.

Hari menjelang petang perahu nelayan mulai berarak menuju lautan,
Kusaksikan tuhan tersenyum kepadaku dan menurunkan bidadarinya.
Aku tercekat, aku kaget terkejut, Apa mimpi ini terlalu dalam?

wandai

Suara kicau burung menggema
Sejenak kemudian dunia berubah
Sejuta bunga tumbuh dan mekar mengelilingiku
Bidadari itu melambai menampakkan kebaikan dan kebahagiaan
Menyapaku dengan sopan bak putri diistana raja, ia mendudukkanku
Diatas singgasana dan membisikkan kata kata cinta.

Malam menjelang ketika sayup – sayup terdengar kumandang azan
Dalam kemustahilan aku bertanya benarkah ini nyata???

Painan, 10 juli 2014

Ketika Perahu Berlabuh

Posted: Mei 4, 2014 in Uncategorized

DSC_2052 2 copy

Ketika perahu berlabuh
Tampaklah nyiur melambai lembut menyambut
Seketika itu pula aku butuh akan cahaya
Sebab telah tiba malam gelap

Jalan telah tampak kabur
Hanya tampak mata burung hantu yang menatap curiga
Lantas kau datang membawa cahanya dalam hatimu
Tapi kau tampak tak sungguh untuk memberi cahaya itu

Aku hanya bisa meraba
merasakan semua yang tak pasti
perlahan aku merasa ragu
mengapa cahayamu tampak meredup?

Painan, 4 mei 14 20:23

anak kemenakan

Judul buku: Anak Kemenakan
Pengarang: Marah Rusli
Cetakan : keempat 208
Halaman: 332 hal
Penerbit : Balai Pustaka

Ketika mengakhiri novel ini tersimpul kesimpulan ini merupakan salah satu roman yang kisah didalamnya berakhir dengan happy anding. Sebab kalau dilihat beberapa roman klasik kebanyakan kisah didalamnya berakhir tragis, dimana dari awal telah mengisahkan kehidupan sepasang kekasih yan g hidup dirundung malang tiada berkesudahan seperti Roman Siti Nurbaya atau roman Tenggalamnya Kapal Vander Wijk.

Tidak jauh beda dengan karya Marah Rusli yang lain yaitu Roman Sitti Nurbaya. Roman ini juga berlatar kota padang dengan adat dan budaya Minangkabaunya, dan masih berisi keritik terhdap adat dan budaya kolot yang dipegang teguh oleh golongan tua dan mendukung keterbukan adat dan budaya yang dipraktekkan kaum muda.
Roman ini mengisahkan tentang Yatim, seorang pemuda padang anak dari Sutan Alamsyah Hopjaksa kota padang yang baru menyelesaikan studi doktoralnya dinegara belanda. pendidikannya yang tinggi membuat yatim disegani dan dibanggakan orang tuanya maka, telah sepakatlah orang tua Yatim yaitu Sutan Alamsyah untuk enikahkan yatim dengan Puti Bidasari kemenakannya yang juga dia rawat sejak kecil bersama Yatim dirumahya.

Ketinggian strata pendidikan yang dimiliki yatim membuat Baginda Mais seorang pengusaha sukses dikota padang menginginkan yatim untuk menjadi menantunya agar Yatim menikah dengan putrinya Puti Nurmala, baginda Mais berharap dengan bermantukan Yatim bisa mengangkat derajatnya semakin tinggi dikota padang dan dirinya semakin terpandang dikalangan pembesar kota padang. Namun ayah yatim tidak setuju karena mereka ingin menjodohkan yatim dengan Puti bidasari, dan sebenarnya Yatim sendiri tidak berkenan untuk menikahi Puti Nurmala anak Baginda Mais sebab Puti Nurmala sudah memiliki tambatan hati yaitu dr .Aziz.

Dari penolakan ini Baginda Mais bersiasat untuk menikahkan dahulu Puti bidasari dengan orang lain, agar Yatim tidak bisa menikah dengan Puti Bidasari, untuk itu dia mendatangi Putri Renosari dan Sutan Baheram yang merupakan orang tua dari Puti Bidasari. Putri Renosari kaget ketika mendengar bahwa putri mereka semata wayang akan ditunangkan oleh adiknya Sutan Alamsyah dengan Yatim. Putri Renosari yang mengetahui latar belakang yatim yang hanya anak angkat dari Sutan Alamsyah spontan menolak. latar belakang yatim dari rakyat jelata anak dari sais pedati walaupun strata pendidikannya tinggi tidak pantas bersanding dengan Puti Bidasari yang berasal dari bangsawan.

