PULANG

Jauh  jalan yang ditempuh

Bersama jejak -  jejak yang tertinggal

dari langkah yang sudah lelah

Jiwa pasrah menoleh kebelakang melihat dari mana diri berasal

 

Melihat kebelakang

Banyak laut yang tersebrangi

Banyak pulau yang dilewati

Banyak demaga yang dirapati

Bayak manusia yang ditemui

cita dan impian

melahirkan kerinduan

melupakan sejuta angan dan kenangan

hanya untuk satu kata

aku ingin pulang

Biarkanku Merasakan Cinta

Hujan terlambat datang sore ini

Hatiku lebih dahulu basah dengan air mata

Dan rasa sendu yang  menyelimuti hati

Karna cinta yang tak memihak bagi jiwa

 

Semua hanya hayal bagiku

Tak pernah terwujud menjadi nyata

Semua impian dan angan palsu

Yang hilang begitu fajar tiba

Malam seakan berhianat

Hanya memberi sejuk

Buatku yang tersesat digelap pekat

Dan jalan terjal yang terbentuk

Biarkanku merasakan cinta

Untuk sekali ini saja

Berikan aku rindu

Jangan biarkan aku hidup dalam sendu

 

Jalanku Tertambat

Aku tak sekedar mengarungi lautan

Atau membelah belantara hutan

Dalam gelap malam hening mencekam

Dibawah naungan purnama yang menawan

 

Aku sedang mencari cinta

Yang abadi selamanya

Yang takkan bercerai karena gelombang tsunami

Yang takkan rapuh karena panasnya mata hari

Kini jalanku tertambat

Karena mendung yang kian menghitam pekat

Membuat penglihatanku menjadi rabun

Dan titik – titik air yang mulai turun

Membuatku menggigil dalam diam

Sementara cinta tetap menjadi rahasia yang terpendam.

Dimana jalan sudah tak tampak

Sementara petaku sudah lusuh dan koyak

 

Aku terjebak dalam gelap malam

Semetara cinta tetap menjadi rahasia yang terpendam

 

 

 

 

 

 

Profil Singkat Buya Hamka

BIOGRAFI SINGKAT BUYA HAMKA

Hamka merupakan akronim dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah, seorang ulama pejuang yang tidak segan-segan  mengatakan kebenaran. Lahir di Sungai Batang Maninjau pada 17 Februari 1908 dari seorang ayah yang merupakan ulama besar yang membawa faham pembaruan disumatra barat Dr. Haji Abdul Karim Amrullah atau yang dikenal dengan Haji Rasul.

Guru beliau yang pertama sekali mengajarkan ilmu agama adalah ayahnya sendiri ketika usianya 7 tahun, disamping itu beliau belajar di sekolah desa. Dan dari tahun 1916 sampai tahun 1923 sempat menikamati pendidikan dimadrasah “Diniyah School” dan “Sumatra Thawalib” di Padang Panjang dan Parabek .selain berguru kepada ayahnya beliau sempat mendapat pengajaran dari ulama – ulama besar minangkabau dimasa itu, seperti Syekh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid dan Zainuddin labay.

Di tahun 1924 beliau berangkat ke Yogyakarta, belajar pergerakan Islam dan politik dari kursus maupun diskusinya bersama H.O.S Cokroaminoto, H.Fakruddin, R.M.Suryopranoto,dan abang iparnya sendiri A.R.St. Mansur.  Kegiatan politiknya dimulai ketika beliau bergabung dalam partai politik sarekat islam ditahun 1925 dan di tahun ini pula beliau mulai aktif di dalam gerakan Islam Muhammadiyah untuk melawan bid’ah, khurafat, tahayyul, tarekat dan aliran kebatinan sesat di Padang Panjang. mulai tahun 1928 beliau mengetuai muhammadiyah cabang Padang Panjang dan tiga tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah dimakasar. Dalam konferensi Muhammadiyah tahun 1946 beliau terpilih menjadi ketua majlis pimpinan Muhammadiyah Sumatra Barat menggantikan S.Y.Sutan Mangkuto.

Ketika beliau pulang ke Padang Panjang tahun 1925 terbitlah karyanya yang pertama “khatibul Ummah”. Ditahun 1927 ketika usia beliau menginjak 19 tahun, beliau berangkat sendiri ke Makkah sambil menjadi koresponden dari harian “Pelita Andalas” di medan. Ketika sekembalinya dari Makkah beliau tidak langsung kembali kePadang Panjang namun sempat mengajar agama disebuah perkebunan  di Tebing Tinggi, Medan.

Pada tahun 1928 terbitlah buku romannya yang pertama yang ditulis dengan bahasa minang “sibariyah”. Ditahun itu pula, beliau memimpin majalah “Kemauan Zaman”. Di tahun 1929 beliau melahirkan buku “Agama dan Perempuan”, “Pembela Islam”, “Adat Minang Kabau”, “Kepentingan Tabligh”, “Ayat – ayat mi’raj”, dan lainnya. Dan ditahun 1930 beliau bergbung dalam sk “Pembela Islam”dibandung dan mulai berkenalan dengan M. Natsir , A. Hassan dan tokoh Islam di Bandung lainnya. Sempat juga menerbitkan mejalah “Al-mahdi” ketika beliau mengajar di Makasar dan minguan “Pedoman Masyarakat” ketika beliau dimedan.

Dimasa penjajahan Jepang terbitlah “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, “Lembaga  Budi”, “Pedoman Muballigh Islam” dan lainnya. Setelah kemerdekaan terbit pula “Revolusi fikiran”, “Revolusi Agama”, “Adat Minang Kabau Mengahadapi Revolusi”, “Sesudah Perjanjian Renvile”, “Muhammadiyah Melalui Tiga Zaman”, “Dari Lembah Cita – Cita”, “Merdeka”, “Islam dan Demokrasi”, “Dilamun Ombak Mayarakat”,dan “Menunggu Beduk Berbunyi”. Dan ditahun 1950 ketika beliau pindah kejakarta terbitlah “Ayahku” sebuah buku biografi tentang ayah beliau, “Kenangan Hidup”, “Perkembangan Tasawuf dari Abad ke Abad”, “Urat Tungggang Pancasila”.

