jalan baru

Gambar  —  Posted: September 19, 2014 in Uncategorized

CSC_0438

Gambar  —  Posted: September 19, 2014 in Uncategorized

Tanpa Judul

Posted: September 19, 2014 in Uncategorized

Hujan, air kesunyian.
Gelap mendung dingin
Pepohonan yang basah
Gemericik air yang jatuh dari langit
Air mengalir sementara ayam menggigil disudut
Ranting yang bergoyang ditiup angin
Sementara kontrakan sunyi jauh dari cinta
Kubah mesjid hijau diujung jalan
Lalu hujan semakin deras
Disampingku ada buku sebagai teman
Ketika petir mengejutkan lamunan

Teungku Azmi adalah abang, sekaligus guru bagi saya. Bukan cuma karena senior dahulu ketika diDayah (pondok pesantren) tapi karena banyak hal yang bisa diguguh dan ditiru dari sosok satu ini walaupun namanya belum banyak dikenal oleh masyarakat. Sebenarnya bukan tanpa alasan saya membubuhkan gelar “teungku” didepan nama abang saya tersebut, pembubuhan gelar tersebut adalah rasa takzim saya pada guru saya yang satu ini. teungku adalah gelar bagi orang yang alim dalam bidang agama diaceh, gelar bagi orang yang telah lulus dari Dayah, mampu membaca kitab kuning dan mampu untuk mengajarkannya. Dan saya yakin abang saya ini telah layak menyandangnya.

Para penuntut ilmu agama sering secara tidak langsung memakai kopiah sebagai marwah, sebagai bentuk penjagaan diri dari maksiat dan lebih dari itu sebagai bagian dari mengikut tradisi ulama (hal 27)
Beberapa minggu yang lalu bang Azmi mengirimi saya sebuah naskah novel yang beliau susun sendiri dari cairo sebab beliau adalah mahasiswa tingkat akhir universitas Al-Azhar Mesir, beliau mengirim naskah tersebut melalui akun facebook dimana kami sering berkomunikasi, Beliau megirim naskah novel tersebut untuk meminta komentar dan kritik saya terhadap novel yang beliau susun tersebut, padahal saya sendiri bukanlah orang yang faham apalagi mampu untuk mengeritik sebuah karya, karena beberapa bulan belakangan saya sendiri sibuk dengan urusan kuliah sehingga baru hari ini sempat untuk membacanya.

Sambil menjaga keponakan dan depot air isi ulang perlahan saya baca file microsof word sebanyak 133 halaman dengan spasi 2,0 dan font comic sans ms. Membacanya membuat imajinasi saya melayang meninggalkan Painan (Sumbar) tempat saya tinggal sekarang menuju banyak tempat. Pada lembaran awal saya seperti melayang menuju kota cairo saya seperti bertemu dengan orang mesir dan berbicara bahasa arab dengannya. Terbayang kembali cita-cita ketika didayah (pesantren) untuk bisa kuliah ditimur tengah, namun Allah memberi keputusan yang berbeda sehingga saya hanya mampu untuk belajar agama Islam didalam negri itupun dengan cara merangkak kesulitan.

Didalam bagian lain, dengan bahasa yang halus dan mengalir bang Azmi mampu menggiring imajinasi saya meninggalkan langit Painan (sumbar) menuju Aceh, beliau mengisahkan keindahan kampung halamannya di Aceh Pidie membacanya perlahan memori dikepala saya mengulang kembali rangkaian perjalanan hidup saya ketika bersekolah di Aceh, terbayang sawah yang hijau yang terbentang dibelakang asrama pondok, terbayang tempat dimana saya menyendiri ketika rindu kepada papa dan mama dimedan, terbayang kembali pada kecantikan gadis aceh yang alami seperti alam aceh yang indah. Membacanya membuat saya ingin pulang keaceh sekedar untuk bisa mengenang masa-masa bahagia diDayah.