Untuk memuluskan rencana ini Baginda Mais mengusulkan agar Puti Renosari dan Sutan Baheram menikahkan Puti Bidasari dengan Sutan Malik yang merupakan kemenakan dari Sutan Pamenan yang juga tinggi derajat sukunya.
Sutan Pemenan sendiri termasuk golongan tua yang kuat memegang adat, kehidupannya tidak lepas dari kawin cerai, berjudi, menyabung ayam dan berdukun bersama sahabatnya yang juga pendekar yaitu Datuk Gampo Alam. Sutan Pamenan sangat memanjakan kemenakannya Sutan Malik melebihi anaknya sendiri, sebab menurut adat minang yang dipegang dan difahami oleh Sutan Pemenan kemenakan dibimbing anak dipangku.

Sutan Malik yang sangat dimanjakan oleh pamannya pada akhirnya menjadi masalah tersendiri pada Sutan Pemenan, pada hari raya idul firti Sutan malik membakar rumah tetangganya dengan mercon sebab Sutan Malik geram pada tetangganya yang mengalahkannya pada perang mercon. Pada kebakaran tersebut ada pula satu orang yang tewas.
Kebiasaan Sutan Pamenan yang suka kawin cerai mengikuti adat ketika itu yang mengatakan bahwa aib bagi seorang bangsawan memiliki satu istri juga turut menjadi masalah bagi Sutan Pamenan, dan hal ini merupakan salah satu yang menjadi keritik dari Marah Rusli dalam roman ini. suatu hari ketika perayaan hari raya Puti Nurmala berjalan – jalan kepasar melihat keramaian pasar pada hari raya ketika melewati satu tempat sabung ayam terlihatlah Puti Nurmala yang memakai banyak perhiasan Oleh mak uning salah satu parewa yang menjadi musuh dari Sutan Pamenan dan Datuk Gampo Alam.

Ketika mak uning kalah dalam perjuadian berniatlah ia untuk mencuri perhiasan Puti Nurmala untuk berjudi lagi namun naas bagi Mak uning dia tertangkap dan diajukan kepengadilan yang hakimnya adalah Yatim,Ketika dipengadilan terungkapalah bahwa mak uning merupakan anak dari Sutan Pamenan begitu juga Puti Nurmala hanya keduanya lain ibu.

Ketika hari pernikahan antara pasangan Yatim Puti Nurmala dan pasangan Sutan Malik dan Puti Bidasari semakin dekat maka mereka mencari siasat agar bisa membatalkan pernikahan tersebut. dr aziz yang mengetahui hal ikhwal terbakarnya rumah dari tetangga Sutan Pamenan merasa memiliki kartu truf untuk membatalkan pernikahan tersebut.
Tepat pada hari pernikahan ketika memplelai akan melaksanakan ijab kabul maka dr. Aziz datang kesana meminta Sutan Pamenan untuk membatalkan pernikahan tersebut atau dia akan membawa aziz kepengadilan dimana dipengadilan bisa saja Sutan Malik diputuskan bersalah dan dihukum gantung. Takut akan hal tersebut maka Sutan Pamenan membatalkan pernikahan tersebut.

Sesuai dengan perjanjian antara Sutan Alamsyah dan Baginda Mais jika pernikahan antara Sutan malik dan Puti Nurmala batal maka batal pula pernikahan Yatim dan Puti nurmala akhirnya untuk menghindarkan malu bagi Baginda Mais majulah dr.Aziz menggantikan Yatim.
Pada suatu hari datanglah sepasang bangsawan dari Indra Pura kekota padang yang ingin mencari keluarganya yang melarikan diri dari Indra Pura karena bersengketa masalah harta. Bangsawan itu bernama Sutan Ali Akbar sementara saudaranya yang dicari adalah Sutan Ali Rasyid.
Ketika Sutan Ali Akbar melihat cincin yang dipakai yatim, terkejutlah ia. Sebab cincin yang digunakan oleh yatim sama dengan yang dipakai olehnya. Maka heranlah Sutan Ali Akbar dan bertanya dari mana Yatim mendapatkan cincin itu. Maka diceritakanlah oleh Sutan Alamsyah bahwa Yatim bukanlah anaknya tapi anak angkat yan g dia pungut dari tukang pedati malim batuah.