Dipermulaan 1958 beliau berangkat keLahore,Pakistan mengikuti seminar islam islam yang diadakan Punjab Univesity. Disana beliau berkenalan dengan Dr. Muhammad al-bahay kepala departemen  kebudayaan dari Al-Azhar. Kemudian beliau diundang oleh organisasi As-Syubbanul Muslimunuh untuk memberi kuliah tentang pengaruh seikh Muhammad Abduh di Indonesia yang kuliah itu sendiri dihadiri wakil rektor  Al-Azhar saat itu Syaikh Mahmoud syaltout. Dan setelah kuliah itu pihak Al – Azhar memberikan penghargaan Ustadziah Fakriah (doktor Honorius kausa)sejak itu berhaklah beliau memakai titel Dr didepan namanya dan yang menarik beliau adalah orang pertama di dunia yang diberi penghargaan akademik oleh universitas Al –Azhar tanpa mengikuti program pendidikan.

Dan dibulan januari 1964 beliau mendapat fitnah keji, beliau ditangkap dan dipenjarkan karena keaktifan beliau dipartai masyumi yang menentang kebijakan soekarno saat itu dan selama menjalani kehidupan penjara pula beliau menyelasaikan karya terbesarnya tafsir  Al – Azhar. Dan pada tahun 1974 beliau mendapat perhargaan Doktor Honorius kausa karena sumbangsihnya mengembangkan sastra melayu dari universitas kebangsaan Malaysia, setahun kemudian dalam musyawarah alim ulama seIndonesia beliau diangkat menjdi ketua Majlis Ulama Indonesia.

Beliau kembali pada penciptanya pada 24 juli 1981 meninggalkan warisan ilmu yang tidak saja bermanfaat bagi kaum muslimin Indonesia, asia tenggara, tetapi seluruh dunia. Dalam tasauf modern hamka mengatakan “pelajaran hidup yang kedua setelah pengalaman adalah memperhatikan alam” maksud beliau dalam kalimat ini adalah kalau ingin berhasil menempuh hidup belajarlah dari kegagalan dan keberhasilan orang lain. sudah saatnya bagi kita untuk mempelajari dan mengkaji karya dan kehidupan hamka untuk melanjutkan perjuangan yang telah beliau rintis.

Daftar Karya Buya Hamka
1.    Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.
2.    Si Sabariah. (1928)
3.    Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.
4.    Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).
5.    Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).
6.    Kepentingan melakukan tabligh (1929).
7.    Hikmat Isra’ dan Mikraj.
8.    Arkanul Islam (1932) di Makassar.
9.    Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.
10.    Majallah ‘Tentera’ (4 nomor) 1932, di Makassar.
11.    Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.
12.    Mati mengandung malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.
13.    Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936) Pedoman Masyarakat,Balai Pustaka.
14.    Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
15.    Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
16.    Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.
17.    Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.
18.    Tuan Direktur 1939.
19.    Dijemput mamaknya,1939.
20.    Keadilan Ilahy 1939.
21.    Tashawwuf Modern 1939.
22.    Falsafah Hidup 1939.
23.    Lembaga Hidup 1940.
24.    Lembaga Budi 1940.
25.    Majallah ‘SEMANGAT ISLAM’ (Zaman Jepang 1943).
26.    Majallah ‘MENARA’ (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.
27.    Negara Islam (1946).
28.    Islam dan Demokrasi,1946.
29.    Revolusi Pikiran,1946.
30.    Revolusi Agama,1946.
31.    Adat Minangkabau menghadapi Revolusi,1946.
32.    Dibantingkan ombak masyarakat,1946.
33.    Didalam Lembah cita-cita,1946.
34.    Sesudah naskah Renville,1947.
35.    Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.
36.    Menunggu Beduk berbunyi,1949 di Bukittinggi,Sedang Konperansi Meja Bundar.
37.    Ayahku,1950 di Jakarta.
38.    Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.
39.    Mengembara Dilembah Nyl. 1950.
40.    Ditepi Sungai Dajlah. 1950.
41.    Kenangan-kenangan hidup 1,autobiografi sejak lahir 1908 sampai pd tahun 1950.
42.    Kenangan-kenangan hidup 2.
43.    Kenangan-kenangan hidup 3.
44.    Kenangan-kenangan hidup 4.
45.    Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.
46.    Sejarah Ummat Islam Jilid 2.
47.    Sejarah Ummat Islam Jilid 3.
48.    Sejarah Ummat Islam Jilid 4.
49.    Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.
50.    Pribadi,1950.
51.    Agama dan perempuan,1939.
52.    Muhammadiyah melalui 3 zaman,1946,di Padang Panjang.
53.    1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).
54.    Pelajaran Agama Islam,1956.
55.    Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.
56.    Empat bulan di Amerika,1953 Jilid 1.
57.    Empat bulan di Amerika Jilid 2.
58.    Pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), utk Doktor Honoris Causa.
59.    Soal jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.
60.    Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta.
61.    Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.
62.    Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.
63.    Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.
64.    Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.
65.    Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.
66.    Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.
67.    Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah).
68.    Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).
69.    Cita-cita kenegaraan dalam ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.
70.    Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.
71.    Himpunan Khutbah-khutbah.
72.    Urat Tunggang Pancasila.
73.    Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.
74.    Sejarah Islam di Sumatera.
75.    Bohong di Dunia.
76.    Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).
77.    Pandangan Hidup Muslim,1960.
78.    Kedudukan perempuan dalam Islam,1973.

Tulisan ini berdasarkan:
1.    Tasauf Modren
2.    Tafsir Al- Azhar
3.    WikiPedia.org.com
4.    Pribadi dan Martabat Buya hamka

cerpen

 

Hikayat sang pecinta

misteri yang paling misteri didunia adalah cinta

Seperti hari – hari sebelumnya hujan turun sangat lebat pagi ini, membasahi daun – daun hijau, tanah yang kering, dan seluruh jagat alam beserta jiwa – jiwa yang gersang. Sudah genap tiga hari aku  tak bisa bekerja, karena titik hujan merusak mata pencarianku, menghancurkan putik – putik bunga yang baru mekar. Sini kawan mendekatlah padaku! kau pasti kedinginan. Jangan tegang begitu jangan kau  anggap aku sebagai seniormu, aku tak suka pada mereka yang sok superior. Santai saja , anggap aku temanmu walau kau anggota baru dalam koloni ini dan aku lebih tua dari dirimu.