Dihalaman awal sampai tengah novel ini tampak datar dan jauh dari konflik, bang azmi lebih banyak menceritakan tentang kampung halamnya tentang ayah yang menjadi inspirasi bagi kehidupannya ibu yang membimbingnya. Mengsahkan tentang kehidupannya didayah terutama dayah Jeumala Amal tempat dimana kami sama-sama pernah menuntut ilmu dan dikampus IAIN Arraniri tempat dimana bang Azmi sempat kuliah sebelum mengikuti seleksi beasiswa ke Universitas Al-Azhar mesir dan mengisahkan tentang aceh secara umum dan kritiknya terhadap masyarakat yang telah lalai pada agama.

Selainnya bang azmi menceritakan tentang mesir, mulai dari kehidupan masyarakatnya dan masalah politik yang berkembang dimesir. Bang azmi sendiri adalah saksi hidup ketika pristiwa Arab springs terjadi mulai dari lengsernya presiden Hosnie Mubarok dan kudeta terhadap Presiden Mursi sebab ketika peristiwa itu terjadi setahu saya bang Azmi barada dinegri Firaun tersebut.

Dinovel ini bang Azmi tegas mengeritik masyarakat indonesia yang sok tahu dengan apa yang terjadi dimesir, yang latah demo protes kesana kesini tanpa mengetahui permasalahan apa yang terjadi dinegri orang. Sehingga karena sikap latah tersebut menyusahkan masyarakat indonesia yang berada dimesir, sebab dianggap orang indonesia mencampuri urusan negara lain.
Dari sini saya lihat bang Azmi mencoba untuk bisa mendekatkan kembali antara Negri Mesir dan Aceh, ada beberapa bukti otentik yang dicantumkan bang Azmi untuk menunjukkan hubungan yang baik antara Mesir dan Aceh tempo dulu.

Konflik novel ini terjadi ketika Zaidul Fahmi mahasiswa Universitas Al-Azhar pulang ke aceh setelah menamatkan kuliahnya. Saya kira Zaidul adalah bang Azmi sendiri, sebab 98 persen kehidupan zaidul identik dengan kehidupan bang Azmi. Konflik ini berkisah tentang cinta segi tiga antara Zaid, Amru sahabat Zaid, dan Cut Buleun gadis yang dicintai oleh Zaid.
Ketika sampai pada bagian konflik ini saya jadi tesenyum-senyum sendiri membacanya. Cut Buleun membuat saya teringat pada seorang gadis didayah dahulu yang juga memiliki gelar “Cut’ paling tidak membuat saya bertanya-tanya dihati dimana gerangan dirinya kini. Cut adalah gelar bagi bangsawan Aceh dan biasanya mereka yang memiliki gelar ini cantik-cantik seperti Cut Nyak Dien. Apalagi diberi nama Buleun yang kalo tidak salah artinya Bulan.

NOVEL

Konfliknya bermula ketika Zaid ingin menemui Cut Buleun, namun ketika Zaid bertemu dengan Cut Buleun dirumahnya Cut Buleun tengah terbaring lemah karena sakit. Namun sakit yang dialami Cut Buleun bukan Sakit biasa, Cut Buleun di guna-guna oleh orang dan yang mengguna-gunai adalah Amru.
Amru sendiri adalah sahabat lama Zaid hal ini membuat marah zaid kepada Amru, dan ternyata setelah diselidiku Amru banyak melakukan kejahatan mulai dari menjadi pengedar ganja dan melakukan perampokan. Sehingga zaid yang mulanya marah pada sahabatnya justru menjadi kasihan pada Amru.
Bang Azmi cukup lihai mengakhiri, novel ini beliau menggantung andingnya sehingga tak tergambarkan akhir kisah cinta ini. namum saya yakin tidak ada satu orang tuapun diaceh yang menolak pinangan seorang teungku.

Sisi positif dari novel ini adalah bang Azmi tidak melupakan kealimannya dalam agama. Bebarapa waktu yang lalu saya pernah meminta nasehat dari beliau untuk menghilangkan kegundahan hati yang belakangan menghantui saya, membaca novel ini terasa bang azmi menasehati saya akan banyak hal, mulai dari pentingnya menuntut ilmu, bersabar dengan cobaan dan untuk tekun dan ikhlas beribadah pada Allah SubhanaWata’ala.