Oleh karena itu dicarilah Malim Batuah sebab dialah yang tahu pasti bagaimana riwayat cincin yang bersama yatim. Dari cerita Malim Batuahlah terungkap jika Yatim merupakan cucu dari Sutan ali rasyid sebab ketika Sutan Ali Rasyid lari dari Indra Pura membawa seorang putri, ketiak sutan Ali Rasyid wafat putri tersebut dinikahi oleh Sutan Pamenan. Oleh karena itu sebenarnya Yatim adalah orang yang berbangsa pula.

Setelah terbuka tabir akan riwayat hidup Yatim bahagialah Sutan Alamsyah sebab cita – citanya untuk mempersatukan Yatim dan Puti Bidasari terbuka pula. Begitu juga yatim senanglah setelah dia mengetuahui latar belakang dirinya.
Dari sana Yatim mendatangi Sutan Pamenan untuk menunjukkan bahwa Sutan Pamenanlah ayah kandung Yatim, mendengar hal itu meyesallah Sutan Pamenan akan kelakuaannya dulu dan iapun bertaubat. Setelah itu dikala mulai sakit- sakitan Sutan Pamenan mengirim surat untuk meminang Puti Bidasari buat anaknya Yatim namun sebelum maksudnya untuk meminang secara langsung terwujud wafat pula Sutan Pamenan karena dibunuh Sutan malik yang ingin menguasai harta pusaka keluarga. Ketika dihadapkan dipengadilan Sutan Malikpun divonis hukum buangan dinusa kambangan.
Setelah masa berkabung sampailah cita – cita Yatim untuk bersanding dengan Puti Bidasari. Dan kisah ini berakahir bahagia.

Roda-Roda Gila

Posted: Mei 4, 2014 in Uncategorized

Syafak merah perlahan mulai menghilang diufuk barat, mengikuti gerak jamaah magrib dimesjid – mesjid. Satu persatu kerlip bintang mulai muncul membentuk rasinya sebagai penunjuk arah bagi pelaut, malam yang cerah pertanda akan datangnya rizki yang baik bagi mereka. Mesin diesel untuk penggerak generator mulai meraung lampu – lampu yang berwarna warni mulai bercahaya dan bianglala yang jangkung besar mulai berputar.

DSC_0130 copy

Tidak berapa lama setelah salat magrib usai dimesjid, beberapa pengunjung mulai berdatangan, diloket penjualan tiket pengunjung mulai antri satu persatu. setelah membayar tiket seharga lima ribu rupiah, pengunjung menaiki arena pertunjukan berbentuk seperti tong air yang besar kira – kira berdiameter 10m, dibagian luar tong raksasa tadi ada gambar dua motor yang gahar dengan sebuah tulisan yang mencolok “roda – roda gila”

Didalam arena ada dua motor berspesifikasi mesin 2 tak yang tak berusia muda lagi, sebelum pertunjukan dimulai seorang teknisi mengecek mesin motor setelah itu masuk dua orang pemain atraksi lansung menghidupkan motor yang telah siap untuk digunakan. Motor 2 tak tanpa knalpot meraung memekak telinga, setelah pengunjung telah penuh mengelilingi arena dua pengendara motor memulai aksinya, dua motor tadi berputar melawan gaya grafitasi mengikuti gaya sentrifugal berjalan didinding tong rasasa seperti kelareng yang diputar didalam mangkok bisa berjalan dibawah mangkok dan naik sampai mendekati bibir mangkok yang paling atas.
Menambah semarak pertunjukan salah seorang pengendara melepaskan dua tangannya sehingga motor berjalan tanpa kendali, seorang lainnya menyambar uang yang disodorkan penonton yang sebenarnya sangat berbahaya. Setelah sepuluh menit berputar-putar mengelilingi dinding tong raksasa dua motor tadi mulai melambat dan mulai turun kedasar tong yang berarti menandakan pertunjukan berakhir, tanpa tepuk tangan satu persatu penonton turun meninggalkan arena.