Mendekatlah ! kenapa diam saja ? mendekatlah! Sambil menunggu sang hujan reda, aku ingin menceritakan padamu sebuah kisah. Kukira kisah ini bisa jadi pelajaran buatmu anggota baru koloni lebah madu, paling tidak bisa sebagai gosip pagi hahahaha. berapa hari yang lalu, karna hujan aku berteduh disebuah warung kopi, kulihat ada banyak manusia disana ada yang sekedar  bermalas – malasan, ada yang berteduh sepertiku karena hujan, kukira cukup ramai manusia disana dan kau tahu apa yang mereka lakukan? Gosip, itulah yang mereka lakukan. Dari menggosipi bini orang sampai menghina peresiden mereka.

Kukira tak apalah, kita meniru sejenak tingkah laku manusia, menggosip dipagi hari. Toh bukannya kita malas bekerja tapi cuaca yang tidak mendukung kita untuk bekerja. Sampai kapanpun bangsa lebah akan tetap dikenal sebagai bangsa pekerja. Bukankah nama bangsa kita, bangsa lebah diabadikan didalam kitab suci.

Sejujurnya kisah ini bukan sekedar gosip yang belum tentu kebenarannya. Kisah ini  benar – benar nyata, karena aku sendiri yang menyaksikannya, aku sendiri yang menjadi saksi matanya. Kisah ini tentang sahabat terbaikku, sama seperti kita dia juga lebah pekerja, pencari madu.

Sini, mendekatlah ! kau pasti akan tertarik dengan kisah ini, kau lihat tumbuhan hijau disana? Kau lihat ada putik – putik bunga yang belum mekar ? dua hari lagi bunga itu akan mekar , mekar dengan indahnya , dia akan memancarkan harum, wangi semerbak yang  membuat mabuk kepayang bagi siapapun yang menciumnya. Namanya bunga kenanga, nama yang indah,  seindah dirinya tapi karenanya pula temanku binasa. yang membuat aku sedih aku tak bisa membelanya, sungguh ketika itu aku tak berdaya untuk membelanya.

Aku ingat sekali kejadian dihari itu. seperti biasa dipagi hari, kami para pekerja muda mencari madu. sebagian dari kami mencari bunga – bunga dihutan dipinggir kampung, sebagian lagi mencari madu ditaman dan kebun – kebun  miik manusia dan temanku mencari bunga mekar ditempat ini. Biasanya kami selalu mencari madu berdua. Hari itu dia tidak ingin aku temani, aku sempat curiga dengannya yang cukup aneh hari itu, tapi begitulah takdir tidak ada yang tahu.

Tempat ini dialah yang menemukannya. Aku tak tahu bagai mana bisa dia menemukannya. Hari itu semua bunga – bunga lagi mekar dengan indahnya, termasuk juga bunga kenanga itu, mekar memancarkan wangi semerbak yang membuat temanku jatu cinta padanya.

Ketika semua lebah pekerja kembali kekoloni, dia tak pernah kembali untuk melaporkan hasil kerjanya. Hingga komandan lebah pekerja mencarinya dan bertanya padaku tentang keberadaannya. Aku katakan aku tak tahu karena sejak pagi dia tak bersamaku. Akhirnya komandan lebah pekerja melapor pada lebah keamanan untuk mencarinya. Dan mereka menemukan temanku disini, ketika dia sedang menikmati harum dan indahnya bunga kenanga dia jatuh cinta pada bunga kenang dia melindungi bunga itu tanpa sedikitpun menyentuhnya.

Ah cinta aneh tapi nyata, tak tampak tapi bisa dirasa, tak pandang bulu semua bisa terkena penyakit cinta. Sepenuh hati temanku  melindungi bunga kenanga kekasihnya dari rayuan kumbang atau lebah lainnya. Menurut kabar yang kuterima, sebelum komandan lebah pekerja mengutus lebah keamanan untuk mencari temanku itu. Dia sempat berkelahi dengan lebah pekerja lain yang ingin menghisap madu bunga kenanga itu, sekuat tenaga temanku berkelahi dengan lebah pekarja tadi agar menjauhi kekasihnya bunga kenanga. Dari lebah itulah komandan lebah pekerja megetahui keberadaan temanku. Dari lebah itupula tersebar berita heboh tentang lebah yang jatuh cinta pada bunga kenanga. Temanku dan cintanya menjadi topik hangat dikalangan rakyat koloni lebah pada hari itu, hingga kejadian ini terdengar oleh sri ratu lebah.

Utusan komandan keamana lebah  akhirnya menemukannya dan akan menangkapnya untuk menghadapkannya kepengadilan lebah dikoloni. Tahukah kau?dia melawan  sampai sayap kirinya patah karena berkelahi hebat dengan pasukan keamanan lebah. Temanku bukanlah lebah yang kuat, dia hanya lebah pekerja yang lemah dia seperti budak yang tak memiliki kekuatan. Aku sendiri heran dari mana dia bisa mendapatkan kekuatan sehingga berhasil membenuh salah seorang pasukan keamanan. kau percaya dengan  kekuatan cinta? aku sendiri tak percaya tapi aku benar – benar melihatnya.

Kejadian hari itu menggemparkan dunia lebah. ada yang mendukung ada yang justru mengoloknya. Angin yang berhembus menceritakan penderitaan temanku keseluruh penjuru bumi hingga terjadi Huru – hara yang berujung pada perang antar koloni lebah hampir terjadi ketika itu. Penangkapan paksa terhadap temanku membuat simpati koloni lain terhadapnya . koloni itu membela temanku dengan mengirim pasukan yang menjaganya agar tak dihadapkan pada pengadilan rakyat lebah. kolonikupun mengirim pasukan yang lebih besar untuk menangkapnya, terjadilah perang antara pasukan koloniku dan pasukan dari koloni yang membela temanku. karena kalah jumlah pasukan koloni yang membela temanku meminta tambahan pasukan dari koloni mereka dengan tambahan pasukan ini  akhirnya memojokkan pasukan koloniku. Pasukan koloniku mundur kembali kesarang dengan kekalahan.