“Sebenarnya prestasi di kelas bukanlah segalanya, hanya keberkahan ilmu yang sangat penting. Bagaimana cara kita menghormati guru dan memuliakan ilmu tersebut. (hal 29)

Selain berisi dengan banyak unsur nasehat novel ini juga banyak bersisi dengan syair-syair yang indah, dimana sebagianya merupakan kutipan dari syair arab ini karena kemampuan bahasa Arab beliau yang bagus dan juga pemahaman beliau yang bagus tentang syair arab.

Kita Adalah Musafir Hidup
Matahari yang gagah berani itu
Datang pada puncak bukit
Menyapa bunga Zaitun yang ranum
Pada puncak bukit
Mata Zaitun dan matahari beradu (hal 113)

Kalu saya boleh memberi nilai buat novel ini saya akan beri nilai “Mumtaz” , saya dapetin naskah novel ini belum memiliki judul kalo saya boleh nyumbang ide buat novel ini saya berharap novel ini diberi judul “seberkas cahaya rembulan dilangit mesir” dan saya berharap ada penerbit yang mau menerbitkan novel ini, kalo tidak saya berharap ada inisiatif dari kawan-kawan alumni dayah jeumala amal terutama yang diposkadja untuk bisa membantu menerbitkannya secara independen (indi) ini adalah prestasi luar biasa dari lulusan dayah Jeumal Amal, mungkin kontribusi akhir dari saya sebuah desain cover untuk novelnya cover ini sebagai doa saya semoga novel ini segera bisa diterbitkan Aamiin.. “Allahualam bisshawab”.

Tertawan

Posted: Agustus 12, 2014 in Uncategorized

matahari mulai merangkak kebrat
ketika induk ayam berkotek membawa anaknya masuk kekandang
sementara bulan mulai mencari tempat memamerkan cahayanya
menggoda pungguk yang selalu bermimpi menggapai rembulan.

sayup sayup jam dinding berdentang 12 kali
ketika aku tak mampu memejamkan mataku

disudut kamar aku sendiri dalam sepi
tertawan oleh rasa rindu.

ingin kumaki mata yang tak juga terlelap
tapi apa lacur hatipun tak ingin untuk tak memikirkannya.

images

ah,ternyata bukan hanya au semua organku tubuhku puntertawan

semakin cepat jam berputar semakin aku menjadi panik
bagaimana bisa ku usir bayangannya.

aku tak mau terjajah walau aku mencintainya…

Apa Mimpi ini Terlalu Dalam?

Posted: Juli 10, 2014 in Uncategorized

Angin berhembus menggulung ombak,
Menggoyangkan dahan cemara ditepi pantai
Dan terik metahari memerahkan pasir yang membentang.

Dua anak kecil berlari berkejaran dihadapanku,
Sementara aku berjalan dalam kesepian
Sambil menatap jauh keujung cakrawala dunia.

Hari menjelang petang perahu nelayan mulai berarak menuju lautan,
Kusaksikan tuhan tersenyum kepadaku dan menurunkan bidadarinya.
Aku tercekat, aku kaget terkejut, Apa mimpi ini terlalu dalam?

wandai

Suara kicau burung menggema
Sejenak kemudian dunia berubah
Sejuta bunga tumbuh dan mekar mengelilingiku
Bidadari itu melambai menampakkan kebaikan dan kebahagiaan
Menyapaku dengan sopan bak putri diistana raja, ia mendudukkanku
Diatas singgasana dan membisikkan kata kata cinta.

Malam menjelang ketika sayup – sayup terdengar kumandang azan
Dalam kemustahilan aku bertanya benarkah ini nyata???

Painan, 10 juli 2014

Ketika Perahu Berlabuh

Posted: Mei 4, 2014 in Uncategorized

DSC_2052 2 copy

Ketika perahu berlabuh
Tampaklah nyiur melambai lembut menyambut
Seketika itu pula aku butuh akan cahaya
Sebab telah tiba malam gelap

Jalan telah tampak kabur
Hanya tampak mata burung hantu yang menatap curiga
Lantas kau datang membawa cahanya dalam hatimu
Tapi kau tampak tak sungguh untuk memberi cahaya itu

Aku hanya bisa meraba
merasakan semua yang tak pasti
perlahan aku merasa ragu
mengapa cahayamu tampak meredup?

Painan, 4 mei 14 20:23