DSC_0173 copy

***

Dalam sebuah talkshow diTv ada seorang incumben calon anggota legislatif yang kemungkinan gagal untuk kembali menduduki kursi DPRRI berbicara tentang masifnya kecurangan dan politk uang dalam pileg tahun 2014 yang baru saja berlangsung, caleg tersebut mengeluhkan bahwa kegagalannya dalam pileg karena lawannya menggunakan politik uang dan dia mengungkapkan bahwa sifat pemilih saat ini prakmatis memilih anggota legislatif bukan karena prestasi, kapabilitas dan kualitas sicalon, tapi karena jumlah uang yang berani diberikan oleh caleg yang bertarung dalam pileg.

Sebenarnya caleg incumben tersebut tidak asing buat saya sebab dia maju dari daerah pemilihan dimana saya tinggal saat ini, bahkan beberapa bulan sebelum pileg saya pernah menghadiri kegiatan yang dia adakan oleh caleg tersebut dalam rangka menampung aspirasi masyarakat didaerah pemilihan pada masa reses. Ketika caleg tersebut berbicara mengenai masifnya politik uang pada pileg baru saja berlangsung saya dalam hati saya tersenyum sebab setelah kegiatan menampung aspirasi yang dilakukan caleg tersebut selesai dia membagikan amplop berisi uang seratus ribu rupiah beserta sembako dan kaos bergambar caleg tersebut kepada seluruh peserta yang hadir. Walaupun caleg tersebut mengatakan bahwa uang yang dia bagikan hanya uang transport tapi masyarakat juga faham dengan uang itu sicaleg berharap masyarakat memilih dia.

Didalam sebuah talksow lain ada seorang incumbem yang juga kecewa dengan pileg kali ini, dia merasa dicurangi tidak saja oleh lawan beda partai bahkan oleh teman separtainya. Dalam talkshow tersebut dia membeberkan bagaimana proses kecurangan ini terjadi dan bagaimana masifnya politik uang yang terjadi dalam pileg. Dan kembali lagi saya tersenyum kecut ketika dengan lugunya sicaleg mengatakan dia menghabiskan dana 1,5 milyar selama kampanye. Ketika itu saya coba menerka dan berfikir mungkinkah 1,5 milyar hanya untuk biaya transportasi?

***

Ketika penonton mulai turun satu – persatu saya melihat kebagian bawah tong raksasa, beberapa kru atraksi memasuki tong raksasa tersebut, kemudian saya rogoh isi kantong dan saya lempar selembar uang yang mungkin tidak seberapa. Saya melempar uang bukan karena sombong atau saya punya uang lebih tapi pertama, menurut saya tiket lima ribu rupiah terlalu murah buat resiko dari atraksi yang mereka lakukan. Kedua, saya ingin memberikan penghargaan kepada mereka yang bekerja dengan cara yang jujur bukan bekerja mengumpulkan harta dengan cara curang (korupsi).

DSC_0121

Menurut saya penghargaan buat mereka itu penting, saya merasa tidak enak hati ketika ada penonton yang menyodorkan uang ketika pertunjukan berlangsung walaupun menambah seru atraksi dan semakin memacu adrenalin bagi saya itu sangat berbahaya sekali. Kadang saya heran dengan masyarakat bawah, seharusnya kita sesama akar rumput harus saling mendukung, saling menghormati dan saling menjaga. ketika ada penonton yang menyodorkan uang untuk disambar oleh pemain atraksi roda-roda gila saya merasa masyarakat lebih suka kalau yang sesamanya terluka dan menderita. Sebaliknya masyarakat kita tidak tega kalau ada pejabat yang terang-terang divonis korupsi untuk dihukum pancung.

***

Berbicara tentang harga-menghargai saya teringat kepada caleg incumben yang gagal tadi. Ketika sicaleg datang kedaerah pemilihan masyarakat memberi penghargaan yang besar kepada caleg tersebut, menyambut dengan baik dan menyampaikan permasalahan yang terjadi dimasyarakat daerah dengan sopan walaupun setelah sicaleg pulang masyarakat mencaci maki caleg tersebut sebab setelah empat tahun duduk diDPRRI baru mengunjungi daerah pemilihannya ketika mendekati pemilu.