Melihat keadaan yang genting,  sri ratu lebah mengirim utusan untuk berunding dengan koloni yang membela temanku tadi. Dalam pernyataannya sri ratu mengatakan “setiap lebah yang melindungi bunga dan menolak untuk mengambil madu dari bunga adalah pemberontakan terhadap koloni dan harus dihadapkan pada pengadilan” oleh karena itu sri ratu lebah meminta pada koloni yang membela temanku untuk melepaskan  perlindungannya terhadap temanku. Tetapi koloni yang membela temanku tak pula surut untuk tetap membela temanku mereka mengatakan,  “cinta adalah sebuah hak asasi setiap lebah yang harus dilindungi” juru runding dari koloniku tak kalah akal mengatakan “bagaimana masa depan para lebah seandainya para lebah menolak mengambil lebah dari bunga – bungaan karena cinta terhadap bunga – bunga tersebut?” koloni yang membela temankupun menjawab dengan jawaban singkat “mengapa kita takut binasa, bukankah kita hidup untuk cinta?”

Tak dinyana perundingan itupun berakhir  alot dan hampir menciptakan perang besar karenanya. Ketika itu pula memutuskan untuk menemui temanku. Kukira aku bisa membujuknya agar menyerah dengan sikapnya yang keras. Agar tidak terjadi masalah yang lebih besar didunia lebah. ketika itu hari menjelang sore, kulihat syafak merah mulai muncul diufuk barat. Aku terbang dengan terburu – buru agar aku tak terjebak digelapnya malam.

Ketika aku samapai ditempat ini. Aku sudah tak melihatnya lagi bertengger diranting untuk menjaga kenanga kekasihnya. Aku melihatnya sudah terjatu ditanah dengan kondisi mengenaskan dia sudah tewas. Saat itu pula kulihat kenanga kekasihnya sudah layu tanpa ada setu mahlukpun yang bisa mendekati untuk menghisap madunya. Didepan mataku bunga suci itu jatuh tepat disamping temanku. Aku takjub setengah mati dengan apa yang aku saksikan ketika itu aku berfikir inikah cinta.

*terinspirasi  dari lagu rafly bungong seulanga

Rel Kreta didepan Sekolahku, Smp YPAKPTPN3 Gunung Para

 

 

Kalau kawan menumpang kereta api dari medan menuju pematang siantar  boleh singgah distasiun baja lingge,atau jika kawan menumpang bus antar kota dari kota medan, kawan bilanglah pada keneknya “saya turun disimapang atas”. Dari simpang atas Kawan boleh naik Rbt (ojek) atau jalan kaki menuju pasar dolok merawan, nanti kawan akan mendapatkan stasiun kereta api berasitektur tua setelah itu  beloklah kearah kanan, kawan akan menemukan kantor camat dan kantor koramil. Dari situ akan terlihat sebuah gedung tua berwana coklat, itulah sekolahku..

Lalu jalanlah, kawan akan disambut gapura, kalau kawan sebagai tamu istimewa yakinlah kawan akan disambut oleh para siswi dengan tari selamat datang serampang dua belas. Diatas pendopo kawan akan melihat sebuah baliho dengan tulisan SMP YPAK PTPN3 Gunung Para itulah nama sekolahku. Kalau kawan bukan tamu istimewa minta izinlah pada guru disana untuk melihat – lihat sekolahku, penjaga sekolahku galak. kalau kawan memperhatikan bangunan utama jangan coba taksir usianya, kata nenek – nenek disana bangunan itu adalah peninggalan Belanda dan jangan kira belanda memang membangun sekolah, dahulunya itu adalah gudang, gudang getah. Karet yang sudah dijemur akan dikirim kemedan dengan kereta api . Sekolahku adalah smp tertua diDolok Merawan bahkan dari kecamatan lain disekitar Dolok Merawan. Stasiun Baja Lingge adalah saksi sejarah bagaimana para siswa dari jauh yang bersekolah menumpang kreta api dimasa lalu. kalau sekarang sekolah sudah banyak, kawan tak kan lagi menemukan siswa yang menumpang kereta. Dari ruang piket  naiklah kelantai dua lihat lantainya menakjubkan bukan, lantai kayunya masih liat walaupun sudah tua.

Nah dilantai satu disebelah kanan meja piket ada sebuah ruangan, walau nampak tak terawat tapi itu merupakan harta karun yang paling berharga yaitu perpustakaan sekolah. Didalamnya kawan akan menemukan buku – buku tua karya Karl May “Winettou Anak Kepala Suku Apace”, atau “diBawah Lindungan Ka’bah” karya pujangga Indonesia Hamka. Ketika aku masih sekolah aku tak prnah menyangka buku – buku diperpustakaan itu buku – buku yang luar biasa aku kira buku – buku itu dipajang karna sayang untuk dibuang, setelah lulus baru tahu itu buku – buku istimewa. Kalau dulu perpustakan disamping untuk menjadi tempat memajang buku tua digunakan juga sebagai kelas mata pelajaran agama Kristen jadi tekesan bukan perpustakaan.

Ohya, ada satu lagi tempat yang menarik. Tapi kawan harus keluar dulu dari bangunan utama, disebelah kiri  ada satu bangunan lagi, ikuti terasnya kawan akan menemukan laboratorium.  kalau kawan masuk kawan akan terkejut didalamnya seperti musium, ada banyak barang antik telphon tua yang masih diputar nomornya atau telegraf juga ada. Dari jendela laboratorium kawan bsa melihat ada satu gedung dengan dua pintu, kalau dulu gedung itu ruang kelas kini sudah menjadi lab komputer.

Sekarang berjalanlah kebelakang, dibelakang sekolahku ada lembah yang bersungai tapi sekarang sudah ditembok jadi kawan tidak bisa turun kebawah. Waktu aku masih bersekolah dibelakang sekolahku ada beberapa rumah tua milik perkebunan, yang kalau sekarang aku taksir usianya sama dengan gedung utama.  Ketika aku sekolah ada guru yang pernah bercerita dahulunya tanah menurun dibalik tembok dibentuk menjadi terasering dan ditanami bunga – bungaan seperti taman para raja, pada masa itu sekolahku mendapat predikat sekolah terindah sekabupaten deli serdang  tapi aku tidak tahun itu tahun berapa.

Kalau soal prestasi masuklah kantor kepala sekolah disana ada lemari coba hitung ada berapa tropi yang terpajang, ku sarankan tak perlu dihitung pokoknya ada banyak, yang paling menjadi kenangan dan terus menjadi buah bibir adalah ketika sekolahku sampai ke final cerdas cermat seprovinsi Sumatra Utara kabarnyasih disiarkan oleh stasiun tv TVRI.

Itulah tentang sekolahku sekolah yang terus akan diingat penuh dengan kenangan. Jaya terus Smp YPAK PTPN3 Gunung Para.

*tulisan ini dbuat brdasarkan memori dan cerita – cerita yang pernah didengar kalau ada kesalahan data mohon maaf.

Ketika aku berdiri dipojok kelas

sebenarnya aku tidak tahu  jenis tulisan ini,disebut cerpen sebenarnya tidak lazim, esai juga tidak. aku hanya sekedar menulis dari rasa atau ide yang ada dikepalaku, ketika disekolah guru pernah menghukum berdiri dari sana ide itu muncul.

Ketika Aku Berdiri diPojok Kelas

Aku tertunduk lesu, aku harus berdiri didepan kelas lagi. K

ulirik teman yang berdiri didepanku sedang berteriak – teriak menyebutkan perkalian yang dia hafalkan dia terlihat lancar tanpa halangan. Aku tadi lupa aku tak hafal 7 x 7 akhirnya aku harus berdiri menerima hukuman ini. Terkadang aku memang menikmati hukuman ini, tapi menyakitkan kalau harus berdiri dengan satu kaki seperti ini, lelah sekali terkadang aku mau jatuh.

Didepan kulihat teman – temanku yang tertawa memandangku yang sempoyongan berdiri dengan satu kaki, mungkin bagi mereka aku pelawak yang menghibur hati mereka, atau aku seperti badut ditaman mini yang biasa mereka ganggu. Tapi aku tak perduli, sudah biasa dan akupun turut gembira aku bisa membuat manusia gembira karena diriku.  Disudut kelas tergantung papan absen kubaca perlahan setiap huruf yang tertulis diatasnya, absen kelas 4 sdn. Aku sudah duduk dikelas 4 berarti 2 tahun lagi aku lulus SD. Tapi aku ragu apakah aku akan berhasil lulus atau aku akan gagal seperti abang – abangku.

Dalam ketundukanku kucoba mencuri pandang, hal ini yang paling kusuka ketika aku dihukum seperti ini, aku bisa melihat gadis putih imut dibarisan depan nomor kedua dari sebelah kanan yang terlihat simpati kepadaku, kalau melihat dia aku sering tersenyum sendiri, dalam hatiku terlintas sejuta hayalan, bagiku dia cantik sekali. Sebenarnya aku ragu apakah pandangannya pandangan simpatik atas hukuman yang selalu kuterima atau pandangan jijik, karena sebuah pandangan sulit untuk dibedakan maknanya dan aku sendiri tak pernah berani berbicara padanya.

Kulihat temaku yang tadi berteriak – teriak sudah duduk, sekarang  temaku yang tertawa melihatku tadi mau kedepan, aku menunduk lagi kulihat jempol kakiku sudah menyembul dari sepatuku yang sudah agak kekecilan. Sudah dua tahun aku belum ganti sepatu, baju seragamku pun sudah tak putih lagi, aku tak berani minta seragam baru pada ibu, aku yakin ibu hanya mengatakan “nanti ibu belikan baju baru kalau bapak sudah punya uang”  tapi aku tahu bapak tidak pernah punya uang, baju barupun tetap menjadi impian bagiku.

Setengah jam sudah berlalu, guruku masih menyimak hafalan  teman – temanku. Sementara aku masih berdiri sendiri dipojok kelas sambil merasakan kakiku yang mulai kesemutan, ditengah lamunanku kulihat seekor cicak menyebul dari langit – langit kelas yang sebagiannya telah menguning karena atap yang bocor aku benci melihat cicak itu, dia menjulurkan lidah seperti menghinaku. Aku tak mengerti mengapa aku begitu bodoh hampir setiap hari aku harus berdiri, selalu aku tak bisa menjawab soal – soal yang disodorkan padaku. Aku pernah mendengar kisah Pak Habibie mantan presiden Indonesia dari buk Egi guru IPSku, guru yang paling kukagumi, bu Egi sering bercerita dan aku suka dengan cerita aku ingin menjadi tukang cerita. Aku akan bercerita apa saja kepada siapa saja dan dimana saja aku suka dengan cerita.

Ketika itu kami sedang belajar tentang peresiden Indonesia, “pak habibie presiden ketiga Indonesia, beliau seorang ahli kedigantaraan, beliau bisa merancang sebuah pesawat” begitu kata buk egi pada kami, aku berfikir seberapa pintar otak pak Habibie sampai bisa membuat pesawat. Kemudian buk Egi melanjutkan  penjelasannya tentang pak Habibie “tahukah anak – anak pak Habibie seorang yatim, beliau kehilangan ayahya tercinta sejak dia kecil dan dia hidup bersama bundanya penuh kekurangan namun dia tidak pernah berputus asa, beliau sangat gemar belajar bahkan dia selalu juara kelas. Kalian harus mencontoh beliau agar kalian menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa”. Sejak itu aku tahu tenyata ada orang miskin yang bisa menjadi presiden. Dan kufikir seharusnya aku bisa seperti pak Habibie pintar dan menjadi juara kelas, bukankah bukankah hidupku juga sulit walaupun aku masih mempunyai bapak, tapi aku tak pernah tahu, aku begitu membenci pelajaran, bagiku sekolah seperti neraka yang penuh hantu.

Sebenarnya kebencianku pada pelajaran bukan tanpa alasan, aku tahu, tanpa aku belajar dirumah apa yang kupelajari akan langsung menguap hilang dari kepalaku, karna aku bukan anak jenius. Seperti kata buk Egi, pak Habibie hanya tidur 4 jam dan selebihnya digunakan untuk belajar. Aku ingin seperti itu, aku ingin membahagiakan orang  tuaku. tapi setiap aku tidak mengetahui pelajaran aku tidak mempunyai tempat untuk bertanya. Tiap malam ibu sibuk dengan sinetronnya bapak setelah makan malam langsung tidur karna kelelahan seharian bekerja. Jadilah aku terperangkap dalam kebingungnku sendiri.