Saya juga teringat –masih tentang penghargaan- ketika bersama teman kongkow diwarung kopi, ketika itu datang sebuah mobil yang relatif mahal dikendarai seorang oknum polisi, ketika polisi tadi datang teman saya membisikkan polisi tadi suka memalak pengendara yang tidak melengkapi syarat berkendara dipinggir jalan. Tapi diwarung kopi tadi saya melihat oknum tadi sangat dihormati dilayani dan dituankan.

Saya melihat masyarakat kita tampak aneh, kita tidak pernah menghargai orang yang berjuanga untuk hidup dengan cara yang baik, terkadang kita justru mencemoohnya. Pada sisi yang yang berbeda kita menyanjung dan memuji orang yang kita tahu, kita kenal selalu melakukan kecurangan untuk memperkaya diri. Seharusnya masyarakat harus memberi sangsi sosial kepada orang yang melakukan kecurangan, dijauhin dan asingkan agar dia sadar dengan kesalahannya. Seandainya masyarakat kita mau melakukan hal demikian saya kira perlahan budaya korupsi akan hilang.

Pada awalnya saya tidak tahu kemana ujung tulisan ini, ketika terbayang pemain akrobat roda-roda gila dan caleg yang gagal timbul pertanyaan dikepala saya “atas dasar apa masyarakat kita saling menghargai?” dan satu jawaban yang saya takutkan dari pertanyaan diatas adalah “uang, pangkat dan jabatan” semoga saja tidak.
Painan, 4 mei 2014 15:30.

Secara tak sengaja karena bosan dengan acara tv yang isinya itu – itu saja saya pindahkan chanel remot tv saya ke chanel frekuensi metro tv berharap bisa menemukan informasi atau diskusi – diskusi yang menarik dimetro tv. Kemudian terpamapanglah sebuah mukhadimah sebuah film dokumenter dari acara melawan lupa yang judulnya Kerajaan Lamuri.

href=”http://puncakniskala.files.wordpress.com/2014/01/6218808.jpg”>6218808

Sebenarnya saya termasuk orang yang mencintai sejarah aceh, karena saya sendiri sebenarnya keturunan aceh yang lahir dan besar diluar aceh. Ketika saya melihat tanyangan ini saya fikir ini salah satu kampanye dari kawan – kaawan pemerrhati sejarah dan kebudayaan diaceh agar masyarakat dan pemerintah bisa melindungi situs – situs sejarah peninggalan kerajaan Lamuri. Sebab ada keinginan segelintir orang yang menginginkan tanah dibawah situs kerajaan lamuri dijadikan lapangan Golf ( semoga tidak pernah terwujud).Kalaulah niatan buruk itu terlaksana hanya ada satu kata untuk hal itu yaitu masyarakat aceh akan terputus dari rantai sejarahnya, karena cikal bakal kerajaan aceh darusalam yang agung dari lamurilah asalnya.

Sebenarnya saya berharap ada penelitian komprehensip tentang keraajan ini dari baik itu dari segi arkeologi maupun catatan sejarahnya. Karena menurut saya kehidupan masyrakat dan budayaan masyarakat lamuri sangat penting dielajari, sebab dikerajaan lamurilah pertama sekali terjadi persentuhan antara budaya lokal, hindu budda yang berasal dari india dan islam yang datang dari arab itu terjadi. Hal ini terlihat dari bentuk nisan dari makam makam yang terdapat pada situs kerajaan lamuri tersebut.
Asumsi saya mengatakan besar kemungkinan usia kerajaan lamuri lebih tua dibanding kerajaan Samudra Pasai ataupun Perlak. Saya akan kutip secara utuh apa yang ditulis Denis Lobard dalam bukunya sejarah aceh tentang Lamuri menurut kronik cina dan arab.
“Sedini abad ke-6 Sejarah dinasti Liang sudah banyak membicarakan kerajaan poli yang menurut sebagian orang sama dengan sebelah utara sumatra. Mulai abad ke-9 beberapa teks Arab menyebut sebuah daerah yang bernama “Rami” atau “ Ramni” atau kadang – kadang “Lambri”, yang kira – kira letaknya disana juga.”
Kalau melihat catatan ini artinya kerajaan lamuri atau poli sudah berdiri sejak abad ke-6. Lebih lanjut dalam catatan kaki pada bukunya Denys Lombard menyebutkan bahwa raja dari kerajaan poli beragama Budda.