***

Dari balik jendela kulihat langit menghitam, tak lama lagi hujan akan turun. Aku suka hujan, kalau hujan datang lingkungan rumahku akan tergenang air banjir, aku bisa puas berenang disana. Aku tak pernah bisa berenang dikolam renang karena harus bayar, biasanya aku menunggu musim hujan datang untuk bisa berenang. Hujan juga rezeki bagi kami ketika air surut biasanya ada banyak barang – barang bekas yang hanyut yang bisa kami jual. Ah aku rindu hujan, seperti aku merindukan adik kecilku yang hanyut dibawa banjir .

Akhirnya bel berbunyi aku lega aku bisa lepas dari hukuman ini, aku bisa duduk dibangku paling belakang buatku orang terbelakang. Aku berjalan menunduk  aku tak berani mengangkat wajahku,kulihat gadis putih imut itu memandangku tapi aku belum bisa mengartikan pandangan  itu…

PUISI

Tiga Bulan Menunggak

 

Bentangan almanak

Membuat risau berteriak

Betapa tidak

Tiga bulan aku sudah menunggak

 

Maklumat dari sekolah sudah menanti

Artinya aku harus angkat kaki

Aku tidak mengerti

Mengapa aku harus pergi

Bukankah aku  bagian dari negri ini

Bukankah pendidikan mendapat subsidi

 

Dalam sedih kutanya pada bapak

Kata bapak sekolah, bukan untuk kita

Tapi untuk orang kaya.

 

 

CERPEN

Cerpen ini kutulis dua tahun yang lalu, semapat kulupakan karna menurutku ceritanya jelek. tapi akhirny aku berfikir biar jelek toh hasil karyaku hasil pemikiranku kenapa harus malu. akhirnya terhidang diblog ini.

AKHIRNYA GELAP

Kutatap haru rumahku setelah perjalanan melelahkan dari bandara, tak ada perubahan yang berarti dengan rumah ini setelah lama ku tinggal. Akupun langsung mengucapkan salam, namun setelah beberapa kali aku ucapkan salam dan kuketok pintu, aku tak menemukan seseorangpun dirumah. Memang aku sengaja tidak memberitahukan kepulanganku pada ayah dan ibu, aku ingin memberi surpraise pada mereka hingga tak ada penyambutan berarti pada kepulangaanku.

Lalu kuputuskan pergi ke belakang rumah barangkali mereka sedang membersihkan pekarangan belakang, namun aku juga tak menemukan mereka disana. Akhirnya, karna lelah aku beristirahat dibawah pohon mancang yang usianya jauh lebih tua dari usiaku daunya yang lebat tidak membiarkan cahanya matahari bebas menembus kebawah hingga memberi kesejukan bagi siapa saja yang ada dibawahnya. Aku memilih duduk diatas akarnya yang menonjol diatas tanah, menunggu mereka pulang barang kali mereka memungut lom atau mangkokan di perkebunan karet.

Sambil menunggu mereka aku mengingat masa laluku sebelum meninggalkan semua ini, tak terasa kelopak mataku menjadi sayu karna hembusan angin, hingga  melenakan pikiranku ke alam lain. Dialam mimpi aku melihat sepasang anak kecil sedang bermain dibawah pohon ini. Aku mengenal yang pria, dia tubuhku waktu masih kecil. Tubuh kecilku tampak riang bercengkrama dengan gadis itu, tampak olehku gadis itu menggendong boneka dan menina bobokannya sepintas lalu aku mendengar tubuh kecilku berceloteh. “rin, abang yang jadi bapaknya rini yang jadi mamaknya! Terus anaknya  kita kasih nama irfan ajaya.” kata tubuh kecilku polos dan aku melihat gadis kecil itu tersapu malu mendengar permintaanku. Sebenarnya aku juga lucu mendengar perkataan tubuh kecilku yang polos itu. Aku tak menyangka tubuh kecilku mampu berbicara seperti itu. “Mamak lagi masak apa mak bapak udah laperni capek pulang kerja”

“mamak masak godong ubi tapi belum masak bapak sabar dulunya!

“iya uwes si irfan kene sama bapak wae biar mamak gak repot.” Aku tertawa geli mendengar percakapan mereka seperti nonton sinetron saja.

“eh sudah malam bapak tutup pintu dulu, ayo mamak masuk nanti ada hantu ” kata tubuh kecilku “aunggggggg, aungggggggg tubuh kecilku melolong meniruka suara serigala yang ada difilm hantu dan ku lihat gadis itu merapat ditubuh kecilku seperti memang benar – benar ada hantu.

Ketika tubuh kecilku sedang asik bermain datang dua orang remaja dan aku mengenal keduanya yang rambutnya panjang, lurus itu mbak ida yang ikal mbak fitri mereka tetengga depan rumahku.

mereka berdua menggangu tubuh kecilku dan gadis kecil itu, “hayoo pacaranya, mbak kasih tau sama ibuknya zaky nanti” kata mbak fitri menggoda tubuh kecilku aku sangat yakin tubuh kecilku belum mengerti makna pacaran tapi kalimat mbak kasih tau sama ibuku membuat nyali tubuh kecilku menjadi ciut sebenarnya aku ingin mengusir mereka namun aku seperti berdiri di dua alam tubuhku hanya tampak seperti bayangan.

Mereka berdua terus saja menggangu tubuh kecilku dan gadis kecil itu, aku ak tahu apa yang ada dipikiran mereka tiba – tiba mereka menyuruh tubuh kecil ku mencium gadis kecil itu. Aku tak menyangka tubuh kecilku mencium gadis kecil itu namun sebelum aku melhat adegan itu aku tersentak  dari  tidurku. Ibuku memeluk erat tubuhku kulihat air mata haru membanjiri wajahnya yang yang sudah keriput, “tole – tole mule kok ora ngomong mamak piker siopo kok turu di bawah pohon” kata mamakku sambil terisak tangis. Lalu aku menyalami ayahku yang telah berdiri disamping ibuku “piye kabare apik toh, kapan di wisuda? Tanya bapak pada ku tapi sebelum aku menjawab ibu sudah menarikku kerumah “ ya wes dirumah wae ceritanya.”kata ibu

*   *    *

Malam ini rumahku ramai oleh tetangga dan teman lamaku ada yang sekedar menayakan kabar ku atau bertanya tentang Jakarta tempat aku menuntut ilmu, dirumah aku berjumpa  sama Rudi temanku satu bangku waktu di SD,

“piye kabarmu?” Tanya Rudi padaku

“apik riko sendiri piye? Wes piro anak riko?”

“alhamduliLLAH sehat anak ku baru siji laki laki.”

“kapan diwisuda wes punya calon belum?”

“InsyaALLAH wisuda tahun depan belum ada yang daftar ada simpenan gak kalo ada bagi samaku satu” jawabku “masak ora enek perempuan yang mau ma pak calon sajana, kalah sama tukang deres” kami tertawa geli Rudi mengejekku yang belum mempunyai calon istri

“ngomong – ngomong kerjaan piye karyawan perkebunan lebih penak dari dulutoh?” Tanya ku pada rudi “ sekarang lebih baekla dari pada dulu, aku da jadi mandor sekarang kalo rejeki jadi asisten juga bisa semenjak reformasi keampuan lebih diutamakan. hak – karyawan  wes diperhatikan staf – staf juga gak semena – mena.” kebanyakan dari kami adalah keturunan kuli kontrak yang di bawa orang – orang belanda ke Sumatra kami lebih memilih menjadi karyawan perkebunan dari pada mencari pekerjaan lain seperti berdagang atau lainya bukan kami tak ingin maju  karna orang tua kami hanya meninggalkan ilmu menders getah rambung dan mendodos sawit kebanyakan dari kami sekolah hanya sampai smp jadi tidak ada pilihan untuk mencari pekerjaan lain. petinggi – petinggi diperusahaan juga lebih memilih kami menjadi karyawan dari orang batak atau orang melayu yang nota bene penduduk asli bukan saja kami rajin bekerja tapi karna kami tidak banyak permintaan. Ketika pemilu kami menjadi bulan – bulan partai yang berkuasa untuk mencoblos mereka.itulah sebabnya aku malas tetep di sini terus saja di bodoh – bodohi bermodalkan bea siswa aku nekat ke jakarta. Semenjak runtuhnya orde baru aku melihat ada perubahan bagi karyawan rendahan hak – hak mereka telah dipehatikan dan telah diberi kebebasan memilih partai yang di inginkanya.

Setelah Rudi pamitan pulang rumahku menjadi sepi kembali tinggal aku dan kedua orang tuaku, namun ada sesuatu yang mengganjal pikiranku aku tidak melihat rini gadis kecil yang ada didalam mimpiku padahal dirinyalah alasan utamaku pulang aku ingin memebawanya kejakarta setelah ku mendapat gelar sarjana. Tapi ku pkir dia belum mendengar kepulanganku atau mungkin dia kuliah di  kota kupikir biarlah besok aku kerumahnya sekalian bertemu orangtuanya.

*  *  *

Angin sore berhembus perlahan mendorong tubuhku yang lemas  karna kecewa aku tak menemukan rini dan keluarganya rumah mereka sudah berganti penghuni. sesampainya dirumah ku hempaskan tubuhku di bayang yang ada didekat pintu samping rumahku lalu ibuku dating mendekatiku seakan mengetahui dilema yang kuhadapi. “napa tole? Kok kayak enek masalah?”

“tadi aku kerumah rini, tapi rumahya udah ditempati orang laen” kataku pada ibu

“dua bulan sejak kue pergi kejakarta bapak rini enek masalah, ibu juga ak ngerti masalah apa.ya setahu ibu sejak kejadian itu rumah itu jual.”

“trus rini ma keluarganya kemana buk?”

“ibu denger dari orang – orang mereka numpang dirumah saudaranya”

“saudaranya tinggal dimana buk?”

“ibu juga gak tahu orang mereka gk pamit sama ibu langsung pergi aja” jawaban dari ibu hanya memberi teka tiki paaku dan aku kasihan pada rini dimana dia sekarang dalam hati aku berjanji aku akan mencari alamat rini.

Aku dan rini telah beteman sejak kami dalam gendongan dan usia kami hanya tertaut beberapa bulan walaupun begitu sejak kecil rini selalu memenggilku abang dan sejak kecil kami terus bersama tak pernah dalam pikiranku untuk berpisah darinya kecuali keinginanku untuk merubah nasib yang akhirnya memisahkan kami

Esoknya aku kerumah Rudi barang kali dia tahu keberadaan rini namun jawabannya sama seperti ibu tidak memberi kejalasan yang pasti tapi aku ingat waktu aku akan berang kat kejakarta  rini  bilang kalau dia punya saudara dijakarta.

“Bang kalau da dijakarta jangan lupa mariniya!”

“doakan aja abang sukses nanti rini abang bawa kejakarta”

“rini juga kepingin kejarta ada saudara rini di sana.” Katanya waktu itu. ada keyakinan dalam hatiku yang mengatakan rini di Jakarta sekarang  Aku tak akan patah semangat aku akan mencari rini karna aku telah berjanji kelak dia yang akan mengurus rumahku aku tak perduli walaupun dia cacat atau wajahnya menyeramkan aku akan tetap mendampinginya

* * *

            Udara panas Jakarta telah menggantikan udara sejuk Sumatra kini aku telah berkutat dengan sibuknya kota Jakarta dan skripsiku. tapi aku tak lupa untuk mencari rini.  Aku terus mencari mulai dari Koran sampai situs jejering sosial namun hasilnya tetap nihil dan uang tabungan ku pun sudah habis untuk memesang iklan dikoran.Lalu aku berpikir mencari rini melalui orang – orang perntauan dari medan barang kali diantara mereka ada yang mengenal rini namun setelah lama kumencari keberadaan rini tetap menjadi teka teki bagiku.