201303190908051

Masih didalam bukunya Denys Lombard pada sebuah catatan kaki dimana denys juga mengutup dari J. Sauvaget dengan buku Relation de la chine et de i’Inde dimana buku ini sendiri dikarang tahun 851. “ dilaut apabila kita berlayar ke cylon ada pulau – pulau yang tidak banyak jumlahnya, tetapi besar – besar; tak ada keterangan lbih lanjut mengenai pulau – pulau tersebut; diantaranya ada sebuah yang dinamakan Lambri yang mempunyai beberapa raja, luasnya katanya 8 atau 900 parasanges (persegi). Emasnya banyak dan ada satu tempat yang dinamakan fantsur (baros) yang menghasilakan banyak kamper yang bermutu baik. Pulau – pulau tadi menguasai pulau – pulau lain disekitarnya, ada satu yang namanya Niyan (nias sekarang). Emas dipulau itu banyak. Makanannya kelapa yang dipakai penyedap dan salep. Dipulau itu (Lambri) ada banyak gajah; ada kayu sapang, bambu dan suatu suku yang makan orang (kanibal). Pulau itu dibatasi dua laut: laut harkand dan selat.

Kalau melihat tahun ditulisnya catatan ini yang bertarikh 851 artinya Lamuri sudah berdiri sebelum abad ke-8.
Pada akhir abad ke-13 marcopolo singgah dipelabuhan – pelabuhan bagian utara sumatra dan memberitakan terdapatnya Agama Islam dalam pelabuhan dagang yang namanya disebut olehnya yaitu: ferlec, basman, sumatra, dagroian, lambri, dan fansur. Pada tahun 1365 negarakartagama menyebut Tamiang, perlak, samudra, lamuri, barus, dan barat diantara kota – kota yang “setia” pada majapahit.
Dari catatan marcopolo ini kita dapati pada abad 13 islam telah hadir diLamuri artinya telah terjadi asimilasi dan perubahan keyakinan masyarakat.

pada akhirnya sendiri kerajaan lamuri melebur dalam kerajaan Aceh Darussalam mengikuti perkembangan dan kemajuan yang gemilang dari kerajaan aceh. Tom pires menyebutkan “ achey adalah negerri pertama dipantai pulau sumatra yang menghadap selat, dan Lambri terletak tepat disebelahnya dan meluas kepedalaman. Tanah biar letaknya diantara Aceh dan pidir daerah – daerah ini takluk kepada raja Aceh yang memerintah mereka dan merupakan raja satu – satunya. Raja itu beragama islam dan gagah perkasa diantara tetangganya.”

Dari bukti arkeologis disitus kerajaan Lamuri ditemukan banyak nisan dari makam – makam raja yang memerintah dilamuri dari ke-28 batu nisan tersebut diperoleh sebanyak 10 raja yang memerintah Lamuri, 8 orang bergelar malik dan 2 orang bergelar sultan.
• Malik Syamsuddin (wafat 822 H)
• Malik ‘Alawuddin (wafat 822 H)
• [Malik?] Muzhhiruddin (wafat 832 H)
• Sultan Muhammad bin ‘Alawuddin (wafat 834 H)
• Malik Nizar bin Zaid (wafat 837 H)
• Malik Zaid (bin Nizar?) (wafat 840 H)
• Malik Jawwaduddin (wafat 842 H)
• Malik Zainal ‘Abidin (wafat 845 H?)
• Malik Muhammad Syah (wafat 848 H)
• Sultan Muhammad Syah (wafat 908 H?)

Di Lam Reh terdapat makam Sultan Sulaiman bin Abdullah (wafat 1211), penguasa pertama di Indonesia yang diketahui menyandang gelar “sultan”. Penemuan arkeologis pada tahun 2007 mengungkapkan adanya nisan Islam tertua di Asia Tenggara yaitu pada tahun 398 H/1007 M. Pada inskripsinya terbaca: Hazal qobri [...] tarikh yaumul Juma`ah atsani wa isryina mia Shofar tis`a wa tsalatsun wa tsamah […] minal Hijri. Namun menurut pembacaan oleh peneliti sejarah Samudra Pasai, Teungku Taqiyuddin Muhammad, nisan tersebut berangka tahun 908 H atau dari abad ke-15.

tulisan ini berdasarkan buku kerajaan Aceh zaman Iskandar Muda(1607-1636) Denys lombard

http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Lamuri<a