Seperti biasa aku mencari rini melalui internet sampai aku lupa aku ada janji dengan dosenku di kampus. Aku tak mau terjadi masalah dengan skripsiku dengan terburu buru aku mengendarai motor temanku hingga aku lupa memakai helm dan membawa stnk nasib apespun menimpaku   sesampainya diperempatan  aku tertangkap polisi. Aku coba bicara baik – baik padanya kukatakan aku buru – buru karna harus bertemu dengan dosenku tapi polisi itu tak mau tau hingga tensiku sedikit meninggi aku dan dia pun mulai menaikkan suara kemudian aku melunak dan kucoba menggunakan cara mudah dalam negosiasi dinegara ini dan caraku pun berhasil sebelum aku meninggalkannya aku melihat anak kecil yang berlari ingin memeluk polisi itu namun aku terpana gadis kecil itu mirip sekali dengan gadis kecil yang ada dalam mimpiku  perhatianku tak berpindah darinya sampai ku mendengar seorang wanita yang memekai seragam kepolisian berdiri di belakang gadis itu dan memanggil namaku “bang Zaki.” Kuangkat suaraku melihat sipemilik suara.

Suara lembut yang sangat kukenal dan kucari itu merayap ketelingaku diikuti keringat dingin yang mengucur di seluruh tubuhku lalu ku rasakan ribuan kunang kunang menyerang mataku hingga akhirnya gelap

Jakarta 13 februari 2009

Kita dan Pemimpin Kita

analisis mencari pemimpin masa depan.

Mungkin anda termasuk orang yang sering marah melihat tingkah pemimpin – pemimpin kita yang tergabung dalam elit politik dinegri ini. mungkin ada termasuk orang yang sering kecewa dengan kebijakan pemimpin kita yang sepertinya tidak memihak pada rakayat. Atau justru anda adalah orang yang paling semangat untuk melaksanakan demonstrasi menentang kebijakan – kebijakan yang  menurut anda tidak bijak.

Sayapun demikian, ketika berkumpul dengan teman – teman mencoba berdiskusi tentang negri yang kita cintai ini, sering memaki elit pemimpin kita yang menurut saya tidak mampu berlaku jujur. menurut saya para elit dinegr ini seperti memerankan sandiwara yang melenakan kita, namun tidak pernah memberi bukti yang nyata yang benar  – benar bisa mensejahtrakan kita. Dalam perjalanannya saya sering merenung dan justru saya mendapat kesimpulan yang mengejutkan . mungkin anda bertanya, apa “kenyataanya pememimpin kita benar – benar memihak dan mensejahtrakan kita?” saya jawab “tidak” dan anda akan bertanya lagi “jadi apa kesimpulan yang mengejutkan tersebut, apa hal?”

Kalau kita melihat sejarah masyarakat primitive, kita akan dapati sebuah koloni masyarakat primitive terbentuk dari satu individu yang kemudian membentuk satu keluarga, desa, kecamatan yang kemudian berujung pada satu pemerintahan besar yang berbentuk kerajaan. Menurut catatan antropologi karakter seorang pemimpin dalam system masyarakat primitf ditentukan oleh individu – individu yang membentuk koloni masyarakat tersebut. Koloni yang dibentuk oleh manusia – manusia yang kuat,  akan melahirkan satu pemimpin yang sangat kuat, secara langsung individu yang paling kuat tadi akan muncul sebagai pelindung koloninya yang kita sebut saat ini sebagai pemimpin. Begitu juga koloni yang dibangun oleh manusia – manusia lemah akan melahirkan satu individu yang kuat .tapi, dia hanya menjadi manusia yang kuat diantara yang lemah.

Logika sederhananya kumpulan penjahat tidak mungkin dipimpin oleh padri dan sebaliknya kumpulan padri tidak mungkin dipimpin oleh penjahat. Melihat realita kita saat ini, semua sikap dan tingkah laku pemimpin kita saat ini, semua merupakan sikap dan tingkah laku kita sendiri. Ketika pemimpi kita korupsi itu karna kita yang secara tidak langsung suka malakukan korupsi, melihat pemimin kita yang amoral itu karna kita sendiri yang amoral sederhananya keburukan pemimpin kita adalah ceriman dari ahlak buruk kita.

Lantas apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus mengimpor pemimpin? Saya kira mengimpor pemimpin kita jadikan opsi terakrir ketika kita benar benar – benar tidak mampu lagi menemukan pemimpin yang amanah dinegri ini. Opsi yang utama yang harus kita lakukan kita harus memperbaiki individu – individu yang yang menjadi bahan utama terbentuknya negri ini. Kita harus memperbiki diri kita sendiri. Dan perbaika ini harus dimulai dari pendidikan sebagai mesin yang membentuk karakter generasi muda kita.

Bukannya setiap tahun kita meluluskan banyak sarjana dari univesitas local maupun dari mancanegara, berarti kita tidak kekurangan orang pintarkan? Ya ada banyak orang pintar dinegri ini, tapi kebanyakan mengecewakan, kepintarannya hanya untuk menipu, tidak memberi manfaat bagi orang lain. Kita harus akui pendidikan kita adalah pendidikan secular, dimana konsep keagamaan dan keduniaan dipisahkan. Pendidikan seperti ini hanya melahirkan manusia yang memiliki ambisi besar namun tidak memiliki filter untuk memikirkan sesamanya. Pendidikan secular yang diperaktekkan orang barat yang kemudian turut kita anut, menamkan benih pemikiran imperialis pada anak didiknya yang akan akan berbahaya jika sikap imperialis ini dipraktekkan dinegrinya sendiri, seperti kita rasakan saat ini justru kita dijajah oleh orang kita sendiri.

Lantas pendidikan seperti apa yang harus kita kembangkan? Secara pribadi saya menawarkan konsep pendidikan relijius, pendidikan berdasarkan konsep ketuhanan. dan saya kira kita tidak perlu alergi dengan konsep ini sebab, kita sepakat Negara kita berdasarkan ketuhanan bukan komunis.  Pada dasarnya pendidikan relijius tetap akan melahirkan individu yang memiliki ambisi untuk kemajuan dan kejayaan, hanya saja dalam sikapnya akan difilter oleh norma agama yang mengarahkan manusia kepada kepada moralitas. Mudahnya, orang pintar yang lahir dari pendidikan relijius adalah orang pintar yang benar – benar bermoral. Bukan berwatak penjajah.

Saya memiliki keyakinan Ketika individu – individu dinegri terdiri dari orang pintar bermoral, suatu saat kita akan memliki satu individu pemimpn yang benar  – benar bisa mengantarkan kita pada satu peradaban besar dan saya kita ini bukan satu hal yang mustahil .